Pilih: Planet atau Plastik?

Sedih, deh… melihat foto, video dan cuplikan berita tentang binatang-binatang laut yang memakan sampah, laut yang berubah menjadi timbunan sampah apung, pasir pantai yang tergantikan oleh sekian banyak “fosil” sampah…

Ari urang téh sabenerna hirup di planet bumi atawa buntelan palastik, guys?* 😒

Ngeri… apa kabar tempat tinggal anak cucu kita nanti kalau sampah plastik ini semakin bertambah sedangkan yang berpuluh-puluh tahun lalu pun bahkan masih utuh wujudnya?

Kita manusia ini kok malah seperti benalu yang tumbuh subur sementara pohon inangnya lama kelamaan memburuk lalu mati. Inangnya tuh ya planet bumi ini. Kita? Lo aja kali, Mak…! Iya, gue. Gue yang masih nyampah plastik tiap harinya. Hiks.

Hhh… Sedih doang, baper doang… tidak akan menyelesaikan masalah. Waktunya bergerak, lakukan perubahan jika kita memilih PLANET, bukan palastik**!

Alhamdulillah, meskipun dilakukan sedikit demi sedikit dan mungkin terkesan receh, keluarga PengejaSemesta sudah mulai menjaga keharmonisan hubungannya dengan planet bumi ini sejak pasukannya masih dua orang saja. Apa saja yang sudah dan sedang dilakukan oleh para pengeja ini agar senantiasa romantis dengan semesta?

  • Memilah sampah

Sampai tahun 2018 kemarin, sampah yang kami pilah hanya sebatas sampah anorganik (yang kemudian dibuang dan dibakar) dan sampah organik (yang kami hidangkan untuk ayam-ayam peliharaan). Sebenarnya, sampah organik bisa juga dibuat kompos tapi Papa bilang sampahnya lebih dibutuhkan oleh si ayam dan untuk menyuburkan tanah bisa menggunakan pupuk kandang yang dihasilkan si ayam. Baiklah… nurut, deh. Lalu, metode pembakaran sampah ini memang agak mengerutkan kening, ya. Sedikitnya, malah berkontribusi pada polusi udara. Hmmm… ini masih jadi PR nih.

  • Membuat ecobrick

Gerakan ini masih terbilang baru. Baru minggu ini dilakukan πŸ˜… Setelah mengumpulkan niat dan membulatkam tekad, akhirnya ecobrick ini resmi menjadi salah satu family project. Papa belum bisa ikutan keseruannya sih, paling sumbangsihnya dalam memberikan botol bekas air mineral 1.5 Ltr sebagai bahan utama si ecobrick ini. Mengajak anak-anak dalam memotong dan memasukkan potongan plastik agak tricky, nih. Harus pas mood kitanya sedang oke dan benar-benar happy. Karena anak-anak PengejaSemesta mah, baru sebentar menggunting plastiknya, sudah mau main gunting benda lain. Baru sebentar masukkan potongan plastiknya ke dalam botol, sisanya malah dijadikan confetti. πŸ˜‚ Tapi setidaknya, ini bisa dijadikan alternatif bermain bersama anak. Hihihi.

But! Hati-hati, nih. Ecobrick bukanlah solusi paten untuk mengurangi limbah plastik. Reduce waste by reducing the usage. Seperti yang ditekankan oleh The Plastic Solution berikut ini:

An ecobrick should never be used as an excuse to generate waste or use single use/non-biodegradable/non-sustainable trash. A tenet of a sustainable life is to generate less waste. If a single use item can be avoided, we encourage you to avoid it.

Please don’t fall into “It’s okay, I can always put it in an ecobrick” mentality. The Plastic Solution

  • Diet jajan

Intesitas jajan berbanding lurus dengan sampah yang dihasilkan. Selain menyorot sisi finansial, gerakan ini juga berimbas pada ranah lingkungan. Dengan diet jajan ini, dalam seminggu mungkin hanya tiga atau empat kali anak-anak menyambangi warung. Itupun sudah mengikuti short briefing dulu sebelum berangkat ke warung, pun ketika belanja kebutuhan bulanan.

Anyway, Mamak sempat ada tulisan tentang diet jajan ini deh terbitan tahun lalu. Bisa disimak di sini, ya!

  • Memakaikan cloth diaper pada anak bayi

Yang satu ini sudah digencarkan sejak anak pertama lahir. Alhamdulillah masih lanjut hingga anak kedua berusia 19 bulan sekarang ini. Tinggal Mamaknya nih, menguatkan diri untuk bisa memakai menstrual cup. Karena Mamak tidak sanggup menambah cucian jikalau berpindah ke menstrual pad. πŸ™ˆ

Cerita tentang cloth diaper bisa disimak di sini~

  • Membawa tas belanja

Versi konsistennya sudah berlangsung selama setahun belakangan ini. Ya… meskipun Papa kalau beli beberapa item insidental seperti kopi sachet-an dan camilannya ke warung dekat rumah belum mau membawa tas kain. It’s okay, a change needs a process. Tapi Mamak happyyyyy…. Arsyad sudah paham kalau kita mau belanja pasti bawa tas kain, bahkan mengingatkan saat Mamak lupa. Adzkiya pun begitu. Saat dia membaca gesture Mamaknya yang akan pergi belanja (kumaha coba? πŸ˜…), dia pasti heboh berlari ke tempat dimana tas-tas kain ini berjejer rapi. Tak jarang, dia yang mengambilkan satu (kadang banyak dan akhirnya bertebaran di lantai, hihi).

  • Membawa wadah sendiri ketika jajan

“Mang, mΓ©sΓ©r! Antosan sakedap, badΓ© ngabantun wadahna heula!”***

Ini kayaknya bagus kalau dibikin bunyi bel rumah. Jadi, pas mau beli sesuatu di tukang jualan yang lewat depan rumah, bisa tinggal pencet saja. πŸ˜‚ Cuman, apa kabar kalau yang pencet belnya itu tamu? Hahaha.

Ya jadi… tiap kami akan membeli sesuatu, katakanlah tahu kuning, bubur sumsum, bubur ayam, mie ayam, dkk, kami akan terlebih dulu memanggil penjualnya dan memintanya menunggu sementara kami membawa wadah dari rumah. Receh sih, ya. But it’s a movement too! Appreciate yourself (by buying you double portion of mie ayam! Hahahaa)

  • Berhenti menggunakan tissue

Tisu kering maupun tisu basah dan menggantinya dengan lap atau sapu tangan kain. Ini seperti kill two three birds with one stone. Pasalnya, dengan tidak adanya tisu, sampah jadi berkurang, pengeluaran pun sedikit berkurang dan Mamak bisa memanfaatkan pakaian bekas yang sudah tidak “layak beri”, alias too-lusuh-to-give, menyulapnya menjadi lap tangan. Yippiii!

  • Green travelling

20190226_112131_0001-656143848.png

Walaupun jalan-jalannya kami masih di sekitaran kota Bandung, tak jauh dari museum, perpusda, taman-taman πŸ˜…… tapi ini jadi ajang latihan buat kami untuk konsisten menjalankan aksi green travelling ini. Dari mulai membawa alat makan sendiri dari rumah, membawa lap tangan cukup banyak (You know, there are two toddlers with us), hingga sebisa mungkin menggunakan moda transportasi umum. Mamak cukup senang bisa menjalankan ini saat mengikuti acara kopi darat bersama teman-teman anggota Ibu Profesional Bandung Sabtu kemarin. ❀

That’s pretty much it. Memang belum banyak yang bisa kami lakukan. Namun setidaknya dengan langkah-langkah kecil ini, kami bisa mengajarkan pada anak-anak untuk lebih menyayangi bumi, kami bisa lebih mesra dan romantis dengan alam, dan kami bisa dengan yakin berkata:

1-ichoseplanet1669716500.jpg


*Kita itu sebenarnya hidup di planet bumi atau gumpalan plastik, guys?

** Plastik

*** “Mang, beli! Sebentar, mau bawa wadahnya dulu!”

Advertisements

One thought on “Pilih: Planet atau Plastik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s