Posted in Karya Papa, Kisah Mamak

MCB Oh.. MCB

MCB alias Miniature Circuit Breaker adalah.. hmmm.. yang jelas sih kayaknya semacam stop kontak arus listrik. Klo dalam posisi ON, arus listrik masuk ke aliran rumah kita. OFF, yaa.. putus, ngga masuk, lampu ngga pada nyala. (Penjelasan dari seorang Mamak yang pernah mainin resistor dkk selama 3 tahun, 12 tahun lalu) *emoticon monyet tutup mata* Well, kata mereka-mereka yang ngerti pelistrikan sih.. MCB adalah komponen elektromagnetik dengan material terisolasi yang berfungsi sebagai saklar sirkuit yang terhubung pada komponen tersebut. Yekaaan.. mirip-mirip lah sama yang Mamak tulis di awal. Heuheuu.

Nah, sore tadi itu listrik di rumah “ngejepret” lalu terdengar bunyi aneh dari arah MCB-nya, MCB yang di dalam. Khawatir lah Mamak ada yg konslet, Mamak periksa lampu-lampu dan alat elektronik yang menyala, seadanya. Tapi kecurigaan Mamak tertuju pada lampu tengah rumah. Dipadamkan lah si lampu itu. MCB-nya bisa diposisikan ON lagi. Eh, pas Papa pulang ngejepret lagi. Kali ini, relay-nya “ngelos”. Ngga bisa diposisikan ON. Maka gelap gulita lah rumah kami.

“Dibenerin sendiri boleh ngga, ya, MCB-nya?” Tanya Papa yang entah merupakan pertanyaan pada diri sendiri, entah pertanyaan basa-basi ke Mamak. Lha wong Mamak ngga ngerti yang kayak begituan. Hehehee. Setelah nelpon Abah, nanya dan kesimpulannya mungkin boleh dihandle sendiri tanpa menghubungi PLN, cus Papa pergi ke toko alat listrik terdekat. Belakang, kami tahu kalau MCB yang di dalam rumah itu memang bisa dibetulkan sendiri. Berbeda dengan MCB yang di luar karena ada segel dan lain sebagainya yang membutuhkan pihak PLN untuk mengeksekusinya. Alhamdulillah.. katanya toko itu tutup jam 10 malam. Dimulai lah pemasangan MCB baru ini. Mamak yang lagi nguliah (baca materi dan menyimak diskusi di WAG kelas Bunda Sayang) nyambi ngasisteni Papa dengan mengambilkan alat yang diperlukan dan sesekali memegangi lighting, juga memegangi tumpukan kursi tempat pijakan Papa karena agak kurang stabil kuda-kuda kursinya (Papa sebenernya naik kursi apa kuda sih? Hahaa..). Ibu hamil cangkeul, Papa hamil (lemak) késangan. Ckckck. Hihihi.

Sesuatu banget lah malam ini. Romantis banget ya, Pap. Apalagi sebelumnya ada acara candle light dinner dulu (isi tenaga sebelum eksekusi MCB) tersebab Papa lapar sekali katanya dan makan tidak bisa ditunda sampai lampu bisa nyala.

Dan ternyata benar dugaan Mamak, yang konslet dan menyebabkan si MCB-nya rusak (selain karena ada faktor kerusakan dari dalam MCB juga) adalah lampu di ruang tengah. Karena si lampu waktu mau diambil pake tongkat heuseus-nya malah pecah si wadahnya, Papa harus mengambil lampu yang tinggal komponen-komponen dalamnya. Otomatis, harus menggunakan pijakan yang cukup tinggi untuk bisa meraih lampunya. Jarak antara lantai ke lampu itu sekitar 3 meter. Mamak menyarankan untuk mengganti lampunya besok saja, malam ini cukup sekian dan terima kasih istirahat.

Konslet yang ini bukan kali pertama yang terjadi di rumah. Pernah tahun lalu waktu rumah masih suka ada yang bocor kalau hujan turun, lampu di kamar depan dan kamar mandi konslet. Tapi untungnya si MCB ngga rusak, dia masih bisa bertahan. Kali ini, mungkin dia lelah dengan segala kekonsletan yang ada, apalagi penghuni-penghuninya yang seringkali konslet hatinya. Hiks. Astagfirullah.. 😦

Kami benar-benar beruntung malam tadi, yang rusak adalah MCB dalam. Ngga kebayang jika itu MCB luar, malam-malam harus menunggu PLN datang yang tidak bisa diprediksi seberapa cepat sedangkan kami membutuhkan aliran listrik segera untuk beberapa keperluan mendesak kami. Semisal air, karena air di tong penampungan di kamar mandi sisa sedikit lagi. Hmmm.. mungkin sepertinya jika hal itu terjadi, kami tinggal tidur, istirahat saja, ya. Biarlah HP habis baterai-nya dan menyebabkan Papa nanti berangkatnya siang, dan house cores numpuk dikerjakan siang. Ya, istirahat saja. Sesekali tanpa perlu memikirkan listrik yang berhenti mengalir…

Posted in Karya Papa, Kisah Mamak

Akhirnya ya, Pah..

Entah sedari kapan tepatnya Papanya Arsyad ini bercita-cita memiliki kolam ikan di rumah. Hmmm… kalau Mama ngga salah inget sih, pas jaman-jaman kami masih berdua… Sampai Mama mengandung Arsyad pun, Papa masih setia dengan cita-citanya yang satu ini. Mama sih mikirnya, rumah yang kami tempati tergolong kecil, tak punya halaman depan (sendiri). Yang ada halaman bersama yang juga akses jalan lewat kami dan para tetangga keluar masuk jalan besar. Ada sih halaman belakang samping. Tapi sebagian areanya dipakai untuk menyimpan mesin pompa air. Lalu tanaman-tanaman Papa. Mama selalu putarkan pertanyaan yang sama saat Papa mulai meracau cita-citanya ini, “Kolamnya mau dibikin dimana, ih? Sararempit gini..”. Selalu. Seperti lagu yang diulang-ulang terus karena pita kasetnya kusut. (Masih jaman Mak.. pake kaset?)

Sampai pernah beli ikan-ikan kecil, kemudian dia pelihara di dalam beberapa toples kaca besar. Mama sudah wanti-wanti, kalau melihara binatang itu harus benar-benar bertanggungjawab. Ulah sakahayang jeung saukur resep hungkul. (Jangan seenaknya dan sakedar suka saja). Ketika Arsyad sudah lahir, Mama dan Papa jadi bertambah kesibukannya dan mengakibatkan kami lalai terhadap beberapa hal. Dan nasib ikan-ikan ini kemudian berakhir di dalam kolam ikan di saung Abahnya Arsyad. Dua lagi mati sebelum sempat dievakuasi. Hiks.

Continue reading “Akhirnya ya, Pah..”

Posted in Karya Papa, Kisah Mamak, Mari Berkebun

Dibuang Sayang

9644163479_90707d8e46_b

“Jangan dibuang kulitnya!” Begitu seru Papake, ketika melihat Mamak membereskan sisa-sisa peperangan tangan Mamak dengan talenan, pisau dan bawang merah.
“Ih, memangnya buat apa? Kan biasanya juga ngga dibuang. Disatukan sama sampah organik lainnya.”

“Ya, jangan disatukan. Mulai sekarang, kalau Mamak kupas bawang merah si kulitnya kumpulin, yak! Di tempat terpisah.” Kata Papake sambil memindahkan tumpukan kulit bawang merah ke sebuah wadah.

Ternyata oh ternyata.. Papake sulap itu si kulit bawang merah jadi pawang hama (pestisida, red) buat tanaman-tanaman yang ada di kebun mini kami. Tidak bisa langsung dipakai memang. Kulit bawang merah yang dikumpulkam dalam wadah itu harus direndam dulu dengan air panas setidaknya semalaman. Nah, yang nanti diberikan pada tanaman adalah cairan hasil rendaman kulit bawang merah itu. Supaya lebih jelas, Mamak kasih contekan how-to pestisida organik berbahan kulit bawang merah, di bawah ini.

  1. Kumpulkan kulit bawang merah dalam sebuah wadah. Wadah yang cukup untuk menampung kulit bawang dan air. Takaran kulit bawang dan airnya sekitar 1 : 1, jadi wadahnya harus bisa kasih space-nya setengah untuk kulit bawang, setengahnya lagi untuk air.
  2. Rendam kulit bawang tersebut dengan air panas. Diamkan minimal semalaman.
  3. Jika akan digunakan, terlebih dahulu air rendaman kulit bawang harus disaring dahulu, sehingga menghasilkan hanya airnya saja.
  4. Lebih mudah jika memberikan pestisida ini pada tanamannya dengan menggunakan sprayer. Jadi air rendaman yang sudah disaring dimasukkan ke dalam sprayer untuk kemudian disemprotkan pada tanaman bagian batang ke atas.

Resep kulit bawang ini disponsori oleh pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung yang diikuti Papake beberapa hari yang lalu. Kalau dari hasil Mamak kepo-kepo di tulisan beberapa blogget yang adalah hobiis bercocok tanam, mereka tidak hanya membuat pestisidanya dari kulit bawang merah saja tapi kulit bawang putih dan bombay pun mereka campurkan dan seduh untuk menemani tea time mereka dengan sepiring kue ataupun cake. Hayissh. Bukaaan… Maksudnya, mereka campurkan jadi satu dengan air panas untuk diambil air rendamannya dan disemprotkan pada tanaman-tanaman mereka sebagai pestisida.