Posted in Kisah Mamak

Ketegasan Lisan Seorang Ghifar

Screenshot_2017-06-10-15-07-47-1-1

Sabtu lalu, 10 Juni 2017, Mamak memenuhi undangan bu menejer untuk menonton sebuah drama musikal di Sabuga, Bandung, bertajuk “Abu Dzar Al-Ghifari“. Drama musikal ini persembahan dari kawan-kawan Sensyar’i, sebuah komunitas syiar Islam yang bergerak di bidang seni, teater khususnya. (Mamak sok ikrib banget yak, bilang kawan-kawan, heuheu. *emoticon monyet tutup mata) Dan merupakan kolaborasi bersama Sygma Daya Insani, yang menghadirkan ke tengah-tengah keluarga kita buku-buku Islam berkualitas, seperti Muhammad Teladanku. Mamak yakin, kalau SDI ngadain acara, pas kece badai. Acara-acaranya selalu luar biasa menyentuh sanubari, membawa jiwa seperti bermusafir dalam rangkaian siroh yang disajikannya. Well, meski Mamak baru sempat dua kali sih dengan ini, menghadiri acara SDI (yang satu lagi sebelumnya berformat seminar parenting), tapi Mamak selalu yakin kalau persembahan SDI tak akan pernah mengecewakan. ❤

Tentang Sensyar’i, Mamak memang sudah tahu sedikit sebelumnya. Malah dulu waktu mereka ada pentas “Muhammad Al-Fatih” di teater tertutup Dago, Mamak pengen banget nonton tapi ngga kesampaian. Alhamdulillah, kemarin lusa bisa nonton juga. So, ini adalah kali pertama Mamak menikmati teater lagi setelah sekian lama. Hmmm… kapan ya terakhir kali Mamak nonton teater? 2012, gitu? Pas masih kuliah. Hahaha.. Sashiburi da naa..

Menurut berbagai sumber, drama musikal adalah jenis teater yang mengusung seni peran, musik dan tari sebagai unsur utamanya. Nah, selama kurang lebih satu setengah jam Mamak berdingin-dingin di aula timur Sabuga, Mamak rasa tiga unsur ini terangkat abis sama Sensyar’i. Asli, mereka keren! Dari sisi para pemerannya udah jelas yaa, they are talented! Kisah hidup Abu Dzar jadi tersampaikan dengan baik berkat penjiwaan mereka yang superb. Segi musiknya? Ini favorit Mamak banget! Mamak emang bukan anak musik, ngga terlalu ngerti musik tapi boleh lah ya dimasukkan ke dalam golongan penikmat musik, khususnya musik latar belakang alias soundtrack. Komposernya ciamik, nih! Pas banget “adonan” musik untuk setiap scene itu, bikin ruh kisahnya jadi makin teresapi. *Halah apa sih, Maak… Suara para pemerannya, baik ketika bernyanyi maupun berbicara oke punya! Cocok! Terakhir, seni tarinya. Sekali lagi, Mamak bukan orang seni dan mungkin punya selera seni yang berbeda dengan para penikmat seni lainnya, tapi untuk sebuah drama musikal Islami, gerakan-gerakan tarian penunjang pertunjukkannya cukup lah, tidak berlebihan. So, overall thumbs up dari Mamak sambil geleng-geleng takjub!

20170610_142339
The best my phone can get the picture, hahaa..

Yang lainnya kayak pentas, properti, lighting, make-up, dst, dst juga quite good! Atuh secara mereka kan pementas profesional! 😀 Meskipun judulnya Mamak ngga ngerti seni, ya, tapi waktu kuliah dulu Mamak pernah ngontrak mata kuliah Exploring Drama dan terlibat dalam penggarapan dua pementasan drama. Jadi, cukup kredibel lah ya reportase dari Mamak ini. Hehee..

Dan… ciri khas dari Sensyar’i ini, selain menyuguhkan tiga unsur tadi, mereka juga menghadirkan Da’i Nanang sebagai naratornya dan istri sang Da’i, Neng Nada, sebagai salah satu pengisi vokal yang menyumbangkan suara indahnya dalam beberapa soundtrack. Eits, pasangan penghafal Qur’an ini jugalah yang melantunkan ayat-ayat Al Qur’an sebagai salah satu dua scene dari kisah Abu Dzar.

Jadi, karena ini performance-nya bagus banget, pesan dari kisahnya pun dapet! Drama musikal ini berhasil menggambarkan perjalanan hijrah seorang Ghifar, Jundub bin Junadah (nama asli Abu Dzar), yang mengantarkannya sebagai salah satu As-sabiqun Al-awwalun. Satu hal yang menjadi highlight dari drama musikal ini adalah saat scene seseorang menyampaikan pada Abu Dzar mengenai kabar duka wafatnya sang kekasih, Rasulullah Saw. Di sini airmata Mamak meleleh…. huhuuuu T_T Entahlah, setiap membaca sirah pun ketika sampai di bagian wafatnya beliau Saw. mata ini seperti mobil yang remnya blong. Ngucuuuur airmata, sedih sesedih-sedihnya. Ada perasaan sakit hati dan duka mendalah seolah-olah menyaksikan sendiri secara langsung kepergian sang rasul. Muhammad Teladanku yang jilid terakhir tuh, baru Mamak baca sedikit saja hati udah nyesek dan sedih. Belum sampai tamat bacanya, pipi udah basah aja. Pun ingus yang ikut-ikutan meler. Dan siang itu Mamak dapat kembali sensasi serupa. Untung aulanya gelap (Ya iyalah), Mamak bisa agak puas itu nangisnya. Huaa.. huaa.

Tapi kisah Abu Dzar tidak berakhir sampai di situ, masih ada beberapa scene untuk dinikmati. Dan kehidupan Abu Dzar sepeninggal Rasulullah Saw., mengajarkan kita untuk menjadi muslim yang tangguh dan tegas melawan kebathilan. Abu Dzar tak segan-segan menghunuskan pedangnya untuk memberantas orang-orang yag berbelok, tapi beliau selalu mengingat pesan kekasihnya untuk selalu menyampaikan dakwah dengan cara yang hikmah. Ah, berkaca pada perjalanan hidupnya Abu Dzar ini, Mamak jadi mikir Mamak ini muslim seperti apa sih? Jangankan berdakwah seperti beliau, diri saja masih penuh dengan kerak-kerak maksiat yang tak ada habisnya. Hiks. :’-(

Semoga Allah SWT mengampuni dan selalu membukakan pintu taubat dan menjadikan kita termasuk golongan orang yang disukai-Nya untuk mendapatkan petunjuk, seperti Abu Dzar…

Advertisements

4 thoughts on “Ketegasan Lisan Seorang Ghifar

  1. Assalamualaikum,

    Saya mengutip di artikelnya
    “highlight dari drama musikal ini adalah saat scene seseorang menyampaikan pada Abu Dzar mengenai kabar duka wafatnya sang kekasih, Rasulullah Saw.”

    Saya beri informasi, sosok “seseorang” disini ialah Anis bin Janadah Al-Ghifari, yang tak lain adalah saudara kandung Abu Dzar sendiri. Semoga info dari saya yang sedikit ini bisa bermanfaat, terima kasih^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s