Akhirnya ya, Pah..

Entah sedari kapan tepatnya Papanya Arsyad ini bercita-cita memiliki kolam ikan di rumah. Hmmm… kalau Mama ngga salah inget sih, pas jaman-jaman kami masih berdua… Sampai Mama mengandung Arsyad pun, Papa masih setia dengan cita-citanya yang satu ini. Mama sih mikirnya, rumah yang kami tempati tergolong kecil, tak punya halaman depan (sendiri). Yang ada halaman bersama yang juga akses jalan lewat kami dan para tetangga keluar masuk jalan besar. Ada sih halaman belakang samping. Tapi sebagian areanya dipakai untuk menyimpan mesin pompa air. Lalu tanaman-tanaman Papa. Mama selalu putarkan pertanyaan yang sama saat Papa mulai meracau cita-citanya ini, “Kolamnya mau dibikin dimana, ih? Sararempit gini..”. Selalu. Seperti lagu yang diulang-ulang terus karena pita kasetnya kusut. (Masih jaman Mak.. pake kaset?)

Sampai pernah beli ikan-ikan kecil, kemudian dia pelihara di dalam beberapa toples kaca besar. Mama sudah wanti-wanti, kalau melihara binatang itu harus benar-benar bertanggungjawab. Ulah sakahayang jeung saukur resep hungkul. (Jangan seenaknya dan sakedar suka saja). Ketika Arsyad sudah lahir, Mama dan Papa jadi bertambah kesibukannya dan mengakibatkan kami lalai terhadap beberapa hal. Dan nasib ikan-ikan ini kemudian berakhir di dalam kolam ikan di saung Abahnya Arsyad. Dua lagi mati sebelum sempat dievakuasi. Hiks.

Continue reading “Akhirnya ya, Pah..”

Advertisements