Berbagi Cerita di Ruang Siaran

Pas.

Pas sekali  tema #1minggu1cerita minggu ini adalah berbagi. Pas Mamak mau berbagi cerita tentang pengalaman pertama siaran di radio, hihi.

Ceritanya, karena si Mamak ini tergabung dalam kepengurusan komunitas Ibu Profesional (IP) Bandung maka terembanlah salah satu tugas untuk menemani teteh penyiar radio MQFM dalam program “Rumahku Surgaku” setiap hari Sabtu pagi. Dan kemarin itu adalah gilirannya tim desain. Berhubung dua personil lainnya tereliminasi (ajang pencarian bakat kali, ada eliminasinya), maksudnya berhalangan hadir, jadilah Mamak bersolo karir mengudara di ruang dengar sahabat MQ dimanapun mereka berada.

Untuk episode kali ini, Mamak mengambil tajuk, “Menyalurkan Passion dari Dalam Rumah”. Sebenarnya ketika bercuap-cuap kemarin itu Mamak justru lebih banyaknya curhat. Well, setidaknya ada salah satu value IP yang terusung dari apa yang disampaikan: walk the talk, membagikan pengalaman yang benar-benar teruji klinis di keseharian kita, bukan yang belum pernah dilakukan.

***

Menyalurkan Passion dari Dalam Rumah ala Mamak

Sebelum membahas mengenai penyaluran passion ini, pada segmen pertama Mamak mengulas sedikit mengenai Ibu sebagai Profesi. Maksudnya apa, tuh?

Konon katanya si Mamak ini dulu memiliki interpretasi yang salah terhadap ibu, bahwa ibu hanyalah sebuah status yang otomatis disandang oleh seorang wanita yang sudah menikah dan memiliki anak. Ini kesannya jadi negatif karena status tersebut diembel-embeli dengan serentetan pekerjaan yang kurang menyenangkan dan cenderung menjenuhkan yang nampaknya tidak ada habisnya. Tapi begitu Mamak bergabung di komunitas IP Bandung dan resmi menjadi pembelajar di Institut Ibu Profesional (IIP), Mamak mendapatkan insight yang benar-benar mencerahkan sehingga istilah ibu ini tidak sesuram yang dibayangkan sebelumnya, terlepas dari segala keistimewaan ibu.

Ibu itu ternyata profesi! Nah, kalau kita berbicara tentang profesi pasti kan pikirannya melayang ke sejumlah pekerjaan yang keren seperti pengacara, dokter, guru, ilmuwan, seniman, presiden, polisi, tentara, teknisi, penyiar radio, dan sebaginya. Berarti ibu itu keren, keren sepenuhnya! Dan lagi, karena ibu adalah profesi, berarti menjadi ibu itu perlu memiliki pendidikan atau pengetahuan yang mumpuni, keahlian yang memadai, dan keterampilan yang tidak ala kadarnya untuk bisa mengemban tugasnya dengan baik, untuk bisa menjadi ibu yang profesional. 

Lebih keren lagi, jika ibu bisa menyalurkan passion-nya dengan bijak. Kok bisa? Hubungannya apa? Jawabannya Mamak sampaikan di penghujung segmen kedua, hihi.

Ibu itu pekerjaannya segudang, sudah pasti super sibuk. Mana ada waktu untuk menyalurkan passion-nya? Apalagi ibu yang juga bekerja di luar rumah.

Banyak lho wanita-wanita yang menginspirasi, yang mengindahkan passion-nya meskipun aktivitasnya padat. Sebut saja Ibu Ani Yudhoyono misalnya, beliau ketika masih bergelar ibu negara dengan kegiatan yang tentunya sangat banyak masih sempat meluangkan waktunya untuk cekrek-cekrek memotret objek dan momen dengan kameranya. Terus si Mamak berkaca pada diri sendiri, kegiatan masih cetek-cetek begini tapi masih sering mengeluhkan waktu yang sedikit sekali untuk melakukan apa yang Mamak sukai. Fiks ini mah masalahnya ada di manajemen waktu. Hamdalah, meski masih terseok-seok, tapi setidaknya Mamak lebih mampu mengatur waktunya sehingga waktu untuk pemenuhan passion-nya cukup seimbang. Ada banyak kunci untuk bisa menjadi manajer yang handal, terutama dalam mengatur waktu dan jadwal pribadi, tapi yang Mamak sampaikan kemarin 2 saja, berhubung baru itu juga yang sudah diterapkan di rumah.

  • Delegasi. Menunjuk orang lain untuk mengerjakan satu atau beberapa pekerjaan, terutama tugas-tugas domestik. Mamak sendiri mendelegasikan urusan mencuci dan menyetrika baju kepada orang lain, hihi. Bonusnya, Mamak jadi memiliki waktu untuk menyalurkan passion atau memiliki waktu lebih untuk  membersamai anak-anak.
  • Kolaborasi, mengajak salah satu atau seluruh anggota keluarga untuk ikut membantu mengerjakan tugas domestik. Selain bonus seperti bisa didapatkan saat melakukan delegasi, kolaborasi ini juga bisa menjadi salah satu alternatif proyek keluarga atau bahkan rekreasi. Membersihkan dan membereskan rumah dan pekarangan kemudian bersama-sama membuat hidangan untuk disantap setelah mengerjakan tugas bersih-bersih adalah hal yang sama menyenangkannya dengan liburan di pantai! Selain itu, ketika para ibu mulai mengajak anak-anaknya untuk berpartisipasi mengerjakan pekerjaan rumahan, dalam satu waktu mereka juga sedang mengajarkan kemandirian pada anak-anak mereka.

Back to the point. Jadi, menyalurkan passion itu penting?

Jawaban Mamak: penting pisan. Tiga hal yang Mamak garisbawahi untuk mendukung jawaban ini:

  • Emosi lebih terkontrol. Passion itu kan sesuatu yang kita senangi, sesuatu yang membuat mata kita berbinar-binar ketika melakukannya dan saat kita mengerjakan hal yang kita senangi secara otomatis tabungan emosi positif kita bertambah. Tabungan ini berguna untuk menjaga kestabilan kondisi psikologis dan fisiologis sehingga para ibu bisa mengendalikan diri lebih baik, lebih tenang, lebih santai begitu. Melihat anak coret-coret di dinding jadi seperti melihat dia membuat sebuah mahakarya yang tak ternilai harganya. (Si Mamak curhat). Ini salah satu modal utama sakinah-nya sebuah keluarga: ibu yang keep calm and continue being happy
  • Aspek-aspek positif yang menular pada anak-anak. Saat kita menekuni passion kita di rumah, anak tentunya memperhatikan dan pasti sedikitnya meniru apa yang kita lakukan. Bukan hanya kegiatannya tetapi lebih kepada sifat-sifat seperti ulet, pantang menyerah, teliti, semangat, dan sifat lain yang terpancar sewaktu kita melakukan aktivitas favorit kita.
  • Value lebih. Ibu yang mampu berkarya adalah ibu yang berdaya. Ibu dapat berkarya, berawal dari menekuni apa yang dia cintai. Jadi ketika ibu mampu menyalurkan passion-nya secara bijak dan jam terbang di bidangnya itu sudah tinggi, dia bisa memberikan manfaat lebih banyak pada masyarakat sekitarnya.

Penting sekali kan, bab menyalurkan passion bagi seorang ibu ini? Dan yang tak kalah penting adalah ternyata, kegiatan ini tidak hanya sekedar melakukan yang kita sukai di bidang tertentu saja! Ada hal lain yang merupakan rangkaian kegiatan menyalurkan passion yang berkenaan dengan value yang tadi diceritakan sebagai alasan mengapa ibu harus menyalurkan passion-nya.

  • Hobi, langkah pertama dari rangkaian kegiatan menyalurkan passion. Saat kita melakukan tahapan ini, kita hanya sebatas melakukan kegiatan yang kita sukai. Misalnya passion kita di bidang desain grafis, ya kegiatannya seputar bebikinan yang berbau grafis saja, seperti membuat flyer info siaran MQTV bersama si Mamak yang di pajang di atas itu. Eaaaaaa.
  • Enrichment, pengayaan wawasan di bidang yang sesuai dengan passion. Mengikuti seminar atau pelatihan terkait, sesekali perlu untuk menambah pengetahuan kita. Dijadwalkan secara rutin, lebih baik lagi. Keterampilan kita terasah dari melakukan hobi, pengetahuan pun bertambah dari kegiatan ini. Kombinasi keduanya akan membuat passion kita semakin mewarnai keseharian kita. Tsaaaaaah. Enrichment ini sekarang malah bisa dilakukan dengan mudah berkat kecanggihan teknologi. Ada kulwap alias kuliah whatsapp, webinar, kelas pelatihan daring dan masih banyak lagi. Bahkan membaca buku juga sebenarnya sudah termasuk ke dalam kategori enrichment.
  • Berkomunitas, berjejaring untuk mendapatkan energi yang lebih besar. Energi ini terasa sekali oleh Mamak, semangat seolah-olah senantiasa terbakar dengan beradanya kita di sebuah lingkaran yang satu frekuensi dengan kita. Selain itu, nikmat silaturahim dan kemudahan-kemudahan lain seperti akses informasi yang berhubungan dengan passion bisa kita dapatkan dengan bergabungnya kita dalam suatu komunitas.
  • Sharing, berbagi passion sekaligus berbagi inspirasi. Saat jam terbang kita di bidang yang kita senangi ini sudah cukup tinggi, kita bisa berbagi inspirasi dengan menyelenggarakan kegiatan bersama masyarakat sekitar.
  • Bisnis, mendapatkan penghasilan tambahan dari passion. Poin yang ini sudah marak di kalangan ibu-ibu. Banyak dari mereka yang memulai usaha yang berawal dari kesenangan mereka.

*** 

Begitu kira-kira apa yang Mamak sampaikan kemarin yang juga terangkum dalam naskah yang Mamak susun beberapa hari menjelang siaran, hihi. Hingga sekitar sejam sebelum acara dimulai, ketika sedang dalam perjalan menuju kantor siaran, Mamak berulang kali bilang ke Papa dengan nada cemas,

“Yang, aku ngga pede ih!”

Papa hanya senyum dan memberikan sedikit nasehat penentram jiwa. Eaaaaa. Intinya, the power of improvisation. 😅 Dan voila… si Mamak yang tadinya tidak tahu harus bicara apa, bisa berubah menjadi tidak tahu dimana harus berhenti bicara. Ketagihan cuap-cuap!

Advertisements

5 thoughts on “Berbagi Cerita di Ruang Siaran

  1. Wah, teh peppy IP Bandung, salam kenal saya IP Jakarta #eaa.
    Setujuuu, penyaluran passion bagi seorang mamak itu penting sekalii. Agar kita tak terjebak dalam rutinitas dan bisa semakin berkembang. Sukses terus ya teeh! 🙂

    Like

    1. Hai, Teh Annissa! Salam kenal…
      Senang deh ketemu sesama IP ❤ meskipun baru sebatas temu sapa di blog.
      Tadi sempat lihat blognya sekejap, suka desain juga ya? Semacam keranjingan canva gitu? hehhee…
      Sukses belajar di kelas Bunsay-nya yaaa!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s