Kenang-kenangan Itikaf Ramadhan 1440 H

“Pah, malam ini ke masjid kan?”

Tanya Mamak kemarin sore pada Papa yang tengah sibuk membersihkan ayam potong pesanan kedua mamanya.

“Oke.”

“Beneran… siap?”

“Siap.”

Mamak agak sangsi kalau kami bisa kembali beritikaf di masjid di malam ganjil terakhir Ramadhan ini.

Pasalnya, Mamak melihat kesibukan Papa dari pagi hingga menjelang adzan Magrib yang hanya diselingi istirahat sejenak sebelum Dzuhur. Tapi… Papa sih bilang yes, ya. Ngga tahu kalau Mas Anang. (Lah!) Jika Papa oke, berarti kemungkinan besar kami berempat menghabiskan sisa malam di masjid lagi sampai menjelang makan sahur.

Dan pergilah kami berempat naik motor ke Masjid Al-Jihad yang jaraknya hanya sekitar satu kilometer dari rumah. Waktu menunjukkan pukul setengah sebelas ketika kami sampai di sana.

Di awal bulan, Mamak mendiskusikan soal itikaf sekeluarga ini untuk dijadikan salah satu family project Ramadhan 1440 Hijriah. Rencananya, kami hanya akan beritikaf pada tanggal ganjil di sepuluh hari terakhir. Nyatanya, kami mulai beritikaf pada tanggal 23 Ramadhan karena pada tanggal 20 dan 21 kami mengunjungi rumah Nenek dan Abahnya anak-anak di Cimindi.

Tersebab Papa masih harus berangkat kerja di tanggal yang sudah ditetapkan untuk itikaf bersama, kami setuju untuk berangkat ke masjid sekitar pukul sepuluh sampai sebelas malam. Papa jadi bisa berisitirahat sejenak setelah sholat tarawih di masjid terdekat sehingga diharapkan nanti saat itikaf bisa optimal tanpa terlalu terkantuk-kantuk. Mamak sendiri biasanya istirahat setelah Isya, saat Papa dan Aa melaksanakan sholat tarawih berjamaah di masjid.

Lho, kenapa Mamak dan Dede tidak ikut? Chaos, lads! Yang ada malah energi terkuras karena mengimbangi ke-motah*-an anak-anak, membuat tidak nyaman dan mengganggu kekhusyukan jama’ah lain. Ini terjadi ketika malam pertama tarawih. Setelah itu, kami mutuskan untuk menunda pelaksanaan proyek Tarawih Keliling hingga pada masa dimana anak-anak mau dan lebih mudah untuk dikondisikan.

Berangkat di jam-jam menuju tengah malam, pulang kembali sekitar pukul tiga agar Mamak bisa menyiapkan makanan sahur terlebih dahulu. Begitu rencana awalnya. Dan kami bisa stick to the plan hingga itikaf tadi malam. Alhamdulillah… Makan sahurnya kenapa tidak di masjid? Biar lebih nyaman dan kami bisa lebih leluasa membebaskan anak-anak dalam mengekspresikan kegembiraan jelang sahurnya (baca: motah). Dan karena si Mamak dan si Papa suka pengen nonton serial Para Pencari Tuhan. Hihihi.

23 Ramadhan

Persiapan keberangkatan hingga touch down-nya (Ceileh) kami ke masjid berlangsung dengan mulus. Aa yang sangat mengantuk tak kuasa menahan keinginannya untuk merebahkan diri di hamparan karpet beberapa menit setelah mengobrol sedikit tentang apa yang akan kami lakukan di masjid. Berbeda denga Aa, Dede malah cΓ©nghar* segera setelah kami memasuki ruangan masjid. Akhirnya, Mamak dan Papa bergantian menjaga dan mengawasinya hingga dia terlelap sekitar pukul dua dini hari.

Itikaf Ramadhan 1440 Hijriah Itikaf keluarga
Saking lincahnya, Mamak sampai harus berjaga di akses masuk tempat itikaf wanita

25 Ramadhan

Papa dan Mamak sama-sama memiliki aktivitas yang cukup padat di siang hari tanpa diimbangi istirahat yang cukup. Ini mengakibatkan kengantukan dan kelelahan akut ba’da tarawih sampai bunyi alarm pun kami abaikan. Ya, kami berempat bolos pada malam ke-25 ini. Alhamdulillah, tidak sampai bolos sahur juga.

27 Ramadhan

Tengah malam kami baru berangkat menembus dinginnya malam menuju masjid. Kali ini, Aa yang stay awake dan Dede tidak terbangun sama sekali sampai sekitar satu jam lamanya. Yang membuat Aa bisa melawan kantuknya salah satunya adalah adanya cemilan mini oatbar yang dia sukai yang disediakan pihak DKM. Dasar anak-anak!

Aa duduk anteng di sebelah Papa yang sedang tilawah. Saat qiyamul lail berjamaah, Aa dengan sendirinya ikit dalam barisan shaf. Bersebelahan dengan Aa. Dede tidak mau kalah. Bersamaan dengan dikumandangkannya pengumuman untuk bersiap sholat, Dede bangun, menyapa Mamak dan langsung mencari Papa. πŸ˜…

Ah, sungguh pemandangan yang indah (meskipun Dede malah ikut sholat di sebelah Papa πŸ™ˆ).

Sayangnya itu hanya sekejap saja. Baru beberapa ayat dari surat An-Naba dilantunkan imam, Dede mulai resah. Ingin meninggalkan barisan. Tak mau sendiri, dia mengajak Aa-nya. Aa-nya menolak dengan melepaskan tarikan tangan Dede. Runyam jadinya. Papa akhirnya berhenti sholat dan “memulangkan” anak-anak ke barak wanita. Karena di tempat wanita ini Dede tidak mau dikondisikan, akhirnya ketika jama’ah sedang melaksanakan rakaat ketiga, kami terpaksa pulang.

It’s okay.

Walaupun riuh, ini adalah itikaf keluarga yang pertama kalinya kami lakukan. Dan akan menjadi kenangan indah dan penyemangat untuk bisa lebih baik menyambut dan menjamu tamu agung di tahun-tahun berikutnya, insya Allah.

29 Ramadhan

Tiba di masjid, Mamak langsung menyimpan ransel dan menyiapkan alas tidur untuk anak-anak. Ya… meskipun mereka malah terlihat segar dan entah kapan akan tidur. πŸ˜‚

Aa berjalan menuju lemari buku dan mengambil buku iqra. Dia lalu menghampiri Mamak dan bilang ingin mengaji. Masya Allah. Lagi-lagi, Dede tak mau kalah. Fashtabiqul khairat, ya Dek? 😍

Setelah mengaji iqra, berlarian dan berkejaran di barisan belakang masjid, dan rebutan buku, rasa kantuk mulai menguasai mereka. Begitu pula Papa dan Mamak. πŸ™ˆ

One man down.

Saat Aa tertidur, Papa dan Mamak bergiliran lagi menemani Dede yang seolah tak ingin ditaklukan oleh rasa kantuk. Sekitar setengah jam kemudian, barulah dia gelisah dan akhirnya tertidur. Membuat Mamak juga tergoda untuk menyimpan mushaf dan ikut menggeletakkan diri sampai terbangun ketika jamaah sudah mulai sholat. Kesiangan judulnya. πŸ™ˆ

Ternyata Papa juga mengalami hal yang sama. Dududuuuuh…

Ngapain sih malam-malam dingin bermotoran ria, berempat sambil gembol ransel gede (karena bawa selimut)?

Niatnya sih… selain menghidupkan malam-malam terakhir di bulan suci ini, kami juga ingin mengenalkan satu keistimewaan lain dari bulan Ramadhan. Feel-nya beda gitu kalau itikaf di bulan ini. Kami juga ingin mengajak mereka untuk lebih mencintai masjid agar kelas bisa memakmurkannya. Perlahan, kami tularkan dan coba pahamkan adab lewat kegiatan itikaf ini. Tak hanya adab di masjid, tapi juga adab berpergian, adab di kamar mandi, dan lainnya. Masya Allah.

Alhamdulillah, Ramadhan kali ini kami bisa merajut kenangan dalam bingkai serangkaian proyek keluarga. ❀

Apa saja proyeknya?

Ada di tulisan yang ini, yaa. Silakan berkunjung.😊

Baca juga cerita kami saat menyambut Ramadhan di tulisan ini.

Semoga Allah pertemukan kita dengan Ramadhan tahun berikutnya. Dan diberikan kemampuan untuk bisa menjamunya dengan lebih baik. Aamin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s