Posted in Catatan Kajian, Kisah Mamak

Menemukan Harta Karun

Berbinar-binar…

Kalau kita menemukan harta karun, salah satu ekspresinya, begitu mungkin ya: berbinar-binar. Harta karun yang Mamak maksud di sini bukanlah limpahan koin atau batang emas beserta aneka ragam perhiasan berkilauan dalam kurungan peti kayu. Bukan… Tapi yes, ini soal perkara yang membuat para emak berbinar-binar: keberhasilan anak-anaknya. Jadi ini tadinya Mamak bikin perumpaan, gitu.. Seorang ibu yang melihat anaknya berhasil, sukses, pasti ibarat dia menemukan harta karun. Bahagia luar biasa. Betul kan?

Betul apa betul banget?

Nah, pertanyaan yang perlu dijawab sebelum tulisan ini merambah pada bahasan lebih jauh, (yang mungkin saja saking jauhnya jadi melenceng dari harapan para pembaca, pun penulisnya. *laaah) “Ciri anak yang sukses itu seperti apa sih?

Sepertinya pertanyaan ini jika dilempar langsung ke publik akan ditanggapi oleh beragam jawaban. Tapi kalau menurut Mamak sih, anak yang berhasil, anak yang sukses itu adalah anak yang berhasil menemukan misi kekhalifahannya di dunia dan menjalankan hidupnya sesuai misinya tersebut. 

Ada yang setuju?

Banyak yang tidak sepakat?

Ah, apapun itu, tulisan ini akan tetap berlanjut atas kehendak si penulis. *emoticon senyum mata tertutup*

Definisi anak sukses di atas itu sebenarnya terilhami dari penyampaian Abah Rama dalam talkshow-nya di MI Nur Al Hijrah, Cimahi beberapa pekan lalu (tepatnya pada hari Kamis, 13 April 2017).

Setelah melontarkan pertanyaan “Apa itu sukses?” kepada para peserta talkshow yang sebagian besar adalah emak-emak, kemudian berjalan berkeliling sambil meminta beberapa emak untuk memberikan pandangannya mengenai si sukses ini dan mendapatkan reaksi yang beragam, Abah kemudian menekankan bahwa sukses itu dilihat dari seberapa besar manfaatnya untuk orang lain. 

Mirisnya, kita masih mencap sukses buat anak-anak kita itu kalau masuk rangking teratas di kelasnya, meraih juara di perlombaan-perlombaan, lulus ujian dengan hasil sempurna, masuk sekolah favorit, berkarir di perusahaan bonafit, memiliki penghasilan pasti dan terjamin sejahtera sebagai PNS, punya rumah gedong lengkap dengan segala kemewahannya, dst, dst.. yang nampaknya hanya sekedar pada mengobati haus kita akan rasa bangga. Tanpa merasakan lebih jauh apakah yang membuat kita bangga itu bermanfaat bagi orang lain, atau justru malah berbuah kemudharatan? πŸ˜₯

Abah menyarankan, kita, orangtua, berhenti dulu sejenak deh sebelum pusing-pusing memikirkan how-to dan mengerahkan segenap jiwa raga dalam pembimbingan menuju kesuksesan anak kita. Urusi dulu ranah kerja personal kita. Ketika kita belum merasa pas dan klik dengan apa yang kita kerjakan saat ini, kita akan mengalami lebih banyak kendala dalam proses membimbing anak-anak. Coba rasakan dan telaah kembali alur kesuksesan hidup kita. Sudahkah kita merasa “tepat kerja“? Benarkah pekerjaan kita selama ini memang berada di tangan yang tepat? Atau, jangan-jangan kita terjebak dalam bekerja atas alasan tuntutan semata?

Cara paling gampang mendeteksi kita salah kerja atau tidak adalah: kadar stress saat bekerja. Jika kita mengalami stress berlebih terkait pekerjaan kita, itu artinya kita sudah salah kerja. Eits, jangan salah. Ibu rumah tangga bisa juga lho mengalami salah kerja. (Sambil mengingatkan diri sendiri). Terkhusus perihal ibu rumah tangga yang salah kerja, ada kemungkinan sang ibu memiliki passion di ranah lain yang belum tersalurkan dengan baik. Lebih jauh lagi mengetahui tentang ibu rumah tangga yang salah/ tepat kerja, bisa belajar di Institut Ibu Profesional πŸ˜‰

Back to the salah kerja dan stress. Ternyata, Allah SWT tidak suka lho kalau kita menumpuk stress. Karena stress itu bentuk sakit untuk tubuh. Jika kita sakit, otomatis kita tidak akan bermanfaat bagi orang lain. Kalau sudah begitu, bagaimana kita bisa sukses? Kan, sukses itu dilihat dari besarnya manfaat kita bagi orang lain. Jadi, gimana dong supaya tidak stress kerja berlebih? Supaya tidak salah kerja? Supaya sukses? Abah memetakan pendekatan sukses itu ada dua: (1) Cara, dan (2) Jalan. Manakah yang lebih penting? Jalan. Mengapa? Penjelasan singkatnya begini, saat kita akan menuju suatu tempat dengan menempuh jalan yang benar meskipun caranya salah, kita pasti sampai di tempat tujuan kan. Tapi kalau kita tempuh dengan cara yang benar melewati jalan yang salah, akan sampaikah kita?

Cara sukses, pendekatan yang pertama, ini Allah tidak ikut campur. Kitalah sebagai makhluknya yang harus menemukannya sendiri. Ikhtiar, dalam kata lain. Nah yang satunya lagi, jalan sukses, itu adalah urusan masing-masing pribadi dengan Allah. Tadi sudah disampaikan, bahwa jalan sukses adalah yang lebih penting. Maka sejatinya, kita perlu membenahi urusan jalan ini sebelum mengulik cara-cara yang harus kita ikhtiarkan untuk menjemput kesuksesan.

Bagaimana menemukan jalan sukses?

Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. (QS. Al Fathihah : 6)

  1. Dekati Allah. Kita minta kepada-Nya dengan khusyuk, bersungguh-sungguh, untuk ditunjukkan jalan yang benar.
  2. Gali perangkat yang kompatibel dengan misi kekhalifahan kita. Kita bisa melakukannya dengan melihat sifat dan keunikan kita.

Jika sudah aman alur kesuksesan kita, meskipun masih berstatus on progress, barulah melesat menangani tantangan kesuksesan sang anak. Sama halnya dengan treatment untuk “temukan bakat suksesmu, wahai orangtua”, temu bakat anak ini juga ya basisnya 2 pendekatan tadi. Tugas orangtua dalam membimbing anak-anaknya adalah mengobservasi dan memfasilitasi. Observasi bisa kita lakukan dengan panduan 4E: Enjoy, Easy, Excellent, dan Earn. Jika kita menemukan bidang dimana sang anak merasakan keempat aspek tersebut, sangat dipastikan itulah bakatnya. Next, tahap selanjutnya setelah menemukan si harta karun dalam diri anak adalah memfasilitasi sang anak dengan bijak agar bakat tersebut dapat berkembang dengan optimal.

Begitu kira-kira yang Mamak dapat dari menghadiri talkshow waktu itu. Memang Abah lebih banyak nyerempet-nyerempet ranah orangtuanya sih daripada ranah anak. And it makes sense. Dalam “mata pelajaran” parenting yang lain pun juga begitu. Karena kalau si orangtua masih ripuh sama hal-hal pribadinya, bagaimana dia bisa mengemban tugas sebagai orangtua? Kan? Kan?

Oiya, gara-gara “Kan?” jadi ingat kalau Abah sempat memberikan PR di akhir-akhir acara. Abah menyarankan untuk mencari, membaca dan mempelajari bukunya Salman Khan. Bukan Salman yang artis bollywood itu lho yaa. Tapi pendiri Khan Academy. Hmmmm.. hmmmm.. tugas baca yang tak akan pernah selesai. Belajar sepanjang hayat! Yeah!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s