Berguru pada Maestro (Catatan Penemuan Jati Diri Bag. 6)

Berbicara mengenai maestro, pikiran Mamak sekonyong-konyong melayang pada sebuah karya Tomoko Ninomiya, Nodame Cantabile. Manga/ komik Jepang (yang juga dibuat serial dramanya) ini bercerita tentang perjalanan Megumi Noda/ Nodame dan teman-temannya yang berjuang keras belajar bermusik di sebuah sekolah musik ternama. Dalam komik ini, Mamak melihat bagaimana para tokohnya bermimpi besar, belajar dan berjuang keras dalam mewujudkan mimpi mereka. Dan yang paling mengena dengan tema proyek kedua Ruang Berkarya Ibu (RBI) ini adalah bagaimana Nodame dkk berhasil menemukan kekuatan diri mereka, tekun mengasah bakatnya dan belajar langsung dari sang maestro!

Sewaktu menikmati cerita Nodame Cantabile versi anime/animasi Jepang dan serial dramanya (Mamak tidak sempat membaca manga-nya), Mamak ya hanya menikmati jalan ceritanya sambil sedikit mencoba memahami pesan apa yang dapat diinterpretasikan dalam cerita tersebut. Hanya sebatas itu. Kini, mata Mamak mulai terbuka, Mamak mulai menyadari bahwa perjalanan Nodame terkait bakatnya itu seharusnya juga Mamak lakukan. Should have realized it sooner, should have done it for long time ago. Tapi sesal kini tiada arti, bukan?  الله memberikan kesempatan pada Mamak untuk bisa menggali, memahami lebih baik dan mengoptimalkan bakatnya salah satunya lewat proyek ini. Nah, tugas keenam dari proyek RBI sekarang adalah menentukan ilmu apa saja yang perlu Mamak pelajari dan sesiapa saja yang Mamak jadikan maestro untuk mendukung potensi diri. Dalam tulisan ini, Mamak coba tuliskan dalam dua sub judul: 1) The What, dan 2) The Who.


#1  The What

Dari dua belas bakat diri yang diyakini merupakan kekuatan paling dominan Mamak, Mamak akan membutuhkan setidaknya ilmu-ilmu berikut ini agar bakat-bakat tersebut bisa berkembang dengan baik.

Baca juga tulisan sebelumnya tentang identifikasi potensi diri di sini.

  • Public speaking. Dengan mengasah kemampuan berbicara di depan umum, Mamak bisa mengoptimalkan hampir semua bakat dominan yang Mamak miliki, terutama bakat arranger dan educator. 
  • Manajemen. Ilmu yang merupakan makanan utama untuk bakat arranger dan input.
  • Desain dengan menggunakan program Adobe Photoshop. Sebetulnya banyak sekali program desain yang bisa dipelajari. Lalu mengapa Mamak memilih photoshop? 1) Karena Mamak sudah mengenal program ini semenjak SMA jadi mungkin sudah ada bonding begitu ya dengan program yang satu ini 😅, 2) karena porsi waktu untuk pengayaan wawasan yang Mamak miliki saat ini sangat terbatas, Mamak pikir akam lebih efektif dan efisien jika fokus mengusai satu program terlebih dulu, dan 3) untuk satu program ini saja Mamak masih sangat amatiran, masih banyak yang perlu dipelajari. Dengan melek Photoshop, Mamak bisa mengasah bakat designer dan maximizer.
  • Teknik membaca & menulis. Honestly, Mamak sudah mempelajari ini selama kurang lebih 12 tahun di bangku sekolah plus empat tahun di perguruan tinggi dimana pilihan belajar tertuju pada jurusan bahasa. Tapi apa yang terjadi? Kurangnya kesadaran dan pemahaman terhadap bakat diri menyebabkan ilmu-ilmu yang didapat tersia-siakan. Hiks. Jadi, untuk mengasah batu mulia journalist, interpreter, bahkan educator sehingga menjadi berlian yang halus dan indah, Mamak perlu belajar kembali menguasai kedua teknik ini.
  • Media pembelajaran. Sewaktu kuliah dulu, Mamak mengontrak mata kuliah ini sebanyak 2 sks. Tapi 2 sks saja rasanya tidak cukup untuk menyuburkan bakat designer, dan educator Mamak. Oleh karena itu, Mamak tambah lagi sks-nya sekarang! In this very moment when Mamak has two private students in the house! Yeay, lovely! 
  • Blogging. Level lebih kompleks dari teknik menulis yang mengombinasikan kemampuan menulis dengan literasi digital. Alasan lain Mamak memilih untuk mendalami ilmu ini adalah cita-cita untuk bisa membuat blog pengeja semesta ini menjadi wadah belajar bersama antara Mamak dan para pembaca. ❤
  • Sejarah. Karena bakat connectedness dan context adalah dua dari sekian bakat dominan, Mamak perlu meluangkan waktu khusus untuk belajar sejarah. Sejarah juga mengajarkan banyak hal selain “bertugas” mengembangkan kedua bakat tersebut.
  • Selfcontrol. Bakat competition terkadang malah dimunculkan dengan cara atau pada waktu yang kurang tepat sehingga berujung pada timbulnya banyak emosi negatif. Dengan mempelajari dan mempraktikkan ilmu ini, Mamak yakin bisa memanfaatkan bakat competition dan mungkin juga maximizer.


#2 The Who

Dan para maestro yang akan menjadikan Mamak salah satu muridnya (baik tatap muka langsung, maupun daring) adalah…..

  • Marie Kondo (siapa yang tidak kenal wanita di balik metode konmari yang begitu populer ini?) dan Nisa Nurfaidah yang merupakan kakak tingkat Mamak sewaktu kuliah dulu, home educator, Ketua Ibu Profesional Bandung 2015 – 2017, dan saat ini mengabdikan dirinya sebagai kepala sekolah White Bee School of Life. Kedua wanita hebat ini adalah maestro Mamak untuk bakat arranger.
  • Ika Lestari Damayanti, M.A, salah satu dosen favorit Mamak di kampus dulu, yang Mamak nobatkan sebagai maestro untuk mendukung bakat competition, maximizer, educator, dan explorer.
  • Prof. Dr. Didi Suherdi, M.Ed dan Prof. Dr. Nenden Sri Lengkanawati, M.Pd, juga dosen senior semasa kuliah yang masih ingin Mamak serap ilmunya untuk mengembangkan bakat educator dan interpreter.
  • Prof. Dr. A. Chaedar Alwasilah, M.A, Ph.D (alm), dosen yang hanya satu semester mengajar di kelas Mamak, tapi inspirasinya masih tetap bergaung sampai saat ini. Bagaimana Mamak belajar untuk mengembangkan bakat educator dan journalist dari beliau? Lewat pemikiran-pemikirannya yang tertuang apik dalam deretan bukunya.
  • Ustadz Budi Ashari, yang merupakan ahli sejarah Islam dan saat ini mengisi program acara Khalifah di stasiun Trans7, dan Ustadzah Evi, guru di kajian rutinan Mamak, menjadi maestro untuk bakat connectedness dan context.
  • Ismi Fauziah, salah satu fasilitator di kelas Matrikulasi IIP Mamak yang saat ini menjabat sebagai sekretaris Ibu Profesional Bandung ini menginspirasi Mamak dengan data geek-nya yang tentu bisa mengoptimalkan bakat input Mamak.
  • Elma Fitria, penggiat strength based family, istri Muhammad Firman yang juga berkecimpung di ranah bakat, dan ternyata memiliki kekuatan dominan salah satunya di intellection.
  • Yolanda Gampp, wanita Kanada di balik kerennya tayangan How to Cake it di youtube. Meskipun dunianya adalah baking, Mamak ingin bisa belajar mengasah bakat maximizer dan designer Mamak darinya.
  • Jamil Azzaini, yang akrab dengan sapaan Kek Jamil, menjadi maestro untuk hampir semua bakat! Terutama educator dan maximizer.
  • Deasy Natalia alias Ibu Jerapah, Shanty Dewi Arifin, Ayu Welirang, dan Ikhmah Umaida adalah wanita luar biasa yang Mamak beruntung dapat mengenal dan berinteraksi langsung dengan mereka. Mamak banyak mendapat inspirasi dari mereka yang mendukung bakat journalist Mamak.


Those are for now, I guess. Mamak perlu membuat skala prioritas ilmu apa yang perlu didahulukan; membuat jadwal kapan belajar ilmu A, kapan belajar ilmu B, dst; membuat rencana bagaimana Mamak bisa berguru pada para maestro tersebut; dan… membuat rencana bentuk apresiasi diri saat berhasil mencapai suatu level dalam proses belajar ini.

The incredible things will happen. Soon! انشالله 


Untuk sekarang, Mamak sedang mencoba mengusai teknik ini, makanan bagi bakat designer Mamak.

 

 

#RuangBerkaryaIbu #Proyek2 #TugasMateriEnam #KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s