Posted in IIP, Kisah Mamak

Fixing the Gear (2)

(Catatan Perjalanan Mamak berkomunikasi produktif dalam keluarga)

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam. (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, No 6018; Muslim, No. 47)

Sisa Jum’at ini selepas pulang dari sekolah, Mamak lebih banyak diam. Lelah dan ada sakit yang terasa membuat mood seperti sedang naik roller coaster. Dan biasanya kalau mood sudah begitu, gampang sekali Mamak melakukan malpraktek komunikasi. Hehee..

Biasanya, Arsyad semangat makan kalau sudah tidur siang. Tapi hari ini lain.

Arsyad request ingin makan tempe, “Pe.. pepe.. pepe!” katanya. Mamak janjikan Arsyad makan sehabis sholat dzuhur. Setelah sholat, inilah yang Mamak temukan…

Kali ini eksperimen air dispensernya dengan wadah lego…

Arsyad yang melihat Mamak selesai sholat, langsung menghampiri sambil membawa wadah yang sudah terisi sedikit air itu.

“Eueut!” (Minum), dia bilang sambil berusaha minum dari wadah itu.

Mamak cegah Arsyad, berusaha senyum sambil bilang, “Arsyad minumnya pake gelas, Sayang.. Bukan pake ini. Ini wadah lego.”

Arsyad tidak jadi minum. Tantangan dari eksperimen Arsyad dengan dispenser ini masih jadi PR buat Mamak dan Papa untuk bisa memahami dan menemukan solusinya. πŸ™‚

Seperti yang Arsyad minta, Mamak suapi dia nasi dengan lauk tempe dan ayam bakar. Tantangan lain muncul ketika setelah beberapa suap, Arsyad mulai mengeluarkan kembali suapan nasi yang ada potongan ayamnya. Berantakan lah karpet. Sampai muntahan ketiga, Mamak menyerah.

“Arsyad, kok ngga dimakan nasi sama ayamnya, Sayang? Ngga enak? Ngga mau sama ayam?”

“Pepe!”

Akhirnya hanya makan tempenya saja. Itupun makanannya jadi bersisa banyak. *sigh*

Arsyad ternyata sedang tidak enak perutnya. Biasanya kalau dia sakit perut suka memegangi perutnya sambil bilang, “Uh.. uhh..”. Tapi tadi Arsyad tidak begitu. Ah, maafkan Mamak, Shalih.. Mamak kurang peka. Makanya ngga nafsu makan, ya.. 😦 Alhamdulillah setelah mandi Arsyad mau makan beberapa potong roti sendiri, meskipun jadi banyak remah roti bertebaran di karpet dan lantai. Kasus rumah berantakan juga biasanya jadi pemicu ledakan emosi. Tapi sore tadi Mamak bisa melewatinya dengan membuat rumah tetap hening.

Ba’da sholat magrib, Arsyad sudah terlihat mengantuk. Sementara kamarnya masih berantakan dengan lego blok, lego pipa, dan buku-buku, jadi kasurnya belum bisa digelar. Mamak ajak Arsyad membereskan mainannya. Untuk mengantisipasi rewel, Mamak hanya minta Arsyad memasukkan lego pipa ke dalam wadahnya setelah Mamak membereskan buku dan lego blok.

“Arsyad, mau bobo kan?”

“Bobo!”

“Yuk, bereskan dulu legonya.”

Arsyad malah mengambil buku.

“Arsyad mau dibacakan buku?”

“Diiik…!” (Membawa buku “Aku Sayang Adik“)

“Setelah beres legonya, ya. Kita baca bukunya nanti di kasur.”

“Dik!”

“Iya, baca buku itu. Tapi Arsyad bantu Mama yuk, masukkan legonya ke sini.”

Arsyad malah membawa lego pipa yang tersambung dengan roda dan memainkannya.

“Oh, yang itu mau dimainkan saja? Yang lainnya dibereskan, ya?”

Masih memainkan lego.

“Arsyad…” Mamak memelas sambil usap-usap punggungnya, “Yuk, bereskan legonya.”

Arsyad masih memainkan lego.

“Eh Arsyad, ayo masukkan lego yang warna merah! Ini coba lihat Mama!” Mamak mulai memasukkan beberapa lego.

“Tuh.. yuk, masukkan yang warna merah! Mana coba yang merah?” Sambil menyemangati Arsyad, Mamak memindahkan posisi Arsyad menjadi duduk di pangkuan Mamak. Dengan trik yang terakhir itu, lego pipa berhasil diamankan dan kasur tidur digelar. Sampai Arsyad tertidur, Mamak berhasil mengobrol ceria dengannya tanpa ada drama. πŸ˜€

Kamar tidur merangkap ruang bermain Arsyad beraliran bongkar pasang nan minimalis

Dengan Papa lain lagi. Mamak yang lelah, menangkap bahasa tubuh Papa yang kelelahan juga sepulangnya kerja sore tadi. Emosi bertambah negatif ketika melihat Papa rebahan di kamar Arsyad menemani Arsyad sambil bergawai ria. Ingin Mamak bilang, “Pa, HPnya simpan dulu.” Tapi urung karena khawatir intonasi dan nadanya menjadi tak mengenakan.

Mamak ke dapur untuk mengeksekusi cucian piring dan menyiapkan air untuk mandi Arsyad. Kemudian Mamak bilang ke Arsyad yang sebetulnya ditujukan untuk Papa juga, “Ayo Arsyad, itu air mandi udah siap. Arsyad mandi sama Papa, yaa..” Masih jaga intonasi tapi tanpa ada kontak mata dan pesan rasa untuk Papa. Maafin Mamak, Pa.. Hiks. :-‘(

Puncak terburuknya adalah ketika beres memandikan Arsyad, Papa menanyakan apa Arsyad makan siang atau tidak (hanya ngemil). Mamak tidak menjawab, hanya diam, menahan luapan emosi. Emosi karena kelelahan tapi cucian piring belum beres, menahan sakit, juga kesal karena kejadian HP di kamar Arsyad tadi dan Papa yang malah mengecek ayam-ayamnya Abah (Kakek Arsyad) yang baru dipindahkan tadi pagi ke dekat rumah. “Bukannya istirahat atau bantu Mama, pas ada waktu senggang tuh!” pikir Mamak (padahal Papa sudah bantu Mamak memandikan Arsyad, yaa. Huhuu). Saat itu Mamak sempat berkata dalam hati sebagai jawaban pertanyaan Papa, “Kenapa Papa tidak lihat di depannya ada piring yang ada sisa nasi dan lauknya sebelum bertanya sih!” Ah, ini kan masalah FoE (Frame of Experience). Sejatinya Mamak tahu kalau Papa itu terbiasa langsung bertanya untuk hal yang dia tidak tahu. Beda dengan Mamak, yang lebih suka mencari tahu dulu baru bertanya ketika hasil pencarian tidak memuaskan. Mamak betul-betul sedang penuh emosi negatif sore tadi. Astagfirullah..

Saat menyiapkan makanan berbuka, Mamak mulai membereskan hati. Menata lagi ritme nafas. Istigfar banyak-banyak. Hasilnya… kami sholat magrib berjamaah dengan perasaan senang. Papa pulang selepas sholat tarawih di masjid dengan muka berseri-seri,

“Legaa…”

“Lega kenapa, Yang?” Sambil menatap Papa, Mamak berusaha memberikan raut wajah terbaik Mamak.

“Beres jadi imam-nya. Tertunaikan kewajibannya. Haaaah…”

Subhanallah.. Mamak tadi sore hanya menangkap kelelahan Papa saja. Mungkin saat itu Papa juga menyiratkan rasa gelisah akan menjadi imam di masjid untuk sholat isya dan tarawih malam ini. Mamak tidak menangkapnya. Hiks.

Tapi… sehabis itu kami jadi lebih santai. Mamak yang sempat tidur tadi saat mengantar Arsyad terlelap, Papa yang lega sudah menjalankan kewajibannya. Dan obrolan pun mengalir indah. Di selingi beberapa guyonan garing, hahaa. Dari mulai anggaran belanja, penyebab Arsyad sakit perut, power bank Papa, rencana ke rumah Nenek Arsyad (Mama mertua) besok, sampai wasir yang baru Mamak alami tadi siang dan cukup membuat Mamak menabung banyak emosi negatif.

Alhamdulillah wa syukurillah..

Next, Mamak harus latihan untuk selalu bisa “memasang” wajah terbaik, senyum sempurna dan… dapat membuang emosi negatif dalam waktu yang lebih cepat. Yeah, semangat!!

#level1 #day2 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip

Advertisements

One thought on “Fixing the Gear (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s