Posted in Karya Papa, Kisah Mamak

Akhirnya ya, Pah..

Entah sedari kapan tepatnya Papanya Arsyad ini bercita-cita memiliki kolam ikan di rumah. Hmmm… kalau Mama ngga salah inget sih, pas jaman-jaman kami masih berdua… Sampai Mama mengandung Arsyad pun, Papa masih setia dengan cita-citanya yang satu ini. Mama sih mikirnya, rumah yang kami tempati tergolong kecil, tak punya halaman depan (sendiri). Yang ada halaman bersama yang juga akses jalan lewat kami dan para tetangga keluar masuk jalan besar. Ada sih halaman belakang samping. Tapi sebagian areanya dipakai untuk menyimpan mesin pompa air. Lalu tanaman-tanaman Papa. Mama selalu putarkan pertanyaan yang sama saat Papa mulai meracau cita-citanya ini, “Kolamnya mau dibikin dimana, ih? Sararempit gini..”. Selalu. Seperti lagu yang diulang-ulang terus karena pita kasetnya kusut. (Masih jaman Mak.. pake kaset?)

Sampai pernah beli ikan-ikan kecil, kemudian dia pelihara di dalam beberapa toples kaca besar. Mama sudah wanti-wanti, kalau melihara binatang itu harus benar-benar bertanggungjawab. Ulah sakahayang jeung saukur resep hungkul. (Jangan seenaknya dan sakedar suka saja). Ketika Arsyad sudah lahir, Mama dan Papa jadi bertambah kesibukannya dan mengakibatkan kami lalai terhadap beberapa hal. Dan nasib ikan-ikan ini kemudian berakhir di dalam kolam ikan di saung Abahnya Arsyad. Dua lagi mati sebelum sempat dievakuasi. Hiks.

Mama kasih saran ke Papa bikin kolam ikannya nanti saja kalau sudah punya rumah sendiri yang ada halaman depan dan belakangnya. Eh.. malah Mama yang kemudian ikut-ikut merasa “asik juga ya, kalau punya kolam ikan kecil di halaman rumah” dan berujung pada rajin googling foto-foto desain kolam ikan. Hahaa.. Juga ngotret rincian biaya pembangunan kolam berdasarkan desain yang diinginkan. Apalah Mamak ini… seperti hilang kendali begitu, mengerjakan sesuatu yang tidak penting. Hmmmm. (Efek NHW 6, hahahaa.. )

Dulu memang Papa sempat bilang, bikin kolam ikannya dari plastik tebal saja dan pinggirnya “dipagari” oleh batu bata. Seketika Mama hujam Papa dengan pertanyaan, “Ih, emang bagus?” “Emang kuat??” “Emang ngga akan bocor??!”

Ya Allah… Mama ini..terlihat sekali engkau gampang underestimate sesuatu yang ngga oke menurut pikiran engkau. Ckckckckck. Astagfirullah..

Papa dengan entengnya jawab, “InsyaAllah.. bagus, kuat.”

Sekali waktu, pernah ketika berkunjung ke rumah pamannya abah Arsyad yang adalah “Aki” buat Mama dan “Uyut” buat Arsyad, Papa melihat kolam ikan di samping rumah Aki. Mama sih tidak terlalu memperhatikan waktu itu. Papa tuh yang asik dan anteng. Sejenak mungkin Papa memanggil kembali cita-citanya yang terpendam untuk kemudian menyatukannya dengan intuisi dan sugesti agar bisa mewujudkan yang terpendam itu. Tsaaahh… Lalu, di rumah Papa heboh cerita ini itu tentang kolam ikan Aki yang dibuat dari plastik dan batu batu. “Bagus, Yang.. kolamnya!” katanya menambahkan di akhir. Seperti tersulut kembali api semangat Papa untuk membuat kolam. Mama sih cuman bisa senyum-senyum aja.

Waktu pun berlalu, dan Mama tidak menyangka kalau Papa masih menyimpan rapi cita-cita memiliki kolam ikan ini. Pagi kemarin kami bertiga bermotor ria menyongsong hiruk pikuk padatnya pasar kaget Unpad. Niatnya sih jalan-jalan saja, sambil cari jajanan. Mama jajan roti bakar dan susu murni. Mama makan, Papa dan Arsyad jalan-jalan melihat kelinci dan ikan. Pulang-pulang, Mama liat Arsyad sudah menenteng kresek hitam kecil. Dia bilang, “Kan.. kan.. kan..!” Deuh.. papa beliin Arsyad ikan. Empat ekor lagi! Mau dipelihara dimana itu ikan-ikannya? Toples-toples kaca besarnya sudah lama tidak ada. “Kita buat kolam!” Kata Papa yakin.
Eeeeeeeeeeehhhhhhhh??????!!!!!

“Dari plastik aja sama batu bata. Kecil aja, di bawah keran air.” Katanya lagi. “Emang ada plastiknya?” Mama masih belum percaya Papa mau melakukan ini semua pada Mama! (Naon sih Maaaak.. makin ke sini makin lebay) Siang selepas dzuhur, Papa bilang mau mulai bikin kolamnya. “Panas atuh, Yang.. nanti sorean dikit.” Khawatir nanti si sayang harééng gegara panas-panasan bikin kolam. Alhasil, ikan-ikannya Arsyad dibiarkan berenang di baskom yang diisi air. Ditaruh di dapur. Dan… (stel dulu lagu Joshua Suherman yang judulnya “Diobok-obok”)… Arsyad menunjukkan kasih sayangnya pada ikan-ikan dengan “mengelus-elus” mereka mengobok-obok air dalam baskom dengan antusias sampe airnya képlok. Laaaah… mabok atuh, Nak.. ikan-ikannya…

Setelah finishing touch tadi pagi, dengan memasang beberapa tanaman jahe sebagai penghalau sinar matahari berlebih (karena kata Papa ikannya ngga boleh kepanasan), akhirnya kolam mungil buat ikan-ikan ini selesai. Semoga betah di rumah kecilnya ya, ikaaaan… :-*

Hobi baru Arsyad : menjaga keselamatan ikan-ikan dari eméng.

Akhirnya ya, Pah…. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s