Posted in Catatan Kajian, IIP, Kisah Mamak, Yaa Bunayya

Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Big question ketika (baru) membaca judul materi matrikulasi IIP yang ketiga ini, “Apa Mamak bisa?” Hmmm… Tarik nafas dalam-dalam, Mak.. keluarin pelan-pelan.. Bismillah, Biidznillah.. Mamak bisa. :’) Tidak boleh berputus asa, karena Allah Maha Kuasa. Ngga boleh galau duluan, Maaak…

Nah, ada beberapa poin yang harus diperhatikan, dipelajari dan dipahami sebagai langkah awal membangun peradaban ini. First thing first, menjalin harmoni yang lebih indah dengan pasangan tersayang. Duh, apa sih Maaak..bahasanya. Tapi… begini maksudnya. Keluarga yang kuat itu berawal dari kekompakan pasangan. PR… PR.. PR yang tak akan pernah selesai. Hehee..

Sabtu lalu sebelum Papa Arsyad berangkat, Mama berikan sebuah origami perahu dari kertas HVS (yang dipaksa) berwarna pink karena diwarnai pakai oil pastel. Hehe. Nama perahunya, “Perahu Kertas buat Rayya”. Ihiy. Mama bilang ke Papanya Arsyad, itu adalah surat yang harus dibaca siang setelah beliau sholat Dzuhur. Ini resep yang diberikan untuk mulai menggeliatkan kekompakan dengan pasangan. Geli banget memang awalnya ketika menulis “surat merah muda” itu. Mungkin pas Papa bacanya juga geli, hehee. Tapi surat ini kami jadikan sebagai pengingat, dan pemacu agar selalu kompak untuk menggapai cita-cita mahligai rumah tangga. Mungkin tulis menulis dan balas membalas ini perlu dilakukan berkala, ya. Supaya kami selalu ingat dengan kebaikan tiap pasangan dan melupakan kekurangannya untuk tidak dijadikan bahan pertengkaran tapi untuk diarahkan supaya kekurangan-kekurangannya bisa diatasi. :’)

Langkah kedua, mengenali potensi diri dan anak. Sang anak, Arsyad, ini senang sekali beraktifitas di luar. Mama membacanya sebagai kelebihan kecerdasan naturalis kalau merujuk pada teori multiple intelligence. Tugas bagi Mama Papanya untuk bisa mengembangkan potensi ini dengan kegiatan-kegiatan positif dan variatif. Dan yang terpenting, lewat kegiatan tersebut, Arsyad bisa belajar mengenal Rabb-nya, dan panutannya, Rasulullah SAW. Arsyad juga sudah mulai menyenangi buku. Ini juga menjadi PR untuk kami agar rasa sukanya terus terpupuk dan terus meningkat. Untuk Mama sendiri, Mama ini menyukai kegiatan membaca, menulis, dan hal-hal yang berhubungan dengan visual grafis. Mama akan berusaha untuk dapat mengembangkannya, agar bisa bermanfaat juga untuk membersamai belajar anak-anak kami.

Langkah ketiga adalah mencermati lingkungan. Lingkungan tempat keluarga kami tinggal saat ini memang dikelilingi keluarga besar dari pihak Mama Arsyad. Tapi meskipun begitu, tetangga-tetangga kami adalah perantau yang baru kami kenal ketika mereka menempati rumah mereka yang bersebelahan dengan kami. Ini menjadi ajang belajar kami untuk memperhatikan adab-adab bertetangga dan bagaimana membuat mereka nyaman tinggal di dekat kami.

Tiga poin ini, ketika sudah dipahami dengan baik akan menjadi modal-modal utama dalam kurikulum pengasuhan anak-anak kami. Supaya bisa direncanakan dan dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Karena membangun peradaban tidak bisa hanya bermodalkan kotretan.

Ganbatteee…..!!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s