Merangkul Inner Child, Untuk Hari-hari yang Lebih Baik

Mendengar kata Inner Child itu suka auto-ingat ke ilustrator buku anak, deh: Inner Child Studio. Eaaa… baru juga mulai tulisannya, si Mamak mah udah gagal fokus. *tepok jidat*

Bukan, ya. Yang akan Mamak ceritakan di sini bukan soal tim ilustrator yang karya-karyanya di berbagai buku anak sangat memanjakan mata itu. Bukan…

Inner child self healing psychology

Soal ini, nih.

Jadi beberapa waktu lalu, Mamak mendengarkan siaran ulang program Psikologi Keluarga bersama Pak Wasmin Al Irsyad, M.Pd dan Bu Lilis Komariah, M.Psi di MQ radio bertajuk Inner Child : Teknik Mengenal Diri. Mamak dengar sampai habis dua podcast itu. Iya, tema ini disiarkan dalam dua pertemuan jadi podcast-nya pun ada dua. Lewat materi ini, terketuklah hati Mamak untuk benar-benar menuntaskan “bayang-bayang inner child“. Padahal, dua tahun yang lalu, Mamak bersama geng ibu-ibu Kelas Berbagi Cibiru IP Bandung mengadakan seminar tentang inner child. Sayangnya, karena jadi panitia pelaksana, Mamak jadi ngga puguh* menyimaknya. Baru setelah mendengar podcast Pak Wisman dan Bu Lilis ini plus mengikuti lokakarya yang diselenggarakan oleh Dandiah Care Center bulan Maret lalu, berazam lah Mamak:

Aku harus berdamai dengan inner child-ku sesegera mungkin!

Baca juga rangkuman materi lokakarya bersama Dandiah Care Center di tulisan Mamak yang ini.

Apa sih Inner Child itu?

Sesuai namanya, inner yang berarti di dalam dan child yang artinya anak, kurang lebih inner child adalah sosok kita versi anak yang ada dalam diri kita. Dulu, Mamak menganggap bahwa inner child berbahaya, sesuatu yang negatif, kelam yang mengancam kesejahteraan dan kesakinahan hidup.

Ternyata tidak begitu. Inner child juga ada “yang baiknya” yang bahkan perlu dimunculkan untuk membantu sosok dewasa kita agar lebih produktif. Misalnya, inner child totalitas, inner child pantang menyerah, inner child tidak-khawatir-akan-masa-depan, dll. Nah, yang perlu dirangkul adalah inner child yang terluka.

Kenapa harus dirangkul?

Tadi kan sudah disebutkan ya, bahwa inner child ini ada dua, yang bermanfaat dan yang merugikan. Disebut merugikan karena wounded inner child akan sangat tidak menguntungkan terlebih ketika kita sedang dalam keadaan low battery bahkan membuat kita kesulitan untuk mendidik anak-anak secara optimal jika belum ditindaklanjuti secara benar dan tuntas.

Banyak pakar parenting mengatakan bahwa kita tidak bisa memutus rantai kesalahan dalam mengasuh dan mendidik anak, ujung-ujungnya malah mengulang kembali “drama” pengasuhan ketika kita kecil bahkan make it worse jika kita belum selesai dengan diri kita. Hal ini berarti ada inner child yang belum tersentuh dan terangkul.

Bagaimana merangkulnya?

Jika merunut pada materi yang disampaikan oleh Pak Wisman dan Bu Lilis, ada 5 langkah yang harus dilakukan secara berurutan agar bisa berdamai dengan inner child kita.

1) Timeline

Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah regresi atau “mengunjungi” masa lalu kita. Dalam melakukan timeline, kita membutuhkan konsentrasi dan lingkungan yang tenang. Kita harus benar-benar “masuk” dan menjelajahi memori masa kecil kita. Timeline ini berbeda dengan mengenang, lebih kepada kepentingan penyelidikan.

Bahasanya… penyelidikan. Ya, maksudnya kalau mengenang itu kan kayak gini: Oh iya dulu tuh aku pernah naik pohon jambu biji di pekarangan almarhum nenek terus metik dan makan jambunya sambil duduk di dahan padahal jambunya belum mateng ih. Seru banget deh waktu.

Nah kalau timeline lebih ke: waktu SD itu pas kelas 3 atau kelas 4, aku tuh naik pohon jambu biji di pekarangan rumah almarhum nenek. Terus pas lagi asik makan jambunya sambil duduk di dahan, eh Mama pulang dari sekolah dan ngeliat aku. Aku diomelin lah panjang lebar. Ngga boleh manjat-manjat lagi pohon. Ih, padahal kan asik. Sebel, deh. Apa-apa serba ngga boleh. Bahaya lah, anu lah, ini lah, itu lah. Masa aku harus main Barbie terus di rumah sendirian??!

Timeline lebih merunut, lebih jelas dan terperinci dan kita bisa melihat benang merah atau keterkaitan kejadian khas tersebut dengan kondisi kita saat ini. Pak Wisman dan Bu Lilis menyarankan untuk mencatat setiap kejadian khas hasil temuan daei timeline tersebut. Pencatatan ini akan memudahkan kita untuk menentukan inner child mana yang perlu dirangkul terlebih dulu.

2) Identifikasi

Setelah melakukan timeline, kita kenali jenis inner child apa saja yang kita miliki. Misalnya, untuk kejadian yang dicontohkan sebelumnya tentang si aku yang naik pohon jambu, kita bisa mengidentifikasi si aku ini memiliki inner child terkekang. Nah, bisa dilihat tuh saat perlakuan dewasanya si aku pada pasangan atau pada anak-anaknya, apakah “mewariskan” ke-serbatidakbolehan-nya, atau sebaliknya justru malah serba boleh, bebas tanpa batas. Bisa juga terlihat dari kebiasaan atau kegemarannya yang merupakan “hasil karya” kejadian tersebut dan kejadian-kejadian di masa kecilnya yang serupa, entah itu menjadi seseorang yang “tidak betah di rumah”, senang jalan-jalan, atau kebalikannya “anak” rumahan, senangnya diam di rumah, mager, dll.

Proses identifikasi ini penting dilakukan supaya kita bisa melakukan treatment yang tepat untuk setiap jenisnya.

3) Observasi

Sudah ketemu tuh dengan sejumlah inner child yang terjebak merana di dalam diri kita ini, sudah ketahuan jenisnya seperti apa, saatnya lanjut menjadi penyimak yang profesional.

Maksudnya?

Ya jadi di dalam proses ini, tugas kita hanyalah menyimak, memperhatikan dengan seksama tanpa memberi peluang sang dewasa (diri kita versi dewasa) melakukan interupsi apalagi sabotase yang akan merunyamkan segalanya.

Masih menggunakan contoh si aku yang memanjat pohon jambu tadi. Si aku versi dewasanya diam, khidmat menyimak proyeksi-proyeksi kejadian yang dialami si aku kecil dari awal sampai akhir. Jangan sampai keluar komentar, ekspresi tidak setuju, dan semacamnya saat proyeksi ini “diputar”. Jika pemutarannya berjalan mulus, lancar, tidak tersendat-sendat, besar kemungkinan si inner child mulai merasa nyaman and that is the point of doing this section. Kita akan siap melakukan tahap selanjutnya.

4) Counseling

Ketika inner child merasa nyaman dengan kehadiran kita, makan dia akan terbuka. Bersiap lah dengan serangan memori yang akan “dimuntahkan” olehnya. Bersiap menjadi pendengar yang baik dan buat dia merasa bahwa kita memberinya perhatian penuh, kita berempati padanya, kita ada di pihaknya.

Inner child (I) :

Waktu SD itu pas kelas 3 atau kelas 4 gitu, aku tuh naik pohon jambu biji di pekarangan rumah almarhum nenek. Terus pas lagi asik makan jambunya sambil duduk di dahan, eh Mama pulang dari sekolah dan ngeliat aku. Aku diomelin lah panjang lebar. Ngga boleh manjat-manjat lagi pohon… Gitu…

Dewasa (D) :

Oh gitu? Terus Mama bilang apa?

I :

Katanya malu lah aku tuh perempuan tapi meni nalaktak*, bisa sobek kaki aku kalau jatuh, bla… bla… bla… Ih, padahal kan asik. Sebel, deh! Apa-apa serba ngga boleh. Bahaya lah, anu lah, ini lah, itu lah. Masa aku harus main Barbie terus di rumah sendirian??!

D :

Iya, ya. Padahal lebih asik main di luar, ya.

Tidak perlu respon panjang lebar. Bahkan hanya sekedar gumaman atau ujaran “Oh, begitu…” saja it can work. Yang penting si inner child merasa diakui keberadaannya dan nyaman mencurahkan isi hatinya. Sehingga kita bisa melakukan treatment pamungkas.

5) Coaching

Jika sesi sebelumnya kita seolah menjadi counselor bagi diri kita sendiri (versi anak), maka pada tahap ini kita berperan sebagaimana seorang coach.

Ajukan beberapa pertanyaan yang bisa membantu kita dalam mendeskripsikan si inner child tersebut. One bite at a time. Kalau dia langsung diberondong dengan serentetan pertanyaan, bisa ill feel dong. Salah-salah nanti dia malah menjauh dan tidak ingin bertemu dengan kita. Berabe lagi kan urusannya. Misalnya,

D :

Terus, kamu maunya Mama itu gimana?

I :

Ya ngga usah ngomel-ngomel. Ikut aja main di sekitaran pohon jambu. Atau bilang ke Bapak buatin ayunan gitu di sana. Jadi kan nanti aku bisa main ayunan, ngga usah naik pohonnya.

D :

Hmmm. Begitu, ya. (Sambil menunggu inner child bercerita kembali)

Setelah inner child mau menjawab pertanyaan-pertanyaan kita dengan antusias, perlahan, sedikit demi sedikit kita mulai memberikan masukan atau arahan agar inner child yang terluka ini bisa merasa terangkul dan berangsur-angsur sembuh.

I :

Ya pokoknya jangan ngomel-ngomel gitu, deh. Aku tuh cape kalau Mama udah ngomel apalagi marah-marah.

D :

Mama itu sayang kamu, lho. Dia tuh ngga kepingin anak sulungnya yang cantik ini jatuh, apalagi sampai luka.

I :

Masa sih?

D :

Iya lah. Sayang banget malah. Inget ngga pas telinga kanan kamu ketusuk cotton bud terus berdarah sampai akhirnya bikin gendang telinga kanan kamu rusak? Mama cemasnya minta ampun kan? Sedih banget kan dia tuh pas tau telinga kanan kamu udah ngga bisa denge lagi?

I :

Iya, ya. Coba kalau aku dengerin apa kata Mama.

D :

Nah kan. Mama tuh cuman ngga kepingin kejadian kayak gitu keulang lagi. Sayang banget kan Mama itu sama kamu?

I :

Iya. Huhuhhuuu…

D :

Kamu mau kan maafin Mama? Mama kita?

I :

Iya, mau…

D :

Kalau Mama ngomelin kamu itu artinya Mama lagi sayang banget banget sama kamu. Mama tuh lagi jagain kamu. Jagain kita.

I :

Iya…

Inner child Self healing Psychology Psikologi Terapi Jiwa

Begitulah kurang lebih apa yang Mamak pahami dari duet sedap dua orang psikolog langganan MQ Radio ini. Apakah Mamak sudah berhasil merangkul semua inner child yang nyararumput di dalam diri Mamak? Tentu saja belum. Statusnya masih on progress. Tulisan ini Mamak dedikasikan pada inner child Mamak yang sedang dalam proses ta’aruf dan soon to be bersahabat dan untuk para pembaca yang tengah memperjuangkan piagam perdamaian bersama inner child-nya.

…untuk hari-hari yang lebih baik, untuk kebahagiaan yang hakiki.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s