Posted in Catatan Kajian, IIP, Kisah Mamak

Mencetak Generasi Penghafal Quran

Catatan KulWapp “Emak Rempong Bisa Punya Balita Hafal Al-Qur’an” bersama Bunda Judhita Elfaj

images (66)
Photo Courtesy : https://kuri007.blogspot.co.id

Siapa sih yang ngga kepengen anak-anaknya hafal Qur’an? Menyandang gelar hafidzh dan hafidzah? Pasti itu jadi mimpi yang kita tanamkan pada anak-anak kita, yekan buibu pabapa?

Sayangnya, kebanyakan dari kita cita-cita mulia ini hanya sebatas angan-angan yang kemudian dengan mudahnya dihempas oleh angin lalu. Karena apa? Karena niat dan ikhtiar kita kurang kuat untuk mewujudkannya. Seringnya kita disibukkan oleh rutinitas harian yang memforsir sebagian besar energi kita. Akhirnya niatan mengajak anak menghafal Qur’an terlupakan oleh rasa lelah dan letih kita. Kita pun kadang berdalih dengan mengambinghitamkan sifat-sifat anak kita yang tidak kooperatif. Hiks.

Mari introspeksi diri, luruskan niat, dan memohon pada Allah supaya kita diberi kekuatan dan kemudahan dalam mengeksekusi impian kita yang satu ini.

Lantas, mari cari ilmunya. Biar tidak salah kaprah, biar tidak melulu mengambinghitamkan sifat-sifat “unik” anak kita. Dan, Alhamdulillah, beberapa hari yang lalu ada undangan untuk mengikuti kuliah via whatsapp bersama Bunda Judhita Elfaj yang merupakan anggota Tim Ahli Rumah Main Anak dan treatments-nya pada anak-anaknya sangat perlu kita jadikan contoh.

Al-Qur’an, dengan segala aliasnya yang begitu mulia, merupakan pintu beragam ilmu dan perangkat lunak yang paling baik yang jika kita menanamkannya pada anak-anak kita, maka 2 dari 3 amal jariyah yang terus mengalir ketika kita meninggal yang disebutkan Rasulullah Saw. dalam sabdanya. Dua perkara itu adalah ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih. Al-Qur’an diturunkan Allah dengan sifat yang akan selalu kompatibel pada setiap jiwa ananda yang masih suci diliputi fitrah-Nya. Jiwa ananda terjaga dengan kalam-Nya yang mulia itu meskipun mereka belum memahami ayat-ayat yang mereka lantunkan. Yang keluar dari lisan mereka adalah sesuatu yang bernilai teramat besar dari Allah yang Maha Besar.

Tujuan utama mengajarkan Al-Quran pada pada anak usia dini bukan sekedar keterampilan membaca dan menghafal. Kita ini sedang dalam rangka menanamkan iman dalam hati anak-anak, membentuk dzauq (cita rasa) Qur’ani dalam jiwa mereka, membentuk pola pikit yang selalu merujuk pada Al-Quran, juga membentuk pola hidup keseharian Qur’ani. Setiap anak memiliki keunikan masing-masing dalam menguasai hafalan Qur’annya. Nah, tugas para orangtua jugalah untuk memahami dan menghargainya, (sekali lagi) bukan untuk dijadikan kambing hitam.

Bagaimana mengkondisikan anak balita kita untuk menghafal Qur’an?

Interaksi Al-Qur’an dengan anak-anak kita harus dimulai sedini mungkin. Bahkan, dari masih dalam kandungan, dianjurkan untuk rutin memperdengarkan tilawah, lebih baik jika tilawahnya langsung dilakukan oleh sang ibu. Saat anak lahir hingga menjelang akhir usia balitanya, kita dapat melakukan hal-hal berikut ini:

Usia 0-2 tahun

  • Memberi keteladanan terbaik dengan menunjukkan rutinitas orangtuanya berinteraksi dengan Al-Qur’an.
  • Memperdengarkan Al-Qur’an pada berbagai kesempatan, terutama saat ibunda sedang menyusui sang anak.
  • Menunjukkan cara memuliakan Al-Qur’an.

Usia 3-5 tahun

  • Tetap konsisten memberikan keteladanan.
  • Memberikan pengalaman berinteraksi yang berkesan dengan Al-Quran. Sediakan family quality time yang rutin bersama Al-Quran, dibuat senyaman, seseru dan sekreatif mungkin sehingga waktu tersebut menjadi saat yang sangat dinantikan anak-anak kita. Kegiatannya bisa sekedar tilawah dan anak-anak dikondisikan untuk “menonton”. Bisa juga menyampaikan kisah-kisah dalam Al-Quran (yang butuh buku-buku premium tentang kisah Al-Qur’an sebagai Inspirasi bercerita, boleh banget menghubungi Mamak, hihihi). Atau, bisa juga hanya bermain dengan huruf hijaiyah. Banyak ide-ide bermain yang bisa ditemukan di website seperti Rumah Main Anak, Sabumi, Familia Kreativa, atau searching di Pinterest 😉 Dalam berkegiatan ini, perhatikan rentang perhatian si kecil. Ingat, mereka masih belum bisa fokus konstentrasi dalam waktu yang cukup lama.
  • Menjadikan Al-Qur’an sebagai jalan memperkenalkan anak pada pencipta-Nya, bisa dengan kegiatan berkisah, atau melakukan ragam permainan.
  • Menjadikan Al-Qur’an sebagai isu utama dalam keluarga dengan berusaha menghubungkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan realitas yang ditemukan anak-anak.
  • Bersabar menghadapi sikap anak dan menunda hingga mereka siap jika masih menolak. No paksa-paksa, yes!
  • Mengapresiasi atas usaha anak dalam berinteraksi dengan Al-Quran. Jangan hanya saat si anak berhasil saja, ya. Tapi justru kita harus lebih menghargai usaha mereka.

Dari yang sudah diikhtiarkan Bunda Juditha, Alhamdulillah putri sulungnya berhasil melakukan pencapaian-pencapaian luar biasa saat usianya bahkan masih belum khatam balita! Yuk, disimak milestone-nya.

Amazing kan…!

Usahanya juga ngga main-main tentunya. Mulai sekarang, singsingkan lengan baju, lakukan ikhtiar terbaik! Hap. Hap. Bismillah..

Oiya, lingkungan tentunya akan memberikan pengaruh pada anak-anak kita. Jadi, kita harus bisa memberikan pengaruh yang dominan pada mereka jika tidak ingin peran tersebut dikudeta lingkungannya. Kalau lingkungannya para penghafal Qur’an juga sih waaah… itu mah bonus gedeee! 😀 Melakukan dominansi (apalah ini bahasanya) tentunya tidak bisa dilakukan sepihak oleh para ibu saja. Karena pendidikan yang dilaksanakan dalam keluarga merupakan kesepakatan bersama antara sang ibu dan ayah. Ayah adalah kapten yang bertanggungjawab atas arah yang akan ditempuh oleh keluarga. Ibu, yang paling sering berinteraksi dengan anak-anak di rumah, tentunya akan menjadi barisan terdepan dalam mengemban amanah pendidikan dalam keluarga.

Dan….

Tugas kita tidak cukup sampai anak-anak kita hafal Qur’an 30 juz saja. Ternyata, di luaran sana banyak yang menyekolahkan anak-anaknya, berlomba-lomba hafal Al-Qur’an tapi… akhlaq-nya jauh sekali dengan Al-Qur’an. Subhanallah.. Hiks. Sedih, yaaa. Kok bisa begitu? Ada satu hal yang tidak boleh luput dari perhatian kita: A to the Q to the I to the D to the A and H. Aqidah. Malahan justru ini lah hal utama yang menjadi modal dasar pendidikan. Di usia dini, sebelum anak-anak kita dikasih treatment macam-macam termasuk proyek hafal Qur’an ini, kita harus mampu menanamkan aqidah dengan kuat pada mereka aqidah yang mengakar kokoh di dalam diri mereka. Akhlaq dan adab adalah buah yang dihasilkan oleh Aqidah yang kuat. That’s why yah dulu pernah baca twit-nya Ust. M. Fauzil Adhim yang menyebutkan hal yang sama dan merekomendasikan buku Nurturing Eeman in Children karyanya Dr. Aisha Hamdan (Sampai sekarang ebook-nya belum selesai-selesai dibaca. Ampoooooon!!!)

Buku yang Masih Jadi PR Baca

Sudah kasih perlakuan macam-macam, kita malah capek sendiri karena ternyata hasilnya tak seindah mentari di kala senja? (Naon atuh, Maaaaak) Ah, mungkin kita terlalu sibuk berusaha sehingga kadang menyepelekan ajimat yang paling sakti: Do’a. Sekeras apapun kita membanting tulang, kalau Allah belum berkehendak ya mana bisa? Tul, kan… Maka tentu saja kita perlu juga pertanyakan apakah kasih sayang dan do’a kita tulus dan senantiasa meliputi anak-anak tercinta?

Bunda Judith juga menekankan bahwa tidak ada cara yang paling baik dan paling cocok dan sesuai dengan anak kita. Ingat, pahami dan hargai keunikan anak. Jangan sekali-kali terbuai hasrat ingin membanding-bandingkan anak kita dengan yang lain. Mereka punya jalannya sendiri. Coba baca-baca lagi deh tulisan ini. Hehehee… Tapi, yang teeeeeeerrrcocok dengan anak-anak kita adalah do’a orangtua, do’a kita yang insyaAllah mustajab dan tidak tertolak.

(Lagi) luruskan niat kita dalam mendidik anak-anak kita menghafal Qur’an. Bukan semata untuk dibaca atau dihafal karena ayat-ayatNya terlaluuuuu mulia untuk tujuan duniawi. 😦

PS. Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai materi Kulwap dan diskusinya, silakan ditengok link berikut ini, yak. Hatur Nuhun Teh Fanny sang notulen 😉

Resume KulWapp

Advertisements

One thought on “Mencetak Generasi Penghafal Quran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s