Posted in Catatan Kajian, Kisah Mamak, Yaa Bunayya

Komunikasi Efektif

(Sepenggal catatan Mamak dari kajian Parenting bersama Bunda Siti Sarah Hajar N., S.Psi, “Komunikasi Efektif pada Anak“)

Mamak ikut kajian ini udah lamaaa.. sekitar 5 bulan yang lalu, tepatnya 14 Januari 2017. Daaaan… baru sempat (gayanya sok sibuk) mindahin paririmbonnya ke blog sekarang. *emoticon monyet tutup mata*

Seminar ini Bunda buka dengan menayangkan sebuah video yang berceritakan seorang pelatih american football sedang meneriaki para pemain di timnya. Mamak awalnya mikir itu pak pelatih lagi emosi tinggi tersebab di pertandingan sebelumnya timnya kalah jadi main bentak-bentak aja. Eh, di akhir pak pelatih memeluk beberapa pemain dan bilang, “You’re doing great!” (Entah apa ucapan pastinya yang jelas macam tuh lah.) Bunda Sarah lalu menjelaskan itu adalah salah satu contoh komunikasi efektif. Ya, meskipun si pelatih teriak-teriak. Tapi itu efektif diaplikasikan di lingkungan seperti itu. Pertanyaannya, apakah atmosfir keluarga kita sama dengan atmosfir lapangan football tadi? Tentu tidak kan. Berarti, apakah ketika kita sang orangtua berkomunikasi pada anak kita dengan cara berteriak, komunikasi yang dilakukan itu efektif? Jelas tidak berarti, ya. Meskipun pesan yang ingin disampaikan adalah baik, tapi caranya salah (berteriak tadi, misalnya) pastinya tidak akan diterima dengan baik oleh si anak. Mungkin, masuk telinga kanan lalu keluar dari telinga kiri. Mending kalau hanya begitu.. kalau si anak merasa sakit hati karena diteriaki? Lebih berabe lagi..

Jadi, bagaimana dong melakukan komunikasi yang efektif pada anak-anak?
Komunikasi efektif adalah salah satu faktor terpenting dalam pengasuhan. Itu sebabnya kita harus berhati-hati dalam hal ini. Jangan sampai malpraktek, hehee.. Seperti yang sudah tercontohkan di awal, komunikasi efektif (KE) merupakan cara berkomunikasi yang baik . Rumusnya:

Jika komunikasi-komunikasi yang terjadi antara orangtua dan anak ini efektif, hubungan yang akrab akan tercipta. Dan otomatis anak-anak pun akan belajar dengan sendirinya melakukan komunikasi yang efektif, karena apa? Mereka adalah the real copy cat! Peniru yang ulung.

Beberapa poin penting yang sempat Mamak catat dari wejangannha Bunda Sarah:

  • Perhatikan gaya komunikasi kita. Ingat lagi cerita pelatih football tadi.
  • Pastikan pesan kita tersampaikan dengan baik pada anak.
  • Perhatikan nada dan intonasi. (Ini PR latihan Mamak nih di Game level 1 Kelas Bunda Sayang IIP, hihihii)
  • Sesuaikan dengan situasi.
  • Alibi “kasihan” sebenarnya tidak baik bagi perkembangan katakter anak. Orangtua harus bisa tegas. 
  • Lihat dan pahami Quran Surah An-Nisa ayat 9. Mamak tak kan share di sini ayatnya. Dilihat sendiri, yaaa.. Dibuka dan dibaca Quran-nya.. πŸ˜‰
  • Hati-hati dengan perkataan berulang. Efeknya bisa terjadi bertahun-tahum kemudian. Jadi, biasakan memanggil/”mengatai” anak-anak dengan sebutan yang baik, Sayang.., Shalih.., Shalihah.., Pintar.., Hafidz.., Hafidzah.., dll. Ingat, ucapan adalah do’a. 
  • Ketika memghadapi masalah anak, orangtua harus jadi pendengar aktif. Jangan malah “ikut campur”, menjadikan masalah tersebut sebagai masalah orangtua. Ini melatih anak problem solving dan bertanggung jawab.
  • Biasakan menamai perasaan kita dan juga perasaan anak. Misalnya, “A, Mama sedih lho kalau Aa ngga bereskan mainannya sehabis main.” Atau, “Oh, Aa marah karena Papa ngga ngajak Aa pergi ke bengkel?”. Sehingga, di saat anak dewasa nanti, dia sudah terlatih memahami perasaannya. Ngga jadi manusia galau yang nampaknya banyak bergelimpangan di tanah air akhir-akhir ini. Hiks.

Kita sebagai orangtua juga harus waspada terhadap dua gaya yang tanpa kita sadari, mungkin pernah kita praktekkan:

Waspada lah! Waspadalah!

Ah, sepertinya sedikit sekali yang bisa Mamak perhatikan dan berhasil catat dari seminarnya Bunda Sarah tempo lalu. Apa daya, perhatian Mamak terbagi dua antara Bunda Sarah dan Ananda Arsyad. Hahaaa..

Arsyad (14 Bulan) yang baru lancar berjalan saat itu, agak menyita fokus Mamak, heuheu

Ada satu hal lagi, ada beberapa hal yang perlu dilakukan ketika terjadi konflik dalam komunikasi kita dengan anak-anak, tantrum misalnya.

  1. Respon cepat permasalahnya. Respon dengan aksi, bukan dengan emosi.
  2. Jangan menunda penyelesaian. Libatkan orang lain jika perlu. Masalah tidak bisa hilang ditiup angin seiring berjalannya waktu, sekali lagi: perlu action!
  3. Gunakan bahasa yang bijaksana sesuai dengan usia anak. The younger the kids, the more simple the language.
  4. Cek & ricek setiap permasalahan. Telusuri dengan baik agar ketemu penyelesaian yang pas, tepat sasaran. Hindari reaktif. KEEP CALM~

Nah, ketika Mamak searching lagi perihal tantrum ini, Mamak nemu tulisan si teteh kece temen sekelas di Matrikulasi IIP kemarin, teh Echa. Beliau menyimpan resume KulWapp dengan Teh Niken TF. Alimah yang juga membahas tentang komunikasi efektif dan tantrum pada balita.  Cocok banget nih sama catatan Mamak ini. Di sana Mamak menemukan, Teh Niken menjabarkan 6 poin yang penting untuk dilakukan orangtua sebagai P3K P3AT (Pertolongan Pertama Pada Anak Tantrum *maksa banget istilahnya, hahaa…) 

  1. Biarkan anak dengan perilaku tantrumnya. Sebaiknya, orangtua menanggapi wajar perilaku anak tersebut sambil memantau kondisi sekitar, pastikan anak aman dari bahaya.
  2. Jangan marah apalagi memukuli anak. Marah tidak akan menghentikannya, justru cenderung membuat anak meningkatkan perilaku tersebut. Kuncinya: sabar.
  3. Jangan langsung memenuhi keinginan anak saat sedang tantrum. Ingat, kita sedang β€œberperang” dengan anak, memenuhi kebutuhan anak saat itu tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan menimbulkan masalah baru. Beri penjelasan sederhana tanpa emosi. Penjelasan tanpa emosi lebih dapat dipahami dan diterima oleh anak.
  4. Komunikasi antar orangtua penting. Sebelum menangani anak dengan tantrum, orangtua harus paham terlebih dahulu mengenai konsep tantrum dan bagaimana harus bertindak. Kesepakatan orangtua penting, agar anak melihat orangtuanya secara seimbang. Jangan sampai anak memposisikan ayah sebagai β€œpahlawan” karena keinginannya dibela dan ibu sebagai β€œmusuh” karena keinginannya ditentang, atau sebaliknya.
  5. Beri pengertian orang sekitar, terutama kakek dan nenek. Salah satu hal yang menggagalkan upaya kita mengatasi anak tantrum adalah tentangan dari kakek nenek. Biasanya mereka akan langsung memenuhi kebutuhan anak bahkan cenderung memanjakan anak. Hal ini tentu saja tidak baik bila terus dilakukan. Beri penjelasan kepada mereka, alasan mengapa kita membiarkan anak tantrum. Bila perlu, diskusikan mengenai hasil penelitian dengan bahasa yang mudah dimengerti.
  6. Last but not least, konsisten dengan apa yang kita lakukan dalam menangani tantrum ini.