10 Hal yang Keliru dalam Pengasuhan

Tepat dua minggu yang lalu, Mamak dapat kesempatan mengikuti full day workshop yang diadakan oleh Dandiah Care Center bertajuk “Parent as Counselor & Terapist” bersama dua kawan kece Mamak sesama pengurus komunitas Ibu Profesional Bandung. Sebenarnya, kegiatan ini menyediakan arena Kids Corner untuk anak-anak yang ikut serta Ayah Bundanya. Hanya saja, karena anak-anak PengejaSemesta bukan “anak Kidsco”, jadilah Mamak berangkat ke hotel Aston sendiri saja. Anak-anak di rumah bersama Papa. “It’s okay hari ini kamu dulu yang belajar. Lain waktu, insyaAllah ada jalannya kita belajar bareng berdua,” kata si Papa. ❤

Di sesi awal, yang dibahas pertama kali oleh Pak Dandi dan Bu Diah sebagai pemateri workshop adalah kekeliruan umum yang ditemukan dalam kebanyakan paradigma parenting. Kekeliruan inilah yang kemudian mengarahkan kehidupan rumah tangga kita, anak-anak kita ke suatu titik yang tidak kita harapkan. Apa sajakah itu? Hamdalah, Mamak berhasil mencatat sedikit rangkuman dari materi yang sudah disampaikan. Check these ones out!

1# Orientasi Dunia

Saat orang tua teralihkan fokusnya hanya pada urusan duniawi, keseimbangan rumah tangganya akan mengalami gangguan. Betapa tidak? Yang dikejar semata-mata hanyalah harta, kekuasaan, popularitas, ataupun status sosial. Mana ada waktu untuk sekedar duduk bercengkrama dengan seluruh anggota keluarga. Mereka mungkin berpikiran bahwa itu bisa dilakukan nanti ketika apa-apa yang mereka inginkan tercapai. No time for leha-leha with family! Mereka kemudian berubah menjadi seperti mesin ATM berjalan bagi anak-anaknya. Iya, mesin ATM. Anak minta A, kasih duitnya. Anak minta Z, kasih duitnya. Kasih aja dah, ada ini kok duitnya. Begitu kali, ya. Esensi sebuah keluarga pun perlahan memudar.

Kita mesti hati-hati, nih. Karena bisa jadi, tanpa disadari orientasi kita lebih besar ke dunia. Agar tidak lalu berkembang menjadi semengerikan yang Mamak ceritakan tadi. Cek, apakah anak-anak selalu merasa puas bermain bersama kita atau seringnya mereka malah terlihat senang dengan mainan atau gawai yang kita belikan? Apakah pasangan kita selalu bahagia menghabiskan waktunya dengan kita atau seringnya malah bete karena kita asik dengan gawai kita?

2# Orientasi Diri

Kita rajin belajar ilmu kepengasuhan. Dari yang online semacam Webinar, Kulwhap, Kulgram, sampai yang tatap muka langsung, seminar, pelatihan yang bahkan harganya sampai berjuta-juta kita kejar. Tapi kita sering lupa. (Kita? Iya… iya… Mamak aja kali ini mah) Lupa kalau rék sataker kebek* pun usaha kita, kalau Sang Dzat yang mengamanahi kita anak-anak ini tidak menghendaki ya wassalam. Lupa kita sama usaha langitnya. Lupa kita dengan the power of doa. Lupa kita bagaimana caranya pasrah kepada Allah SWT. Mungkin inilah salah satu hal yang membuat parenting itu seperti kerja rodi yang tak pernah selesai.

“Allah tempat bergantung,” QS. Al Ikhlas : 2

3# Orientasi Anak

Anak bandel, anak tidak menuruti nasehat kita, anak tidak berprestasi, anak tidak sesuai dengan “standar anak baik” versi kita, bla… bla… bla… Biasanya kita langsung berpikir,

“Ini kayaknya ada yang salah sama anak aku!”

Kita membebankan harapan-harapan yang sebenarnya tidak mesti kita lalukan pada anak kita, kita menyetel standar tinggi agar anak kita mendapat predikat kamu anak Mama & Papa yang baik dan pintar, kita press dan push mereka dengan cara yang tidak bijak, lalu kita labeli there is nothing good in you ketika mereka melakukan sedikit saja kesalahan. Lalu apakah kita pernah menilai seberapa baikkah kita menjadi orang tua? Jangan-jangan, kita malah lebih banyak menuntut daripada mendengarkan “tuntutan” anak-anak. Padahal bisa jadi, mereka hanya meminta hal yang sangat sederhana.

Baca juga kriteria orang tua idaman menurut anak di tulisan ini.

4# Orientasi Kognitif

Kamu pintar = kamu anak Mama & Papa

Lha, kalau ndak dapat ranking di kelasnya, anak ndak akan diaku gitu? Sedihnya…

Padahal kecerdasan itu tak melulu pintar matematika, hebat bahasa Inggrisnya, tak melulu soal otak.

Setiap anak adalah bintang. Bantulah mereka agar bisa menemukan sinarnya agar bisa menerangi sekitarnya. Begitu wejangan Pak Dandi dan Bu Diah saat workshop. Yes, karena setiap mereka adalah bintang, mereka pasti memiliki kecerdasan masing-masing, keunikan tersendiri yang tidak bisa disamaratakan dengan yang lainnya.

5# Orientasi Sekolah

“Pak, Bu… Kami titip anak-anak kami ini, ya. Di rumah itu mereka begini begini. Ya… mohon dibantu lah supaya mereka jadi lebih baik”

Tak jarang orang tua berpesan seperti itu ketika memasukkan anak-anaknya ke sekolah. Mereka menyangka bahwa ketika anak sekolah, maka tugas mendidik sepenuhnya ada dalam tanggungan guru dan pihak sekolah. Mereka bisa mendapatkan pelayanan “terima jadi” atau “terima beres”, dimana anak-anak mereka dengan canggihnya bisa pintar, baik dan penurut dengan mantra dan ayunan tongkat Bapak/Ibu guru. Mereka bisa libur sejenak. Ya kali…

Tugas mendidik adalah tugas orang tua sepanjang hayat yang tidak bisa didelegasikan pada siapapun. Guru dan pihak sekolah hanya memberikan asistensi dalam pemberian wawasan dan pengetahuan, sebatas itu.

6# Orientasi Juara

“Kamu kok ngga bisa sih masuk ranking 10 besar saja! Padahal teman sekelasmu juga ngga terlalu banyak! Dulu ya, zaman Papa mu sekolah dulu, Papa tuh ranking bla…bla…bla…”

Sampai berbusa pun kayaknya hanya jadi angin lalu, Pak… Bu… Kasihan kuping anaknya. Lebih-lebih hatinya yang tersayat-sayat karena merasa tidak berharga di hadapan orang tua mereka sendiri.

Life is sometime a competition. Tapi mbok ya kita orang tua tuh harus jadi cheerleaders lah buat mereka, bukan jadi nyinyir-ers. Kasih dukungan, kasih semangat. Tetap apresiasi positif atas segala pencapaian anak dan terus motivasi. Tempatkan diri kita sebagai the best motivator buat mereka.

7# Kompetisi Mengasuh & Mendidik Anak

Again, although life is sometime a competition, parenting is not included. Mengasuh dan mendidik anak bukan kompetisi. Bukan untuk dilihat orang lain semata-mata untuk dikatai, “Gila lu! Keren, ya. Anak lu yang satu jenius matematikanya. Anak lu yang kedua jago banget renangnya. Yang ketiga juga, rajin banget menang lomba lukis! Luar biasa lu ngedidik mereka!”

Sesempit itu kah cita-cita parenting kita?

Jangan juga menjadi stres ketika orang dari kiri kanan depan belakang memandang miring anak-anak kita dan nilai-nilai pengasuhan yang kita usung. Jangan biarkan remote emosi kita dikendalikan oleh orang lain sehingga akan mengacaukan kegiatan mengasuh dan mendidik anak-anak kita.

Baca juga tentang remote emosi di tulisan ini.

Juga, hati-hati terhadap akselerasi. Parenting itu marathon, bukan sprint. Tidak ada yang lebih cepat lebih baik. Semua ada porsi dan waktunya. So, didiklah anak-anak kita sesuai kadar kemampuan kita dan keunikan mereka. Didiklah anak-anak kita sesuai zamannya pula.

8# Orang Tua Bola Besi & Bola Kaca

Bola besi akan cenderung menghancurkan lantai tempat dia menghantam. Ini yang akan terjadi jika anak-anak kita dididik secara otoriter, terlalu keras. Saat mereka mendapatkan tantangan hidup, mereka cenderung tidak bisa menyelesaikannya dengan baik dan malah akan menyakiti dan merusak lingkungannya. Sebaliknya, bola kaca akan hancur ketika dia menghantam lantai. Ini yang akan terjadi jika kita mendidik anak-anak secara permisif, semua boleh dan cenderung memanjakan. Saat mereka bertemu dengan tantangan hidupnya, mereka juga tidak akan bisa melaluinya dengan baik, mereka akan hancur, tak berdaya karena kerapuhan mereka (AQ/Adversity Quotient-nya rendah karena sangat bergantung pada orang tua). Maka jadikan lah mereka seperti bola karet yang akan memantul lebih tinggi ketika dihantamkan ke lantai.

9# Model Pemadam Kebakaran

Tipikal orang tua semacam ini adalah yang panik dan reaktif baru ketika masalah terjadi. It is not a good model too. Kalau kata Bu Diah dan Pak Dandi, jadilah orang tua yang melakukan tindakan-tindakan preventif seperti petani yang untuk mendapatkan hasil panen yang baik mereka rawat tanamannya dengan baik pula, mencegah adanya hama dengan memberikan pestisida berkualitas, dsb.

10# Hanya Bermodal Cinta

Jika hanya mengandalkan cinta, bisa jadi kita mendidik anak-anak menjadi “bola kaca” karena cinta bisa saja buta. Butuh logika untuk menyeimbangkannya.

Baca juga resume tentang mendidik anak dengan cinta dan logika di sini.

Well, thats pretty much it. Sebenarnya itu baru sebagian materi yang dikupas pada workshop minggu lalu. Next, Mamak akan tayangkan catatan mengenai orang tua sebagai konselor dan terapis. Memangnya bisa? Stay tune, deh! 😁


* (B. Sunda) mau sehebat, mau sekuat tenaga

Advertisements

7 thoughts on “10 Hal yang Keliru dalam Pengasuhan

  1. Saya serasa disentil banget, jadi orang tua emg perlu belajar terus ya mba.. btw ikut ibu profesional itu masih buka nggak ya mba..saya pengen ikut juga..

    Like

    1. Halo, Mba! Salam kenal~

      Pendaftaran perkuliahan IIP biasa dibuka setahun dua kali, di awal tahun dan pertengahan. Batch 8 nampaknya akan dibuka sekitar bulan Juni. Stay tune saja di akun IG-nya 🙂

      Like

  2. Hai Mba Pepy, salam kenal, saya member IIP juga, tapi bukan member aktif qiqiqi..

    Terimakasih sharingnya, beberapa ilmu pengasuhan yang saya dapat dari IIP masih banyak yang mengendap, barangkali next post Mba Pepy bisa kasih tips buat kami2 yang terlalu banyak mengendapkan ilmu, sehingga mau aplikasi berat jiwa raga *tutup muka sendiri..

    Like

  3. Halo mbaaak, makasih bgt ilmunya. Aku blm nikah tp udh kepo sama masalah parenting. Karena ikut sodara merantau, dan beda bgt pola asuh beliau dgn org rumah bikin aku kaget dan menyadari kalo tiap org tua tuh emg beda2 ya. Perlu kesepakatan ke pasangan juga ini anak mau dibentuk seperti apa nntinya tp tanpa memaksa. Thanks for sharing mbak.

    Like

Leave a Reply to Elsa Hayanin Lubis Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s