Posted in Kisah Mamak

Si Ulat Kecil yang Membuat Arsyad Sedih

Biasanya, kalau Arsyad sudah lemes-lemes dan matanya 3 watt-an, Mamak suka tawarin cerita atau bacakan buku. Bukunya bisa Arsyad yang pilih sendiri atau Mamak pilihkan kalau matanya dah kadung sepet. 😀

Tadi sebelum bobo dhuha, Arsyad mulai tarik-tarik buku. Mungkin sambil menimbang dan memilah buku mana yang akan dibaca bersama Mamak. 4 buku keluar dari sarangnya dan ekspresi wajahnya seperti masih berpikir. Mamak tawarkan untuk melanjutkan kisah lebah yang tadi dibaca sebelum dia pergi bersama Abahnya, tidak mau. Akhirnya, dia berseru, “Uwaaatt…!” (Ulat) Maksudnya cerita si Ulat dari “The Hungry Catterpillar” ini.

The book and the creator

Arsyad belum punya bukunya tapi beberapa waktu lalu sering menonton ceritanya dari animasi yang diunggah akun Illuminated Films di Youtube. (Hamdallah sekarang mah doski ngga keranjingan lagi nonton video di hp Mamak… Fyuuhh)

Jadi gimana dong Mamak berceritanya? Yaaa… spontan. Pakai kata-kata sendiri tapi alur dan inti ceritanya masih menyadur karyanya Opa Eric Carle ini. Judulnya saja jadi begini, “Si Ulat yang Kelaparan…!” Beberapa nama buah dan makanan Mamak ganti dengan yang sudah dikenal Arsyad. Maklum, berceritanya hanya modal suara, ekspresi wajah dan sedikit gerakan tangan, heheee. Sambil menyebutkan makanan-makanan yang dimakan si Ulat, Mamak sambil mereview nama-nama warna juga ke Arsyad. Sebetulnya, ini salah satu buku yang cocok digunakan untuk membantu mengenalkan angka 1-10 (dan memang salah satu goal buku ini ya number introduction), tapi “pelajaran angka”-nya Arsyad baru sampai 5. Jadi ya sampai di adegan si Ulat memakan 5 buah jeruk saja review angkanya. Banyak sih pelajaran yang bisa diambil dari cerita sederhana ini. Dari mulai mengenal angka, warna, siklus hidup ulat, sampai ke moral value “jangan menjadi orang yang serakah”. Kesemua lesson itu dikemas apik dalam sebuah buku yang begitu simple. ❤

“Si Ulat kecil makan 1 buah apel! Apel warnanya meee….?”

“…yah!”

“Si Ulat kecil makan 3 buah anggur! Angggg…..?” (Kalau di buku, buahnya Plum)

“…guuuyy!”

“Anggur warnanya apa Arsyad? Unggg….?”

“…nguuu!”

..dst.

Eniwei, selain buku ini, Mamak suka sekali karya-karya lain Opa Eric. Ilustrasinya sederhana tapi tetap artistik. Ceritanya juga sederhana tapi pesan moralnya tetap tersampaikan secara apik. Arsyad mengenal laba-laba, ular, bunglon, anjing laut, burung hantu, ulat, suara-suara binatang, pertama kali dari cerita yang dibuat oleh Opa Eric. (“The Very Busy Spider“, “The Mixed Up Chameleon“, “Do You Want To Be My Friend?“, dan “The Very Hungry Caterpillar“). Thumbs up!

Nah, yang menarik dari acara bercerita tentang si “Uwat” ini, setiap kali adegan “Uwat” sakit perut, Arsyad pasti sedih. Bahkan tak jarang menangis, seperti tadi pagi. Ah, rasa simpatinya tinggi mungkin, ya. Kalau dengar cerita orang-orang yang dikenalnya sedang sakit, dia pasti langsung menunjukkan ekspresi sedih kadang sampai menangis tersedu-sedu. Mamak sampai harus benar-benar meyakinkan Arsyad kalau si Uwat kemudian baik-baik saja dan akhirnya berubah menjadi kupu-kupu cantik yang bisa terbang setelah tertidur dalam kepompong.

“Tamaaaat….! Alhamdulillah..”

“Agih…! Agih…!”

Kadang memang tak cukup satu cerita untuk mengantarkannya tidur. Tapi, kalau pakai jurus juz amma, ngga nyampe beberapa surat juga Arsyad bisa langsung terbawa ke arus alpha~ ❤

Advertisements

One thought on “Si Ulat Kecil yang Membuat Arsyad Sedih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s