Cacak dan Méméng Besar

Menurut Kamus Bahasa Arsyad Terkini, Cacak adalah reptil kecil yang hobinya merayap-rayap di dinding: Cicak. Méméng adalah binatang yang termasuk mamalia yang sering dia temui di sekitar rumah bolak-balik mencuri kesempatan menangkap ikan-ikan Arsyad di kolamnya: Kucing. Usia Arsyad saat ini sudah masuk 17 bulan. Usia dimana orang-orang gemes bilang, “Gera tiasa nyarios atuh!” (Ayo cepet bisa ngomong dong!). Termasuk kadang emaknya. Ehm. Abis yaaaa…kan manusiawi kalau banyak komentar sana sini kadang bikin Mamak gemes juga yak jadi ikutan baper dan ngga selow. Hmmm.. istigfar..

Oke, jadi tadi itu sekelumit tentang vocabulary-nya Arsyad yang luar biasa. Akhir-akhir ini doski sudah bisa memproduksi sebuah kalimat sih. Semisal, “Méng.. mamam.” (Kucing makan). Meskipun masih seringnya satu kata, satu kata. Satu kata penuh makna. Hahaa. Gemes Mamak sekarang bukan karena komentar komentir orang-orang yang berharap Arsyad segera bisa ngomong lancar kayak calon gubernur lagi orasi di tengah kampanye-nya. (Ngga sampe segitunya juga sih.) Tapi lebih ke gemes betapa lucunya kata-kata yang dia produksi, dengan suara khasnya dan nada intonasi sesuai situasi dan perasaan yang dia rasakan. Yes, betul. Arsyad walau belum “béntés” mengucapkan kata-kata, dia seringkali ngomong panjang-panjang dengan nada yang berbeda. Dengan kata-kata yang hanya dia mengerti tentunya. Jadi kita bisa tahu kapan dia kesel, dia seneng, dia tertarik dan bersemangat ya dari nadanya itu. 😀 Mamak mencoba untuk lebih selow melihat dan memperhatikan setiap perkembangan Arsyad, termasuk perkembangan bahasanya ini. Mencoba untuk mengaminkan kata-katanya Abah Ihsan: Continue reading “Cacak dan Méméng Besar”

Advertisements