Posted in IIP, Kisah Mamak

Fixing the Gear (6)

(Catatan perjalanan Mamak berkomunikasi produktif dalam keluarga)

Emosi hari ini lebih terkontrol daripada hari kemarin. Mungkin karena hari ini adalah the end of the day mengawas UKK di sekolah, ya, jadi bawaannya senang. Hehee. Pas Mamak pulang, Arsyad ditemani bibi (ART-nya Enin) sedang bermain di rumah dek Akhtar. Begitu Mamak samperin, dia malah anteng main dan melihat Mamak dengan hanya senyum-senyum aja. Ya Mamak biarkan saja dulu, sambil Mamak simpan tas dan barang bawaan ke rumah sekalian nyuci dulu diaper Arsyad dan masak nasi.

Selesai itu, Mamak jemput Arsyad dan bersamai dia sebentar di ruang tengah. Lalu minta izin padanya mau pergi ke dapur membersihkan ayam. Dasar mungkin dianya belum terlalu puas dibersamai Mamak setelah 7 jam tidak bertemu, dia pun mulai mengomel.

“Sebentar, Nak. Mama bersihin ayam dulu kan…”

Masih ngomel.

“Nanggung nih. Ngga lama kok bersihin ayamnya.”

Ngomelnya makin menjadi.

“Nak, tangan Mamanya bau. Tunggu sampai Mama selesai, ya.”

Arsyad pun bertindak, bergegas menuju ke dapur.

“Ci.. ciii…!” Katanya saat tahu pagar yang menghalangi akses jalan ke dapur terkunci.

“Iya dikunci. Arsyad tunggu sebentar di situ.”

Arsyad semakin berusaha menaklukan pagarnya. Merasa akan berbahaya, Mamak pun sudahi dulu membersihkan ayamnya (kebiasaan lama yang masih belum bisa dihilangkan, tidak mau meninggalkan pekerjaan yang sedang dilakukan kecuali kalau Arsyad menangis. Ckckck). Dan benar, saat Mamak hampiri Arsyad, kaki kanannya sudah berada di area dapur dan kepala merunduk seperti hendak berusaha memasukkannya lewat spasi pagar. Arsyad mencoba “menembus” pagar lewat spasinya meskipun gagal. Tapi dia berhasil membuat bagian atas pagar yang berwarna abu terlepas dari sambungannya. Yaa salam…

Pagar pipa PVC yang rapuh jika berhadapan dengan tenaga Arsyad.

“Ya udah, makan aja, yuk. Arsyad makan.”

“Mamam!”

“Iya, makan kolak, ya.”

“Kowok!”

Arsyad memang mudah dialihkan perhatiannya oleh makanan, bahkan saat menangis sekalipun. 😀

“Nih, kolaknya.”

“Kowok!” Dan ketika dia melihat ke dalam mangkoknya, “Eueut!” lalu menyeruput air kolaknya. Mamak sudah antisipasi itu dengan hanya memberikan sedikit kuah kolak pada mangkoknya.

“Udah. Makan dulu nih pisangnya.”

Ritmenya kemudian menjadi sruput-kunyah-sruput-kunyah.

“Nih, air minumnya.” Mamak siapkan air minum dalam cangkir alumunium lalu Mamak tinggalkan Arsyad sebentar ke kamar mandi. Belum juga Mamak keluar dari kamar mandi,

Continue reading “Fixing the Gear (6)”