Posted in Kisah Mamak, Yaa Bunayya

Kasar Vs Halus

Arsyad’s sensory board yang jadi favoritnya semingguan ini

Sudah lama sekali Mama bebikinan ini. Kalau tidak salah, waktu Arsyad belum genap setahun. Dan seperti biasa, media ini terinspirasi dari buku Rumah Bermain Anak I -nya BundaΒ Julia Sarah Rangkuti. UntukΒ kegiatan terstruktur Arsyad saat ini, buku ini memang menjadi satu-satunya buku cetak yang tersedia di rumah. Jadilah Mama manfaatkan koneksi internet untuk mencari referensi lain. Biasanya Mama seneng nongkrong di Pinterest.

Membuat papan sensori ini benar-benar mudah. Bahan-bahan yang diperlukan juga tidak banyak. Well, banyak sedikitnya itu relatif sih. Tergantung jumlah benda yang akan kita tempelkan di papan.

Bahan-bahan untuk membuat sensory board:

  1. Papan triplek/ kayu tipis (Mama pakai styrofoam bekas),
  2. Lem kayu. Bisa juga menggunakan lem tembak,
  3. Benda-benda di sekitar rumah yang bertekstur halus dan kasar. Untuk sensory board yang Mama buat kemarin beberapa sengaja beli, seperti sabut dan spons cuci piring, kain flanel dan sisi velcro bagian kasar. Sisanya, apa saja yang sekiranya akan bernasib di tempat sampah, dipungut dan ditempel di sini. Heuheu.. Dari mulai kain perca, kertas tebal bekas undangan, huruf dari evamat yang sudah rusak, sabut mandi yang masih keras (di sini disebutnya “bulustru“), dan kuncir dari topi rajut yang sudah lepas (sengaja tidak Mama pasang lagi, untuk ditempel di board ini. :-D)

Setelah bahan-bahan terkumpul, tinggal menempelkan benda-benda ke atas papan! Saran Mama sih, benda yang dipilih usahakan beragam warnanya. Jadi nanti bisa digunakan sebagai media belajar warna juga. Hehee..

Awalnya, Arsyad diajak tentu saja untuk meraba benda-benda yang tertempel di papan sambil Mama sebutkan sifat benda tersebut, kasar atau halus. Doski ketawa ketiwi geli sambil melirik ke Mamanya ketika meraba benda-benda itu. Saat Arsyad sudah bosan, Mama simpan lah papan ini di sudut penyimpanan barang dekat dapur. Belakangan, Arsyad menunjuk-nunjuk papan ini terus setiap lewat si sudut kalau mau ke dapur atau ke kamar mandi. Jadilah sensory board ini the primadonna of the week! Hahaa. Sudah beberapa hari ini Arsyad lengket terus sama si papan ini. Saking lengketnya, dia pun kemudian menemukan kegiatan baru yang bisa dia lakukan dengan si papan: “Tarik sampai dapat!” Ya, selain meraba merasakan benda yang halus dan kasar, Arsyad juga mulai mencoba menarik-narik benda tersebut. Menguji kekuatannya apakah dia mampu melepaskan benda-benda itu dari tempatnya. Dan dia berhasil, Sodara-sodara…! *Standing applause* Bisa dilihat di foto ada bagian yang berwarna hijau maksa di atas kain flanel kuning. Itu asalnya tempat spons yang diletakkan di sudut kiri papan. Akhirnya, Mama/Papa ketika membersamai Arsyad bermain ini bilang, “Nak, kalau ditarik nanti rusak. Rusak, lho. Arsyad ngga bisa main lagi kalau rusak.” “Tidak ditarik, ya. Tidak ditarik, sayang…” sambil mencegah adanya korban lagi setelah si spons. Hehee

Oiya, kenapa sensory board-nya tidak dipasang di dinding? Karena waktu Mama bikin ini, dindingnya baru dicat. πŸ˜€ Tapi ada sisi baiknya juga si papan tidak ditempel di dinding. Karena selain Arsyad bisa meraba dengan tangannya, dia juga bisa “meraba” dengan kakinya. Hahaa.. Ya sudahlah, sensory board ini dibuat portable saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s