Posted in Catatan Kajian, IIP, Kisah Mamak

Mamak Rempong juga Pengen Hafal Qur’an

(Sekelumit catatan Mamak dari Kajian “Emak Rempong Bisa Ngafal Qur’an bersama Ibu Hj. Salmiah Rambe S.Pd.I)

Kajian offline pertama (sekaligus terakhir) yang Mamak ikuti di bulan Ramadhan tahun ini. Beberapa hari sebelumnya, Mamak antusias sekali dengan acara yang dibuat oleh RB Tahfidz IIP Bandung ini. Begitu lihat flyer-nya sudah bertekad dalam hati, bisa ikut dan belajar di sini. Bi Idznillah..

img_20170527_164600_586.jpg

Alhamdulillah, izin dari Papa keluar dengan mudah. Mamak juga dikasih sehat daan.. Adek-adek Mamak lagi ngga ada kegiatan jadi bisa nitipin Arsyad ke mereka. Hehehee. Kok dititip Arsyadnya? (1) Karena Mamak pengen bisa menangkap sinyal-sinyal pencerahan dengan baik, (2) Saving energy; bumil lagi shaum itu bener-bener perlu pinter mengatur kegiatan yang dilakukan dan strategi hemat energi (hihii).. Arsyad itu bukan tipe anak yang bisa duduk diem anteng dalam kurun waktu yang lama meski udah bebekelan buku, mainan, pun makanan.. jadi: saving energy! πŸ˜€ Ini kajiannya betul-betul sekece judulnya. Hehee.. Keputusan yang tepat memang tidak mengikutsertakan Arsyad. Energi positif dan semangatnya bisa terserap maksimal sama Mamak…

Continue reading “Mamak Rempong juga Pengen Hafal Qur’an”

Posted in Catatan Kajian, Kisah Mamak, Yaa Bunayya

Komunikasi Efektif

(Sepenggal catatan Mamak dari kajian Parenting bersama Bunda Siti Sarah Hajar N., S.Psi, “Komunikasi Efektif pada Anak“)

Mamak ikut kajian ini udah lamaaa.. sekitar 5 bulan yang lalu, tepatnya 14 Januari 2017. Daaaan… baru sempat (gayanya sok sibuk) mindahin paririmbonnya ke blog sekarang. *emoticon monyet tutup mata*

Seminar ini Bunda buka dengan menayangkan sebuah video yang berceritakan seorang pelatih american football sedang meneriaki para pemain di timnya. Mamak awalnya mikir itu pak pelatih lagi emosi tinggi tersebab di pertandingan sebelumnya timnya kalah jadi main bentak-bentak aja. Eh, di akhir pak pelatih memeluk beberapa pemain dan bilang, “You’re doing great!” (Entah apa ucapan pastinya yang jelas macam tuh lah.) Bunda Sarah lalu menjelaskan itu adalah salah satu contoh komunikasi efektif. Ya, meskipun si pelatih teriak-teriak. Tapi itu efektif diaplikasikan di lingkungan seperti itu. Pertanyaannya, apakah atmosfir keluarga kita sama dengan atmosfir lapangan football tadi? Tentu tidak kan. Berarti, apakah ketika kita sang orangtua berkomunikasi pada anak kita dengan cara berteriak, komunikasi yang dilakukan itu efektif? Jelas tidak berarti, ya. Meskipun pesan yang ingin disampaikan adalah baik, tapi caranya salah (berteriak tadi, misalnya) pastinya tidak akan diterima dengan baik oleh si anak. Mungkin, masuk telinga kanan lalu keluar dari telinga kiri. Mending kalau hanya begitu.. kalau si anak merasa sakit hati karena diteriaki? Lebih berabe lagi..

Jadi, bagaimana dong melakukan komunikasi yang efektif pada anak-anak?
Komunikasi efektif adalah salah satu faktor terpenting dalam pengasuhan. Itu sebabnya kita harus berhati-hati dalam hal ini. Jangan sampai malpraktek, hehee.. Seperti yang sudah tercontohkan di awal, komunikasi efektif (KE) merupakan cara berkomunikasi yang baik . Rumusnya:

Jika komunikasi-komunikasi yang terjadi antara orangtua dan anak ini efektif, hubungan yang akrab akan tercipta. Dan otomatis anak-anak pun akan belajar dengan sendirinya melakukan komunikasi yang efektif, karena apa? Mereka adalah the real copy cat! Peniru yang ulung.

Beberapa poin penting yang sempat Mamak catat dari wejangannha Bunda Sarah:

  • Perhatikan gaya komunikasi kita. Ingat lagi cerita pelatih football tadi.
  • Pastikan pesan kita tersampaikan dengan baik pada anak.
  • Perhatikan nada dan intonasi. (Ini PR latihan Mamak nih di Game level 1 Kelas Bunda Sayang IIP, hihihii)
  • Sesuaikan dengan situasi.
  • Alibi “kasihan” sebenarnya tidak baik bagi perkembangan katakter anak. Orangtua harus bisa tegas. 
  • Lihat dan pahami Quran Surah An-Nisa ayat 9. Mamak tak kan share di sini ayatnya. Dilihat sendiri, yaaa.. Dibuka dan dibaca Quran-nya.. πŸ˜‰
  • Hati-hati dengan perkataan berulang. Efeknya bisa terjadi bertahun-tahum kemudian. Jadi, biasakan memanggil/”mengatai” anak-anak dengan sebutan yang baik, Sayang.., Shalih.., Shalihah.., Pintar.., Hafidz.., Hafidzah.., dll. Ingat, ucapan adalah do’a. 
  • Ketika memghadapi masalah anak, orangtua harus jadi pendengar aktif. Jangan malah “ikut campur”, menjadikan masalah tersebut sebagai masalah orangtua. Ini melatih anak problem solving dan bertanggung jawab.
  • Biasakan menamai perasaan kita dan juga perasaan anak. Misalnya, “A, Mama sedih lho kalau Aa ngga bereskan mainannya sehabis main.” Atau, “Oh, Aa marah karena Papa ngga ngajak Aa pergi ke bengkel?”. Sehingga, di saat anak dewasa nanti, dia sudah terlatih memahami perasaannya. Ngga jadi manusia galau yang nampaknya banyak bergelimpangan di tanah air akhir-akhir ini. Hiks.

Kita sebagai orangtua juga harus waspada terhadap dua gaya yang tanpa kita sadari, mungkin pernah kita praktekkan:

Waspada lah! Waspadalah!

Ah, sepertinya sedikit sekali yang bisa Mamak perhatikan dan berhasil catat dari seminarnya Bunda Sarah tempo lalu. Apa daya, perhatian Mamak terbagi dua antara Bunda Sarah dan Ananda Arsyad. Hahaaa..

Arsyad (14 Bulan) yang baru lancar berjalan saat itu, agak menyita fokus Mamak, heuheu

Ada satu hal lagi, ada beberapa hal yang perlu dilakukan ketika terjadi konflik dalam komunikasi kita dengan anak-anak, tantrum misalnya.

  1. Respon cepat permasalahnya. Respon dengan aksi, bukan dengan emosi.
  2. Jangan menunda penyelesaian. Libatkan orang lain jika perlu. Masalah tidak bisa hilang ditiup angin seiring berjalannya waktu, sekali lagi: perlu action!
  3. Gunakan bahasa yang bijaksana sesuai dengan usia anak. The younger the kids, the more simple the language.
  4. Cek & ricek setiap permasalahan. Telusuri dengan baik agar ketemu penyelesaian yang pas, tepat sasaran. Hindari reaktif. KEEP CALM~

Nah, ketika Mamak searching lagi perihal tantrum ini, Mamak nemu tulisan si teteh kece temen sekelas di Matrikulasi IIP kemarin, teh Echa. Beliau menyimpan resume KulWapp dengan Teh Niken TF. Alimah yang juga membahas tentang komunikasi efektif dan tantrum pada balita.  Cocok banget nih sama catatan Mamak ini. Di sana Mamak menemukan, Teh Niken menjabarkan 6 poin yang penting untuk dilakukan orangtua sebagai P3K P3AT (Pertolongan Pertama Pada Anak Tantrum *maksa banget istilahnya, hahaa…) 

  1. Biarkan anak dengan perilaku tantrumnya. Sebaiknya, orangtua menanggapi wajar perilaku anak tersebut sambil memantau kondisi sekitar, pastikan anak aman dari bahaya.
  2. Jangan marah apalagi memukuli anak. Marah tidak akan menghentikannya, justru cenderung membuat anak meningkatkan perilaku tersebut. Kuncinya: sabar.
  3. Jangan langsung memenuhi keinginan anak saat sedang tantrum. Ingat, kita sedang β€œberperang” dengan anak, memenuhi kebutuhan anak saat itu tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan menimbulkan masalah baru. Beri penjelasan sederhana tanpa emosi. Penjelasan tanpa emosi lebih dapat dipahami dan diterima oleh anak.
  4. Komunikasi antar orangtua penting. Sebelum menangani anak dengan tantrum, orangtua harus paham terlebih dahulu mengenai konsep tantrum dan bagaimana harus bertindak. Kesepakatan orangtua penting, agar anak melihat orangtuanya secara seimbang. Jangan sampai anak memposisikan ayah sebagai β€œpahlawan” karena keinginannya dibela dan ibu sebagai β€œmusuh” karena keinginannya ditentang, atau sebaliknya.
  5. Beri pengertian orang sekitar, terutama kakek dan nenek. Salah satu hal yang menggagalkan upaya kita mengatasi anak tantrum adalah tentangan dari kakek nenek. Biasanya mereka akan langsung memenuhi kebutuhan anak bahkan cenderung memanjakan anak. Hal ini tentu saja tidak baik bila terus dilakukan. Beri penjelasan kepada mereka, alasan mengapa kita membiarkan anak tantrum. Bila perlu, diskusikan mengenai hasil penelitian dengan bahasa yang mudah dimengerti.
  6. Last but not least, konsisten dengan apa yang kita lakukan dalam menangani tantrum ini. 

    Posted in Catatan Kajian, IIP, Kisah Mamak

    Mencetak Generasi Penghafal Quran

    Catatan KulWapp “Emak Rempong Bisa Punya Balita Hafal Al-Qur’an” bersama Bunda Judhita Elfaj

    images (66)
    Photo Courtesy : https://kuri007.blogspot.co.id

    Siapa sih yang ngga kepengen anak-anaknya hafal Qur’an? Menyandang gelar hafidzh dan hafidzah? Pasti itu jadi mimpi yang kita tanamkan pada anak-anak kita, yekan buibu pabapa?

    Sayangnya, kebanyakan dari kita cita-cita mulia ini hanya sebatas angan-angan yang kemudian dengan mudahnya dihempas oleh angin lalu. Karena apa? Karena niat dan ikhtiar kita kurang kuat untuk mewujudkannya. Seringnya kita disibukkan oleh rutinitas harian yang memforsir sebagian besar energi kita. Akhirnya niatan mengajak anak menghafal Qur’an terlupakan oleh rasa lelah dan letih kita. Kita pun kadang berdalih dengan mengambinghitamkan sifat-sifat anak kita yang tidak kooperatif. Hiks.

    Mari introspeksi diri, luruskan niat, dan memohon pada Allah supaya kita diberi kekuatan dan kemudahan dalam mengeksekusi impian kita yang satu ini.

    Lantas, mari cari ilmunya. Biar tidak salah kaprah, biar tidak melulu mengambinghitamkan sifat-sifat “unik” anak kita. Dan, Alhamdulillah, beberapa hari yang lalu ada undangan untuk mengikuti kuliah via whatsapp bersama Bunda Judhita Elfaj yang merupakan anggota Tim Ahli Rumah Main Anak dan treatments-nya pada anak-anaknya sangat perlu kita jadikan contoh.

    Continue reading “Mencetak Generasi Penghafal Quran”

    Posted in Catatan Kajian, Kisah Mamak

    Menemukan Harta Karun

    Berbinar-binar…

    Kalau kita menemukan harta karun, salah satu ekspresinya, begitu mungkin ya: berbinar-binar. Harta karun yang Mamak maksud di sini bukanlah limpahan koin atau batang emas beserta aneka ragam perhiasan berkilauan dalam kurungan peti kayu. Bukan… Tapi yes, ini soal perkara yang membuat para emak berbinar-binar: keberhasilan anak-anaknya. Jadi ini tadinya Mamak bikin perumpaan, gitu.. Seorang ibu yang melihat anaknya berhasil, sukses, pasti ibarat dia menemukan harta karun. Bahagia luar biasa. Betul kan?

    Betul apa betul banget?

    Continue reading “Menemukan Harta Karun”

    Posted in Catatan Kajian, IIP, Kisah Mamak

    Jadi Ibu Cerdas, Selalu Beride

    Buibuuuuu…

    wp-1494299915118.jpg
    Duet Ummi Haneen bersama Teh Fiena

    Ini dia secuil materi Open House IIP Senin lalu yang dipaksa ringkas oleh Mamak dikarenakan gagal fokus 100% fuuullll. Ckckck. Walau secuil, semoga kita bisa mengambil hikmahnya, yaaa… Aamiin.. *emoticon senyum sambil tutup mata*

    Selain materi, Mamak juga berbagi aliran rasa tentang serba-serbi wisuda dan perkuliahan Matrikulasi batch 3 kemarin. Mangga dibaca juga tulisan ini, yaaa… hehehee.

    Continue reading “Jadi Ibu Cerdas, Selalu Beride”

    Posted in Catatan Kajian, IIP, Kisah Mamak

    ζ”Ήε–„, The Philosophy

    ζ”Ήε–„ (Kaizen) adalah sebuah filosofi Jepang yang secara singkatnya dapat diterjemahkan sebagai perubahan ke arah yang lebih baik. (Kemudian “disurakan” sama para pemaham Japanese). Oke, jadi ini ada tulisan NHW terakhir. Hiks. NHW ke-9 ini, para buibu diminta untuk bisa menjadi ibu yang berperan juga sebagai Agent of Change. Yeah, the double agent mom. Sebenarnya, title ibu itu perannya sangat banyak seperti yang sudah dibahas di materi-materi matrikulasi sebelumnya. Nah, kali ini peran yang harus ditaklukan si ibu adalah peran agen perubahan, salah satunya dengan terlebih dahulu memahami dan mempelajari filosofi Kaizen ini. Mamak akan coba bahas tentang Kaizen di tulisan yang lain, ya. Jadi mari langsung ke NHW-nya saja.

    PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE

    Continue reading “ζ”Ήε–„, The Philosophy”

    Posted in Catatan Kajian, IIP, Kisah Mamak

    Mission Possible

    Dapet mandat mengerjakan NHW ke-8 minggu ini, tetiba jadi keingetan sama sekuel film-nya Oom Tom Cruise. Mamak nonton semua filmnya soalnya Mamak suka cerita-cerita yang bergenre action dan spy gitu. Tapi meskipun suka yaaa.. Mamak alhamdulillah ngga nonton semua filmnya di bioskop. Hahaa.. karena acara menonton di bioskop itu adalah harus mengeluarkan dana, ya untuk tiketnya, ya untuk camilannya. Belum kalau sebelum nontonnya pengen jalan-jalan dulu. Kudu ngeluarin uang untuk jajan tambahan. Yaaa..meskipun tiket nonton di 21 kalao weekdays di sini masih keitung murah, tapi karena sudah teribu-ibu nih, Mamak jadi perhitungan. Hahaa. Jadi, nonton di bioskop itu harus untuk film yang benar-benar…..bagus! Yang worthed lah gitu. Tapi ini tulisan bukan untuk ngebahas ritual nonton keluarga kami ataupun ulasan film-film “Mission  Impossible”, bukaaaan. Karena judul tulisannya juga Mission POSSIBLE, hehehee.

    Continue reading “Mission Possible”

    Posted in Catatan Kajian, IIP, Kisah Mamak

    Be Strong Mom, Be Productive!

    Alhamdulillah.. kegiatan belajar mengenyam materi dan mengerjakan tugas matrikulasi minggu ini bisa dilakukan dengan cukup santai karena kegiatan Mama di sekolah “hanya” mengawas Ujian Sekolah kelas XII. Bayangkan! Rabu siang begini, Mama bisa menyelesaikan Nice Homework 7…! Luar biasa.. Biasanya dikumpulkan di hari Deadline-nya meskipun kotretan tugasnya sudah dibuat beberapa hari sebelumnya. Sungguh sebuah prestasi selama 7 minggu mengikuti perkuliah matrikulasi IIP. Maka dari itu, Mama apresiasi pencapaian ini dengan memberikan sebuah buku baru untuk di lahap, oleh-oleh dari Pesta Buku 2017 kemarin di Landmark. Ralat, yang benar adalah meminta Papa membelikan buku buat Mama. :-p

    Untuk menjadi strong, tentunya kita harus mengetahui strength yang kita miliki. Tapi menurut Abah Rama, selain kekuatan, kelemahan kita juga perlu ditelusuri untuk kemudian dioptimalkan.

    Continue reading “Be Strong Mom, Be Productive!”

    Posted in Catatan Kajian, IIP, Kisah Mamak

    The Rule of Daily Schedule

    Nice Homework dari kuliah Matrikulasi IIP kali ini adalah belajar menjadi manajer keluarga handal. Hal ini akan mempermudah para bunda untuk menemukan peran hidupnya dan semoga mempermudah dalam mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya. Ketika dituntut untuk menjadi manajer keluarga yang “handal”, itu berarti Mama harus terlebuh dahulu menjadi manajer yang profesional untuk diri sendiri. Menjadi manajer untuk diri sendiri ini bukan tanpa halangan dan rintangan karena pada kenyataannya, ada hal-hal yang kadang mengganggu proses para bunda menemukan peran hidup. RUTINITAS.

    Continue reading “The Rule of Daily Schedule”

    Posted in Catatan Kajian, IIP, Kisah Mamak, Yaa Bunayya

    Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

    Big question ketika (baru) membaca judul materi matrikulasi IIP yang ketiga ini, “Apa Mamak bisa?” Hmmm… Tarik nafas dalam-dalam, Mak.. keluarin pelan-pelan.. Bismillah, Biidznillah.. Mamak bisa. :’) Tidak boleh berputus asa, karena Allah Maha Kuasa. Ngga boleh galau duluan, Maaak…

    Continue reading “Membangun Peradaban dari Dalam Rumah”