Seragam Lebaran (Tradisi Keluarga Besar yang Tak Lekang oleh Waktu)

Ada yang masih memiliki kebiasaan menyeragamkan baju yang dikenakan ketika Hari Raya Idul Fitri dengan seluruh anggota keluarga besar?

Keluarga kami masih. 

Suka tak suka, di hari pertama lebaran kami semua “diwajibkan” mengenakan baju yang serupa. Dulu waktu si Mamak masih cilik, rasanya oke oke saja tiap tahun punya baju baru, dan diseragamkan dengan anggota keluarga lainnya. Sejak menikah dan mulai agak melek finansial, Mamak dan Papa merasa kebiasaan ini masuk ke dalam kategori pemborosan (dari sudut pandang keadaan ekonomi kami). Sayang begitu, uang dengan sejumlah itu bisa dipergunakan untuk kebutuhan lain yang menjadi prioritas. Memang baju sarimbit milik kami berempat mendapatkan sponsor penuh dari tetua alias gratis! Harusnya kami senang-senang saja mendapat baju bagus setiap tahunnya dengan cuma-cuma. Tapi, alasan lain kami kurang setuju dengan budaya ini adalah unsur manfaat dari bajunya sendiri. Sayang sekali, baju yang dibuat sedemikian rupa ini hanya cocok untuk dikenakan pada acara pesta, not for daily use, not for casual occasion, definitely not. Bisa dibayangkan, lemari mungil milik si Mamak ini kemudian penuh dengan baju-baju hebring yang jarang (bahkan hampir tidak pernah) dipakai.

“Ya ganti dong lemarinya dengan yang lebih besar.” Kata Enin-nya anak-anak ketika suatu saat mengatakan soal lemari yang kepenuhan itu.

“Kasian kamarnya, nanti malah cuma muat diisi lemari baju saja.”

“Ya rombak rumahnya, perluas.” 

Semoga, ya, semoga suatu saat kami memiliki rumah impian yang benar-benar hanya diisi oleh barang-barang yang mengundang kebahagiaan, spark joy kalau menurut aliran konmari. Bahkam sebelum bertemu dan jatuh hati pada metode ini pun, perasaan ingin mengeluarkan baju-baju spesial (karena hampir tidak pernah dipakai) sudah ada sejak lama. Entah itu dijual atau diberikan begitu saja pada yang memang menyukainya. Tapi pikiran bagaimana kalau para tetua menanyakan baju a, baju b, baju c selalu menghantui. Belum apa-apa si Mamak sudah stress duluan. Sigh.

Pernah suatu ketika si Mamak menyampaikan keinginan kami untuk tidak lagi ikut “berseragam ria” dengan mengemukakan alasan-alasannya dan… gagal. 😌 Sampai lebaran tahun ini yang bertepatan pada bulan Mei, kami masih dibuatkan seragam.

Rasa-rasanya, tulisan ini berbau skeptis sekali, ya. Entahlah, kami hanya menginginkan perubahan, tentunya ke arah yang lebih baik. Dan kami pikir, salah satunya dengan tidak lagi berpartisipasi dalam mengenakan seragam lebaran. Tapi hal-hal semacam seragam ini nampak seperti isu sensitif mengalahkan isu SARA. Padahal, ada banyak alternatif supaya keluarga kecil kami masih terlihat “seragam” nanti saat kumpul bersama di hari lebaran, misalnya mengenakan baju berwarna atau nuansa yang sama dengan seragam. Baju yang benar-benar nyaman buat kami, yang membahagiakan kami dan yang bisa kami gunakan di keseharian kami, bukannya menjadi pajangan di dalam lemari saja.

Jadi, take it or leave it?

Tunggu, memangnya kami punya pilihan? 😅

Ah, bukankah lebaran itu memiliki banyak makna yang jauh lebih indah dan mendalam dibandingkan bermewah-mewah dalam berbusana?

4 thoughts on “Seragam Lebaran (Tradisi Keluarga Besar yang Tak Lekang oleh Waktu)

  1. Whainii.. aku ga pernah seragaman sih tapi kalo lebaran dulu suka ga sengaja beli baju yg one time use gt.. skrg mah beli baju lebaran ya emg yg bs dipake ke acara2 formal setaun ke depan 😂 hidup irit2

    Like

  2. bikin yg model multiuse aja pep gimana? sok2 nyariin solusi yak.. hahaha tapi kebayang sih bergulat dg tradisi itu mebawa perih dan pertikaian yg tak patut dipertikaikan #halah …

    Like

    1. Eta terangkanlah! Hahaha.

      Leluhurnya ngga mau model begitu. Katanya for celebration itu ya harus wah wah mewah. 😂

      Kucoba beberapa kali untuk tidak ikutan, ngga boleh. Pelarangan yang seolah-olah membuat keluargaku not part of them anymore klo ga ikut bikin baju. 🙈🙈

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s