Posted in Kisah Mamak, Masakan Mama

Siduru Ayam Duruk*

Biasanya kalau mau ayam bakar itu, nunggu sore..nunggu kedai kaki lima ayam bakar langganan (abah) buka tenda. Atau.. kalau di acara makan-makan bersama keluarga besar, itupun kalau ada menu ayam bakar. Hahaa.. Eh, sekarang kan tinggal klik, klik di hp saja ya, buka aplikasi dan pilihan g* food. Mau makan apapun tinggal tunggu yang nganter. Termasuk ayam bakar.

Tapi oh tapi.. sensasi makan ayam bakar rumahan itu tiada tara memang. Dari pas acara bakar-bakarnya saja udah heemmmm.. bikin ngga sabar pengen segera makan. Pertama kali bebikinan ayam bakar itu, pake pembakaran punya Enin yang udah patah semua kakinya. Jadi penampakannya lebih mirip wok pan yang dikasih jaring grill. Daaaan.. preparation untuk membuat arangnya pas buat ngebakar itu lho, bikin Papanya Arsyad keringetan dan susut lemak 1000gram! (Habis makan ayam bakarnya, lemaknya nambah lagi 3000gram. Hahahaa) Pokoknya, kesan pertama yang tak terlupakan: bebikinan ayam bakar itu me.le.lah.kan!

Terlupakan lah itu ide bebakaran ayam sebagai menu sesekali di keluarga kecil kami karena kesan tadi itu. Sampai akhirnya Mama coba-coba “memanaskan” ayam yang sudah diungkep bumbu kuning (must-have-frozen food. Hahahaa..) di atas pan tanpa minyak. Sebelum dipanaskan, Mama oles-oles dulu para ayam itu dengan campuran mentega dan kecap. Daaan… voila! Tampilan luarnya sih mirip lah sama ayam bakar yang suka dibeli abah di kedai langganan. Tapi rasa dagingnya masih kayak ayam goreng. Hahaaa. But worth to try again next time. Lumayan lah.. variasi ayam ungkep, biasanya kalau tidak digoreng, ya diolah lagi jadi ayam suir atau topping buat pasta.

Nah, kemarin sore ada sisa satu paha ayam lengkap (atas bawah masih menyatu, jadi jumbo size nih ayamnya) dan bagian dada. Cocok nih untuk dibakar. Karena kalau bagian-bagian yang kecil macam wing dibakar tuh kagok, kata Papa. Berbekal pengalaman ngebakar ayam ungkep beberapa masa silam, Mama melakukan percobaan lagi. Si paha dan si dada ini Mama ungkep lagi dengan air kecap yang dicampur lada bubuk. Tidak sampai sejam re-ungkep nya, karena daging ayamnya sudah empuk dan Mama khawatir ayamnya kemanisan atau lebih parah: ra.sa.nya.ja.di.a.neh. Dan juga… khawatir (2) gasnya habis sedangkan tabung gas cadangan belum di top-up. Mlz beud kan di tengah-tengah perhelatan dapur yang panas kemudian pessssss apinya mati, beb! Harus “gidig” dulu ke toko gas di pinggir jalan raya. Dan ternyata stok gasnya habis di sana… a”peessssss ” (imajinasi).

Rencananya si ayam yang sudah di re-ungkep ini akan jadi menu makan malam. Apa daya… semua pada tepar selepas Isya. Kayaknya udah ngga sanggup menelan barang sesuap nasi pun. Jadilah si ayam nangkring lagi di kulkas. Alamat jadi santapan pagi. Maka sehabis mandi dan beberes, Mama buka-buka pintu dan jendela dapur, persiapan bakar ayam. Biar asapnya ngga malah nyantol di ruangan rumah. Kemudian melakukan “siduru” di depan kompor. Memang posenya tidak seperti orang yang siduru sih, tungkunya juga sudah tergantikan kompor gas. Yeah.. setidaknya sensasi merasakan panas api di depan badan di pagi hari yang dingin sama lah seperti siduru. *maksa*

Oles oles, bolak balik ayamnya. Angkat, sajikaaaaaan…..!

“Enak, yaaa. Kayak ayam bakar beneran.” Kata Papa. Emangnya yang dimakan sama Papa itu apa, Paaaaah? Hahahaa. Meskipun begitu, ini membuktikan percobaan re-ungkep itu berhasil. Jadi catatan nanti kalau mau bakar ayam lagi, tinggal pake cara ini. Hihihii. Sarapan makan ayam bakar yang agak di luar tradisi 😀

Sarapan apa sahur telat, nih? Udah pada makan padahal di luar masih belum terang sampe difoto pun harus pake blitz 😀

*Siduru (B. Sunda) : menghangatkan badan di pagi hari di depan tungku yang apinya menyala.

**Duruk (B. Sunda) : bakar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s