Posted in IIP, Kisah Mamak

Fixing the Gear (5)

(Catatan perjalanan Mamak berkomunikasi produktif dalam keluarga)

Sesorean tadi suasana di rumah tegang…

Mamak sampai di rumah sepulang dari mengawas UKK dan mendapati Arsyad sedang menangis dan berseru, “mbis.. mbis!” (Jatuh! Jatuh!) Oh, mungkin dia terpeleset dan jatuh. Mamak ucapkan salam, kasih senyum dan memeluk Arsyad.

“Jatuh, ya. Ngga sakit kan? Ngga apa-apa…” Kata Mamak sambil memeluk Arsyad.

Dapat laporan dari Papanya, Arsyad beberapa kali menumpahkan air dispenser. Sepertinya itu menjadi salah satu penyebab dia menangis, dinasehati supaya tidak buang-buang air oleh Papa. Alhamdulillah, nangisnya hanya sebentar. Intonasi dan nada suara Mamak pun stabil. Mamak sedikit kurangnya berhasil mengontrol emosi atas teraduk-aduknya hati di sepanjang perjalanan menuju rumah. Ada beberapa “tantangan” di sekolah yang membuat Mamak sedih. Dan rencananya setiba di rumah Mamak ingin puas-puasin mengalirkan rasa ke Papa. Tapi Mamak perhatikan, bahasa tubuh Papa menyiratkan rasa letih dan lelah. Jadi, aliran rasanya ditunda sampai waktu yang belum bisa ditetapkan.

Kami pun lalu bergegas pergi menuju klinik bersalin untuk memeriksakan kandungan Mamak. Kurang lebih 3 jam, kami menghabiskan waktu di sana. Papa yang sudah terlihat letih dari sebelum berangkat, tambah capek dengan harus gantian dengan Mamak membersamai Arsyad menjelajah seisi lantai 1 klinik, sampai energinya habis dan dia terlelap dalam gendongan Papa. Mamak pun hanya bisa mengobrol ringan dengannya sambil memberikan pijatan (yang tak kalah ringan & tak berarti) di pundaknya.

Tak banyak komunikasi verbal yang terjadi antara Mamak dan Papa sepulang dari klinik dalam hingga masuk waktunya kami menikmati hidangan berbuka shaum. Dan Mamak hanya menangkap bahasa tubuh masing-masing yang menyatakan kelelahan yang sangat dan membutuhkan istirahat sesegera mungkin.

Setelah sholat, Arsyad kembali menangis protes karena Mamak mengomelinya meminum air kolak terus tanpa memakan pisangnya.

“Ngga Arsyad. Mama ngga suka Arsyad minum air gulanya terus. Mama ngga suka kalau pisangnya ngga ikut dimakan. Mama mau simpan saja kolaknya.” Intonasi berubah, nada pun tak lagi ramah. Hanya terdengar seperti ibuk-ibuk yang melampiaskan kelelahan dan kekesalannya pada anaknya dengan mengambinghitamkan tingkahnya. Astagfirullah.. 😦

Mamak berlalu sambil membereskan kolak pisang. Adzan Isya pun berkumandang, tapi Papa terlihat tidak bersiap-siap.

“Pah, kok ngga siap-siap ke masjid?”

“Ngga enak badan kan, Ma. Di rumah aja sholatnya.”

“Nanti malah makin males kalau di rumah mah. Mending di masjid aja sholatnya da ngga akan lama juga, kan?”

Percakapan ini terjadi tanpa kontak mata, dan bahasa tubuh masing-masing tidak terbaca karena saat itu Papa sedang bersamai Arsyad dan Mamak (sok) sibuk merapikan benda-benda yang berserakan di ruang tengah. Tak lama, Papa ambil wudhu dan mengganti bajunya.

“Papa ke masjid dulu, ya, Mama.. Arsyad.. Assalamualaikum..”

“Waalaikumsalam.”

Tidak ada keceriaan ucap dan jawab salam seperti biasa. Mamak merasa bersalah karena selain kesalahan berkomunikasi tadi, Mamak juga tanpa sengaja melepaskan pesan kekesalan pada Papa saat meminta Papa sholat di masjid.

Arsyad tertidur sendiri di kamarnya saat Mamak sedang sholat Isya. Mamak lalu rapikan posisi tidurnya dan mencium keningnya, meminta maaf atas sore yang kurang menyenangkan ini. Saat Papa pulang, Mamak menawarkan diri untuk memijat kaki dan punggungnya sebentar sebelum tidur, menyiapkan madu pahit dan air minum hangat dan irisan bawang merah di dekat tempat tidur.

“Makasih, Ayang… Tidur duluan, ya.” Papa memeluk Mama lalu berjalan ke kamar tidur.

“Hmm.. iya. Pake selimut, ya. Biar keringetan.” Sambil menyelimuti Papa.

“Ayang cepet istirahat juga.”

“Ya, nanti kalau udah beres makan kolaknya.”

Hari ini aroma rumah kami menyeruakkan ketegangan. Kelelahan fisik dan mental para dewasanya begitu mempengaruhi suasana. Meskipun komunikasi yang terjadi tidak terlalu produktif, kami jadi belajar bahwa lain kali energi yang tersisa harus dapat dimanfaatkan untuk menjaga komunikasi agar tetap berjalan baik.

wp-image-1772080316jpg.jpg
Selamat istirahat, para jagoan Mamak. Besok kita bertemu lagi dengan semangat terbarukan! 🙂

#level1 #day5 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip

Advertisements

One thought on “Fixing the Gear (5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s