Posted in IIP, Kisah Mamak, Yaa Bunayya

Arsyad Belajar Mandiri

2016 kemarin, Mamak sama Papa sepakat untuk memberikan MPASI buat Arsyad dengan cara BLW, alias Baby Lead Weaning. Dan memang kondisi Arsyad-nya memenuhi prasyarat bebayi yang boleh BLW-an. Salah satu alasan kami melakukan itu adalah membiasakan Arsyad makan sendiri. Tentu acara makannya harus dengan pengawasan penuh Mamak atau Papa. One man must at least stand by watching. Hahaa. Alhamdulillah tidak ada tragedi yang berarti selama masa BLW ini. Ngga pure 100% BLW, sih.. karena kadang Arsyad disuapi juga dengan MPASI jenis bubur-buburan.

Lancarkah proses BLW-nya?

Tentu tidak semulus yang diimpikan. πŸ˜€ Belum lagi omelan dari enin yang bilang kalau metode “ngasih makan bayik” ala Mamak ini berbahaya. Khawatir kesedak lah, anak nanti kurang gizi lah (karena makanan yang masuk ngga banyak), dll, dll. Heuheuu.. FYI, bayik itu ternyata much more brilliant dari yang orang dewasa duga. Mereka semacam punya alarm kalau mau kesedak. Mereka akan langsung mengotomatisasi mulutnya untuk mengeluarkan si makanan: muntah. Soal gizi, sepengetahuan Mamak dari berbagai sumber, anak bayik under 1 year old itu asupan gizinya masih lebih banyak didominasi oleh peran ASI. Yaa.. Mamak sih tenang-tenang aja, orang Arsyad nenennya aja gembul. πŸ˜€

Sayangnya, dengan alasan Mamak yang semakin sibuk di sekolah, Papa yang kadang lelah membereskan sisa-sisa perang (baca: makan Arsyad) kalau Arsyad ditinggal sendiri di rumah sama Papa, jadilah Arsyad lebih sering disuapi. BLW mission : failed. *emoticon ketawa sambil nangis* Sekarang-sekarang, back to yesterday sih.. karena Mamak lebih banyaaaaak waktunya di rumah dan alhamdulillah manajemen emosinya sudah lumayan terlatih (meski seuprit), jadi tiap meal time, kami usahakan, kondisikan dan encourage Arsyad buat bisa makan sendiri. Biasanya, kalau ukuran makanannya masih agak “geung” (besar) menurut Arsyad, dia suka minta “otong” (potong) lagi. Bahkan seringnya kalau makan roti pun harus disuir-suir dulu terus ditata di “piying” (piring), nanti sama dia dicomotin. Heuheuu.. Untuk urusan “eueut” (minum), Arsyad udah pinter pegang telinga cangkirnya dari usia sekitar 16 bulan. 19 bulan bisa bawa-bawa cangkirnya dan isi air sendiri dari dispenser, bahkan bisa aduk-aduk campuran susu dengan air menggunakan sendok (katanya bikin susu sendiri). 21 bulan (bulan Juli ini) minumnya makin rapi, masukin makanan dari sendok ke mulutnya juga ada peningkatan walau nyendok makanan dari piringnya masih terlalu mengerahkan segenap jiwa raga. πŸ˜€

On a fine night, a little boy encouraged himself to make his own drink. Hihihii

Itu baru seputar kebutuhan paling primernya (makan). Dalam 3 hari belakangan ini, Mamak dengan segala pertimbangan, dorongan, sokongan dari berbagai pihak dan juga kerelaan hati (lah.. apaaa sih) akhirnya mulai juga potty trainingΒ : kebutuhan menggunakan toilet yang adalah salah satu hasil proses tubuh dari kebutuhan primer tadi. Tadinya Mamak dan Papa sepakat akan memulai potty/ toilet training di usia ke- 18 bulannya Arsyad, atau bisa beberapa bulan sebelumnya jika Arsyad sudah fasih bilang pipis, ee atau kata lain yang mewakilinya. Qadarullah, di usia Arsyad yang ke-16, Mamak hamidun anak kedua (dan si jabang bayik waktu itu udah usia hampir 2 bulan). Mamak tunda dulu lah trainingnya mengingat dan menimbang kemungkinan regresi di saat nanti adeknya lahir, juga emosi ibuk hamil yang tendesius ke arah negatif dan egonya yang ngga mau cape ngurusin berbagai kecelakaan kerja saat training (baca: pipis dan pup-nya malah di celana dan mengotori area sekitar). Tapi, dipikir-pikir.. kasihan juga Arsyad.. udah fasih ngomong pipis dan ee, juga udah termunculkan naluri kebersihannya dengan bilang omΓ©h (cebok) dan ntos (ganti celana) kalau ee atau diapernya udah jenuh. Masa dibiarkan begitu saja dan dibungkam dengan terus-terusan dipakein diaper. Hiks. Mamak merasa bersalah.. Urusan nanti Arsyad regresi atau ngga, biarlah jadi urusan nanti. Yaa.. ngga muluk-muluk sih bakalan mulus trainingnya.. Itung-itung tambahan olahraga buat bumil, yes? πŸ˜€

Catatan potty training selama 3 harian ini, Arsyad terlihat tidak nyaman dengan celana basahnya ketika dia pipis/pup. Biasanya langsung bilang, bilangnya yaa setelah dia melakukan. Hahaa.. Sudah terduga sih, orang baru belajar 3 hari. Karena niat Mamak juga ingin melihat frekuensi pipisnya Arsyad dan reaksinya kalau celana basah karena pipis/pup bagaimana. Tapi tak jarang juga, dia jadi histeris sambil teriak-teriak “Pipis..! Pipis..! Ntos..! OmΓ©h..!” Mungkin kondisi emosinya sedang tidak baik atau sedang ngantuk pas dia histeris begitu. Kadang malah bisa sampai nangis. Heuheuu.. Sepanjang yang Mamak perhatikan, interval pipis Arsyad itu kurang lebih sekitar 2 jam sekali. Tapi pas tidur siang, celananya selamat tuh, ngga kebocoran. πŸ˜€ Kalau pup, normalnya Arsyad sehari itu 1-2x dan itu bisa kapan saja. Heuheu.. Pernah baca-baca sekilas di Pinterest katanya salah satu tips memudahkan potty training itu dengan menyusun menu makan si anak dengan sedemikian hingga jadi pupnya bisa “terkontrol”. Ah, Mamak sih untuk yang satu ini tidak diikuti. Menghemat waktu, tenaga, dan pikiran. :-p Arsyad belum berhasil pipis (apalagi pup) di kamar mandi, kecuali pernah beberapa kali pipis saat mandi. Alhamdulillah, selama ini Arsyad kalau “accident” biasanya di tempat yang masih aman. Aman di sini maksudnya area yang mudah untuk dibersihkan dan bukan area terlarang (tempat sholat, karpet tebal, bagian dalam rumah enin, hahaa..) Sebut saja, teras belakang rumah (saat main botol warna), dapur, ruang tengah (tapi di lantai bukan di karpet), kamar Arsyad (karena dialasi evamat, jadi gampang bersihkannya), teras belakang dan depan rumah enin.

Capek, Mak? Tentu.. heuheuu.. lumayan juga harus sering ngepel dan cuci celana. Tapi jadinya ngga terlalu repot nyuci clodi banyak-banyak karena pakenya pas tidur malam saja. Daaaan.. ngga beli-beli lagi pospak, hihihi (emak-emak irit). Yang kadang bikin alis mengkerut dan nada suara berubah (ups, kualitas komunikasi produktifnya masih naik-turun) adalah saat Arsyad ngga mau pake celana. Dengan wajah jahilnya, dia lari-lari ke sana kemari, melarikan diri dari Mamasaurus yang ingin segera memakaikan celana padanya. πŸ˜€

Next thing about kemandirian Arsyad adalah membereskan mainan/buku yang sudah keluar dari “tempat persemayaman mereka” sebelum dia mengambil mainan/buku lain untuk dieksekusi. Ini masih PR banget. Seringnya dia malah cekikikan dan melarikan diri sambil membawa kabur mainan/buku baru pas Mamak atau Papa ngajak dia beberes dulu. Yang paling susah kalau mau tidur, tuh. Sementara lego berserakan di atas kasurnya. Hadeuuh.. heuheuu. Daaaan… selain perihal makan-minum, pipipupup, dan beberes barang pribadi, Mamak sama Papa juga mengenalkan beberapa house cores yang kami lakukan dan mengajaknya untuk ikut berpartisipasi. Biasanya sih dianya suka happy dan inisiatif nimbrung.

Dari mulai oseng-oseng wajan, nyuci cangkir, nyuci diaper, nyapu lantai, sampai nyuci motor. Hihihii πŸ˜€

Kenapa sih, anak belum 2 tahun juga harus belajar mandiri segala? Kasian kan.. masih kecil..

Hmmm.. Mamak sama Papa sih percaya, semakin dini kami menanamkan kemandirian, akan semakin mudah nantinya Arsyad melakukan berbagai hal untuk memenuhi kebutuhannya tanpa bantuan orang lain. Anak usia di atas 1 tahun sudah bukan bayik kicik yang harus selalu dilayani. Bahkan, katanya.. (dari materi kedua kelas Bunda Sayang tentang Kemandirian)Β bentuk pelayanan pemenuhan kebutuhan ini jika dibiasakan terus-menurus justru akan mengarah pada tindakan pemanjaan. Mamak sih kebayangnya sudah susah-susah melayani kebutuhan anak-anak pas mereka kecil, makin capek nanti pas mereka besar ngga bisa apa-apa plus ngeselin karena sifat manja berlebihan. Fyuuuh.. Dan ternyata, kemandirian ino erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Jadi, mengasah self-esteem anak diawali dengan melatih kemandirian mereka terlebih dahulu. Ah.. panjang kali nampaknya curhat Mamak kali ini. Tapi moga berfaedah, yes! Heuheu..

Counting the days menuju tantangan kedua kuliah Bunda Sayang IIP, nih! Soooo excited! Bertepatan sekali dengan potty training Arsyad, hihihi. (Padahal mah sengaja diskenariokan sama Mamak, huehehehee) *emoticon monyet tutup mata*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s