Posted in Kesehatan, Kisah Mamak, Yaa Bunayya

Ketika Arsyad Sakit…

Arsyad 10 bulan, masih gembil dan mau dipakein kompres demam.

Yang jelas, Mamak sudah sugestikan sebelum-sebelumnya kalau anak-anak Mamak nanti sakit, first thing first is KEEP CALM alias ngga panikan. Dan sebisa mungkin, jangan ada pikiran “Mendingan Mamak aja yang sakit daripada kamu, Nak…“. Kenapa begitu? Karena sepertinya justru akan lebih repot kalau si emak yang sakit. Everything in the house will turn messy! Incredibly messy! Dan malah bikin tambah stress, heuheu. Dan lebih kasian anaknya, perhatian dan lain sebagainya otomatis akan berbeda dibanding ketika si emak lagi sehat. Dan… (‘pabila esok.. datang kembali.. *karokean lagunya om Duta dkk)

Alhamdulillah sugesti ini cukup bekerja sesuai harapan. Sehingga, ketika Arsyad sakit, Mamak ngga nimbun-nimbun stress berlebih dengan panik dan khawatir. Mungkin orang-orang ngeliatnya Mamak kelewat santai, yaa. Bisa jadi mereka punya opini, “Ini Emak, anaknya sakit kok tiis aja.” Hush. Su’udzan itu, Maak..! Astagfirullah.. Anyway, selain sugesti macam tuh, Mamak sama Papa juga sepakat kalau kita adalah keluarga sehat dan kuat yang bisa meminimalisasi kunjungan ke dokter karena sakit. Hehee.. Jadi, Kami akan berikhtiar dulu dengan home remedies sebelum berobat ke dokter, atau bahkan sebelum mengkonsumsi obat kimia buatan yang dijual di apotek-apotek. Bi idznillah..

Dan, beginilah.. keluarga kami sakitnya ngga jauh-jauh dari masuk angin, flu, dan batuk. Alhamdulillah masih bisa ditangani dengan treatment dari rumah. Beberapa hal yang biasa kami lakukan bila mulai terserang penyakit “langganan” :

  1. Ngupas dan ngiris beberapa siung bawang merah. Dimasukkan ke dalam sebuah mangkok kecil dan disimpan di dekat tempat tidur. Bawang merah ini katanya punya zat yang bisa menyerap bakteri dan sebangsanya.
  2. “Dikerok” alaΒ dr. Agus RahmadiΒ pake bawang merah yang dipotong melintang (bukan pake koin/logam kerokan) dan ngga sampe merah sekali kulitnya karena itu tandanya kulit teriritasi.
  3. Mandi air hangat (cenderung panas) pakai garam. Harusnya sih pakai garam Inggris, tapi di rumah adanya garam dapur. Mungkin the power of suggestion, jadi lumayan lah pakai garam dapur pun dapet efek relaksasinya.
  4. Minum madu pahit 3x sehari sebagai pengganti obat flu, batuk/ pilek. Khusus untuk Arsyad, Mamak buatkan sari kencur+madu murni.Β Kencur diparut dan diambil sarinya lalu dicampur dengan madu, langsung diminumkan.
  5. Biasanya, selain madu pahit juga para dewasa di sini kadang minum duet kencur+madu juga. Tapi kemarin-kemarin pas Mamak kena angin duduk dan dipijit sama tukang pijit langganan Enin, doski bilang kalau kena flu dkk gayem aja kencur. Yes, kencur aslinya tanpa diapa-apain (kecuali dibersihkan terlebih dahulu tentunya), dan ditambahin macam-macam, langsung dikunyah dan ditelan. Rasanya? Luar biasa ngga enak. Hahaa. Tapi khasiatnya tokcer! Malem mamam kencur, besoknya dahak keluar. Meskipun bertahap yaa.. ngga langsung keluar semua dahaknya. Jadi ngunyah kencurnya juga rutin, tiap hari. Hahaa..
  6. Minum lebih banyak air putih, dan diusahakan yang hangat. Apalagi pas batuk, it helps us calm the roaring throat.
  7. Memperbanyak konsumsi buah dan sayur dan sebisa mungkin “puasa” dulu makanan berminyak. Poin yang terakhir itu sampai sekarang masih agak susah buat Papa yang gorengan holic. Ckckck.

“Hendaklah kalian menggunakam dua jenis obat, yaitu madu dan al Qur’an.” (HR. Ibnu Majah)

Arsyad, sampai usia 20 bulan ini, berkunjung ke dokter hanya 2 kali, hehee. Tidak termasuk imunisasi tentunya. Yes, Arsyad anak vaksin. Mamak sama Papa ProVaksin. Dulu sebelum menikah, Mamak sempat ikut kelas Parenting yang sedikit membahas kebutuhan vaksin anak. Kata pembicaranya, anak sebetulnya ngga butuh vaksin. Yang butuh itu orangtuanya. Jika orangtuanya yakin bisa memberikan proteksi kesehatan optimal untuk mencegah berbagai macam penyakit, semestinya mereka tidak memerlukan vaksin. Nah, di sini Mamak sama Papa mengukur diri dan merasa membutuhkan vaksin sebagai salah satu ikhtiar kami menjaga kesehatan anak-anak. πŸ˜€

Oke, back to kunjungan dokter tadi. Yang pertama, waktu Arsyad usia 1 bulan, Mamak dan Papa bawa Arsyad untuk screening ke dsa karena badan dan mata Arsyad nampak masih terlihat kuning. Kami khawatir, ini bukan kuning biasa yang terjadi pada bayi baru lahir (kadar birilubinnya tinggi). Ternyata, di ruang dokter, Mamak disemprot sama ibu dokter yang terhormat karena dianggap lalai. Sampai akhirnya Mamak ill feel pada beliau meskipun yaa Mamak akui Mamak salah juga ngga cepat-cepat bawa ke dokter. Habisnya, Mamak waktu itu percaya kekuatan do’a, usaha “menjemur” Arsyad dan ASI. Mungkin, prosesi penjemurannya kurang maksimal dan Mamak+Arsyad belum bisa bekerja sama dengan baik dalam hal mengASI, jadi ASI-nya kurang grengg dalam menurunkan kadar birilubinnya. Alhasil, menginaplah Arsyad selama 5 hari di “oven biru” dengan oplosan susu formula karena Mamak tidak rajin memerah ASI sedari lahir jadi ngga punya stok dan ngga bisa kejar tayang memenuhi kebutuhan ASI Arsyad selama pesantren di sana.

Kedua, Arsyad kembali mengunjungi dokter (yang berbeda dengan dokter sebelumnya, hahaa) beberapa bulan lalu, ketika usia 16 bulan. Sebetulnya, Mamak sudah merasa bahwa nothing’s wrong with Arsyad, it just something not to worry about. Tapi, Mamak pikir tidak apalah dibawa ke dokter, demi mengobati kahariwangan (B. Sunda, kekhawatiran) Eninnya Arsyad, hehee. Jadi ada semacam bintil kecil di daerah kemaluan Arsyad, dan agak merah. Itu saja. Tidak nampak ada titik putih seperti nanah di bagian tengahnya, atau bengkak atau indikasi keanehan lainnya. Menjadi ibuk sejati memang harus mau mengobservasi segala hal yang di luar kebiasaan. (Termasuk bau, warna dan tekstur feses anaknya. Yeah, it’s damn true! *emoticon ketawa sampai keluar airmata) Hanya saja, Arsyad sempat menangis dan rewel sehari sebelum dibawa ke dokter. Dan apa kata dokter? Beliau menyimpulkan bahwa tidak ada gejala sakit apapun. Hanya merah seperti bentol, kemungkinan besar digigit serangga/binatang super kecil semacam semut. Dikasih lah resep salep. Nah, Mamak punya kebiasaan untuk searching tentang obat kimia buatan yang diresepkan oleh dokter dan berakhir pada mengurangi dosisnya dengan maksud mengurangi efek samping yang ditimbulkan oleh si obat. Lah, dokter kan jauh lebih tahu kebutuhan pasien dibanding emak-emak kayak kita? Yaaa.. tapi sekali lagi, ini bentuk ikhtiar Mamak sama Papa untuk mengurangi resiko negatif dari obat kimia pabrikan.

Oh, sebulan sebelumnya, Januari lalu terjadi hal yang sempat membuat Mamak panik! ARSYAD KEJANG!! Usia balita memang rentan mengalami kejang, dan ternyata hampir di setiap laman yang ditulis oleh dokter menyarankan hal pertama yang harus dilakukan oleh para orangtua ketika anak kejang adalah: TIDAK PANIK. Ceritanya, hari Minggu itu Arsyad demam. Pagi-pagi doski yang belum mandi sedang nonton acara anak bersama Papanya. Posisi Mamak ada di dapur. Tiba-tiba,

“Yang, ini Arsyad, Yang!” Suara Papa seperti yang panik, menggendong Arsyad ke dapur.

“Ya Allah! Arsyad kejang!” Mengambil alih Arsyad, langsung refleks memasukkan telunjuk ke mulut Arsyad.

“Euh, itu! Masukkin kakinya ke air di ember!” Papa sambil menunjuk ke arah ember biru di tempat pencucian piring.

“Iya! Panggil Bi Liah! Bilang Arsyad kejang!” Mamak agak histeris, menggendong Arsyad lalu memasukkan kakinya ke dalam ember berisi air. Bi Liah adalah adik kedua Eninnya Arsyad, beliau dokter umum yang buka praktek dekat rumah. “Cepet, Yang! Lari!”

Papa lari keluar, meninggalkan Mamak dengan Arsyad yang masih gemetaran badannya. Meskipun ada suara entah dimana yang mengingatkan Mamak untuk tetap waras dan ngga panik, tetep aja Mamak khawatir dan menangis, “Nak.. Arsyad! Hey, Arsyad! Liat Mamak, Sayang.. Arsyad..! Arsyad…!” Sambil memeluk Arsyad terus istigfar selang manggil nama Arsyad. Mamak pikir itu bisa bikin Arsyad dalam keadaan tetap sadar. Alhamdulillah, tidak sampai 10 menit Arsyad kejang. Entah berapa menit tepatnya. Rasanya Mamak terlalu panik untuk membawa stopwatch terlebih dahulu sebelum memasukkan kaki Arsyad ke dalam ember. Yang membuat Mamak ngga terlalu panik adalah badan Arsyad tidak “terlalu” panas. Tadi pagi sekali sebelum kejadian kejang itu Mamak ukur suhu badannya dan angkanya tidak mencapai 40Β° celcius, masih di kisaran 39Β°. Dan gemetarnya pun tidak “terlalu” kencang. Bola mata Arsyad memang sempat mengarah ke atas, tapi itu pas digendong oleh Papa saja. So, everything seems (quite) alright. Treatment memasukkan kaki anak ke dalam air ini Papa tahu dari Neneknya Arsyad. Waktu nenek mengantar sepupunya Papa yang kejang ke dokter, dokter melakukan hal yang serupa. Nah, ketika Mamak baca-baca lagi artikel tentang kejang ini, katanya airnya tidak boleh yang dingin apalagi pakai es. Itu justru membuat badan anak yang sedang kejang menjadi shock. Nenek dokter (Bi Liah) kemudian datang setelah Arsyad sudah tenang dan bisa diajak ngobrol. Padahal rumah Enin lebih dekat daripada rumah Nenek dokter, tapi si naluri menyuruh Mamak untuk menginstruksikan Papa memanggil Nenek dokter. Heuheuu.. Maaf, ya, Niiin.. *emoticon monyet tutup mata. Karena Nek Dokter ngga punya stok obat kejang, beliau meresepkan Papa untuk membelinya di apotek. Katanya, jaga-jaga kalau nanti kejang lagi. Hamdallah.. (insyaAllah) kejang itu yang pertama dan yang terakhir buat Arsyad, jadi Mamak tak perlu menusuk (sorry) anus Arsyad dengan diazepam ini. Iya, obatnya seperti obat pencahar, dimasukkan ke situ. Iya, obatnya seperti Napza, mengandung diazepam, kan penenang. Fyuuuh.. Arsyad terhindar dari obat macam tuh.

Mengenai demam, yang tak bisa terelakkan jika Arsyad flu, batuk, atau pilek, Mamak punya referensi treatment dari grup FBΒ Room for ChildrenΒ yang diasuh oleh beberapa dokter anak Indonesia:

  1. Mengusahakan anak agar minum lebih banyak. Anak under 6 months bisa diberi ASI lebih sering.
  2. Menurunkan suhu permukaan tubuh dengan cara mengompres bagian leher, ketiak dan lipatan paha memakai air hangat/bersuhu ruangan, BUKAN AIR DINGIN/ES. Tapi yang ini agak sulit dilakukan ketika Arsyad beranjak “dewasa”. Doski selalu merasa ngga nyaman dengan kompresan dan selalu berusaha mengenyahkannya. Cara lain adalah duduk berendam di air hangat sambil dibasuh seluruh badannya. Enin suka protes nih kalau Mamak mandikan Arsyad yang lagi demam. Padahal kan niatannya untuk menurunkan suhu badannya. Hadeuuuh.. ini saran dari dokter, Nin.. bukan Mamak yang sotoy.
  3. Tidak memakaikan selimut, kaos kaki atau baju yang berbahan tebal. Jadi bajunya Arsyad pas demam kayak yang lagi mantai gituu. Karena jika melakukan yang sebaliknya, menurut dr. Prasiska Sri Susanti Sp.A, panas tubuh tidak akan keluar.
  4. Panas sebetulnya adalah sahabat kita! Kalau anak tidak rewel atau kejang, pemberian obat penurun panas itu sebetulnya tidak perlu. Fungsinya lebih ke penghilang nyeri. Mamak juga suka kasih Arsyad paracetamol kalau suhunya sudah melewati angka 38Β° atau kepalanya terasa panas sekali (seperti yang pusing/sakit kepala).
  5. Mencari tahu penyebab panas dan menyembuhkannya alih-alih hanya fokus menurunkan demamnya. Jadi, kalau Arsyad batuk ya tinggal “cekoki” kencur+madu. Tapi kalau sudah 3 hari ngga ketemu nih penyebab demamnya, harus segera periksa ke dokter.

(Sumber:Β FB doc. oleh dr. Fransiska Sri Susanti, Sp.A.Β )

Sejauh ini, Arsyad baik-baik saja dengan home remedies ini. Sepayah-payahnya dia sakit, paling nafsu makannya yang menurun. Maunya makan makanan yang manis tapi tetap mau makan buah-buahan dan minum air putih. Dan masih bisa beraktifitas seperti biasa meskipun jam tidurnya jadi bertambah. Pup-nya lancar (sehari sekali) meski kadang teksturnya tidak sepadat ketika sehat. Rewelnya… yaa.. rewel-rewel manja biasa lah.. Mamak can still count it as a normal thing. πŸ˜€

Inspirasi sehat kami sekeluarga, Rasulullah Saw.Β πŸ™‚ yang jejak-jejak sehatnya terangkum oleh:

 

Advertisements

One thought on “Ketika Arsyad Sakit…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s