Ma, Jangan Lepaskan Tangan Arsyad…

Mamak berangkat ke sekolah itu tiap pagi, hampir setiap weekdays. Biasanya, Arsyad dan Papa mengantar Mamak ke depan gerbang sambil mereka pergi jalan-jalan pagi. Arsyad memang tak pernah rewel apalagi sampai menangis kencang saat Mamaknya berangkat ke sekolah. Orang-orang bilang, “Meni bageur.. anak teh ngajurung ka Mama na.” (Baik banget anaknya, ngedukung kerjaan Mamanya). Ah, mereka tidak tahu. Itu anaknya tidak menangis, yang menangis itu justru emaknya. Sedih harus meninggalkan anaknya yang masih bayi itu dalam waktu yang lama (sampai rumah bisa lewat Ashar).

Lebay, ya? Hmm.. tidak tahu sih. Beberapa waktu lalu juga diingatkan di salah satu materi kuliah Matrikulasi IIP kalau Ibu yang bekerja di ranah publik itu pasti oleh Allah diberikan kekuatan dan kemampuan yang lebih untuk bisa mengampu amanahnya, tanpa melalaikan tanggung jawab domestiknya. Hmmm.. benar-benar jadi renungan juga.

Pernah ada keinginan untuk melanjutkan tugas ini, menemani para siswa belajar di sekolah. Tapi, entahlah.. hati ini rasanya selalu merasakan ada yang salah. This is not where I belong, cenah. Dapet ilmu dari Abah Rama sama Teh Elma juga tentang bakat dan peran hidup, Mamak kaji lagi lah tentang perannya di ranah publik ini. Dan ada satu lagi wejangan dari Bu Septi, “Inside – Out“. Area dalam rumahΒ (inside)Β dulu yang perlu kita garap dengan sepenuh hati, baru berjuang mengabdikan diri untuk masyarakat. Masalahnya, Mamak agak kesulitan mengerjakan tugas domestik dan memenuhi kebutuhan anggota keluarganya dengan baik, jika raga masih banyak terpaut di luar rumah. Dan parahnya, apa yang sedang Mamak kerjakan di luar ini, mengganggu ikhtiar kerja Papanya Arsyad. Nampaknya ini sudah menjadi lampu merah, ini bukan semata-mata ego Mamak yang gelisah meninggalkan Arsyad, ini sudah menjadi masalah keluarga. *hela nafas*

“Ya Allah… Tunjukanlah Kami jalan yang lurus.”

Ketika tekad berhenti dari semua kegiatan di sekolah ini sudah bulat, ada bapak senior yang memberikan nasehat, nasehat untuk semua guru muda yang sedang ada di kantor sih saat itu. Nasehat yang Mamak tangkap sebagai anjuran untuk tidak meninggalkan pekerjaan ini. Padahal, sebenarnya dari sebelum menikah, Mamak sudah membicarakan rencana karir Mamak sebagai ibu rumah tangga yang mampu berdedikasi tinggi dan tetap bisa berkarya tanpa perlu (hampir) setiap hari keluar rumah, kepada orangtua Mamak dan calon suami yang sekarang statusnya sudah menjadi Papa Arsyad. Perjalanannya lumayan panjang sampai Mamak bisa “berbelok” dan tiba di sekolah ini, just skip it for now.Β πŸ˜€

Orang-orang di sekitar memberikan saran-saran yang mendukung Mamak untuk “melepaskan tangan Arsyad”, meminta dipertimbangkan lagi keputusannya dengan melihat kesempatan-kesempatan yang akan diraih di masa yang akan datang. Mamak akui, mereka sangat menyayangi Mamak, dan Mamak hargai semua nasehat mereka. Kadang merasa sedih tidak bisa menyenangkan mereka dengan menuruti saran mereka. Mamak orangnya keukeuh. :-p

Di rumah, ada tangan mungil Arsyad yang melambai-lambai. Juga tangan mungil adeknya yang mengelus-elus di dalam perut Mamak. Di tahun-tahun yang akan datang, Mamak mungkin akan berhasil meniti karirnya dengan baik jika tetap bertahan di sini. Tapi bagaimana dengan Papa, waktu kerjanya yang selama ini banyak tersita karena pagi hari harus menemani Arsyad dulu sebelum pergi bekerja? Bagaimana dengan Arsyad dan adik-adiknya nanti? Haruskah Mamak merelakan masa emas mereka bersama orang lain dan ketika mereka beranjak dewasa, mereka melihat Mamak sebagai orang lain?

“Orang lain bisa sukses karir, keluarganya baik-baik saja.”

Oke, itu orang lain. Bukan Mamak. Untuk saat ini, Mamak belum sanggup mengurusi semua pekerjaan di luar tanpa mengurangi perhatian Mamak untuk Arsyad dan Papa. :’-( Mamak tidak ingin melewatkan masa emas anak-anak Mamak tanpa curahan segenap hati Mamak. Wahai para penasehat, adalah ucapan terima kasih Mamak sampaikan dari lubuk hati yang terdalam atas semua nasehat-nasehat yang indah. Jazakumullah khairan katsiran.

Arsyad sedang menunggu figur Mamak yang tengah berdiri, tersenyum lebar dan bersiap memeluknya. Adek bayi sedang menunggu sosok Mamak yang bisa mengelusnya tanpa ada perasaan sedih dan khawatir.

Yes, dear.. Mama’s coming home soon ❀

Advertisements

One thought on “Ma, Jangan Lepaskan Tangan Arsyad…

  1. Pingback: Pengeja Semesta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s