Laundry Hack ala Mamak (Bag. 1)

Setelah hampir setahun ini tidak bisa menikmati enaknya outsourcing kerjaan yang menyangkut masa depan pakaian kami: mencuci, menyetrika, dan menyimpannya rapi di dalam lemari (yang terakhir mah sih dilakukan sendiri), Mamak pun mengalami suka duka dalam menghadapi Game of Thrones Clothes. Segala macam strategi dicari dan dicobanya. Supaya apa? Supaya si baju-baju ini ndak terlalu menguras tenaga dan pikiran. Maklum, main dengan dua bocah lincah ini saja kadang malah suka dibikin tepar duluan. 😌

Mencuci. Pekerjaan paling disenangi di antara tiga tugas yang akan dibongkar hack-nya dalam tulisan ini. Main air… siapa sih yang ngga suka? Hahaha.

1# Atur Jadwal Mencuci

Yup. Bahkan jadwal cuci pakaian (dan diaper) pun “nyangkut” di buku agenda karena buat Mamak, mencuci tidak dikategorikan ke dalam daily routine. Yaa… dalam seminggu ada libur mencuci dua atau tiga hari lumayan, kan. Waktunya bisa untuk mengerjakan hal lain. Yang penting keranjang cucian tidak overload.

2# Baju Anak Vs Baju Dewasa

Karena para dewasanya geng PengejaSemesta hampir tiap hari main motor (mohon maaf, tapi kami bukan geng motor, ya. Hehee), bau asap kendaraan dan kotoran khas jalanan sudah pasti menempel di pakaian kami. Oleh karenanya, kami pakaian dewasa, pakaian anak-anak dan pakaian dalam pun kami pisahkan waktu mencucinya. Jika hari ini adalah batch “cuci baju anak”, maka besok adalah batch “cuci baju dewasa”, dst. Dengan tetap memperhatikan bahwa harus ada libur mencuci minimal dua hari dalam seminggu. Atau… biasanya kalau sedang tidak banyak pekerjaan dan Mamak sedang semangat membara, dalam satu hari bisa mencuci sampai dua batch.

3# Cuci Selimut & Seprai

Kamar sudah mulai bau apek? Saatnya mengganti seprai dan sarung bantal & guling. Jadikan momen mencuci yang bau apek plus selimut itu sebagai invitation to play pada anak-anak. Yeah, killing two birds with one stone gituuu. Anak-anak happy karena main air dan busa, Mamak juga happy karena cuciannya kelar. Mencucinya tidak menggunakan mesin cuci atau cuci dengan tangan kayak si Kenshin itu tuh di atas. Tapi pakai kaki! Iya, pakai metode injak. Caranya: (1) Siapkan larutan deterjen di dalam jolang* dan tempatkan di halaman rumah, it’s outdoor playtime! (2) Rendam selimut dkk di dalam larutan deterjen sekitar 30 menit, (3) Ajak anak-anak untuk menginjak-injak rendaman cucian tersebut. (4) Saat dirasa cukup, ganti instruksi dengan “Pindahkan air sabun ke tempat pembuangan, yuk!” Tentunya dengan terlebih dahulu menyiapkan alat perangnya, si gayung dan si ember. (5) Selimut dkk pun siap dibilas, dikeringkan dan dijemur.

4# Teliti sebelum Mencuci

Butuh sinar mentari pagi nan cerah ketika melakukan sesi cloth-sorting ini untuk menemukan pakaian mana yang bernoda “hardcore“. Beberapa noda membandel seperti bekas minyak, tanah, darah, lipstik, tinta, dll tidak bisa disikat tuntas oleh mesin cuci. Lha wong si mesin ndak punya sikat, kok. 😌 Jika laundry time kita malam hari atau waktu sebelum Subuh, mungkin kita perlu senter atau lampi belajar. Hihihi (Segitunya). Pakaian yang tidak lolos seleksi, dimasukkan ke dalam ember untuk mendapatkan perlakuan khusus.

5# Gunakan Laundry Bag

Untuk pakaian dalam dan kaos kaki, masukkan terlebih dahulu ke dalam laundry bag. Hal ini dilakukan supaya pakaian tersebut tidak gampang melar. Tas ini biasanya banyak dijual di toko-toko penjual cloth diaper. Mencuci cloth diaper, selain harus dimasukkan ke dalam laundry bag, harus punya batch sendiri. Tidak disatukan dengan cucian pakaian. Karena beda perlakuan.

Baca juga How-to nya mencuci diaper di sini.

6# Manfaatkan Air Bekas Mencuci

Setelah selesai mencuci, ada baiknya “limbahnya” ditampung terlebih dahulu untuk digunakan mencuci lap atau keset kain. Selain hemat air, hemat deterjen juga.

1# Tempat Teduh Vs Tempat Terbuka

Which one is the best? Masing-masing memiliki plus dan minusnya tapi memang akan lebih baik kita memiliki tempat jemuran yang tertutup dan tempat yang terekspos matahari langsung. Terlebih cloth diaper, menjemurnya di tempat terbuka sangat direkomendasikan karena selain berperan sebagai natural whitening agent, sinar matahari dapat mengurangi aroma tak sedap khas popok kain ini.

2# The Art of Gibrig

Setelah pakaian melewati proses pengeringan, mereka tidak serta merta ditemplokkan ke tali jemuran begitu saja. Ada seninya. 😌 Seni yang akan membuat kita jadi punya I-Love-Ironing-Behaviour! Wuih, dahsyat kan! Gibring merupakan sebuah kata dalam Bahasa Sunda yang berarti kibas. Ya, habis kering, kibas-kibaskanlah pakaianmu. Untuk apa? Untuk mengurai serat-serat pakaian yang kusut, sekusut muka emak-emak di akhir bulan. Haha. (Si Mamak aja kali ah itu mah!) Selain dikibaskan, pakaian juga sebaiknya ditepuk, disapu dengan tangan, diregangkan dan dirapikan detailnya (renda, kerah, kancing, tali, dll) sehingga pakaian relatif lebih rapi. Mamak bahkan sering skip menyetrika jika melakukan proses ini sebelum menjemur. Yippi!

3# Manfaatkan Teknologi Bernama Hanger

Go go power hanger….! Eaaaa… Power Ranger kali, Mak! Semua atasan sebaiknya dijemur menggunakan hanger dengan posisi yang rapi, bagian bahunya tidak nyéngsol**, dan tidak ada bagian yang terlipat. Ini bukan OCD ya, Mak! Semata-mata demi meminimalisir pekerjaan yang pakai setrika! 😂. Untuk bawahan, dijemur dengan posisi tegak seperti layaknya sedang kita pakai. Diberi lebihan sedikit agar nyangkut di tali jemurannya. Tahan dengan menggunakan jepit jemuran (Ya masak jepit rambutmu, Mak!). Celana bayi lebih gampang. Kan suka ada penahan gitu ya di alat jemurannya.

Selain hasilnya lebih rapi, menggunakan hanger ini memudahkan para sun fighter untuk bisa dengan segera mengamankan jemurannya jika hujan akan turun. Keuntungan lain, si pakaian bisa langsung bermigrasi ke lemari begitu saja (semisal gaun, gamis) dan disetrika jika akan digunakan. Hihihi.

4# Lipat, Segera Lipat!

Pakaian yang sudah kering, harus segera diamankan. Dilipat dengan baik dan disimpan di keranjang khusus: to-be-ironed. Ngga harus dilabeli juga sih. Hehee. Jika pakaian sudah cukup rapi dan memungkinkan, bisa langsung kita lipat dan simpan di lemari.

Benda elektronik di rumah yang mendapat predikat the most unwanted but unfortunately needed. Bagaimana caranya supaya si benda ini pun tetap bisa memancarkan kebahagian buat kita? Haha.

Caranya hanya satu: mengurangi intesitas pertemuan dengannya. 😅

Jika cucian diperlakukan sedemikian rupa seperti yang dijabarkan dalam Drying Hack tadi, kita pasti akan jarang memerlukan bantuan si besi panas ini. Bahkan saat bertemu pun, kita tak perlu memakan waktu lama. Gosok-gosok sedikit pakaiannya, jreng! Wearble, deh. Layak pakai, ya. Mohon digarisbawahi, bukan layak lolos dari mata seorang perfeksionis. Alhamdulillah, perfeksionisnya Mamak udah minus 7, hahaha. Dan ngga perlu dikacamatai.

1# Metode Konmari

Cara melipat dan menyimpan pakaian ala Marie-sensei ini benar-benar sangat membantu! Bahkan untuk pakaian yang ketika kering paripurna masih keriting-keriting, jika dilipat dan disimpan dengan penuh cinta dan bahagia, akan membahagiakan kita yang akan menggunakannya di kemudian hari! Keritingnya berkurang hingga sekian persen! Trust me, it happens!

2# Satu Aroma

Kita menggunakan pelembut atau pewangi pakaian merk A, pelicinnya merk B. Tak jarang nanti pakaian kita jadi teu puguh*** aromanya. Atau wangi dari pelicin yang mendominasi padahal kita lebih suka wangi dari pelembut yang kita pakai. Coba deh, ganti isi semprotan pelicin pakaiannya dengan ini :

5 ml cairan pelembut/pewangi pakaian + air bersih sampai memenuhi botol = Satu Aroma

3# The Power of Preparation

Sekali lagi, demi minim kontak dengan setrika (wkwk), Mamak biasanya menyiapkan pakaian yang akan dipakai on duty di malam sebelumnya atau setidaknya sebelum subuh menjelang. Karena koleksi Mamak adalah yang sering mangkir ketika pertemuan dengan setrika sedang berlangsung. Mereka langsung diboyong saja dengan penuh cinta ke lemari. Manfaat lainnya, Mamak jadi lebih bersemangat dan lebih siap menghadapi today’s challenge dengan memilih dan menyiapkan pakaian sebelum beraksi! Meskipun di rumah juga? Iya, dong. Karena “kantor” Mamak di rumah, ya Mamak juga harus senantiasa cantik dan rapi. Kecuali ketika nginem mode on, biasanya menggunakan “seragam khusus”.

Baca juga tentang tampil cantik dan segar sebagai SAHM di sini.

4# Podcast sebagai Sekutu

Jika menyetrika diibaratkan sebagai perang, maka podcast, audiobook atau siaran radio bisa menjadi sekutu yang membantu kita memenangkan perang tersebut! Awalnya Mamak suka sambil nonton, drama, film atau Youtube gitu. Tapi ini malah membuat pekerjaan menyetrika menjadi lebih lama dan terkadang lebih melelahkan. Fun but hurt. Kemudian Mamak terinpirasi dari Mak Avital dari Parenting Junkie, dan mencoba mengiriskan waktu belajar lewat media audio dengan waktu menyetrika. It feels much much better!

Begitu kira-kira praktik laundry yang sudah Mamak jalankan selama ini. Mungkin bagi sebagian orang, tips nya bisa dikategorikan malpraktik. Tapi, untuk hari yang minim stres dan waktu yang lebih produktif, why not? 😁


* (B. Sunda) Wadah penampungan air berbentuk lonjong atau lingkaran seperti belanga tapi biasanya terbuat dari bahan plastik.

** (B. Sunda) Tidak sama rata kiri kanannya.

*** (B. Sunda) Tidak jelas.

Advertisements

5 thoughts on “Laundry Hack ala Mamak (Bag. 1)

  1. Yup setuju. Jika pakaian lekas dikeluarkan setelah mesin cuci mati (selesai bekerja), dan lgsg dijemur dgn dirapi2in lipetannya, maka pas kering juga akan berkurang drastis level kekusutannya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s