Kesehatan Mental Para Ibu Sering Diabaikan, Benarkah?

Siang tadi Mamak ikut konferensi digital bertema kesehatan #WeTheHealth yang diselenggarakan oleh Jovee.id dan LifePack.id. Ada banyak sekali pilihan tema yang bisa disimak dalam konferensi ini. Dari mulai kesehatan kulit, diabetes, hingga kesehatan mental. Mengingat, menimbang dan menghimbau pagi hingga menjelang sore itu jadwal Mamak padat (Gaya beuuud, dah!), biasalah yaaa… emak-emak, Mamak hanya pilih satu sesi. Dan memang bisa dikatakan yang paling jadi kebutuhan mendesak.

Mamak pilih sesi “Kesehatan Mental: Pentingnya Mengelola Stres Saat Pandemi” bersama Ade Binarko, Pendiri Komunitas SehatMental.id.

Isu ini tuh sering banget dibahas di komunitas yang Mamak ikuti, Komunitas Ibu Profesional, khususnya yang berada di wilayah Bandung. Bahwa menjaga kewarasan bagi para Ibu itu urgensinya tinggi sekali. Sedikit saja terjadi ketidakstabilan emosi, ambyar sudah. Bisa-bisa jadi sekuel film Olympus Has Fallen, kelanjutan dari film Angel Has Fallen. Judulnya nanti Home Sweet Home is Fallen. 😅

Nah, makanya Mamak ingin menyimak pembahasan soal ini lebih jauh. Terlebih pembicara adalah praktisi kesehatan mental dan merupakan penyitas alias survivor juga. Beliau mengatakan bahwa dirinya mengidap panic disorder. Alhamdulillah, sinyal sedang bersahabat. Gawai juga lagi “baik”, jadi selama pembicaraan Mamak bisa menyimak dengan cukup baik. Mamak sempat mengajukan pertanyaan juga terkait pengelolaan stres untuk para ibu di awal-awal pembicaraan. And luckily, Mamak masih bisa sempat menyimak jawaban yang diberikan narasumber karena setengah jam sebelum tenggat waktu selesainya sesi ini, anak-anak sudah menyerbu minta ditemani main. 😌

Apa saja yang Mamak dapat dari sesi kedua konferensi ini?

1. Ibu perlu support system yang kuat

Perempuan, identik dengan perasaannya yang halus. Bahkan tak jarang segala sesuatunya dibawa perasaan alias baper. Belum lagi tantangannya untuk mampu ber-multitasking, ya mengurusi pekerjaan rumah, ya anak-anak, suami, apalagi jika dia juga berkiprah di luar rumah. Mamak suka salut deh kepada para ibu yang masih bisa menjaga kehidupan keluarga dan karir maupun kemasyarakatan tetap di titik balance.

Lingkungan sekitarnya haruslah mendukung dan menjadi sumber energi sang ibu. Bukannya malah menjadi pemicu ketidakstabilan emosinya. Dalam konferensi tadi, Ade mengemukakan bahwa salah satu tugas para lelaki adalah memahami perempuan.

*Serta merta si Mamak muter lagu “Karena Wanita Ingin Dimengerti”-nya Ada Band. Hihihi.

“Tuh, Pak! Dengerin!”

Lalu blog ini di-take down oleh para bapak-bapak. 🙈

Eh, tapi itu kata narasumber lho, pabapak. Narasumbernya lelaki lho, pabapak. 😂😂

Nah, sekarang… apakah kita merasa belum memiliki support system yang kuat nan ideal, Mak?

Masa sih?

Seriusan…?

Hmmm… mungkin kita harus…

…harus lanjut baca sampai ke akhir tulisan ini. Hehehe.

2. Menjadi sosok yang open minded

Jadi… kalau kita merasa belum memiliki dukungan penuh dan seutuhnya dari lingkungan terdekat kita, cek lagi deh. Jangan-jangan kita kelewat tertutup orangnya. Kurang terbuka gitu.

Yang tertutup itu bukan hanya kurang gaul ya, Mak. Close minded juga bisa berarti membatasi atau memberi jarak yang berlebih kepada orang-orang. Bukan secara fisik, ya. Jadi, belum apa-apa sudah kepikirannya yang negatif aja gitu. Jika seperti itu, kita akan sulit untuk membuka diri kita yang kemudian akan mengakibatkan munculnya “hobi” memendam apapun. Literally anything. Padahal itu tidak sehat.

Ketika ada pertanyaan dari salah satu peserta konferensi mengenai panic disorder yang dialami narasumber, beliau mengetahui dari psikiaternya bahwa gangguan tersebut bisa saja terjadi akibat akumulasi dari pengalaman-pengalaman tidak mengenakan di masa lalunya dan beban-beban yang selama ini harus dia tanggung dan itu semua dipendam saja.

Ngeri kan… bahayanya “rajin memendam” segala sesuatunya sendiri itu bisa sampai mengganggu kesehatan mental kita.

Ade juga menambahkan bahwa kita sebagai individu lebih baik bergerak daripada menunggu. Maksudnya, ketimbang kita menunggu “suporter” kita datang satu per satu, akan lebih baik jika kita bergerak untuk menciptakan sebuah lingkungan baik yang suportif terhadap kita. Hal ini pula lah yang menggerakkan dirinya untuk membangun komunitas SehatMental.id.

Luar biasa ya, Mak.

Hayu atuh Mak, kita bergerak. Jangan nunggu disampeur. Hehee.

“Daripada kita menunggu dan malah mengumbar keluh, lebih baik kita bergerak, berkreasi, membuat karya.” – Ade Binarko, 2020.

3. Curhatlah, Mak!

Tadi sempat disinggung mengenai bahayanya memendam segala yang ada di hati dan pikiran. Jangan keluarnya ya satu: tjoerhat.

Ade menyarankan setidaknya dua kali dalam setahun untuk mengunjungi psikolog dan berkonsultasi padanya. Bahkan kalau memang dirasa perlu, kita bisa meminta bantuan psikiater.

Kenapa harus ke psikolog?

Karena kita akan dapat tiga benefit. Satu, sampah-sampah emosi yang menumpuk dalam diri kita akan terbuang dan terbersihkan karena teralirkan lewat konsultasi. Dua, kita jadi dapat insight baru bahkan solusi untuk memecahkan permasalahan yang berhubungan dengan kesehatan mental kita. Istilahnya, jadi bisa mengurai benang kusut yang ada dalam diri kita. Tiga, ini bisa menjadi langkah preventif dalam menghadapi gangguan kesehatan mental yang sangat dianjurkan daripada nantinya kita harus melakukan tindakan kuratif.

Duh, konsultasi ke psikolog kan lumayan ongkosnya tuh?

Lagi-lagi, sang narasumber mendorong kita untuk terus bergerak! Banyak jalan menuju Roma, Mak! Bahkan ngga perlu harus terbang ke Roma buat bisa ketemu dan konsultasi dengan psikolog. Hehee. Saat ini banyak sekali platform digital yang memungkinkan untuk kita akses dimana saja dan kapan saja dengan biaya terjangkau bahkan tak sedikit yang memberikan layanan konsultasi secara cuma-cuma!

Kalau lebih nyaman berkonsultasi secara tatap muka langsung, bisa dicoba ke puskesmas terdekat. Wah, bener juga, nih. Mamak nanti coba ah cari tahu ke Puskesmas Jatinangor.

4. Komunitas yang satu frekuensi

Berkomunitas memberikan multiple effects yang cukup signifikan. Pasalnya, berada dalam komunitas dengan para anggota yang notabene satu frekuensi menjadikan kita secara tidak langsung membuat lingkaran baru yang menguatkan dan mendukung. Tidak menutup kemungkinan komunitas ini menjadi support system kita.

Ini nyata lho, Mak. Happened here. Senyata apa yang Mamak rasakan sebelum dan sesudah bergabung di komunitas Ibu Profesional dan komunitas blogging 1minggu1cerita. Selain belajar banyak di ranah yang diusung oleh kedua komunitas ini, Mamak juga merasa seperti terbarukan setiap bertemu dan mengobrol dengan mereka meskipun kebanyakannya secara daring. Apalagi saat pandemi sekarang. Berkumpul “sekejap” secara daring bersama mereka menjadi semacam tombol refresh buat Mamak.

5. Temukan passion

“Pandemi ini secara tidak langsung mengajak kita untuk lebih peka dan peduli.” – Ade Binarko, 2020.

Termasuk menjadi lebih peka terhadap diri sendiri. Selain diajak untuk lebih aware seputar kesehatan mental, Ade Binarko juga mengajak kita untuk menemukan dan mengembangkan passion kita. Melakukan aktivitas yang kita senangi memberikan pengaruh yang positif terhadap kesehatan mental juga, lho.

Lalu bagaimana caranya seorang ibu yang dengan segudang pekerjaannya itu bisa meluangkan waktu untuk menyalurkan passion-nya? Hmmm… kayaknya perlu baca tulisan Mamak yang membahas soal itu deh. 😁

Baca juga : Berbagi Cerita di Ruang Siaran

6. Berdamai dengan partner in life

Courtesy : photoblog.com

Sebenarnya, soal berdamai dengan partner ini dibahas ketika ada pertanyaan mengenai cara menghadapi partner kerja yang perfeksionis. Tapi jawaban dari narasumber tadi, Mamak rasa related juga untuk menjawab polemik kesehatan mental para ibu.

Let’s take a deep breathe first.

Jadi, Mak… suka ngerasa ngga sih kalau kita tuh berlebihan dalam berekspektasi, termasuk pada pasangan hidup kita? Kalau ternyata kita ngga mampu melihat dengan lebih jernih dan malah menuding sang pasangan tercinta tidak bisa seluarbiasa seperti yang kita harapkan, kita akan merasa dongkol lah ya minimal. Lalu malah jadi nambah sampah emosi.

Pendeknya, kalau kitanya rudet ya ruwet lah semua urusan. Apalagi sosok ibu tuh kayak punya pancaran magnet gitu lho. Kalau pikirannya lagi ruwet, emosinya tidak stabil, seisi rumah akan ikut runyam. Betul ngga, Mak?

Ini berarti, kepiawaian kita dalam melakukan perdamaian dalam segala hal sangatlah krusial. (Seketika muncul grup qosidahan menyanyikan lagu “Perdamaian”).

Banyak sekali sebetulnya insight yang didapat dari konferensi digital kesehatan pertama di Indonesia ini. Lain kali mungkin ya, Mamak ceritakan dalam tulisan yang berbeda. Belum lagi sesi-nya dr. Jaka Pradipta, SpP yang membahas mengenai Persiapan dan Adaptasi menghadapi Rutinitas di New Normal yang sempat Mamak ikuti di sore hari ketika anak-anak masih menikmati tidur siang mereka. Bertambah lagi deh ilmu baru yang bikin “Oh! moment”.

Alhamdulillah, billion thanks buat Jovee dan LifePack beserta seluruh narasumber yang mengisi rangkaian sesi dalam konferensi di penghujung pekan ini. Juga para sponsor! Suplemen banget ini mah buat Mamak yang sudah berbulan-bulan ngga ikut seminar atau semacamnya.

Dan tentunya Geng PengejaSemesta yang sudah membolehkan Mamak belajar sesiangan tadi. Love you, guys! ❤

3 comments

  1. ngakak aku pas bagian ketidakstabilan emosi emak bisa kaya trilogi film nya si has fallen itu! hahahaha
    etapi emang bener ya. aku garis bawahi banget bagian paling bawah, soal berdamai sama parthner in life. ini betul banget soalnya, hahahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s