Mamak dan Komunitas Ibu Profesional

Sudah lama sebenarnya Mamak ingin menuliskan cerita ini. Tapi apa daya, selain gelombang kemalasan (Psttt… ulah diturutan, nya!*), ide-ide lain yang baru bermunculan yang mendesak ingin segera dituliskan dan ditayangkan membuat Mamak terus saja menunda terciptanya tulisan ini. Sampai tibalah hari ini, hari dimana Mamak sedang mengisi hari-harinya (kok banyak kata harinya sih, Mak!) salah satunya dengan memantau proses persiapan perlaksanaan wisuda Matrikulasi Institut Ibu Profesional (MIIP) Batch 7 regional Bandung.

Kok bisa ada di tengah-tengah kepanitian wisuda sih, Mak?

Supaya enak, Mamak ajak kilas balik ke beberapa tahun silam. Background music instrumental biola dengan nuansa haru dan nostalgia, visual menjadi bernuansakan oranye sephia. (Ya kali, Mak… lagi bikin film)

Cinta pada pandangan pertama (2013)

Ini bukan soal Papa, ya. Hahahaa. Sesuai judul kok. Mamak tuh sudah langsung jatuh cinta pada kali pertama mengikuti acara yang diselenggarakan oleh komunitas ini di regional Bandung. Waktu itu kalau tidak salah pertengahan tahun 2013, Mamak mengikuti seminar yang membahas tentang peran ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Belum nikah Mamak tuh waktu itu jadi ikut seminarnya sendiri saja, deh. Dari sana, Mamak makin semangat menambah ilmu tentang keluarga dan kepengasuhan. Dan berniat mengikuti komunitas ini. This is it! Ini, nih. Tempat belajar yang nampaknya akan membuat hati berbunga-bunga dan mata berbinar-binar.

Foundation dulu, Matrikulasi kemudian (2016)

Alur pembelajaran di Institut Ibu Profesional

Jadi setelah mengikuti seminar di tahun 2013 itu, Mamak tidak serta merta menghubungi contact person-nya untuk bergabung. Kepo-kepo dulu lah.. Meskipun love at first sight, jiwa detektif Mamak merasa terpanggil untuk mencari informasi sedalam-dalamnya (cari info apa gali sumur, Mak?). Sungkem dulu sama Mbah Sherlock Holmes, Mbah Hercule Poirot dan Dek Shinchi Kudo. Ini Mamak bingung sebenernya mau manggil dia apa. Dari jaman Mamak SD sampai sekarang anak pertama Mamak mau SD (3 tahun lagi, sih), ya segitu-gitu saja, 17 tahun. Ckckck. Oke skip.

Ketika tahu model pembelajaran di IIP itu blended learning yang salah satunya dilaksanakan secara daring dengan menggunakan webinar, wassalam, deh. Netbook dan jaringan internet di rumah kurang memadai. Diurungkanlah niat untuk menjadi salah satu mahasiswi IIP pasa saat itu dengan harapan ke depannya Mamak bisa masuk nyemplung ke sana lewat mana pun jalannya.

Trimester akhir tahun 2016, Allah SWT menunjukkan jalan buat Mamak untuk masuk ke whatsapp group Foundation IIP regional Bandung. Dan beberapa bulan setelahnya, dibukalah pendaftaran perkuliahan kelas Matrikulasi IIP Batch 2. Apakah Mamak langsung mendaftar?

Mamak kuliah lagi (2017)

Sayang sekali Mamak tidak mengambil kesempatan untuk daftar menjadi mahasiswi MIIP Batch 2. Padahal pembelajaran via whatsapp group, lebih mudah untuk diikuti dengan amunisi yang ada. Waktu itu Mamak ragu karena si sulung memasuki usia “berjalan”-nya dan Mamak belum benar-benar pandai mengatur waktu dengan pertimbangan masih menjadi staf pengajar di sebuah sekolah menengah atas dengan jam kerja tinggi. Lagi lagi, Mamak mundur dan berharap Batch 3 bisa ikut. Sambil menunggu, Mamak latihan dulu atur ini itu, diskusi lagi dengan Papa mengenai keikutsertaan Mamak nanti di IIP. Dan akhirnya, masuklah Mamak menjadi bagian dari MIIP Batch 3 dengan dipandu oleh duo fasilitator tercinta yang tak ada duanya, Wiwik Wulansari dan Ismi Fauziah. Semoga keberkahan Allah senantiasa menyertaimu, Teh… Barakallahu fiikuna… ❀

Kuliahnya tuh kayak gimana sih? Yaa… kayak kuliah di kampus, kayak belajar di sekolah. Ada materi, ada tugasnya juga. Di MIIP, tugas cintanya ini dikenal dengan sebutan Nice Homework (NHW). Selama kurang lebih 3 bulan perkuliahan, total ada 9 NHW yang harus kami kerjakan. Hamdallah, meskipun seringnya Mamak mengumpulkan NHW ini di penghujung deadline (plus tidak mengumpulkan 1 NHW πŸ™ˆ) dan saat diskusi kelas (whatsapp group chatroom) pun tak jarang menyimak di kemudian waktu karena waktu diskusi bertepatan dengan jam kerja Mamak, Mamak lulus juga dari kelas Matrikulasi ini. Yeaaay~

Ngetik NHW-nya dibantu Arsyad! πŸ˜‚ (Ya kali…)

Baca selengkapnya cerita wisuda matrikulasi Mamak di sini, ya! πŸ™‚

Mengasah Fitrah Ibu di Kelas Bunda Sayang (2017)

Habis Matrikulasi, terbitlah Bunda Sayang. Berbeda dengan kelas Matrikulasi, Bunda Sayang ini waktu belajarnya 1 tahun! MasyaAllah… Dan ilmunya benar-benar ilmu praktis. 12 materi Bunda Sayang ini diramu dan diracik dengan penuh cinta untuk kemudian langsung dipraktikkan pada anak-anak di rumah. Buat Mamak pribadi, kelas ini menjadi penyemangat tersendiri dalam menemani keseharian anak-anak, terutama si sulung yang waktu itu sedang berada di fase batita.

Bagaimana dengan teman-teman lulusan Matrikulasi yang belum menikah? Ada kok kelas Bunda Sayang Pra Nikah. Untuk teman-teman yang sudah menikah tapi masih on di mode pacaran dengan suaminya? Praktiknya bisa dilakukan ke adiknya, sepupu atau saudara yang masih kecil, bahkan anak-anak tetangga.

Keseruan belajar di kelas Bunda Sayang ini tak luput dari tiga fasilitator yang mengayomi kami secara bergiliran di setiap caturwulan, Ainun Analisa, Yulianti, dan Diyah Jannata. Barakallah, para fasilitatorku… semangat untuk terus menjalarkan inspirasi ❀

Di Kelas Bunda Sayang, giliran Adzkiya yang jadi asisten. Hihihi

Setelah berjibaku dengan diskusi yang penuh inspirasi, tugas Tantangan10Hari, praktik di rumah yang tak ada ending-nya, dan lain-lainnya yang tak kalah menegangkan tapi nagih, Mamak dan teman-teman yang berhasil survive pun akhirnya bisa mengikuti wisuda kedua. Iya, jadi di IIP itu setiap kami berhasil melewati satu tahapan belajar, kami diwisuda. It’s so great for self-appreciation bahwa aku tuh sudah berhasil mengatur waktuku untuk belajar selama sekian bulan, mencoba membuatnya nyata dengan mempraktikkannya di rumah meskipun tertatih-tatih dan jatuh bangun (Eaaaa…), dsb.

Baca juga cerita Mamak tentang wisuda kelas Bunda Sayang selengkapnya di sini.

Terjerumus lebih dalam (2017)

Selesai belajar matrikulasi, makin cinta dong Mamak sama IIP ini. Sesekali, Mamak ikut juga kegiatan tatap muka yang diselenggarakan oleh regional Bandung. Salah satunya adalah yang dipersembahkan oleh Kelas Berbagi (KB) Cibiru Ibu Profesional Bandung. Pertama, Mamak ikut seminar mendongeng bersama Niakuri. Kedua, seminar tentang bakat bersama Elma Fitria. Ketiga, sehabis mengobrol via whatsapp dengan Koordinatornya, Sita Simpati, dilamarlah Mamak untuk menjadi bagian dari KB Cibiru. MasyaAllah… ini adalah “rumah pertama” Mamak di IP Bandung. Di sinilah Mamak mendapatkan saudara baru yang satu frekuensi: hobi botram! Hihihi. Ya, you know lah…

Lewat KB Cibiru ini, Mamak belajar banyak hal! Dari mulai mempersiapkan sebuah kegiatan, mendokumentasikannya, memahami karakter orang, dan masih banyak lagi. Sita, Trianawati, Panny, Sri, Azizah dan Seruni merupakan enam ibu hebat yang mewarnai episode Mamak-mamak rempong meskipun baru punya dua balita ini di kepengurusan IP Bandung. ❀

Belum lama berada di KB Cibiru, Mamak dikumpulkan lagi dengan tiga ibu keren yang desainnya tak kalah membahana: Alienda, Hajah dan Tyras. Mereka juga yang membikin hidup Mamak makin tambah berwarna! Ayeeeeyy ❀

Sungguh, Mamak sangat menikmati lika-liku perjalanan menjadi seorang ibu yang nyemplung dalam suatu komunitas. It’s so nagih, meeen! Anak-anak juga bahagia ketika Mamaknya ada pertemuan tatap muka entah itu saat Mamak jadi panitia acara atau sekedar kopdar pengurus. Dikira mereka mah diajak jalan-jalan gitu padahal dalam rangka memenuhi kepentingan si Mamak. Hehehee. Untuk kegiatan yang tidak memungkinkan membawa mereka, biasanya itu jadi daddy time mereka di rumah. Papa pun senang terlebih ketika Mamak bisa “jalan-jalan” bertiga saja dengan anak-anak. Kemandirian yang membuat suami bisa ber-me time ataupun bekerja dengan tenang. πŸ˜…

Baca juga ya cerita Mamak pergi-pergi sendiri ditemani dua balita saja di tulisan sini.

Baca juga tulisan ini tentang keseruan menyelenggarakan seminar sambil membawa dua balita.

Selain itu, wawasan berkomunitas dan berorganisasi Mamak pun bertambah dengan diadakannya berbagai diklat. Another privilege buat pengurus IP Bandung adalah berkesempatan untuk menjadi narasumber di program Rumahku Surgaku MQ Radio!

Baca juga cerita pengalaman pertama Mamak siaran di MQ Radio dalam tulisan ini.

Dua dari banyak kasih semoga terterima oleh Mamah Dedehnya IP Bandung, Wening Prihapsari, dan Leader sebelumnya yang merangkap (mantan) kakak tingkat jaman si Mamak kuliah di UPI yang makin bersinar dengan White Bee School of Life-nya, Nisa Nurarifah. Kalian leader cetar yang berhasil membawa IP Bandung to the next level. Peace, love, salute and gaul! (Ups, jebakan umur!)

Menyalurkan passion lewat “UKM” (2018)

Kalau di kampus kan kita kenal UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), di IIP juga selain kuliah kita bisa berkarya dengan mengikuti “ekskul” yang diselenggarakan oleh regional tempat kita terdaftar sebagai anggota. Untuk menjalankan misi belajar Mamak yang termaktub dalam NHW 1, Mamak ikut ke dalam Rumah Belajar (RB) Literasi. Dan untuk menyalurkan hobi bebikinan Mamak, dipilihlah RB DIY Toys. Tak bisa ikut RB banyak-banyak karena slot tiap anggota hanya boleh mengikuti dua RB saja. Tapi kalau menghadiri kegiatan atau acara insidental RB selain yang diikuti nya boleh saja. Biar henteu ngarawu ku siku***, guys! Biar fokus gitu. (Lalu nyanyi theme song-nya Asian Games yang kedelapan belas)

Remedial dengan cara yang Elegan (2019)

Merasa kurang maksimal saat mengikuti perkuliahan Matrikulasi dua tahun lalu, Mamak pun bertekad untuk mengulang kembali kelas tersebut.

Lah, gimana? Kan sudah lulus Bunda Sayang? Harusnya ya lanjut saja lah ke kelas Bunda Cekatan. Eman tho.

Makanya Mamak bilang remedial dengan cara elegan.

Itu gimana maksudnya? Kok ada remedial caranya elegan? Sambil pakai baju putri begitu, lengkap dengan sepatu kacanya? Cinderella kali ah!

Jadi Mamak coba daftar ketika open recruitment untuk fasilitator MIIP Batch 7. MasyaAllah ternyata lulus seleksi dan bisa mengikuti training fasilitator sebelum kemudian “dilepas” untuk mengarungi samudera MIIP gelombang ketujuh yang luas ini. Rangkaian bunga terindah Mamak kirimkan (secara virtual) kepada Ketua IIP, para trainer, Manajer MIIIP serta teman-teman senasib sepenanggungan dalam hal pelampung dan sutil (dua kode ini hanya kami yang paham πŸ˜‚). I love you to the Moon Neptune and back!

Akhir Januari 2019, dimulai lah pertarungan the real Mamak Vs the kancrut Mamak. Iya si kancrut itu maksudnya Mamak yang kuper, miskin info, andalemi*, pemalas, awut-awutan schedule-nya, dan versi yang sangat aib lainnya. Ngawur banget sih ini pake ada arch-battle segala. Maksudnya, perkuliahan MIIP Batch 7 dimulai. Dan Mamak ditempatkan di kelas Bandung 3, berduet dengan wali kelas yang super duper yahuy, Quraeni Wardhani. Karena di IIP itu, semua guru semua murid, jadi kami para fasilitator pun sejatinya banyak belajar dari para matrikan. Dan kami dilatih untuk memancing rasa haus mereka akan belajar sekaligus menginspirasi sesama. Seperti iklan sirup di siang hari yang berhasil memancing rasa haus jikalau sedang shaum. (Ehm!)

Berbahagia bersama walau sekejap bersama kelas matrikulasi Bandung 3 tersayang ❀

*

Begitulah, lini masa Mamak bab Ibu Profesional dari tahun 2013 hingga 2019 kini. It’s been 6 years! Ya Allah… terharu… (gaya lagi buang ingus dan lap air mata)

Ini cerita Mamak, how’s yours? πŸ˜€

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s