Posted in Kisah Mamak, Yaa Bunayya

Adaptasi Arsyad

Salah satu buku favorit Arsyad πŸ˜€

Sekitar seminggu sebelum Ramadhan, Abah dan Nenek Arsyad di Cimindi (Mertua Mamak) pindahan. Mereka pindah ke rumah lama mereka setelah 2 tahun sebelumnya menempati rumah alm. Uyut yang kosong. Dan, kemarin adalah pertama kalinya Arsyad mengunjungi rumah lama Abah dan Nenek. Seperti biasa, Arsyad kalau di tempat baru suka minim bersuara, raut wajah serius, susah senyum dan menunjukkan serentetan indikasi “this is not my place” lainnya, meskipun ngga sampai rewel sih. Lumrah sih, ya. Itu bentuk adaptasi anak-anak terhadap lingkungan baru yang mereka tempati. Arsyad sejauh ini bukan tipe anak yang ngga betahan. Sore kemarin pun, Arsyad sudah bisa santai dan bermurah senyum, sudah menandai rumah Abah dan Nenek sebagai one of his places. Hahaa. Di tempat lain pun seperti penginapan dan tempat wisata, Arsyad tidak menunjukkan rasa ketidaknyamanan yang bikin Mamak, Papa dan orang sekitar riweuh bin panik. He usually enjoys new places later or immediately. Memang dasar hobinya jalan-jalan sih ya.

Saat puncak masa sapihnya sebulanan yang lalu, Arsyad pertama kalinya menginap di rumah Enin (Mamanya Mamak) tanpa Mamak sama Papa. Menurut laporan sih, Arsyad hanya menangis sekali tengah malam (waktu itu memang Arsyad masih suka bangun malam) dan minum susu plus ngemil sedikit lalu tertidur kembali. Hmmm.. Arsyad seperti punya kekuatan menguasai emosinya untuk bisa menyatu dengan tempat-tempat yang sedang dia singgahi. Halah, analisa macam apa sih itu. Alhamdulillah, Arsyad ngga nurun ke Mamak yang ngga betahan di tempat orang. *emoticon ketawa sampai keluar airmata*

Bertemu dengan orang baru pun ngga jauh beda behaviour-nya. Meskipun ada tingkah laku blocking for protection (dih, istilah macem apa nih!) dulu di awal-awal, biasanya semakin intens dia berinteraksi dengan orang yang bersangkutan, baru dia mau kasih senyum dan berceloteh. Tapi nampaknya itu hanya berlaku ketika dia berhadapan dengan orang dewasa. Kalau bertemu anak kecil, dia suka langsung tertarik untuk “bersosialisasi”. Ini terjadi ketika dia bertemu dengan anak Kakak kelas Mamak di rumahnya, anak tetangga baru, anak saudara jauh, bahkan anak SMP yang belajar privat di rumah Mamak. Saat keluar rumah sekarang yang disebut pertama kali adalah, “Dedee..! Dedee..!” sambil menunjuk ke arah rumah Dek Akhtar (umurnya beberapa bulan di bawah Arsyad). Kalau pintu rumahnya tertutup dia suka bilang, “Dede.. bobo..!” yang artinya si dede sedang unavailable untuk diajak main. πŸ˜€

Dengan tetangga yang satu lagi, beda lagi ceritanya. Setiap bertemu Tante Dita atau Om Reza, Arsyad biasanya hanya menatap mereka dengan wajah serius tanpa menjawab sapaan mereka. Padahal Arsyad mengenal mereka lebih dulu ketimbang Dek Akhtar. Tapi kalau motor Om-nya sudah melaju, menghilang dari pandangan Arsyad, dia lalu bilang ke Mamak sambil nunjuk-nunjuk ke arah motor pergi, “Om..! Ooomm…!!” (Arsyad belum bisa bilang Tante/Ateu) Hahaa.. Arsyad.. Arsyad.. Hanya saja, kemarin Subuh waktu Arsyad ikut Papa pergi ke masjid dan ketemu Om Reza, doski mau digendong sama Om meski mukanya masih serius tegang. Masih ada sedikit blocking-nya kali yak. Pulang dari masjid pun, Arsyad malah pulang ke rumah Om Tante. Ngga kebayang itu Arsyad behaved-nya kayak begimana di sana. Di tempat baru (meski jaraknya dengan rumah hanya beberapa langkah), dengan orang-orang yang masih dipandanginya dengan serius. Heuheu.. Waktu ke rumah, Arsyad bawa oleh-oleh oreo (Jazakumullah khair, Om Tante.. Tapi oreonya dimakan sama Mamak soalnya Mamak batasi konsumsi coklat buat Arsyad hanya susu dan sereal aja karena dianya masih agak sulit untuk gosok gigi.. hehee..) dengan muka yang kayaknya seneng abis main sama Om Tante dan dikasih oreo tapi masih ada urat-urat tegangnya. *double emoticon ketawa sampai keluar airmata*

Wajah serius sampai mengernyitkan dahi ini sudah terlatih dari sebelum Arsyad berusia satu tahun. Kalau tidak dengan Mama, Papa, atau anggota keluarga yang dia kenal, pasti begitu tuh mukanya. Bahkan, Arsyad masih gampang menangis jika didekati oleh orang yang sama sekali belum pernah dia temui. Kalau kataΒ Bunda Sarah HajarΒ sih, justru bayi yangΒ suka menangis pas didekati orang baru itu pinter, bisa membedakan mana yang friendly (orang yang sudah dia kenal) dan unfriendly (belum dikenal). Menangis adalah salah satu bentuk pertahanan dirinya. Makin bertambah usianya, Arsyad makin bisa mengendalikan tangisannya saat menghadapi orang baru. Cuman ya tetap saja itu si muka seriusnya masih jadi ciri khas. πŸ˜€

Itu tadi perilaku adaptasi Arsyad terhadap tempat dan orang baru. Dengan makanan baru, ada ceritanya juga. Biasanya dia akan mengernyitkan dahinya lebih keras ketika melihat makanan baru dan membuang muka. Harus dikasih tahu dulu bla..bla..blaa baru dia mau coba. Begitu masuk mulut, langsung dia muntahkan kemudian seperti orang yang sedang berpikir. Coba lagi, muntahkan lagi. Bisa berkali-kali itu. Kalau menurut dia oke, baru deh lulus masuk kerongkongan. Hihi.

Lalu, apa hubungannya adaptasi Arsyad ini dengan bunglon atau buku tentang bunglon?

Ngga ada sih. Hahaa. Cuman pas kepikiran nulis tentang adaptasi ini Mamak langsung membayangkan pelajaran Biologi dulu saat sekolah, pernah membahas tentang macam-macam adaptasi perilaku binatang, salah satunya bunglon yang bisa mengubah warna kulitnya. Dan, kebetulan juga Arsyad suka sekali buku karya EyangΒ Eric CarleΒ yang satu ini.

Maksa banget, yak!

Biarin!! :-p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s