DIY Dapur Mainan, Hadiah Hemat Buat si Anak Perempuan

Banyak yang merasakan dampak positif dari Pandemi yang tengah melanda kita saat ini. Terlepas dari dampak negatifnya tentu saja. Termasuk Mamak. Selama PSBB alias social distancing kemarin, Mamak jadi rajin bebikinan lagi. Tak hanya buat sendiri, Mamak bikin beberapa mainan juga buat anak-anak. Salah satunya dapur!

Baca juga : Iritologi Mamak #2 : Menjahit Sendiri Baju Lebaran

Adalah tantangan tersendiri bagi kami, ketika anak-anak tidak bisa bebas bermain di luar. Kegiatan PAS ITB yang adalah sesekolahan-nya Aa, diliburkan, taman-taman, museum hingga perpustakaan ditutup dan tentu saja kami pun tidak bisa mengadakan playdate AmengSareng kami. Harus memutar otak sampai sedemikian rupa biar tidak mati gaya meski #dirumahaja.

Baca juga : AmengSareng Eps.3 : BLAST OFF!

Proyek membuat dapur dan beberapa alat masaknya ini memang tidak selesai barang satu atau dua hari saja. Lagipula, Mamak mengerjakannya dengan sistem kredit, alias nyicil sedikit demi sedikit. Entah berapa cangkir kopi yang Mamak butuhkan kalau proyek bebikinan ini “dibayar” kontan. Hehe.

Lalu, apa saja yang Mamak (cicil) bikin untuk proyek dapur mainan ini?

1) Oven Tangkring

Mamak tuh fans-nya mainan dari kardus bekas. Selain bisa memanfaatkan barang yang sudah tak terpakai, menurut Mamak kardus adalah bahan yang paling mudah didapat dan dibuat untuk bebikinan.

Untuk membuat oven ini, sengaja Mamak sampai rela menghabiskan waktu setengah jam lebih untuk memilih dan memilah kardus di gudang toko kelontongnya Enin demi mendapatkan kardus bekas tapi berkualitas. Hihihi. Karena ingin ovennya awet, Mamak pilih kardus yang cukup tebal dan setiap sisi ovennya terdiri dari dua lapis kardus. Dan karena tidak ingin melakukan banyak pengukuran, selain mempertimbangkan ketebalannya, Mamak juga memperhatikan ukurannya. Sehingga didapatlah kardus dengan sisi yang sesuai dengan keinginan. Mamak hanya tinggal mengukur untuk sisi atas, bawah, dan pintu oven. šŸ˜

Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk membuat oven tangkring dari kardus:

  1. Tiga lembar kardus bekas kopi Kapal Api Special Mix yang masih utuh dan bagus
  2. Dua lembar plastik mika tebal, ukurannya sekitar 20 x 20 cm. Kenapa dua lembar? Karena nantinya kaca untuk pintu ovennya dibuat dua lapis supaya lebih kokoh. Mamak pakai plastik mika bekas tutup kotak roti buaya khitanan Aa. Hihihi.
  3. Empat buah paper fastener. Mamak pakai yang bentuknya seperti jamur karena yang satu memang difungsikan untuk kenop pintu oven.
  4. Tali kur secukupnya, untuk pegangan di sisi kiri dan kanan.
  5. Satu buah engsel lemari, lengkap dengan bautnya. Karena di Borma ngga ada yang kecil, jadinya beli engsel buat pintu. šŸ˜‚
  6. Lem kayu, lem tembak, dan double tape.
  7. Gunting, cutter, penggaris dan pulpen/ spidol.

Cara buatnya?

Gunakan imajinasimu, Mak! Huehehee. Serius gampang, kok. Tapi harus sabar. Apalagi kalau kita mengandalkan lem kayu sebagai perekat. Setidaknya harus didiamkan semalaman baru si ovennya siap untuk dimainkan si buah hati. Oh ya, tips dari Mamak, ujung baut yang masih menyembul bisa kita amankan dengan bantuan lem tembak. InsyaAllah, ngga akan melukai anak-anak ketika bermain dengan oven ini.

Untuk loyangnya, Mamak manfaatkan kotak kaleng bekas pensil warna. Kue-kuenya Mamak bikin dari kardus yang ditempeli gambar kue yang diunduh dari freepik.com lalu dicetak di kertas A4. Sambil ngajak anak-anak menggunting dan menempel juga nih. Dan sarung tangan “tahan panas”-nya dibuat dari kain flanel.

2) Felt Food

Sebelumnya sudah ada beberapa koleksi makanan dari kain flanel di dapur mainan. Nah, dalam rangka menarik lagi perhatian anak-anak kepada aktivitas bermain peran sebagai koki, Mamak tambahkan beberapa macam lagi. Modalnya hanya kain flanel dan benang berbagai warna, jarum jahit, gunting dan dakron untuk isiannya. Juga sedikit imajinasi dan inspirasi dari Pinterest atau Google.

Voila~

3) Portable Blender

Dinamai portable karena dia tak punya kabel dan colokan listrik. Sesederhana itu. šŸ˜…

Blender ini bukan dari kardus, tapi alhamdulillah tetap bisa memanfaatkan barang bekas. Barang-barang yang Mamak pilih untuk disulap jadi blender mainan ini adalah:

  • Botol plastik ukuran 1 liter (tadinya bekas wadah minyak, tapi digantikan oleh botol lain karena bentuknya kurang ergonomis) untuk gelas blendernya.
  • Tutup toples bekas wafer roll, yang dipakai bagian gagangnya saja yang berwarna kuning untuk dijadikan pegangan gelas blender.
  • Tutup toples bekas kue (kalau ngga salah kue sus kering merk Kartika Sari) dan bagian atas tutup botol plastik bekas minyak (no.1) untuk dijadikan tutup gelas blender.
  • Tutup botol plastik bekas minyak (no.1) untuk dijadikan tatakan blender.
  • Kotak plastik bekas margarine merk Forvita untuk dijadikam bagian mesin blender.
  • Sedikit kardus untuk bagian bawah gelas blender dan sebagian lagi dimasukkan ke dalam kotak plastik sebagai pemberat bagian mesin blender.

Diawali dengan basmalah, dibantu oleh gunting besar, cutter, solder dan lem tembak, dibumbui imajinasi yang “liar”, jadilah…. prok, prok, prok!

4) Kompor & Counter Top

Ini yang paling mudah bikinnya, nih. Karena mejanya memang sudah ada, kerjaan Mamak hanya edit gambar sekejap di laptop, minta tolong Papa untuk mencetaknya pada bahan spanduk. Tempelkan ke meja dengan lem kayu. Jadi, deh! šŸ˜‚

Counter top dan kompor tanam ini disponsori oleh freepik.com. Mamak dapat gambar marble background dan kompornya di situ tuh. Dan ya, supported by si pemilik dapur mainan ini. Hihihi. Ketika melihat Mamaknya nangkring di teras belakang sambil membawa meja main miliknya dan seperangkat alat tempur, doski heboh dong ingin ikut juga. Baiklah… Mamak ajak saja dia mengolesi pinggiran meja dengan lem kayu. Anggap saja sedang melakukan permainan sensorik.

20200716_221827_0000

5) Celemek

Ide membuat celemek ini muncul ketika Mamak membereskan tas-tas belanja. Ini kayaknya bisa deh dijadikan celemek buat adek, begitu pikir Mamak waktu itu. Bermodal nekat dan tanpa perencanaan lebih matang, langsung saat itu juga Mamak ambil pensil dan menggambar pola ala kadarnya. Sret.. sret.. langsung gunting. Hanya dengan menambahkan sedikit kain flanel berwarna cokelat untuk bagian saku dan bagian perekat antara badan celemek dengan tali pinggangnya, alhamdulillah… it turned out cute.

*****

Begitulah. Ketika kreativitas mengantarkan banyak orang menjadi pebisnis, Mamak mah “memasarkan” secara terbatas untuk anak-anak saja. šŸ˜‚ Alhamdulillah, mendengar suara lucu si kecil mengucapkan, “Nuhun, Mama…” saja hati ini sudah senat-senut tak menentu saking girang dan terharu. Hihihi.

Untuk alat masak lain seperti panci, wajan, dll selain memanfaatkan barang-barang bekas di dapur, ada beberapa warisan dari Makcha (adik bungsu Mamak) dan sebagian lagi pemberian dari Enin dan Neneknya anak-anak. Cukuplah mainan sekeranjang yang bisa muat disimpan di kolong meja dapurnya. Keranjangnya pun memanfaatkan bekas paket jeruk kiriman temannya Abah. MasyaAllah… hemat sekali ya dapur mainan ini. šŸ˜

Tapi meskipun begitu, anak-anak begitu senang dengan keberadaan dapur mainan beserta isinya ini. Betul, Aa juga suka bermain peran di dapur ini.

Lho, anak laki-laki main masak-masakan? Itu kan mainan anak perempuan?

Hmmm… kalau kami sih, membolehkan bahkan menganjurkan Aa untuk sesekali main masak-masakan karena memasak merupakan kemampuan dasar. Basic life skill yang harus dikuasai oleh setiap anak, baik perempuan maupun laki-laki. Kadang, Mamak mengajak Aa dan Adek untuk ikut membantu memasak di dapur. Ya, meskipun yang mudah-mudah seperti mengupas cangkang telur, mengupas wortel, atau memetik daun kangkung. Mereka menganggapnya itu sedang bermain, padahal Mamak juga jadi sedikit terbantu bahkan mereka pun sebenarnya sedang belajar dan berlatih banyak hal, termasuk melatih motorik halus mereka.

Seru ya, main masak-masakan (dan masak beneran) bareng anak-anak! Yuk atuh kita lengkapi dapur anak-anak dengan hasil DIY-an kita! Biasanya mereka lebih senang dengan yang kita buat sendiri khusus untuk mereka. ā¤

8 comments

  1. Omaigaaat.. Apa-apaan nih? Keren amat sih ini project nya šŸ‘ šŸ‘ šŸ‘ *standingovation
    Penasaran.
    Udah berapa lama bikin ini, Mak?
    Anyway, the way Mbak sebutin lengkap merek kardus & kemasan apa. Hahahaha..

    Like

    • Pokoknya selama dua bulan ke belakang lah. Hehehe. Tapi nyicil, gituuu. Minggu ini bikin apa, minggu depannya apa, dst.
      Bikin oven 2 harian, cooking station-nya 2 hari (termasuk edit desain sama nungguin spanduknya jadi), blender sama celemek sekitar se jam lah… kalau yang felt food itu, ASAP. Soalnya bikinnya selalu ditungguin dan ditanya-tanyain kapan selesainya šŸ˜…šŸ˜…

      Soal merk kardus dan kemasan… this isn’t a sponsored post,ya! hahaha… šŸ˜‚

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s