Posted in Catatan Kajian, IIP, Kisah Mamak

Jadi Ibu Cerdas, Selalu Beride

Buibuuuuu…

wp-1494299915118.jpg
Duet Ummi Haneen bersama Teh Fiena

Ini dia secuil materi Open House IIP Senin lalu yang dipaksa ringkas oleh Mamak dikarenakan gagal fokus 100% fuuullll. Ckckck. Walau secuil, semoga kita bisa mengambil hikmahnya, yaaa… Aamiin.. *emoticon senyum sambil tutup mata*

Selain materi, Mamak juga berbagi aliran rasa tentang serba-serbi wisuda dan perkuliahan Matrikulasi batch 3 kemarin. Mangga dibaca juga tulisan ini, yaaa… hehehee.

“Ibu, Agen Perubahan”, begitu tajuk talkshow bersama Ummi Haneen yang merupakan bagian pertama dari Open House IIP ini. Ummi membuka talkshownya dengan melantunkan Qur’an Surat Ali Imran yang Mamak tidak menyimak ayat ke berapa. T_T Barangkali ada buibu yang hadir dan masih ingat ayatnya, mohon dibagikan di komentar, yaaa. Peliiiisss… 🙂  FYI, lantunan bacaan Qur’an Ummi tuh.. nyeeeesss.. adeeeemm.. bikin haru. Huhuu. Pas banget, nih. Hati sama pikiran memang butuh kesegaran dulu sebelum menerima ilmu. Kalau si shiro (netbook Mamak) mah, perlu di refresh gituuu. *tekan F5* hihihi.

Ibu sebagai agen perubahan menurut Ummi harus bisa melihat contoh panutan yang tepat. Nah, Ummi mengisahkan beberapa sosok ibu luar biasa yang benar-benar merupakan agen perubahan sejati. Sebut saja salah satunya ibunda ulama besar Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah. Sang ulama selalu menjadikan ibundanya sebagai panutan berkat kegigihan dan semangat ibunda untuk bisa menjadikan anandanya seorang ahli agama yang hebat. Begitu tangguhnya beliau ini dengan segala keterbatasan ekonomi dan keadaan beliau yang seorang single parent. Perjuangan beliau tak hanya melulu soal biaya hidup dan pendidikan putranya. Beliau juga mewariskan nasehat yang tak kalah hebat. Beliau berpesan kepada Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah jika ilmu yang dipelajarinya menambah: (1) sikap mengagungkan Allah SWT, (2) sikap rendah diri dan sabar, (3) rasa takut kepada-Nya, dan (4) akhlaq mulia, maka proses belajarnya harus diteruskan karena itulah sebenar-benarnya ilmu.

Nak, tuntutlah ilmu. Aku yang mencukupimu dengan tenunanku. Nak, jika kamu telah menulis sepuluh hadits, maka lihatlah jiwamu apakah bertambah takut, lembut dan wibawa. Jika kamu tidak melihat itu, ketahuilah bahwa ia membahayakanmu dan tidak bermanfaat bagimu. (“Ini Ibu Mereka“, Ust. Budi Ashari)

Ada pula ibunda Iman Syafi’i rahimahullah yang tak kalah menginspirasi. Kondisi ekonomi keluarga yang juga tidak terkategorikan di atas rata-rata, tidak menyulutkan api semangat beliau untuk selalu membimbing putranya menjadi ulama besar. Dari keterbatasan itu, beliau mampu mengarahkan sang putera untuk dapat menjadi asisten gurundanya, mengajar anak-anak orang kaya. Masya Allah..

Kisah inspiratif lainnya adalah Zaid bin Tsabit ra. beserta ibundanya tercinta. Kala itu, umat muslim sedang dipompa semangatnya oleh Rasulullah Saw. untuk berjihad fii sabilillah memerangi kaum musyirikin. Zaid yang masih kecil dan belum mampu ikut berperang, merasa berkecil hati dan mengadu pada ibundanya. Apa yang disampaikan sang ibunda demi mengembalikan semangat anandanya? Sungguh, sungguh luar biasa. Beliau berkeyakinan penuh bahwa Zaid ini juga sama berharganya dengan saudara muslimin lainnya yang pergi ke medan perang. Maka beliau membawa Zaid menghadap Rasulullah Saw, meminta nasehat baginda rasul. Beliau juga menyampaikan bahwa Zaid ini memiliki kelebihan pintar baca tulis. Akhirnya, Rasulullah Saw. mengembankan pada Zaid bin Tsabit tugas sebagai translator bahasa Yahudi. Baginda Saw.membutuhkan penerjemah bahasa ini agar beliau dapat memahami isi al kitab. Apa yang telah dilakukan oleh sang ibunda, telah mengembalikan semangat Zaid sehingga beliau dapat mempelajari dan menguasai bahasa Yahudi dalam kurun waktu kurang dari sebulan!! *kemudian ingat Mamak belajar bahasa Inggris dari SMP sampe tamat kuliah masih begini-gini saja kemampuannya* *ceurik gemes* *apalagi kalau ingat kemampuan bahasa Arabnya* *ceurik makin menjadi*

Allahu Akbar.. Maha Besar Allah yang telah menghadirkan ibunda-ibunda hebat di muka bumi ini sebagai teladan untuk kita…

images (24).jpg
Sepertinya perlu menambahkan ini sebagai koleksi lemari buku di rumah.

Ummi Haneen menarik benang merah dari ketiga tokoh ibunda super keren ini: “Kita harus menjadi ibu yang cerdas, yang selalu punya ide.” Ide dan kecerdasan ini, akan membantu kita menghadapi segala kesulitan terkhusus dalam hal pengasuhan dan pendidikan anak. Seperti halnya yang terjadi dalam kehidupan ketiga ibunda tadi. Segala kesulitan dan keterbatasan tidak mempan mengalahkan mereka demi mengantarkan para anandanya menjadi muslim yang hebat dan bermanfaat luar biasa. Jadi, kalau otak kita itu selalu berputar sedemikian rupa, niscaya ide-ide selalu bermunculan dan aneka ragam masalah tidak akan mengakibatkan kita malah menjadi pesimis dan putus asa. PR besar, yaaa. Karena nyatanya dalam surat cinta-Nya, Allah SWT berfirman, “Sungguh tiada berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum kafir.” (QS. Yusuf: 87). Ngeriiiiii…. ngeri sengeri-ngerinya. Putus asa itu sama saja kita menjadikan diri kita ini termasuk golongan kafir, ya. T_T   Jadi jangan sampai kita putus berdzikir, supaya selalu mengingat rahmat-Nya, biar tidak putus asa, nanti tergolong kafir. Na’udzubillah.. “Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman) T_T

Selain menjadi cerdas, Ummi juga menekankan bahwa ibu itu harus menjadi pembimbing yang mumpuni. Sebagai pembimbing, ibu dituntut untuk bisa mendidik anaknya menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggungjawab. Ketika anak sulit melakukan suatu amalan, kalau bahasanya Ummi: jadikan dia PJ amalan itu. Misal, Si kakak susah sekali bangun pagi, maka dijadikanlah dia PJ (penanggung jawab) “Bangun Pagi”. PJ ini berarti harus mampu mengajak saudara-saudaranya melakukan amalan bangun pagi. Otomatis, jika dia harus mengajak orang lain, dia harus “memaksa” dirinya untuk bangun terlebih dahulu. Dan ini teruji klinis. It happened to Ummi’s family. Satu hal lagi terkait mandiri dan tanggung jawab, Ummi menyampaikan bahwa ibu harus bisa membimbing anak-anaknya untuk membiasakan diri melayani orang lain. Jadi anak-anak belajar memahami bahwa mereka itu bukan makhluk yang hanya untuk dilayani, tapi mereka juga punya tugas melayani. Hanya saja, catatan besar untuk orangtua bahwa momen tersebut bukanlah sebagai kesenangan sepihak (orangtua mendapat kemudahan-kemudahan dalam mengerjakan sesuatu), melainkan sebagai sarana pendidikan kemandirian si anak. Kemudahan-kemudahan yang didapat orangtua itu bonus, bukan tujuan utama. *emoticon senyum sambil tutup mata*

Last but not least, kehidupan seorang ibu itu adalah kehidupan yang agung. So, apakah kita akan menodai keagungan tersebut dengan kesemena-menaan akhlak kita?

*kemudian Mamak mengheningkan cipta*

Setelah sesi tanya jawab, Ummi Haneen kemudian mengajak hadirin yang berada di hall untuk bersama-sama beristigfar. Nyesss lagi, lebih nyess dari mendengar lantunan baca Qurannya Ummi di pembukaan. Ummi sukses membuat Mamak yang waktu pakai kerudung ungu, menjadi haru biru. T_T

Tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata, sungguh. Kotoba ni Dekinai… 

Advertisements

4 thoughts on “Jadi Ibu Cerdas, Selalu Beride

  1. Waaaaaa.. Nuhuuun teh peppy.. Walopun ikut hadir di wisuda, tapi kukuluyuran wae jd ga da di dlm ruangan. Dengan baca ini jadi tau isi kajian ustzh haneen. Jazakillaah khoir . ditunggu tulisan selanjutnya.. Ahahaaay..

    Like

    1. Teh tri mah da panitia siiiiih.. Jadi rariweuh, yes. Hehee.
      Waktu oprek panitia juga dulu teh sempet tergiur pengen ikutan tapi mengingat kerjaan di sekolah masih banyak dan kepikiran sama materinya, ngga jadi deh.

      Dirimu rajin ih posting.. sedap blognya, meski kemarin baru sempet surfing sebentar di lautan tulisanmu. 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s