Bintang 10 : “Gendonger”

Versi Lama dari Logo Kelas Berbagi (KB) Cibiru IIP Bandung

Gendonger adalah sebutan bagi para Ibu yang lebih menyenangi menggendong anak-anaknya ketimbang membawa mereka dengan alat bantu lain seperti stroller, misalnya. (Self defined, anyway 😆) Mungkin istilah gendonger ini berlaku juga untuk Maryam dan kawan sebayanya yang sangat keranjingan digendong. Hihihi. Continue reading “Bintang 10 : “Gendonger””

Advertisements

Bintang 9 : “Ahli Otomotif”

Arsyad sangat sukaaaaaaa dengan alat transportasi. Mungkin mobil dan sepeda motor menjadi dua hal lain yang menarik perhatiannya untuk pertama kalinya, selain kucing dan air. 😅 Ketika usianya belum genap 1 tahun, dia selalu senang diajak melihat-lihat jalanan di depan rumah dimana motor dan mobil berseliweran. Continue reading “Bintang 9 : “Ahli Otomotif””

Bintang 8 : “Penyayang Binatang”

Saya menyaksikan sendiri bagaimana sepupu saya yang saat ini duduk di kelas 2 SD menjadi takut terhadap kucing. Dulu, ketika dia masih balita, sepupu saya ini sering ditakut-takuti oleh pengasuhnya supaya tidak mainnya di area yang masih terjangkau oleh si pengasuh ini, tidak berkeliaran begitu. “Awas lho, ada kucing nanti! Seram! Takut!” Semacam itulah. Akhirnya sepupu saya ini sampai sekarang takut terhadap kucing. Tidak mau mengalami hal yang serupa, sebisa mungkin Mamak dan Papa tidak menakut-nakuti Arsyad dan Maryam terhadap apapun. Bahkan kami coba memberikan afirmasi positif bahwa mereka adalah anak-anak yang shalih-shalihah, sehat, kuat, dan pemberani. Di rumah ada satu buku yang menceritakan tentang kisah Rasulullah Saw. dan sifat pemberaninya dan buku tersebut cukup membantu kami.

Tadi pagi saat kami bermain di luar, Arsyad bertemu dengan dua kucing yang biasa nangkring di sekitaran rumah. Seperti biasa yang dilakukannya adalah menguntit dan mengejar kucing-kucing tersebut. Mungkin kalau didramatisasi, Arsyad akan bilang, Continue reading “Bintang 8 : “Penyayang Binatang””

Bintang 7 : “The Calming Bouncy”

picsart_01-12-041182800961.png

Judulnya menyiratkan dua hal yang bertentangan, ya: tenang di sisi lain ada kata bouncy, kurang lebih artinya riang dan penuh semangat. Mamak kasih judul ini terinspirasi dari tingkah laku Arsyad yang semakin lincah akhir-akhir ini. Senin kemarin, dia nampak senang sekali bisa berlari ke sana kemari di teras depan masjid saat ikut Mamak menghadiri kajian ibu PKK Desa Cikeruh.

(Baca juga tulisan Mamak tentang Arsyad di masjid di sini) Continue reading “Bintang 7 : “The Calming Bouncy””

Bintang 6 : “Bersinar pada Waktunya”

Hari ini Mamak akan cerita tentang Maryam. Di usianya yang sudah memasuki 4 bulan ini, dia semakin pandai berceloteh dan semakin lincah. 😂 Saat tidur, dia bisa berputar hingga 180 derajat! Tahu-tahu kepalanya sudah di pinggiran bawah kasurnya. Ckckck. Belakangan, dia mulai mengenali wajahnya dan wajah orang-orang sekitarnya. Ketika diajak melihat bayangan dirinya di cermin, Maryam selalu tersenyum.

Agar celotehannya ini tetap lestari, Mamak dan Papa rajin mengajaknya mengobrol dari mulai mengenalkan benda-benda di sekitarnya sampai membahas kejadian yang kami alami bersama pada hari itu. Mamak sendiri sekarang-sekarang ini sedang suka mengajaknya membaca buku yang sedang Mamak proses untuk dituntaskan. Semisal buku Orangtua Manusia-nya Pak Munif Chatib ini.

Maryam senang, Mamak juga senang  😂

Continue reading “Bintang 6 : “Bersinar pada Waktunya””

Bintang 4 : “Pemuda Cinta Masjid”

Semoga kelak Arsyad menjadi pemuda yang mencintai masjid. Aamiin.

Sayangnya, di usianya yang baru 2 tahunan ini, Arsyad masih belum sepenuhnya memahami adab di dalam masjid. Ketika diajak Papa sholat Magrib dan Isya berjama’ah, dia biasanya malah berlari ke sana ke mari mengelilingi mushola. Pasalnya, di mushola yang didirikan oleh almarhum Kakek Buyutnya Arsyad itu, jemaahnya adalah anggota keluarga besar Enin yang sudah tentu Arsyad kenal. Jika sedang berada di tempat dimana terdapat orang-orang yang dikenalnya, dia selalu terlihat bebas melakukan apa saja. Lain halnya ketika sholat Subuh, Papa biasanya berjama’ah di Masjid Riyaadlul Jannah yang berada di belakang rumah atau masjid dekat rumah Pak RW. Arsyad biasanya mengikuti gerakan sholat wajib dua raaka’at itu sampai akhir atau mengikuti sampai gerakan tertentu kemudian duduk menunggu Papa selesai sholat. Keantengannya itu mungkin karena jama’ah shoaltnya tidak dia kenal.

Hal paling ekstrim yang pernah dilakukan Arsyad adalah ketika Papa mengajaknya mengikuti kajian ba’da Isya di Masjid Riyaadlul Jannah memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. Sebelum kajian dimulai, ada beberapa penampilan dari anak-anak TPA, ada hafalan surat dalam Juz 30, do’a sehari-hari dan yang lainnya. Lalu, apa yang Arsyad lakukan?

BERLARI MENGELILINGI MASJID DENGAN KECEPATAN PENUH! Continue reading “Bintang 4 : “Pemuda Cinta Masjid””