Nasib Saya Bekerja Jadi Ibu Rumah Tangga

Wow, kontroversial sekali judulnya, Mak! 😅

Jujur, ketika nulis judulnya kok rasa-rasanya aroma negatif seperti menguar hebat.

Ngopi Aroma dulu kali yaa… To gain positivity.

Lah.

Disclaimer : Tulisan ini tidak disponsori produk apa-apapun, ya. Termasuk Kopi Aroma yang fotonya hasil nyomot dari Google. 😂

Tapi serius, ini si Mamak bukan mau mengumbar pilu atau keluh kesah. Aslinya cuma mau ….

… mau nulis blog yang sesuai tema sama #1minggu1cerita aja. Hihi.

Jadi….

Gimana nasib Mamak menjadi Ibu Rumah Tangga? Ngomong-ngomong, nasib itu kan sesuatu yang sudah ditentukan oleh Tuhan atas diri seseorang atau takdir. Katanya gitu …, kata KBBI lho, ya.

Cuma Mamak agak kurang sreg sama padanan katanya. Karena sebenarnya menjadi Ibu Rumah Tangga adalah pekerjaan yang Mamak pilih sendiri, meskipun tentu saja semua yang kita jalani sebenarnya sudah diatur dengan Maha Rapi oleh Allah SWT. Sedangkan kalau ngomongin takdir tuh sesuatu yang memang Allah tetapkan buat kita dan kita ngga bisa berbuat apa-apa soal itu. Kayak misalnya, lahir sebagai wanita atau lelaki, lahir dari orang tua yang seperti apa, dsb.

Baik.

Back to the point, yang mana adalah tentang pilihan Mamak untuk menjadi Ibu Rumah Tangga, yang benar-benar bekerja di rumah, berkutat di ranah domestik saja.

Kenapa milih jadi IRT?

Karena ngga kuat. 😂

Setelah merasakan bagaimana hidup di dua alam (kodok kali, ah), ya maksudnya alam dunia rumah dan alam dunia kerja, Mamak mulai merasa bahwa kemampuannya saat ini belum mumpuni untuk optimal di dua ranah tersebut.

Man, jadi ibu itu ternyata sangat menantang! I should say the most challenging job in the world is becoming a mother, deh. Serius. Ngga lebay.

Ini bukan tentang pekerjaan domestiknya saja yang seakan tidak ada habisnya. Pekerjaan utamanya lebih bikin kesang ngoprot*: pusat semesta bagi anak-anaknya!

Saking menantangnya, sampai ngga sanggup jabarin satu-satu itu pekerjaan si pusat semesta bagi anak-anaknya.

Oleh karenanya, demi kebahagiaan dan kesehatan jiwa dan raga, Mamak memilih untuk fokus bekerja di rumah dulu, sebelum memberanikan diri untuk “pergi” keluar lagi.

Because every family requires a happy mom, right?

Jenuh ngga sih jadi IRT?

Well, profesi apapun yang kita pilih untuk dikerjakan pastinya memiliki titik jenuh tersendiri. Termasuk IRT.

Bosan itu wajar. Yang ngga wajar itu kalau kita seolah-olah “merasa nyaman” dengan kebosanan kita sampai kemudian bingung bagaimana menemukan jalan keluar dari kebosanan tersebut.

Ye ngga? 🙈

Sehingga kudu kreatif mencari cara-cara aplikatif dan atraktif (mau sirkus, Mak?) buat membunuh rasa bosan sebelum kebosanan itu membunuhmu. Ini kok bahasanya thriller sekali, ya.

Baca : Hack Woman, Tipikal Ibu Masa Kini?

Baca juga : Stay at Home Mom? Do These 7 Things!

Ngga ada niatan buat kerja sampingan (lagi)?

Ada dong.

Pernah juga pas habis resign itu, si Mamak coba dagang cloth diaper terus jualan buku juga pernah. But, it’s not just my area. Jadinya ya seumuran jagung aja gitu dadagangan-nya.

Baca : Berbagi Cerita di Ruang Siaran

Suatu hari Enin-nya anak-anak pernah bilang, “Kalau kita bisa lebih bermanfaat dengan mengajar, mengapa tidak?”

Silakan ganti kata mengajar dengan kata kerja yang disukai. Mamak hanya mengutip perkataan Enin dengan berusaha sebisa mungkin melestarikan kalimat aslinya. Hehehe.

Baca : “Trah” Guru

Suatu hari nanti, itu bisa saja terjadi. “Mamak masa depan” dengan dunia kerjanya, di suatu tempat di luar sana. Saat ini, lagi-lagi, I just want to make sure that I’m doing well in my main office.

Jadi, Bahagiakah menjadi IRT?

Tentu!

Tapi setiap orang kan mengusahakan kebahagiannya berbeda-beda. Dan the present (tense) Mamak herself membahagiakan dirinya dengan bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga.

Bagaimana tidak?

Dia bisa merdeka belajar karena memiliki waktu yang tidak terbagi dengan pekerjaan di luar. Soal ini, Mamak pilih kuliah di Institut Ibu Profesional. Dia juga bisa meluangkan waktu lebih banyak dan berkonsentrasi dalam melakukan self-healing.

Self-healing? Sakit apa, Mak?

Ada lah pokoknya. Nanti (kita) cerita tentang hari ini hal itu. Mungkin setelah progres self-healing nya terasa cukup signifikan dan merasa jauh lebih baik. Biar pengalamannya bisa jadi pelajaran.

Yekaaan?

Coba baca dulu ini : Hello again, 2019!

Gitu deh. Cerita soal pekerjaan yang Mamak geluti saat ini.

Kalau kamu?


* (B. Sunda) bersimbah keringat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s