Posted in Catatan Kajian, IIP, Kisah Mamak

Mamak Rempong juga Pengen Hafal Qur’an

(Sekelumit catatan Mamak dari Kajian “Emak Rempong Bisa Ngafal Qur’an bersama Ibu Hj. Salmiah Rambe S.Pd.I)

Kajian offline pertama (sekaligus terakhir) yang Mamak ikuti di bulan Ramadhan tahun ini. Beberapa hari sebelumnya, Mamak antusias sekali dengan acara yang dibuat oleh RB Tahfidz IIP Bandung ini. Begitu lihat flyer-nya sudah bertekad dalam hati, bisa ikut dan belajar di sini. Bi Idznillah..

img_20170527_164600_586.jpg

Alhamdulillah, izin dari Papa keluar dengan mudah. Mamak juga dikasih sehat daan.. Adek-adek Mamak lagi ngga ada kegiatan jadi bisa nitipin Arsyad ke mereka. Hehehee. Kok dititip Arsyadnya? (1) Karena Mamak pengen bisa menangkap sinyal-sinyal pencerahan dengan baik, (2) Saving energy; bumil lagi shaum itu bener-bener perlu pinter mengatur kegiatan yang dilakukan dan strategi hemat energi (hihii).. Arsyad itu bukan tipe anak yang bisa duduk diem anteng dalam kurun waktu yang lama meski udah bebekelan buku, mainan, pun makanan.. jadi: saving energy! πŸ˜€ Ini kajiannya betul-betul sekece judulnya. Hehee.. Keputusan yang tepat memang tidak mengikutsertakan Arsyad. Energi positif dan semangatnya bisa terserap maksimal sama Mamak…

wp-1498019662428.jpg
Kira-kira beginilah perasaan Mamak sepulang dari kajian. Hihihii.. (Picture Credit to http://mideater.deviantart.com )

Cuman sayang, catatan yang Mamak tulis dari materi yang disampaikan Bu Mia hilang terbuang. Hiks. Biasanya Mamak suka tulis di notebook biru tapi hari ini dasar eh dasar.. malah nulis di balik halaman print-out kumpulan resume KulWapp yang Mamak ikuti beberapa hari sebelum kajian ini. 😦 *Eniwei, KulWapp-nya seru, lho! Ngebahas balita yang bisa hafal Qur’an! Sinergi banget kan ilmunya sama tulisan ini, hehee. Catatannya ada di tulisan Mamak yang satu ini πŸ˜‰ * Alhamdulillah.. Mamak sempat fotokan beberapa slide, jadi sebagian ilmu dari Bu Mia masih tersimpan cantik di kartu memori hape. Beliau berpesan pada buebu rempong macam Mamak nih, jika sungguh-sungguh ingin hafal Al-Qur’an: “PRIORITASKAN AL QUR’AN dan buktikan dengan WAKTUMU!“. Jadi ya, ngga ada alasan apapun sebetulnya. Mau kita repot seharian ngawal anak sama jaga gawang (rumah dan seisinya dari ungkapan kreatifitas anak-anak), mau sibuk sama urusan domestik, mau capek ngerjain amanah di ranah publik, itu sama sekali bukan halangan kita untuk bisa menjadi penghafal Qur’an. FYI, Bu Mia ini salah satu anggota DPRD Jawa Barat yang mengemban tugas di area pengembangan masyarakat dan perempuan (Komisi D). Kerjaannya pasti seabrek, kan.. Tapi, waktu dijemput sama Teh Triana (salah satu panitia acara) menuju ke venue kajian, beliau itu sedang asik menyapu teras rumahnya! Ibu dewan, masih sempat beberes rumahnya, dan hafidzah! Subhanallah.. Kita? Ah, kesibukan macam apa sih yang kita geluti dan anggap meresahkan jiwa sehingga dijadikam alibi sampai sekarang ngga bisa-bisa aja ngafalin Qur’an… Astagfirullah.. 😦

Nah, bagaimana cara kita membuktikan bahwa Qur’an memang prioritas kita, sehingga nantinya kita mampu menghafalkannya? Ini dia yang Bu Mia bagikan pada kami tempo lalu:

  • Sediakan waktu komitmen, bukan waktu sisa/senggang. Misalnya, setiap menjelang subuh.
  • Sepanjang waktu menghafal Al Qur’an. Jangan biarkan “waktu diam” kita dijajah oleh hal yang sia-sia. Waktu-waktu seperti di perjalanan naik angkot sepulang dari pasar, waktu masak, waktu nyuci piring, nyapu, dll. Percayalah, emak-emak itu multitasking!
  • Mulai menghafal dari ayat-ayat yang mudah seperti juz amma.
  • Membaca dengan tartil dan memperhatikan tajwidnya, sebagaimana sudah diperintahkan dalam QS. Al Muzamil: 4.
  • Menghafal dengan penuh penghayatan dan kekhusyu’an.
  • Menghafal dengan senang hati. Jadi, kalau hati ini sudah ada alarm merasa terpaksa atau berat dalam menghafal, istigfar.. banyak-banyak istigfar dan lemesin dulu hatinya. Biar ngga keseret-seret rasanya.
  • Membaca ayat yang sedang dihafal dengan suara nyaring.
  • Membatasi jumlah hafalan dalam setiap harinya. (Ada target harian yang disesuaikan dengan kemampuan kita)
  • Menggunakan langsung hafalan Al Qur’an yang sudah kuat dalam sholat.
  • Membuat target harian per bulannya, tulis dalam kertas, tempel di cermin atau area sekitarnya. Kata Bu Mia, cermin itu pojok yang sering menjadi sorotan wanita, jadi pas sekali menempelkan tulisan target hafalan di dekat cermin. Sekalian nih, ada kasih tulisan lain juga semisal, “Sudah nambah hafalan Qur’annya, Sist?” Hehee.. Yang terakhir itu ide dari Mamak. *emoticon monyet tutup mata* Kira-kira bisa diambil di sini contoh embikin target hafalannya >> unduh.

Mamak juga sempat capture teknis bagaimana menghafal Al Qur’an ala Bu Mia, agak-agak mirip dengan metode tikror nih.

  1. Membaca ayat yang akak dihafal sebanyak 15-20x, baru dihafalkan.
  2. Membaca 1 ayat/ potongan ayat, dilihat posisi ayatnya, pahami terjemahannya.
  3. Ulangi membaca dengan hanya melihat tulisan Arabnya (dihafalkan terjemahannya)
  4. Ulangi membaca dengan hanya melihat terjemahannya (dihafalkan ayat dalam bahasa Arabnya)
  5. Ulangi membaca tanpa melihat mushaf.
  6. Ayat yang dihafal digunakan langsung dalam sholat, terus menerus. Bisa sampai 2 pekan lebih.
wp-image-576497542jpg.jpg
Bu Mia ini sederhana dan ramah banget orangnya. Asik lagi! Teh Tasya, moderatornya, juga ngga kalah cetar. Pasangan pas ini.

Itu kiat-kiat supernya Bu Mia. Ada satu hal lain di luar teknis tapi juga insyaAllah jadi penggugah hati kita untuk bisa memantapkan jiwa raga dalam rangka gerakan emak rempong jadi hafidzah. Mamak sempat tangkap kisah dari Ibu meski tidak selengkap yang diceritakan beliau. Jadi, waktu Bu Mia ikut pelatihan menghafal Al Qur’an di Masjid Habbiburahman, beliau bertemu berbagai kalangan di kelompoknya itu. Bahkan seorang kakek yang sudah sepuh. Saat ditanya apa motivasi sang kakek menghafal Al Qur’an, jawaban beliau kurang lebih begini, “Kakek memang mungkin saja tidak sempat menghafalkan seluruh Al Qur’an sampai 30 juz. Tapi setidaknya kakek berusaha dan bercita-cita ingin mati dalam keadaan sedang menghafal Al Qur’an.” Masya Allah.. :’-) Bertahun-tahun kemudian, Bu Mia mendapatkan kabar bahwa ternyata Allah SWT masih memberikan usia yang berkah bagi si Kakek dan…

Beliau berhasil menyelesaikan hafalan sampai 30 juz. Masya Allah.. Laa Haulaa wa laa kuwwata illaa billah.. :’-)

Ngerasa kepecut banget ini. Kakek, you are wonderfully inspiring us.. Huhuuu..

PicsArt_06-21-11.18.00
Para teteh anggota RB Tahfidz diwisuda dengan segala kerempongannya. πŸ˜€

Dan another wonderful moment adalah selepas Bu Mia meninggalkan bekas tanda cintanya pada kami semua dengan segala ilmu dan inspirasinya, saat wisuda teteh-teteh anggota RB Tahfidz. Begitu iri pada mereka yang berhasil menghafal juz 30 dan 29 di tengah-tengah kesibukan keibuan mereka! Waktu tasmi’ juz 30 di wal acara juga, mereka berhasil bikin Mamak iri! Bikin Mamak mengutuki diri sendiri, duhai.. selama ini waktu dihabiskan untuk apa, Maaaakk….? 😦

Padahal, Allah SWT berfirman, bersumpah dengan waktu. (Al Ashr: 1) Itu berarti waktu benar-benar sungguj sangat penting dan perlu kita perhatikan dan jaga dengan baik. Ingat kata Bu Mia juga, “buktikan dengan WAKTUMU.” Pelajari lagi NHW matrikulasi kemarin, Maak.. tentang manajemen waktumu..

The last but not least, ada satu catatan dari Bu Mia untuk kita ingat di kala kita merasa sulit menghafal Al Qur’an: D.O.S.A. Kita sebagai manusia tentu tidak bisa terhindar dari dosa dan inilah salah satunya yang membuat kita mentok susah hafal. Jadi, alangkah baiknya kita bebersih dulu.. istigfar.. mohon ampun dan taubat juga minta kepada-Nya agar senantiasa dimudahkan dalam menghafal Al Qur’an dan mampu menjaga hafalan kita. Sekali lagi, disengaja ataupun tidak, kita pasti melakukan dosa. Tapi rahmat dan ampunan Allah itu jauh lebih luas, kita harus husnudzan bahwa Allah meneriman permohonan ampun kita dan mengabulkan permohonan kita menjadi madrasah anak-anak yang hafal Qur’an dan berakhlaq Qur’ani. InsyaAllah.. aamiin :’-)

 

Advertisements

2 thoughts on “Mamak Rempong juga Pengen Hafal Qur’an

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s