Galaksi Literasi (6)

Merhaba, nasilsiniz…!*

Hihi, Mamak sok-sokan pakai Bahasa Turki. Gegara buku yang dibaca Arsyad di rumah Abah nih, Around the World, bukunya Makcha tentang beberapa bangunan menakjubkan di dunia. Alhamdulillah tadi pagi Arsyad sudah membaik, suhu badannya menurun dan itu berbanding lurus dengan rewelnya. ๐Ÿ˜Œ Jadi Mamak bisa menghadiri diskusi parenting KB (Kelas Berbagi) Cibiru yang sudah Mamak persiapkan bersama tim jauh-jauh hari. Senangnyaaaa… Daan.. acara tadi sukses. Ilmunya dapat, senangnya dapat, bisa bertemu dengan Teh Sita, Teh Fanny, Teh Triana, dan Teh Sri (Teh Derin… we miss you a lot, get well very sooooon~ ) yang adalah the buibu behind the scene, hihihi, juga ibu-ibu kece lainnya yang menyempatkan hadir.

wp-image--1407091253
Mamak pergi sendiri saja, Arsyad dan Maryam di rumah bersama Papa. Sebelum kami sakit, Mamak berencana mengajak Arsyad dan Papa pun mengizinkan. Tapi dengan kondisi badan Arsyad yang masih kurang fit, tak tega rasanya membawa serta dia. Di rumah tadi Arsyad “bernostalgia” dengan bunglon yang sempat jadi favoritnya dalam The Mixed-up Chameleon (masih) karya eyang Eric Carle yang Mamak alih bahasakan.

Continue reading “Galaksi Literasi (6)”

Advertisements

Galaksi Literasi (5)

Jagoan Mamak akhirnya kahรฉmbos (ketularan) flu juga. Suhu badannya cukup mengkhawatirkan dan membuat dia merasa tidak nyaman sehingga setiap tawa canda pasti diselingi tangis. Mainan dan bukunya pun hanya disentuh sekenanya. Pun makanan, beberapa suap makanan bisa masuk ke mulutnya juga sudah syukur alhamdulillah. PR-nya minum obat nih, agak susah.

Apa saja kegiatan kami hari ini? Alhamdulillah, Arsyad masih mau berinteraksi dengan buku. Tapi kemudian kami melanggar jam nonton film kami. Sudah lama memang Arsyad tidak menonton film atau video anak di netbook Mamak. Tadi, karena Mamaknya agak kepayahan juga dan Arsyadnya hanya ingin berbaring di tempat tidur, jadinya kami menonton film Dinosaurs sampai habis di siang hari, sampai kami terlelap. Dan sore harinya kami menonton video Dodo & Syamil, setelah beberapa buku kami bahas hanya pada halaman tertentu saja.

Segera sembuh ya, Nak.. kita seru-seruan lagi ๐Ÿ˜˜ Kita lahap semua buku yang ada di rumah biar bisa beli buku baru lagi โค

#GameLevel5 #Tantangan10Hari #KuliahBunSayIIP #ForThingsToChangeIMustChangeFirst

Every Child is Special

Sebuah aliran rasa tentang film Taare Zameen Par

Kapan ya pertama kali Mamak nonton film ini? Hmmm.. yang jelas ngga di bioskop *emoticon monyet tutup mata* Tapi meskipun hanya bermodalkan layar 11 inch dan sound system seadanya di netbook, feel dari film ini tuh langsung dapet banget. 

Tentang apa sih filmnya? Palingan bollywood mah yang banyak nari sama nyanyi gitu. Hihi. Iya sih, di film ini juga banyak aksen tarian dan nyanyiannya, udah jadi ciri khasnya film-film produksi negeri-nya Aa Shah Rukh Khan lah ya itu mah. Tapi, lagu-lagu yang jadi backsound di film ini justru jadi bumbu penyedap yang mecin banget (apaaa coba), dan bikin Mamak makin terhanyut kedalam ceritanya.

So, ceritanya itu terfokus pada Ishaan (diperankan oleh Darsheel Safary), bocah lelaki usia sekolah dasar yang selalu gagal dalam setiap tes di sekolahnya. Satu-satunya yang mungkin dia sukai dari kegiatan bersekolah adalah menangkap ikan di parit sekolah sehabis jam pelajaran. Ini membuat kondektur bis sekolahnya selalu mengomel dan memarahinya. Tidak hanya kondektur, sepertinya semua orang yang mengenalnya memperlakukannya dengan tidak menyenangkan. Hanya Ibu dan Kakak lelakinya, Yohan, yang masih memperlihatkan sikap sayang pada Ishaan. Anak ini, tak jarang dibandingkan dengan Yohan yang memiliki prestasi gemilang di bidang akademik dan olahraga tenis, baik oleh guru-gurunya maupun ayahnya. Ternyata, Ishaan bukan nakal dan malas belajar. Dia hanya mengalami kesulitan dalam perkembangan literasinya. Setiap kali belajar, dia selalu melihat angka dan hurug berputar, menari-nari mengelilingi kepalanya. Hingga ayahnya memindahkannya ke sekolah asrama khusus putra. Sekolah yang tadinya dia awali dengan langkah kaki yang berat dan penuh tangis, kemudian menjadi titik awal kebahagiannya. Kemurungan Ishaan perlahan berubah menjadi kegembiraan sejak dia bertemu dengan guru seninya, Ram Shankar Nikumbh (diperankan oleh Aamir Khan).

Apa yang dilakukan Pak Nikumbh ini sehingga si kecil Ishaan menemukan kebahagiaannya?

Perhatian, kesabaran, dan perlakuan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi Ishaan. Ketiga hal ini yang Mamak highlight dari tokoh Pak Nikumbh. Sejatinya, itulah yang tugas penting yang kita emban selaku orangtua: memberikan perhatian penuh, sabar dalam setiap perjalanan tumbuh kembang anak, dan menstimulus dan memfasilitasi bakat dan minat anak dengan treatment yang sesuai dan penuh ketelatenan. Bukan menuntut mereka untuk menjadi persona yang membanggakan, bukan pula membanding-bandingkannya dengan orang lain (meskipun itu saudaranya sendiri) diiringi rasa kecewa. 

Every child is special.

Mengapa? Karena mereka hanya ada satu di dunia ini, the one and only. Tidak ada duplikasinya. Walaupun kembar, tetap tidak bisa disamakan. Dan mereka ini unik, spesial, pribadi dengan bakat yang berbeda dengan yang lainnya. Allah SWT menerangkannya dalam Al Qur’an, salah satunya seperti yang tertera pada QS. Al Israa: 84

So, sudah diciptakan oleh Allah tuh spesial, mengapa kita, yang waktunya dihabiskan paling lama (atau ternyata tidak?) bersama mereka, tidak bisa melihat betapa istimewanya mereka? Malah habis waktu kita membanggakan anak lain yang jelas-jelas beda segala sesuatunya dan tidak menganggap kekhasannya sebagai sesuatu yang bisa membesarkan hati kita. Tak heran jika nanti akan banyak bermunculan the next Ishaan. Anak-anak yang rasa percaya dirinya terjun sebebas-bebasnya karena merasa kehilangan harga diri di mata orangtuanya sendiri.

A complete lesson.

Pelajaran yang amat berharga, perlu kita simak dan cermati dari yang dialami oleh keluarga Ishaan dalam film ini, untuk kemudian bermuhasabah, berkaca apakah kita adalah cerminan ayahnya Ishaan? Sudahkan kita setulus dan setelaten Pak Nikumbh? 

Film ini berakhir dengan bahagia. A happy ending story. Kita pun belajar dari akhir cerita film ini, jika kita ingin anak kita bertumbuh dengan baik dan bahagia, maka? 

Lihat dan amati bagaimana interaksi Pak Nikumbh dengan Ishaan, bagaimana perjuangannya membersamai Ishaan menemukan kebahagiannya. Sederhananya, aksi-aksi dari guru seninya Ishaan ini adalah the Dos dan aksi ayahnya adalah the Donts. Ah, sebetulnya kita sudah dibekali guide book yang benar dan yang paling lengkap: Al Qur’an al karim. Mari kaji lagi guide book kita, amalkan, dan lukislah pelangi di kanvas hati anak-anak kita. 

Galaksi Literasi (4)

Bintang Mamak nambah satu, yeaaay..! Hihihi. Tapi tetap, bintang paling banyak adalah bintang Arsyad. Setiap Arsyad masuk ke ruang kelasnya, pasti saja dia berseru โ€œanet.. anet..!โ€ sambil menatap lekat ke โ€œgalaksiโ€ literasi ini. Anyway, ini sistem tata suryanya tidak lengkap. Matahari yang justru bintang utama dan pusat beredarnya planet-planet malah tidak ada, hihi. Belum sempat Mamak bikin mataharinya. Mungkin saat mataharinya sudah ditempel, Arsyad pasti berseru girang lagi. ๐Ÿ˜€

Sampai tadi pagi, jumlah bintang kami ada tujuh: empat milik Arsyad, dua bintang Mamak, dan Papa masih satu. InsyaAllah bintang Papa bertambah lagi, ya. Semangat membaca, Papaโ€ฆ!

Continue reading “Galaksi Literasi (4)”

Galaksi Literasi (3)

Hari ketiga: buku-buku makin banyak bertebaran di ruang kelas dan ruang tengah. ๐Ÿ˜€ Belum habis baca satu buku, bawa lagi buku lainnya. Hihi. Tapi Arsyad kalau diminta merapikan buku mah selalu bersedia. Entah kenapa kalau diajak membereskan mainan, seringnya menolak sambil bilang, “Moal” (Ngga mau) dengan nada suara yang khas. ๐Ÿ˜… Jadilah si Mamak yang visualis dan agak perfeksionis ini, belajar tenang dan mengontrol emosi ketika rumah dalam keadaan yang tidak sesuai dengan yang diharapkan: apik, rapi, semua benda tersimpan di tempatnya masing-masing. Pun ketika Arsyad sudah terlalu mengantuk untuk diajak membereskan buku-buku dan mainannya seperti tadi malam, harus melawan segala ketunduhan (kantuk) dan badan lemas akibat influenza demi mendapati rumah rapi saat bangun pagi… (..untuk kemudian ditebari lagi dengan buku dan mainan. ๐Ÿ˜‚)

Ada tambahan dua bintang untuk Arsyad, dan satu untuk Mamak (akhirnya, hihihi.) Papa hari ini ada kegiatan kampus dari pagi, belum sempat baca-baca buku dia. Paling baca info dari grup whatsapp-nya. Dan sedari pagi tadi, Arsyad dibawa main oleh Abahnya, jadilah Mamak berdua dengan Maryam. Kami habiskan waktu bersama dengan merapikan catatan kas penjualan buku toko online kami siย bukulabumiย dan membaca ebook “Nurturing Eeman in Children” yang ditulis oleh Dr. Aisha Hamdan. Terpikir untuk meneruskan kembali membaca buku digital yang sudah lama Mamak miliki ini setelah mendengarkan acara Rumahku Surgaku dalam siaran radio MQfm dengan pembicara Teh Shofiyah Nashirotul Haq, Koordinator RB. DIY Toys IIP Bandung. Materi Sabtu ini adalah, “Bermain dan Bercerita, Cara Seru Menumbuhkan Fitrah Keimanan”.ย 

Bismillah… mulai ngeureuyeuh bacanya :’)

Continue reading “Galaksi Literasi (3)”

Galaksi Literasi (2)

Sudah ada bintang di dekat Jupiter (punya Arsyad) dan di sekitar Bumi (punya Papa). Yeaaay…! Bintang punya Mamak menyusul! Hehehee. Pagi tadi Mamak ajak Arsyad dan Papa untuk menempelkam sendiri bintang-bintang mereka. Arsyad senang, dan (ternyata) Papa pun senang ketika menempelkan bintangnya. Hihihi. Beberapa bulan yang akan datang insyaAllah ada bintang punya Maryam. ๐Ÿ™‚

Dengan adanya tantangan kelima di Kelas Bunda Sayang IIP ini, alhamdulillah kami jadi lebih bersemangat membaca โค Terlebih membaca buku untuk sendiri. Biasanya kalau Mamak dan Papa sudah agak “kendor” semangat membacakan buku untuk Arsyad, pasti dapat boost-nya dari Arsyad sendiri yang dengan suara lucunya mengajak, “Baca buku, yuk!” Sambil menuntun tangan kami menuju buku yang ingin dibacakan. Efeknya, intimasi Arsyad dengan buku pun seolah meningkat.

Continue reading “Galaksi Literasi (2)”

Galaksi Literasi (1)

Ada yang baru nih di ruang kelasnya Arsyad.

wp-image--640221160

Apa reaksi si tuan muda begitu masuk ke ruangannya?

โ€œAnetโ€ฆ! Anetโ€ฆ! Anetโ€ฆ! Mamaaaโ€ฆ Anet!โ€ (Anet = Planet) Serunya histeris. Mungkin antara kaget, senang, dan masih lulungguh (mengantuk) karena baru bangun tidur.

Angin apa yang membuat Mamak iseng tempel menempel planet macam tu? Hihi, angin musim kedua belajar di kelas Bunda Sayang IIP. Hamdallah sudah memasuki materi kelima, tentunya dengan tugas yang lebih menantang. Kali ini materinya tentang โ€œMendidik Anak Suka Membaca dan Menulisโ€. Sedap nian, tho? Salah satu dua ikhitiar agar anak anak kita senang membaca dan menulis adalah meluangkan waktu untuk kegiatan family reading time, membaca buku bersama, diskusi membahas buku yang sedang atau telah dibaca oleh masing masing anggota keluarga daaaaaanโ€ฆ. membuat Pohon Literasi!

Apa itu pohon literasi?

Continue reading “Galaksi Literasi (1)”

Mama Sherk

Lah, ini judulnya maksudnya apa, coba? Hihihii. Well, tulisannya masih seputar curhatan emak-emak lah, ya. Ngga jauh dari itu. Judulnya ini sebenarnya terinspirasi dari berbagai hal : ibu-ibu, masa kecil si ibu-ibu ini, shark, dan chef.

Kenapa shark? Itu lho, gegara video Baby shark yang sempat ngeHits (apa sekarang juga masih?), jadi ya terlintas saja begitu dalam benak Mamak.

Kenapa chef? Karena inilah yang mau dibahas dalam tulisan ini. Berhubungan dengan dunia masak-memasak, lah..

Lalu, kenapa Mama Sherk? Suka-suka penulisanya ja lah.. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Oke, first thing first, jadi si Mamak ini pas di dapur, bereksperimen (padahal lagi bikin tumis-tumisan biasa), kepikiran salah satu chef Indonesia legendaris yang menjadi idola Mamak masa cilik. Si mamak kecil ini ternyata, despite of her boyish appearance, suka sekali acara masak di TV. Heuheuu. Lalu apakah dari kegemarannya menonton acara masak itu, jadi bikin dia keranjingan gitu bebikinan di dapur? No, no, no. Big NO. Hobi nonton, hanyalah hobi menonton. Visualnya tidak direalisasikan jadi kegiatan kinestetik. Hahaa. *Maapkan putri sulungmu ini, Nin.. ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ Parahnya, kalau mamahnya dia ini masak, suka komen-komen dan ngasih tahu kalau di acara masak A tuh begini, di acara B begitu. Begini, begitu. Bisanya cuman membuihkan mulut saja, tak bisa membuihkan barang satu masakan berkuah pun. *tobat, Gusti… ๐Ÿ™ˆ

The legend Ibuk Sisca Soewitomo, di acara masak “Aroma” Indo**ar yang sering Mamak tongkrongin.

Continue reading “Mama Sherk”