Posted in Arsyad's Journal, Kisah Mamak, Yaa Bunayya

Anak Bawang

Anak bawang bisa diartikan sebagai anak yang dianggap belum cukup umur untuk melakukan sesuatu atau berada dalam sebuah kelompok sosial seperti di tempat bermain, tempat belajar, dsb. Jadi si anak bawang ini biasanya tidak terlalu diacuhkan eksistensinya karena hanya ikut nimbrung, penggenap dan sejumlah predikat kurang positif lainnya. Tapiiiii… di sini, si anak bawang ini adalah anak yang sedang korek-korek tanah tempat tumbuhnya bawang! Hahahaa.. Dan lagi, anak bawang yang ini mah sangat diacuhkan sekali untuk menghidari hal-hal yang tidak diharapkan semisal memakan tanah yang dipegangnya atau mencabut daun bawang yang ada di hadapannya. Gagal atuh nanti tanaman Mamak sama Papake, Naaaak. :’D

Adalah Makcha, bibinya Arsyad yang masih berstatus anak SMP, iseng bawa main Arsyad ke halaman rumah. Doski nyeletuk, “Teh, Arsyad wios ameng taneuh?” (Teh, Arsyad boleh main tanah?) Hmmm.. anak (Well, in this case “orok”) belum genap 7 bulan, duduk juga belum fasih, main tanah???! WHY NOT?! Hahahaa. Ini emaknya hobi eksperimen banget sampe si anak yang belum bisa merangkak pun dibiarkan main tanah! Tapi kurikulum Mamak bukan kurikulum CBSA lo, ya. Alias Cul Budak Sina Anteng (Anak Dibiarkan Anteng Sendiri). Mamak tetap mengawasi kok sambil cuci piring di sebelah pintu dekat tempat Arsyad duduk. Mamak juga wanti-wanti Makcha supaya tidak lepas tangan (main sepeda kali, lepas tangan) dan lepas mata menjaga Arsyad. Eh, dasar si bocah cerdas. Meski belum khatam fase oralnya, Arsyad tidak tertarik tuh memasukkan tanah yang digenggamnya ke dalam mulutnya.

Mamak mencoba sebisa mungkin awas, preventif tetapi tetap asik dan tidak mengekang. Mamak rasa it’s okay for Arsyad to have his dirt playing time now.. dan ternyata memang tidak terjadi apa-apa, biasa saja.. Arsyad sepertinya menikmati waktu bermainnya di luar bersama mainan barunya: tanah. Kalau dipikir-pikir, menjaga, merawat dan mendidik anak itu harus berlandaskan energi positif. Karena kalau kita ini terbentuk dari segala macam aura kekhawatiran, kasihan anak kita.. belum apa-apa, sudah melihat wajah kita yang gemes campur takut dan cemas tingkat dewa. Udah stres duluan anaknya.. 😦

yuk20jadi20orang20tua20shalih_20150320123152
Buku yang Mamak punya cetakan April 2014

Nanti deh kapan-kapan Mamak share rangkuman materi tentang “apa jadinya anak kita kalau kitanya bersikap begini-begitu” dari buku-nya Abah Ihsan, Yuk, Jadi Orangtua Shalih! Kalau Mamak senggang, yak! *Emak-emak sok sibuk yang masih gagal memanajemen waktunya* T_T

Mamak sempat membayangkan para ibu lain dengan dahi mengerut berseru, “Aduh! Itu bayinya kenapa dibiarkan main tanah begitu! Kotor.. takut dimakan tanahnya, nanti cacingan, nanti jatuh, bla.. blaa.. blaaaaaa…” Tarik napas dalam-dalam.. keluarkan. Tarik napas lagi.. keluarkan. Untungnya ngga ada ibu-ibu yang beneran ngeliat, hahaha. Eninnya Arsyad juga tipe ibu yang cenderung khawatiran, tapi begitu diceritakan pengalaman Arsyad berkenalan dengan tanah ini, tidak ada komentar bernada cemas. Alhamdulillah.. mungkin Enin sedikit banyak sudah agak terpengaruh sama “gaya bebas”nya Mamak, hehee. Karena sorenya Makcha ada jadwal mengaji, jadi main tanahnya tidak lama. Tapi Mamak cukup puas, bisa mengenalkan pelajaran lingkungan hidup sedini mungkin pada Arsyad. *halah* Pengalaman Mamak, rasanya selalu senang ketika berhasil mengeluarkan energi positif dalam menghadapi Arsyad alih-alih membiarkan gunung si negatif bererupsi. TRUE STORY. Energi postif memang bikin ringan, tapi berat mengeluarkannya karena dilawan desakan sana-sini untuk malah mengeluarkan energi negatif.

Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. ( Q.S An Naas : 1 – 5 )

Selalu langsung beristigfar kalau sudah “keceplosan” berbuat semena-mena akibat energi negatif yang kita keluarkan, kata guru ngaji Mamak juga. Astagfirullah.. Tarik napas dalam-dalam.. keluarkan. Tarik napas lagi.. keluarkan. Kesimpulan Mamak setelah berkecimpung langsung di dunia parenting setahunan ini adalah “Parenting is built from istigfar” 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Anak Bawang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s