Posted in Karya Papa, Kisah Mamak

Akhirnya ya, Pah..

Entah sedari kapan tepatnya Papanya Arsyad ini bercita-cita memiliki kolam ikan di rumah. Hmmm… kalau Mama ngga salah inget sih, pas jaman-jaman kami masih berdua… Sampai Mama mengandung Arsyad pun, Papa masih setia dengan cita-citanya yang satu ini. Mama sih mikirnya, rumah yang kami tempati tergolong kecil, tak punya halaman depan (sendiri). Yang ada halaman bersama yang juga akses jalan lewat kami dan para tetangga keluar masuk jalan besar. Ada sih halaman belakang samping. Tapi sebagian areanya dipakai untuk menyimpan mesin pompa air. Lalu tanaman-tanaman Papa. Mama selalu putarkan pertanyaan yang sama saat Papa mulai meracau cita-citanya ini, “Kolamnya mau dibikin dimana, ih? Sararempit gini..”. Selalu. Seperti lagu yang diulang-ulang terus karena pita kasetnya kusut. (Masih jaman Mak.. pake kaset?)

Sampai pernah beli ikan-ikan kecil, kemudian dia pelihara di dalam beberapa toples kaca besar. Mama sudah wanti-wanti, kalau melihara binatang itu harus benar-benar bertanggungjawab. Ulah sakahayang jeung saukur resep hungkul. (Jangan seenaknya dan sakedar suka saja). Ketika Arsyad sudah lahir, Mama dan Papa jadi bertambah kesibukannya dan mengakibatkan kami lalai terhadap beberapa hal. Dan nasib ikan-ikan ini kemudian berakhir di dalam kolam ikan di saung Abahnya Arsyad. Dua lagi mati sebelum sempat dievakuasi. Hiks.

Continue reading “Akhirnya ya, Pah..”

Posted in Karya Papa, Kisah Mamak, Mari Berkebun

Dibuang Sayang

9644163479_90707d8e46_b

“Jangan dibuang kulitnya!” Begitu seru Papake, ketika melihat Mamak membereskan sisa-sisa peperangan tangan Mamak dengan talenan, pisau dan bawang merah.
“Ih, memangnya buat apa? Kan biasanya juga ngga dibuang. Disatukan sama sampah organik lainnya.” 

“Ya, jangan disatukan. Mulai sekarang, kalau Mamak kupas bawang merah si kulitnya kumpulin, yak! Di tempat terpisah.” Kata Papake sambil memindahkan tumpukan kulit bawang merah ke sebuah wadah. 

Ternyata oh ternyata.. Papake sulap itu si kulit bawang merah jadi pawang hama (pestisida, red) buat tanaman-tanaman yang ada di kebun mini kami. Tidak bisa langsung dipakai memang. Kulit bawang merah yang dikumpulkam dalam wadah itu harus direndam dulu dengan air panas setidaknya semalaman. Nah, yang nanti diberikan pada tanaman adalah cairan hasil rendaman kulit bawang merah itu. Supaya lebih jelas, Mamak kasih contekan how-to pestisida organik berbahan kulit bawang merah, di bawah ini.

  1. Kumpulkan kulit bawang merah dalam sebuah wadah. Wadah yang cukup untuk menampung kulit bawang dan air. Takaran kulit bawang dan airnya sekitar 1 : 1, jadi wadahnya harus bisa kasih space-nya setengah untuk kulit bawang, setengahnya lagi untuk air.
  2. Rendam kulit bawang tersebut dengan air panas. Diamkan minimal semalaman.
  3. Jika akan digunakan, terlebih dahulu air rendaman kulit bawang harus disaring dahulu, sehingga menghasilkan hanya airnya saja.
  4. Lebih mudah jika memberikan pestisida ini pada tanamannya dengan menggunakan sprayer. Jadi air rendaman yang sudah disaring dimasukkan ke dalam sprayer untuk kemudian disemprotkan pada tanaman bagian batang ke atas.

Resep kulit bawang ini disponsori oleh pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung yang diikuti Papake beberapa hari yang lalu. Kalau dari hasil Mamak kepo-kepo di tulisan beberapa blogget yang adalah hobiis bercocok tanam, mereka tidak hanya membuat pestisidanya dari kulit bawang merah saja tapi kulit bawang putih dan bombay pun mereka campurkan dan seduh untuk menemani tea time mereka dengan sepiring kue ataupun cake. Hayissh. Bukaaan… Maksudnya, mereka campurkan jadi satu dengan air panas untuk diambil air rendamannya dan disemprotkan pada tanaman-tanaman mereka sebagai pestisida.