Posted in Fiksi, Kisah Mamak

Sepasang Mata Bola yang Menari

2

Sepasang Mata Bola yang Menari

Siang ini entah mengapa begitu terik. Membuat peluh bercucuran di dahi Julia yang sedang berjalan pulang dari sekolahnya menuju Rumah Al-Barru, sebuah rumah asuh bagi anak-anak yatim piatu yang kini menjadi tempat tinggalnya. Meski begitu, Julia menikmati perjalanan pulang solonya tanpa Nisa. Julia dan Nisa bersekolah di tempat yang sama walaupun tidak satu kelas, tinggal di rumah yang sama, dan menempati kamar tidur yang sama. Biasanya mereka pulang sekolah bersama-sama tetapi hari ini Nisa ada kerja kelompok dengan beberapa teman sekelasnya dan meminta Julia untuk pulang duluan.

Sudah sekitar setengah windu Julia bersahabat baik dengan Nisa. Empat tahun silam di hari pertama kedatangan Julia di Rumah Al-Barru, Nisa lah yang menyambut Julia dengan ceria, seolah-olah ingin mentransfer kebahagiaan pada Julia yang masih berkabung atas kepergian Abah, kakeknya Julia.

Julia harus berjalan dulu kira-kira 100 meter dari sekolahnya menuju jalan raya untuk kemudian naik angkot menuju rumah. Dan pada jarak 100 meter antara bangunan sekolah dan jalan raya itu ada sebuah café kecil bergaya art deco yang sering menjadikan penyanyi-penyanyi lawas lokal bersenandung lewat pemutar musik dan pengeras suara klasik yang tak kalah lawasnya. Saat Julia melewati café itu, sayup-sayup terdengar lantunan “Sepasang Mata Bola”, lagu yang sangat familiar di telinga Julia. Seperti tersihir oleh suara Sundari Soekotjo yang seolah mengajak untuk mampir ke dalam café, Julia masuk ke tempat yang belum pernah sekali pun ia datangi kendati hampir setiap pagi dan sore dilewatinya.

Julia memilih meja yang bersebelahan dengan jendela. Sendirian, di sebuah café kecil, ia menikmati pemandangan siang menjelang sore itu dengan memperhatikan jalan yang tidak begitu banyak orang berlalu lalang, kemudian dia terpejam…

.

.

.

” Sepasang mata bola

Dari balik jendela

Datang dari Jakarta

Menuju medan perwira

Kagumku melihatnya

Sinar sang perwira rela

Hati telah terpikat

Semoga kelak kita berjumpa pula ”

“Aduuuuh…. Abah…! Mau sampai kasetnya kusut ya, diputar terus ih dari tadi lagu ini… Bosaaaaan…!”

“Hehee.. Kalau begitu, Abah sekarang dengerkan lagunya sambil menari biar Lia tidak bosan.” Abah malah tergelak dengan perkataannya sendiri.

“Iiih.. Abah mah!”

“Ayo, Lia juga ikut menari! Hihii…”

“Ah, Lia mau mandi saja! Sebentar lagi Ashar, Lia mau mengaji.”

Ketika adzan Ashar berkumandang, Abah mematikan radionya dan bergegas mengambil air wudhu lalu menghampiri Lia yang sudah cantik dengan baju muslim dan kerudung merah mudanya, siap pergi mengaji. Mereka berjalan beriringan menuju masjid yang letaknya tak jauh di belakang rumah. Selepas sholat Ashar berjamaah, anak-anak kecil dan remaja termasuk Lia duduk melingkar dalam dua kelompok di pojok ruangan masjid. Mereka mengaji dengan Bang Khalid memandu kelompok yang laki-laki dan Bu Astuti, Ibunya Bang Khalid, memandu kelompok Lia. Sementara cucunya tinggal di masjid hingga usai sholat Isya nanti, sang kakek bertolak pulang ke rumah yang dimana kaset Sepasang Mata Bola sudah menanti untuk kembali diputar.

Abah bersiul sepanjang perjalanan pulang, siulan lagu apalagi kalau bukan Sepasang Mata Bola. Tidak jelas ada peristiwa apa yang melatarbelakangi Abah untuk seperti teradiksi oleh lagu ciptaan Ismail Marzuki ini.

Karena hari ini Minggu, Abah tidak pergi bekerja dan menyengajakan diri untuk membereskan lemari di kamarnya yang katanya berisi benda-benda pusaka. Pusaka di sini bukan seperti bendera merah putih yang dijahit oleh Ibu Fatmawati, atau kertas salinan tulisan Perjanjian Linggarjati, tapi pusaka yang khusus berlaku untuk Abah saja. Iya, benda-benda pusaka Abah, benda-benda kenangannya bersama istrinya yang sudah lama meninggalkan dunia fana.

Saat Abah menemukan kaset Sepasang Mata Bola, segera saja kegiatan bébérés-nya dihentikan untuk tidak akan dilanjutkan hingga pada tempo yang tidak bisa sesingkat-singkatnya dan tidak bisa ditentukan. Dia setel kasetnya pada radio yang tak kalah tua darinya.

” Hampir malam di Jogja
Ketika keretaku tiba
Remang-remang cuaca

“Terkejut aku tiba-tiba… Liaaaa…! Sini karaokean sama Abah! Hahaa” Sambil ikut berdendang, tak lupa Abah memanggil Lia yang sudah pulang mengaji dan sekarang sedang mencuci piring bekas makan siang tadi. Abah tak lupa sedikit menggerakkan badannya dengan dalih berdansa mengikuti alunan lagu.

“Aduh, Abah… Ini lagu apaan sih? Seram begini. Ckckck”

“Kok seram, ini lagu bagus, Lia…” Abah, masih dengan dansanya.

“Iya, seram. Kan lagu jaman dulu, yang mendengarkannya kebanyakan sudah pada meninggal.”

“Kamu ini, ada-ada saja.” Abah masih berdansa hingga Sundari Soekotjo sampai pada lirik “Dari balik jendela, datang dari Jakarta”. Dia berhenti kemudian duduk di kursi goyang favoritnya.

“Kenapa berhenti, Bah? Cape, ya?” Julia terheran dengan keberhentian Abah yang begitu tiba-tiba.

“Haha.. Iya. Tolong ambilkan Abah air putih hangat, Nak.”

Abah meneguk satu kali air putih hangat yang Julia bawa.

“Abah baca bismillah dulu tidak barusan?”

Abah tersenyum sambil menyimpan gelas yang masih berisi di atas meja kecil di sebelah kursi goyangnya, “Alhamdulillah…”

“Kalau Alhamdulillah nya saja, dikeraskan.”

“Biar Lia tidak manyun. Hehee.. Sini Lia, duduk di pangkuan Abah.”

“Tidak mau. Lia bawa kursi Lia saja ke sini. Kasihan Abah kan pegal, masa Lia malah duduk di pangkuan Abah.”

“Kalau begitu, kasih pijat dong Abahnya.”

Lia sedikit menjulurkan lidahnya sambil berlalu membawa kursi di dalam kamarnya. Lia paham sekali, kalau Abah sudah meminta Lia untuk duduk di pangkuannya, pasti akan ada serangkaian cerita yang akan didongengkan. Penuh dengan perasaan antusias, Lia kembali mendekati Abah dengan membawa kursi kecil yang biasanya menemaninya belajar di kamar.

“Mau ada dongeng apa, Bah?”

“Siapa bilang Abah mau kasih Lia dongeng?”

“Abah nih, tadi bilang Alhamdulillah biar Lia tidak manyun. Eh sekarang malah bikin Lia manyun.

“Hahaa.. Kalau Lia manyun, nanti Abah tinggal bilang kalau Abah punya dongeng Sakadang Peucang nu Jadi Manyun Saumur-umur (Seekor Kancil yang Jadi Cemberut Seumur Hidupnya).”

“Ih, masa Lia disamakan dengan kancil!”

“Lho, Lia sudah tau berarti dongengnya, ya. Hmmm… Hmmm..”

“Abah, iihhh… Lagu ‘Sepasang Mata Bola’-nya ternyata racun! Abah jadi usil begitu, ih gara-gara kebanyakan mendengarkan lagu itu!”

“Lia… Lia… Sudah sini, mendekat. Ini dongengnya spesial mengenang Sepasang Mata Bola.”

“Duh… Ini lagu sakral sekali kayaknya, sampai diperingati begitu.”

“Oh, Lia tahu kata sakral darimana? Hebat ih anak ini.”

“Abaaaah… Lia kan juga punya guru bahasa Indonesia di sekolaaaah…”

Maka dikisahkanlah suatu ketika, saat Abah katanya masih muda dan ganteng, Abah mengagumi seorang gadis dari Jakarta. Gadis yang menurut Abah ayu dan anggun ini seringkali datang ke desa tempat Abah dulu tinggal untuk mengunjungi paman dan bibinya. Ketika si gadis ini berjalan menuju rumah paman dan bibinya yang adalah tetangga sebelahnya Abah, Abah hanya bisa memandangi gadis itu dari balik jendela rumahnya ditemani lagu Sepasang Mata Bola. Tak diayana, bapaknya Abah berbincang dengan paman si gadis dan menanyakan banyak hal tentang keponakannya itu. Rupa-rupanya, bapaknya Abah sering mendapat laporan dari ibunya Abah kalau Abah suka menggalau di dekat jendela bertepatan dengan lewatnya si gadis ke rumah mereka.

Setelah melewati proses perbincangan yang tidak alot dan tidak bertele-tele karena bapaknya Abah langsung mengutarakan maksudnya, yaitu melamar si gadis untuk anaknya, akhirnya si Abah versi masih bujangan dan belum bergelar abah waktu itu menikah dengan si gadis. Iya, si gadis setuju untuk dinikahkan dengan Abah. Mungkin karena waktu itu Abah masih muda, dan masih ganteng katanya, jadi si gadis mau saja. Coba kalau meminangnya sekarang. Ya tidak akan bisa, kan si gadisnya juga sudah jadi almarhumah sekarang mah.

Sederhana sekali memang. Tidak ada jalan-jalan romantis di perkebunan teh, nonton layar tancap setikar berdua, saling berkirim surat dengan kumpulan kata sayang atau semacamnya, bahkan saling senyum dan bertegur sapa pun nyaris tidak tersaksikan. Namun itulah yang mungkin sangat membekas menjadi kenangan yang sangat indah bagi Abah, romantisme awal pertemuannya dengan almarhumah istrinya sebelum mereka dipersatukan dalam kehalalan saling mencinta.

“Eh, Abah kok ceritakan kisah cinta ke anak kecil, ya?” Abah mengerutkan keningnya.

“Nah lho, ceritanya tidak bisa dihapus lho, Bah. Da ditulisnya di sini nih.” Julia menunjuk-nunjuk kepalanya.

“Aaah… Abah mau bawa dulu penghapusnya Lia, mau coba hapus cerita yang tadi sekalian hapus ketombenya Lia yang nempel di kepala.” Abah masih mengerutkan kening, kali ini sambil tertawa.

“Ih! Lia mah tidak punya ketombe, Abah! Lia mah rajin keramas ih pakai sampo!”

“Hehe.. Tidak apa-apa, Lia… Abah ceritakan ini supaya Lia tahu kalau Abah sayang sekali sama Nenek, sesayang Abah ke Lia..” Keningnya Abah tak lagi dikerut-kerut sekarang, berganti dengan wajah berserinya yang mengantarkan tangannya untuk membelai kepala Julia.

“Iya, Abah…”

Abah tersenyum. Senyum yang terbagi dua sama rata, senyum untuk Lia dan senyum untuk Nenek dengan segala kenangannya.

“Bah, kan tadi Lia sudah bilang kalau Lia tidak punya ketombe. Kok masih diperiksa sih kepala Lianya? Abah tidak percaya nih sama Lia.”

Abah kemudian berhenti sejenak dari kegiatan mengelus kepala cucunya itu dan tertawa. Dilanjutkan mengucek-ucek rambut Lia saking gemasnya.

“Lia, Nenek sama Lia itu seperti sepasang mata bola buat Abah.” Tak tertebak air muka Abah pada saat mengatakan itu menyiratkan perasaan apa. Apakah itu duka, luka, atau bahagia.

“Abah, jadi menurut Abah mata Lia kayak bola, gitu?” Lia menoleh ke belakang, mengintip wajah kakeknya.

“Hehe, bukan begitu. Tapi… Apa, ya? Hmm.. seperti sepasang mata yang adalah penglihatan Abah, membantu Abah melihat bahwa dunia ini begitu indah.”

“Ah, Lia tidak mengerti apa kata Abah.” Lia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil cemberut seperti anak kecil yang enggan ketika sedang disuapi makan.

“Ya, mungkin suatu saat Lia akan mengerti. Pokoknya Abah bersyukur bisa memiliki kalian berdua.”

“Hamdallah atuh, Bah, kalau bersyukur…”

“Iya, Alhamdulillah.”

“Eh, Abah. Lia sama almarhumah Nenek mah bukan milik Abah! Kan Innalillahi wa innaa ilahi raaji’uun, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali. Nenek juga kembali sama Allah, tidak terus-terusan ada sama Abah.”

“Masya Allah… Kok cucu Abah pinter begini, ya? Hahaa..”

“Kok cucunya pinter, Abah malah heran sih. Harusnya lebih Alhamdulillah, Abah…” Dengan mimik muka seperti orang yang jengkel, Lia beranjak, berjalan memasuki kamarnya sambil membawa kursinya.

“Waduh… cucu Abah pundung.”

“Bukan pundung ih, Abah! Lia mau belajar dulu, biar tambah pinter! Biar Abah lebih banyak bilang Alhamdulillah, sampai-sampai tiap ngomong pakai Alhamdulillah dulu! Hihi..”

Dengan pose siap tempur melawan buku-buku pelajarannya, Lia duduk khusyuk. Terpejamlah matanya, tidak untuk melayangkan pikirannya ke alam bawah sadar dan menciptakan bunga tidur seindah-indahnya tetapi untuk memohon kemudahan pada-Nya dalam memenangkan perangnya dengan soal-soal matematika yang rumit. Lia berdo’a dalam khidmat…

.

.

“Dek, maaf, mau pesan sekarang?”

“Eh, oh! Maaf, Kak, saya ketiduran kali ya tadi?” Nyengir, Lia merasa sedikit bersalah pada Teteh cantik dengan papan nama bertuliskan Meilani di seragamnya. Sedikit saja rasa bersalahnya, karena Lia sendiri tak yakin apakah dia punya salah atau tidak pada Teh Meilani yang belum pernah bertemu dengannya sebelum ini.

“Hehe, tidak apa-apa. Mungkin Adek cape pulang sekolah. Ini buku menunya Kakak simpan di sini, ya. Nanti panggil saja kalau sudah mau pesan.” Teh Meilani ini ternyata punya senyum yang manis. Semoga saja kadar manisnya tidak berlebihan, khawatir nanti yang keseringan melihat bisa terkena diabetes mellitus.

“Eh, Kak, Saya pesan Iced Green Tea saja deh.” Lia memilih minuman yang bertuliskan nominal IDR paling kecil, mempertimbangkan keadaan saku tempat beberapa lembar rupiahnya bersemayam. Lagipula Lia memang tidak seharusnya berada di tempat semacam café itu. Tapi masa sudah numpang tidur di sana, dan dibangunkan dengan senyuman manis Teh Meilani, lalu Lia pulang begitu saja.

“Oke. Ada yang lain? Pancake atau Waffle-nya mungkin?” Masih dengan senyum manis, Teh Meilani menawarkan Lia untuk mengeluarkan lebih banyak rupiah.

“Itu saja, Kak, makasih.”

“Baik. Ditunggu, ya.”

“Oh iya, Kak. Boleh minta lagu ‘Sepasang Mata Bola’-nya diputar lagi?”

“Ya? Oh, boleh.” Dengan agak heran tapi sambil berlalu tanpa bertanya lebih lanjut. Mungkin Teh Meilani takjub ada anak SMP di jaman sekarang yang kenal dengan lagu jadul macam ‘Sepasang Mata Bola’.

Beberapa menit kemudian,

” Hampir malam di Jogja
Ketika keretaku tiba… ”

Abah, meski katanya remang-remang cuaca, semoga cuaca tempat Abah dan Nenek di sana terang benderang seperti langit sore ini. Semoga senantiasa terlindungi dari angkara murka-Nya.

Selamat beristirahat, selamat menikmati ketenangan.

***

Sebuah tulisan 2 tahun lalu, harapannya dulu ingin dijadikan semacam novel begitu. Semoga terlaksana 🙂

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s