Nanti Kita Cerita… Soal Apa? (Ulasan Film NKCTHI)

Sudah nonton, Mak? Judul filmnya bikin salting di depan Mbak-Mbak tiket saat dia tanya,

“Mau nonton film apa?”

Oke, Mamak aja kali ya yang begitu. 😌

Jadi, bagaimana setelah 121 menit duduk manis menikmati film tersebut?

Kalau Mamak sih, bersyukur banget AC di dalam teaternya tidak terlalu kencang. Hihihi. Soalnya pernah dulu pas nonton film apa (lupa), si AC-nya kayak ngajak ribut. Alhasil, sehabis melewati pintu bertuliskan EXIT itu Mamak malah masuk angin. Haha, norak memang si Mamak ini. 😂

Baik.

Mari bicarakan filmnya. (Atau “nanti” saja?)

NKCTHI, sebuah film bertema keluarga yang sulit untuk Mamak abaikan godaan (menonton)nya. Setelah melihat cuplikannya, Mamak langsung penasaran (Mamak tim belum-baca-bukunya, anyway) sambil bertanya-tanya,

Apakah ini film yang bagus dan layak untuk diagendakan sebagai movie date?

Fyi, pergi ke bioskop berdua bagi kami yang memiliki dua balita adalah sebanding dengan mission impossible-nya Ethan Hunt. Impossible but doable, in the end. Maaaaan… it’s been five years since the last time we went to the movie, just the two of us.

Lalu, jawaban pertanyaan di atas adalah : SANGAT BAGUS & LAYAK TONTON. Rating Dewasa kalau menurut Mamak, meskipun ini film (tentang) keluarga.

Skor 4.7 dari 5!

Ceritanya sederhana tapi nyelekit, Mak. Menyentuh sanubari. Eaaaa… Dikemas secara apik dan didukung oleh para aktor dan aktris yang begitu menjiwai peran mereka dan sukses memoles makna hidup yang dialami oleh masing-masing tokoh.

Tak salah jika NKCTHI mengusung tagar setiapkeluargapunyarahasia. Karena memang itu realita. Rahasia yang menggores luka, yang bisa terjadi pada seisi rumah, atau satu atau beberapa orang saja.

“Banyak memori keluarga yang terpanggil” – TEMPO

Bener banget. Sisi emosional Mamak jumpalitan selama nonton. Bikin mata jadi susah berkedip.

Film ini berceritakan tentang keluarga Angkasa, Aurora dan Awan dengan satu rahasia besar yang soooo breaking your heart. Tapi Mamak tidak sedang melakukan spoiler di sini. Just go watch the movie by yourself! It’s so d*mn worth-it!

Izinkan Mamak mengalirkan kembali emosi yang sempat mengocok perut selama di dalam teater ini. (Bukan karena masuk angin, ya)

Sebagai seorang anak, Mamak mengerti sekali perasaan Angkasa, Aurora dan Awan atas semua hal yang mereka alami sehingga menyisipkan trauma yang membatasi gerak langkah diri melalui perjalanan menuju kebahagiaan sejati. #therealsusahmoveon

Perasaan tertekan, terbebani, terkekang, kehilangan harga diri dan kepercayaan diri, serta berbagai perasaan lainnya yang lahir dan tumbuh dari kenangan masa lalu bisa berujung fatal jika luka-lukanya tidak segera disembuhkan dengan baik.

“Kalian sudah lama kehilanganku!” – Aurora, NKCTHI

Mamak memposisikan diri sebagai tokoh Ibu dan Ayah. Dan saat melihat adegan Aurora berkata seperti itu, rasanya bagai disambar petir di siang bolong. Anak kita hidup dan tinggal seatap dengan kita selama lebih dari 20 puluh tahun tetapi kita tidak menyadari kesakitannya dan perlahan dia menjauh dan menjadikan kita sebagai the worst place to put your heart into dalam hidupnya. 💔

Tapi sebagai orang tua, Mamak juga memahami apa yang dilakukan tokoh Ayah dalam film pada dasarnya hanya ingin melakukan yang terbaik untuk keluarganya. Tipikal ayah yang sangat penyayang. Sayangnya, dia tidak melakukannya dengan tepat. Kalau istilahnya Bu Elly Risman mah, tidak mencintai anak dengan dibarengi logika.

Boleh banget baca coretan Mamak yang sedikit merangkum Kuliah Umum Kepengasuhan bersama Bu Elly Risman soal cinta dan logika di sini.

Tidak ada orang tua yang tidak mencintai dan menyayangi anaknya. Fitrah itulah yang kemudian menjadi nyala api sang Ayah untuk menjaga tekad dan janjinya bahwa keluarganya tidak akan mengalami kesedihan untuk yang kedua kalinya setelah kejadian yang mereka alami pasca kelahiran si bungsu Awan. Mungkin, janji ini juga memiliki andil atas kebungkaman sang Ibu selama bertahun-tahun. Diam dan menunjukkan seolah-olah bahwa tidak terjadi apa-apa saat kelahiran itu. Bahkan ketika dia melihat dan merasa bahwa apa yang dikatakan ataupun dilakukan suaminya itu tidak benar.

“Diam itu emas, tapi ketika menghadapi ketidakbenaran?”

Mungkin hati sang Ibu sudah terlalu perih dan sakit untuk menggerakkan alarm moralnya. Perih yang terlalu lama dibiarkan tanpa diobati. Tak salah memang kalau…

A Family needs a HAPPY MOM, NOT a PERFECT MOM

Ternyata peran seorang ibu yang bahagia sungguh krusial dan sangat menentukan arah layar bahtera rumah tangganya. Ngomong-ngomong soal layar,

“Arah angin memang ngga bisa ditentukan, tapi arah layar bisa.” – Kale, NKCTHI

Ada Allah SWT yang sudah mengatur apa-apa yang terjadi dalam kehidupan kita dengan sedemikian rupa. Di sana, ada kalanya kita merasa senang, ada sedih, takut, kecewa, pesimis, dan sebagainya. Tapi coba tengok QS Ar-Ra’du ayat 11. Kitalah yang mengatur ke arah mana perasaan-perasaan tersebut dibawa. Apakah kita akan membawa kesedihan kita pada keterpurukan atau menjadikannya tiket untuk melesat ke depan menuju versi kita yang lebih baik? #ntms

Yep, it’s the matter of our choice.

Jadi, sudahkah kita merawat kebahagiaan kita, Mak?

“Tidak perlu sedih…” – Ayah, NKCTHI

Lantas bagaimana? Haruskah kita menghilangkan emosi jenis ini begitu saja? Atau perlukah kita memiliki remote control perasaan seperti yang dibilang Aurora?

But Alquran indeed gives the solution.

Akui setiap emosi yang sedang kita rasakan, termasuk sedih. Menangis bila perlu. It’s okay to cry. Sebagai salah satu hal yang perlu kita lakukan untuk merilis emosi supaya tidak mengendap dan menjadi sampah lalu menumpuk dan mencemari hati kita. Lalu ingatlah, kita “tinggal” meminta pada-Nya untuk bisa mencari jalan keluar dari kesulitan yang menyebabkan perasaan-perasaan semacam itu hadir.

Ah, film ini benar-benar membuat Mamak mengajak untuk saling mengingatkan bahwa akan tiba masanya nanti kita bisa cerita tentang hari ini. Tapi Mamak ingin perjalanan menuju nanti itu tidak banyak meninggalkan luka yang tidak sewajarnya. Kalaupun ada luka, semoga kami bisa dengan segera mengobatinya dengan baik dan benar.

Ini cerita hari ininya kami. Bagaimana dengan harinya kalian? Apa yang akan kita ceritakan saat sang nanti datang?