Posted in Mari Berkebun

Day 8

20160624_150111

Kebiasaan Mamak lihat tanaman Papake klo sudah muncul tanda-tanda pialaeun alias layak panen, suka mengganti nama mereka jadi calon pecel, calon salad, calon tumis, dst dst. Nah, yang ini Mamak beri nama calon bolu sama calon kolak. Meski baru 8 hari dikeueuman (baca: direndam air), tapi melihat daun-daunnya yang cantik itu serasa punya terawangan kalau besok lusa itu ubi ungu bisa dieksekusi. *ngawuuuurr. Eksekusi pindah tanem aja belum bisa kali, Ceuuu.

Akibat si ubi cantik ini tumbuhnya seperti yang ngga malu-malu gitu, karena kebetulan neng ubi ngga sefamili sama neng putri malu, Mamak jadi suka perhatiin tiap-tiap ada acara ke area situ. Cuci piring lah, ambil handuk, cuci kaki/tangan, dll dll. Pasti nengokin si neng ubi. Mulai excited itu setelah dua hari direndam sama Papake, si neng ubi sudah munculkan itu dedaunannya. Langsung itu Mamak foto dan laporkan ke Papak Bos via WA. Ini penampakan neng ubi di hari keduanya berendam sambil berjemur sinar mentari pagi *tsaaah >> https://www.instagram.com/p/BH8B6-1agAF5/

Papake memang punya hobi pepelakan (baca: bercocok tanam) dari sejak sebelum bersatu dengan Mamak. Halah, naon atuh bersatu. Melak kacang panjang, melak seledri, melak cabe, sampai “melak cau” dan “melak cangkéng” (yang kedua terakhir mungkin Mamak yang lebih jago). Katanya, buat refreshing, lihat yang hijau-hijau dan yang segar-segar. Mengobrol dengan tanaman juga bisa jadi alternatif stress release katanya. Kalau yang ini Mamak sempet ngga percaya. “Yang ada kayak orang gila kaliii.. ngomong sama taneman.” Mamak bilang gitu waktu itu. Eh ternyata eh ternyata, tanaman dengan setia mendengarkan apa yang kita bicarakan, gaess. Dan semacam meminta mereka untuk tumbuh subur, sehat dan kuat itu juga salah satu faktor pendukung keberlangsungan hidup para tanaman. Tanaman juga butuh motivator, yaaa. Apalagi kalau dido’akan. Masya Allah.. Amazing sekaliii. Jadi lah Mamak ikutan suka main-main tanah. Belum sampai ikut menanam sesuatu sih, yaaa.. Paling nyiram tanaman, bersihkan daun-daun dan ranting-ranting yang kering.. sebatas yang cetek-cetek gitu laaah. Tapi iyess, kerasa senangnya kalu sudah berjibaku dengan para tetanaman itu. Apalagi kalau pikiran udah ruwet, terus cuman nyiram tanaman aja, udah lumayan berkurang njelimetnya. Well, bahagia itu sederhana sih ya. Yang menjadikan kusut sebenarnya kita sendiri, pikiran-pikiran kita sendiri. 😦

“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?” (Qur’an Surah Al Insyirah ayat 1)

Advertisements
Posted in Catatan Kajian

Keperluan Cinta

I’ve been asked whether or not love is necessary.
Well, I personally think that it is not about “necessary” or “unnecessary”.
The answer for that question is love simply must exist and it does exist.
Let’s muse, what will probably happen if there is no love at all?
Can’t think of it, right?
You have One God that Has The Greatest love of all, don’t you?
See, the key point here is that our God, Allah Ar Rahman Ar Rahiim, is The Source of Love.
Love is the… let’s say, one of the proofs of The Existence of our God.
Why can I say something like that?
Let’s idle, and think calmly, Allah SWT Creates us, the humans, angels, demons, animals, trees, flowers, earth, sky, moon, sun, stars, galaxies, and many other creatures with love, with His Love as you can feel and see by yourself that there is never found any mistakes or errors or deformities in His creations.
He even Guarantees and Writes about it in His love letter, Al Qur an.

Okay. So, love does prevail, both unconditionally and conditionally.
There was love inside Ibrahim AS toward Allah SWT because if there weren’t, Ibrahim wouldn’t undertake his God’s Request, ‘to slaughter his beloved son, Ismail AS’. In the same time, he let us see that he loved his son so much that he felt so miserable to have his son presented to The God and have him slaughtered by his very own hands. That was love. That was the existance of the real and absolute love. Thus, I strongly believe that we have to learn about love from The Abul Anbiya’.
To learn and make the love lives inside our heart.

10 Dzulhijjah 1435 H,
Peppy Febriandini

Sebuah ‘tanggapan mengenai “Cinta itu Buta” pada kajian minggu rutin Mata Cinta, Ahad, 3 Dzulhijjah 1435 H

Posted in Arsyad's Journal, Yaa Bunayya

Diary of BLW ala Arsyad Part 11

(Lagi-lagi) meninggalkan Arsyad di pagi hari dengan drama. Ini hari Senin, tapi pikiran masih teringat pada kejadian hari Sabtu dimana berangkat ke sekolah dengan hati yang kelabu, cuaca mendung, sesampainya di sekolah hujan turun dengan lebatnya, kelas gelap, dengan berisikan 5 orang siswa saja yang masih sanggup menyeret kakinya untuk mengikuti kegiatan pesantren Ramadhan di sekolah. Aaahh… baru jalan sebentar, sudah kepingin pulang rasanya. T_T Continue reading “Diary of BLW ala Arsyad Part 11”

Posted in Arsyad's Journal, Yaa Bunayya

Diary of BLW ala Arsyad Part 10

Weekend yang mendung tapi harus teuteup ke sekolah sampai jam terakhir, membuat hati Mamak ikut mendung. Apalagi lihat wajah polos Arsyad yang seolah bilang, “Maaa.. kok pake kerudung sambil bawa ransel pagi2 begini..?” T__T *Ini mah emaknya saja yang lebay berlebihan. Tapi asli, pagi ini rasanya beraaaaaat sekali meninggalkan Arsyad, pergi ke sekolah yang malah menemani anak-anaknya orang lain, anak sendiri ditinggal, huhuhuu.. Continue reading “Diary of BLW ala Arsyad Part 10”

Posted in Arsyad's Journal, Yaa Bunayya

Diary of BLW ala Arsyad Part 8

Hari Ahad kemarin, Arsyad ikut buka shaum di rumah Abah & Enin. Menu makanan para dewasa adalah Es Campur, Cumi Crispy Saus Asam Manis, Capcay, dan Tumis Genjer oncom. Behind the scene dari keempat menu buka ini adalah dapur Ening yang hiruk pikuk dengan segala kesibukan memasak, ditangani oleh banyak tangan. halah, bahasanyaaa… Karena start masaknya terlalu siang, jadinya mepet ke Maghrib. Malah, begitu adzan Maghrib berkumandang, Mamake dan Papake masih riweuh di dapur goreng-goreng cumi. Hahaa. Continue reading “Diary of BLW ala Arsyad Part 8”

Posted in Arsyad's Journal, Yaa Bunayya

Diary of BLW ala Arsyad Part 6

Hari ini Arsyad ikut merayakan kebahagian buka shaum sambil menemani mamanya di dapur bikin sambel pecel, hehee. Menu makan malam Arsyad adalah pecel tanpa bumbu. Diracik sendiri oleh si tuan dengan kekuatan tangan yang menakjubkan. Really, he has a very strong grip. High chair-nya sengaja diangkut ke dapur biar makanan yang tumpah langsung ke lantai. Biar tinggal satu tempat saja yang berantakan. Continue reading “Diary of BLW ala Arsyad Part 6”

Posted in Arsyad's Journal, Yaa Bunayya

Diary of BLW ala Arsyad Part 5

Ramadhan pertama dengan bocah cilik! So pleased! So blessed! Alhamdulillah.. Kemarin Arsyad makan siang dengan lobak yang direbus. Pertama kali coba dan Arsyad suka! Memang kalau diberi makanan baru, Arsyad biasanya kegirangan dan semangat mengeksplorasi makanannya lebih besar. Kali ini, bukan hanya semangat eksplorasinya, semangat makannya juga! Ahiyy. Continue reading “Diary of BLW ala Arsyad Part 5”