Budaya Makan Kurma di Bulan Ramadhan

Ramadhan tanpa kurma tuh bagai sayur tanpa garam. Iya ngga sih? Selain disunnahkan oleh Rasulullah Saw., kelebihan lain dari si buah manis nan legit ini menjadikan masyarakat Indonesia menobatkannya menjadi salah satu icon Ramadhan. Padahal sih, ya… bisa-bisa saja makan kurma di bulan lain. Akses belinya pun relatif mudah. Kurma selalu ditemukan di toko oleh-oleh haji. Bahkan, dengan kecanggihan teknologi, kita tinggal klik, klik, klik gawai kita, beberapa hari kemudian si kurma yang kita pesan sudah diantarkan kurir ke depan pintu rumah.

Kurma Dates Date Fruit Ramadhan Budaya Ramadhan

Photo credit to : Abu Dhabi Confidential

Jadi kenapa dong, buah ini lebih populer di bulan Ramadhan? Hmmm, mungkin karena sudah jadi icon itu, ya. Sugesti masyarakat bahwa makan kurma lebih “seru” ketika sedang shaum di Bulan Ramadhan. Ah, ceuk saha, Mak? (B. Sunda: Ah, kata siapa, Mak?)

Anyway, daripada menyimak omongan Mamak yang mengawang-awang hanya berdasarkan kemungkinan-kemungkinan atas asas praduga tak bersalah, yuk intip informasi yang berhasil mamak kumpulkan mengenai buah kurma yang membuatnya menjadi primadona bulan Ramadhan ini!

Continue reading “Budaya Makan Kurma di Bulan Ramadhan”

Advertisements

Ketika Arsyad Sakit…

Arsyad 10 bulan, masih gembil dan mau dipakein kompres demam.

Yang jelas, Mamak sudah sugestikan sebelum-sebelumnya kalau anak-anak Mamak nanti sakit, first thing first is KEEP CALM alias ngga panikan. Dan sebisa mungkin, jangan ada pikiran “Mendingan Mamak aja yang sakit daripada kamu, Nak…“. Kenapa begitu? Karena sepertinya justru akan lebih repot kalau si emak yang sakit. Everything in the house will turn messy! Incredibly messy! Dan malah bikin tambah stress, heuheu. Dan lebih kasian anaknya, perhatian dan lain sebagainya otomatis akan berbeda dibanding ketika si emak lagi sehat. Dan… (‘pabila esok.. datang kembali.. *karokean lagunya om Duta dkk)

Alhamdulillah sugesti ini cukup bekerja sesuai harapan. Sehingga, ketika Arsyad sakit, Mamak ngga nimbun-nimbun stress berlebih dengan panik dan khawatir. Mungkin orang-orang ngeliatnya Mamak kelewat santai, yaa. Bisa jadi mereka punya opini, “Ini Emak, anaknya sakit kok tiis aja.” Hush. Su’udzan itu, Maak..! Astagfirullah.. Anyway, selain sugesti macam tuh, Mamak sama Papa juga sepakat kalau kita adalah keluarga sehat dan kuat yang bisa meminimalisasi kunjungan ke dokter karena sakit. Hehee.. Jadi, Kami akan berikhtiar dulu dengan home remedies sebelum berobat ke dokter, atau bahkan sebelum mengkonsumsi obat kimia buatan yang dijual di apotek-apotek. Bi idznillah..

Dan, beginilah.. keluarga kami sakitnya ngga jauh-jauh dari masuk angin, flu, dan batuk. Alhamdulillah masih bisa ditangani dengan treatment dari rumah. Beberapa hal yang biasa kami lakukan bila mulai terserang penyakit “langganan” : Continue reading “Ketika Arsyad Sakit…”