Posted in IIP, Kisah Mamak, Yaa Bunayya

Bilang ya, Nak … (1)

Terhitung sejak hari Senin kemarin, perkuliahan kelas Bunda Sayang IIP dimulai kembali setelah libur lebaran yang cukup panjang. Yeaaaah… waktunya Mamak bangun dari hibernasiiiiii….! *lho

Materi ke-2 adalah Kemandirian. Bagi yang sudah memiliki anak, tugas kuliah kali ini adalah melatih kemandirian anak. Seperti biasa, perkuliahan dimulai dengan materi dan diskusi yang dikawal oleh teteh fasil kece, Teh Ainun. Diskusinya lebih seru dari sebelumnya, karena listrik di rumah sedang padam tersebab MCB (Miniature Circuit Breaker)-nya rusak. Mamak yang lagi nguliah (baca materi lanjut nyimak diskusi) nyambi ngasisteni Papa yang membetulkan si MCB. Tangan kanan pegang HP yang sesekali alih fungsi jadi torch, tangan kiri perannya banyak: memegangi senter yang agak redup, mengambilkan alat yang dibutuhkan Papa dari kotaknya, memegangi sesuatu dari MCB-nya untuk kemudian diberikan lagi pada Papa. Cerita selengkapnya di sini. šŸ˜€

Jadi ternyata tidak salah keputusan Mamak dan Papa untuk melatih kemandirian Arsyad sebelum dia masuk usia 2 tahun. Pas banget dengan materi kuliah kemarin. Intinya sih yang Mamak simpulkan.. jika kita mau berlelah-lelah membangun kemandirian anak sejak masih kecil, kita akan lebih mudah dan agak bersantai ketika mereka dewasa nanti. Macam berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian lah.. Dan, melatih kemandirian anak di bawah 5 tahun itu sepengamatan Mamak sih relatif lebih mudah ketimbang mengajari anak di atas usia itu, apalagi remaja, untuk bisa mandiri. Lebih menguras emosi. Cuman memang melatih anak kicik tuh lebih menguras fisik, hihi. Ngga apa-apa lah, yaa.. biar Mamak muda terjaga kesingsetannya. *laaaah..

Ada 3 hal yang paling utama untuk dilatih pada anak seusia Arsyad:

  1. Berbicara untuk mengungkapkan keinginan atau perasaannya dengan baik
  2. Makan dan minum sendiri
  3. Potty need

Poin ketiga pas banget moment-nya dengan latihan Arsyad yang sudah memasuki hari ke-6. Jadi, laporan tantangan 10 hari sebagai tugas kuliahnya bisa sekalian sebagai catatan potty training Arsyad. šŸ˜€ Selain potty training, Mamak juga memasukkan beberapa poin yang ingin Mamak dan Papa latihkan ke Arsyad menuju usia 2 tahunnya.

List latihan kemandirian Arsyad

Hanya saja, mengingat, menimbang, dan mengukur kemampuan Mamak yang saat ini sedang hamil dengan HPL di awal bulan September nanti, Papa yang memadat jam kerjanya plus bersiap akan memasuki perkuliahan di kampus (juga) di bulan September, Mamak prioritaskan poin 1 dan 2. Poin 3 dan 4, target waktunya agak panjang, latihannya “santai”. At least, sebelum Arsyad 3 tahun, sudah bisa melakukan keduanya dengan baik.

Catatan Potty Training

Mamak menyimpulkan kalau interval pipis Arsyaf itu sekitar 2 jam sekali. Sebelum jam 6 pagi tadi, seperti biasa Arsyad dimandikan Papa. Saat ikut Papanya menyiram tanaman, “accident” pertama terjadi, Papa yang cebokin sambil melakukan komunikasi 1 arah, “Bilang ya, Nak.. Mau pipis itu bilang dulu. Pipis. Mama.. pipis. Papa.. pipis.” Kami percaya, semakin sering Arsyad mendengarkan kalimat semacam ini, semakin bosan lah dia. *eh* Maksudnya, akan tertanam di pikirannya dan termasukkan ke dalam sistem tubuhnya: sebelum organ pengeluaran pipis dan pupnya bekerja, mulutnya akan bilang terlebih dahulu >> setelah lebih terlatih, kakinya akan terlebih dahulu melangkah ke kamar mandi >> setelah lebih lebih terlatih, tangannya akan mencoba membuka celana, dst. šŸ™‚ Wah, sama seperti 2 hari terakhir, pipis pertamanya jam 6-an. Berarti kira-kira jam 8 tuh siap-siap Arsyad pipis lagi. Pikir Mamak. Tak disangka, beberapa menit kemudian Arsyad pipis lagi. Eh, ada apa ini.. kok ngga seperti biasanya? Ternyata dalam kurun waktu satu jam, Arsyad pipis sampai 4x. Entah apa yang penyebabnya. Entah karena cuaca dingin sekali pagi itu, entah karena Arsyad habis minum susu kambing, entah karena Arsyad habis menginap di rumah Enin. Entahlah.. Akhirnya, ketika Bi Caca (adik bungsu Mamak) mengajak Arsyad main ke rumah Uyut, Mamak pakaikan dulu clodi dan baru dilepas pas Arsyad tidur dhuha. Arsyad bangun begitu adzan Dzuhur berkumandang. Mamak kemudian ajak di ke kamar mandi tapi di sana dia malah main air. Ya sudahlah, sekalian Mamak nyuci diaper. Khawatir dia pipis pas Mamak lagi sholat, Mamak ajak dulu Arsyad keluar, menjemur diaper dan celana-celananya. Dan pipis lah dia ketika main-main di tembok pembatas halaman rumah. Mamak bisa sholat dengan tenang… Heuheuu..

Menuju siang yang terik, Mamak cuci piring dan Arsyad pun ikut nimbrung seperti biasa. FYI, tempat cuci piring di sini masih jadul, masih sembari jongkok nyucinya, ngga pake sistem wash basin. Belum selesai cucian piringnya..

“Ee..!”

“Arsyad ee? Di kamar mandi yuk, ee nya..”

Tapi kemudian Mamak membiarkan Arsyad ee di celana dengan alasan takut pup nya jadi ngga tuntas kalau baru (sorry) ngeden udah dipindahin ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian, barulah kami ke kamar mandi. Mamak juga bisa sholat Ashar dengan aman. Tapi tepat setelah sholat, Arsyad dari arah kamarnya bilang, “Pipis.. Pipis…!” Cepat-cepat Mamak lipat mukena dan sajadah. Terlihat Arsyad sedang nunjuk-nunjuk sambil mengabsen nama-nama alat transportasi dalam poster di hadapannya dengan watadosnya. šŸ˜€

Di pojokan sinilah, “accident” itu terjadi.

Sore setelah Ashar, Mamak lanjutkan lagi cuci piringnya dan Arsyad (masih) dengan riang gembira berpartisipasi. Dan (lagi) kali kedua Arsyad pup. Yaa Salaaam.. hobi banget sih, Nak.. pup di tempat cuci piring. Hahaa..

Hari ke-6 potty training ini alhamdulillah ngga ada kejadian Arsyad mengumumkan “accident”-nya dengan histeris dan dia mau diam sampai Mamak/Papa membereskan TKP. Yaa.. Mamak belum berhasil membuat Arsyad pipis (apalagi pup) di kamar mandi sih.. Tapi tak apa, masih ada hari esok! Yeay..!

Catatan “Pengungkapan”

Hari ini Arsyad’s screaming free day. Arsyad bisa dengan santai menyebutkan sesuatu yang dia inginkan. Tapi dia masih belum bisa mengungkapkan penolakan dengan cara yang baik. Kami mengajarkannya dengan kata “alim” (ngga mau). Tadi selepas Magrib saja, ketika abahnya menawari Arsyad ayam goreng, dia menolak dengan nada meninggi yang seperti disengajakan “Ngaaaah…!” sambil memalingkan wajah. Hehee..

“Bilang alim, Nak. Alim.. Alim, Abah.”

Terus begitu kami ingatkan dia untuk menggunakan kata “alim”. Kami pun beri contoh kalau dia menawarkan sesuatu pada kami dan kami tidak mau, “Alim. Alim, Sayang…”

Catatan Meal Time


Untuk makan, masih dibarengi dengan bantuan dan suapan. Mengingat Arsyad belum sembuh batuk pileknya dan dia cenderung susah makan jika tidak dibantu, jadilah begitu. Membereskan mainan hari ini semua dilakukan oleh Mamak, hahaa. Kalau buku, alhamdulillah mau menyimpan kembali, masih dengan bantuan tentu saja.

Siapa bilang emak-emak yang tinggal di rumau itu “kuuleun” (duh, apa ya ini bahasa Indonesianya, heuheuu..) (sejenis boring mungkin, ya. šŸ˜€ ) Seru sekali, selayak naik roller coaster! Membersamai batita yang sedang latihan menjadi anak mandiri yang tangguh! šŸ˜‰

#Level2 #BunsayIIP #MelatihKemandirian #Tantangan10Hari #Day1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s