Posted in Kisah Mamak, Yaa Bunayya

Ruang Kelas Bocah Pengeja Semesta

Memiliki sebuah ruangan khusus tempat anak-anak bermain dan belajar adalah impian Mamak sejak Arsyad masih berwujud bayik merah. Papa mungkin sampai bosan mendengarkan celotehan Mamak tentang sebuah ruangan heuseus buat Arsyad (dan adik-adiknya kelak) yang harus beginilah begitulah blaa.. blaa.. blaaa.. Dari sana, Mamak mulai memeras otak memikirkan bagaimana sebaiknya ruangan ini dibuat dengan memperhitungkan kondisi rumah, budget dan lain-lain. 

Memangnya, perlu banget ya punya ruangan kelas di rumah?

Menurut Mamak sih perlu. Sangat perlu. Ada banyak pertimbangan yang mengarahkan Mamak untuk bisa memandang ruangan tersebut sebagai kebutuhan yang cukup penting. Diantaranya,

  • Rumah kami hanya memiliki satu ruang tengah saja yang difungsikan macam-macam. Sebagai ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, ruang baca, kadang dipakai lahan bermain Arsyad juga. Tapi kalau setiap saat Arsyad bermain di ruang tengah, agak risih juga kalau ada tamu yang berkunjung dan dipersilakan masuk ke dalam ruangan yang sedang terlihat seperti kapal pecah!
  • Buku, mainan dan media-media belajar lainnya bisa disimpan rapi di dalam ruangan kelas meskipun tak melulu dipakai di ruangan tersebut, setidaknya mereka punya “rumah” tetap, tak akan tergusur oleh acara apapun. Misalkan ada acara kajian di rumah dan mengharuskan ruang tengah menyisir bersih perabotan yang ada di sana. Nah, kalau buku-mainan dkk sudah punya tempat permanen, mereka ngga harus mengungsi.
  • Jika ternyata pada suatu waktu Mamak/Papa belum bisa mengajak Arsyad dan adek merapikan barang-barang mereka dan kami merasa kelelahan untuk beberes, barang-barangnya tidak tercecer di ruangan lain, yaaa.. berantakan saja begitu di ruang kelas karena Arsyad dan adek juga menggunakam barang-barang itu di ruangannya.
  • Meskipun selama ini Arsyad bisa bermain dan belajar dimana saja, Mamak ingin setidaknya ada satu tempat khusus yang dibuatkan untuk Arsyad dan adek berinteraksi dengan benda-benda yang juga khusus dihadirkan untuk mereka, tempat khusus untuk Papa dan Mamak menghabiskan waktu bersama mereka.
  • Harapannya, dengan adanya ruangan khusus ini, Arsyad dan adek nantinya bisa serius belajar karena Papa dan Mamak juga tidak main-main menyiapkan ini semua (walaupun dalam perjalanannya penuh lika-liku trial and error).
  • Ini juga menjadi pemicu Mamak dan Papa untuk selalu semangat belajar. Bagi Mamak sendiri, melihat ruang kelas ini dengan sederetan buku, mainan dan lainnya (yang sebetulnya belum begitu banyak) selalu jadi mood booster untuk semangat belajar lagi. (Saat tulisan ini dibuat, Mamak masih harus menempuh perjalanan lebih dari 9 bulan di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional 😀 )
  • Hmmm.. apalagi ya? Mungkin masih banyak. Let’s find out while the class is going on! 

    Ruangan kelas ini tidak serta merta tertata seperti ini. Awalnya, masih berupa spot kecil di pojokan ruang tengah. Ketika si ruang kelas masih berupa “pojok belajar”, ruangan ini adalah kamar tidur Papa, Mamak dan Arsyad. Pojok belajar ini dibuat ketika Arsyad berusia sekitar 10 bulan. 

    Masih begitu sederhana dengan mainan yang kebanyakan hasil recycle. Buku-buku bacaannya masih tersimpan di rak bawah TV. Menginjak usia 14 bulan, Arsyad sudah bisa berjalan lancar. Mamak ingin kasih sesuatu yang istimewa sebagai reward atas pencapaiannya itu. Maka diubahlah ruang tidur menjadi double function room: untuk tidur dan untuk belajar. 

    Agar leluasa, saat bangun pagi, Mamak/ Papa akan membereskan bantal-bantal dan selimut, memasukkan mereka ke keranjang, memberdirikan kasur dan menyimpannya di salah satu sisi tembok ruangan. Jika waktunya tidur siang Arsyad, kami menggelar bed cover dan beberapa bantal untuknya sebagai pengganti tempat tidur. Menjelang waktu tidur malam, Mamak akan membereskan lantai ruang kelas dan menyiapkan kasur lengkap dengan bantal dan selimutnya.

    Sedikit demi sedikit koleksi kelasnya bertambah, aktivitas belajar Arsyad pun semakin bervariasi meskipun Mamak tidak bisa optimal menyiapkan ragam kegiatan untuknya belajar. Terpikir oleh Mamak bahwa double function room ini menjadi kurang efektif. Belum lagi kegiatan membereskan dan menyiapkan perangkat tidur yang makin hari makin melelahkan bagi ibuk hamil ini, heheee.. Akhirnya, ruangan ini sepenuhnya didedikasikan untuk belajar dan bermain Arsyad dan adek. Eh, masih double function room, deng. Karena setelah tempat tidur berpindah ke ruangan depan, tempat sholat otomatis berpindah juga. Ke ruangan ini. 😀 Mamak kira sih it’s still okay. Sekalian mengajak Arsyad belajar sholat di ruangan ini. Yaaa.. bocah ini masih suka bilang “moal” (ngga akan) ketika diajak sholat dan malah main. Well, setidaknya dengan dia melihat orangtuanya sholat, insyaAllah akan menjadi pelajaran juga buatnya bahwa dia sebagai muslim wajib mendirikan sholat. Children learn by seeing and immitating, right?

    Namanya ruang kelas, ya. Tapi yaaa.. begitulah yang ada di dalam sini mungkin tidak terlalu mencerminkan namanya. Sengaja ditata sedemikian hingga Arsyad (dan adek juga nanti) betah dan mau belajar di sini. Alhamdulillah, Arsyad kalau bermain ya di sini sekarang. Sudah sangat jarang membawa mainan-mainanya ke ruang tengah dan memainkannya di sana. Kalau baca buku masih tentatif, apalagi saat akan tidur. Bukunya diboyong ke ruangan tidur. Salah satu PR-nya adalah membuat Arsyad mau membereskan barang-barangnya setelah digunakan. Kadang cuek, kadang malah sengaja mengambil kotak mainan lain dan membrudulkan seluruh isinya sambil tertawa jahat (ngga, deng. ini mah emaknya aja yang berlebihan), kadang mau diajak membereskan sampai selesai, kadang mau tapi sebentar. Tapi pernah juga dia sendiri inisiatif memasukkan mainannya ke dalam kotak sebelum minta ditemani main yang lain. Kalau buku, dia sudah lebih mandiri dalam membereskannya. ❤

    Rasanya senaaaaaaang sekali saat melihat Arsyad beraktivitas di sini. Saat ini ruang kelasnya hanya berisi satu orang murid, insyaAllah sebentar lagi muridnya bertambah satu. 😀 Pasti akan tambah menyenangkan dengan adanya dua bocah bermain dan belajar di ruang kelas ini. ❤ ❤

    Saat ruang kelasnya masih berfungsi ganda sebagai ruang tidur juga.

    Kadang ruang kelas ini jadi bengkel dadakan juga. Hihihii

    Ruang kelas yang jarang sekali rapi. 😀

    Posted in Kisah Mamak

    Balada Adm.

    Ketik-ketik-ketik.

    Beberapa minggu ini, Mamak jadi mendadak dangdut (a)dmin. Awalnya, gegara Papa yang diamanahi tugas tambahan di lingkungan RW sebagai sekretaris dan mulai hectic dengan kerjaannya di sana tersebab akan diperiksanya administrasi RW oleh petugas desa. Papa yang juga sedang memadat jam kerjanya tentu tidak bisa mencurahkan segenap jiwa raganya (etdaah) pada pekerjaan RW tapi deadline tidak memiliki rasa belas kasihan. Deadline tetaplah deadline yang mematikan jika dilanggar. Maka dari itu, turunlah Mamak ke garda terdepan (di belakang Papa, behind the scence of Papa’s works). Ngga semua sih dikerjakan Mamak, yang kira-kira membutuhkan banyak waktu untuk diselesaikanlah yang terpaksa Mamak kerjakan. Yaaah.. ngga ikhlas dong, Mak.. ckckck *emoticon monyet tutup mata*

    Seru, sih. Karena bagian Mamak kebanyakan main-main sama photoshop, “game” kesukaan Mamak. Macam bikin beberapa bagan struktur organisasi (lah, ini mah di ms. word juga bisa kali. Yatapi karena mau dibuat ukuran besar dengan media cetak non-kertas untuk ditempel di dinding); termasuk ngedit foto-foto pengurus RW yang kebanyakan diambil di dalam ruangan kantor RW, malam-malam dengan pencahayaan seadanya dan bantuan kamera hp (jadi terinspirasi buat buka jasa bikin pas foto); juga bikin peta RW (from scratch, dong. Papa ngambil areanya dari penampakan di google maps). Selebihnya, membuat template dan cover buku-buku administrasi RW, cocok sekali buat Mamak yang hobi corat-coret. Tidak cocok buat Mamak yang hobi corat-coret tapi lagi ngga mood karena kerjaan rumah numpuk belum selesai. Yang ngga sempat Mamak kerjakan adalah membuat spanduk keperluan parade memperingati 17 Agustus-an. Itu request bikinnya pas tanggal 16 kemarin, malam-malam, Mamak lagi tidur, kecapean, dan harus jadi malam itu juga. Katanya mau dibawa ke percetakan, MALAM ITU JUGA. Sambil setengah sadar, Mamak bilang ke Papa ngga sanggup dan minta orang lain saja yang buatkan. Akhirnya, Papa lah yang setengah mati main-main sama mouse di photoshop. Maaapin ya, Paaaaps ❤

    Ngadmin kedua, ngga kalah asik. Ini waktu Mamak dipinang jadi salah satu tim dapur RB (Rumah Belajar) Cibiru IIP Bandung. Kerjaan Mamak di sana? Seminggu sekali tiap hari Kemis membuka dan menutup aktivitas whatsapp group RB Cibiru sambil memoderatori kegiatan sharing tematik dan mengenal lebih dekat bersama narasumbernya di WAG tersebut. Tambahannya paling bebikinan lagi di photoshop, semisal flyer dan visual appreciation. Ah, having fun weh lah. Ngga ada tugas-tugas perihal administrasi yang “berat”, paling hanya menyusun resume sari hasil sharing Kamisan itu.

    Nah, yang ketiga ini nih yang paling bikin Mamak pengen lari dari kenyataan. Hahaa. Continue reading “Balada Adm.”

    Posted in IIP, Kisah Mamak

    Merajut Rasa Bersama

    “Badge bukan tujuan akhir, melainkan salah satu batu pijakan agar kita dapat melompat lebih tinggi.. lebih jauh.. untuk lebih dekat pada tujuan yang sesungguhnya.” (Nurita AR – Kelas Bunda Sayang Bandung 2)

    Tak terasa, sudah di penghujung materi kedua kelas Bunda Sayang. Hamdallah, Mamak bisa lebih konsisten dalam mengamati pun menuliskan hasil pengamatan selama membersamai Arsyad melatih kemandiriannya. Meskipun drama tentu tak bisa terelakkan. Jumlah drama berbanding lurus dengan besarnya lingkaran perut. Heuheuu. Sampai saat ini, masih jatuh bangun mensinkronkan perasaan dan akal sehat ketika ke-fit-an tubuh sedang dalam “masa kritis”. Ketika hasrat hati ingin merebahkan tubuh dan merasakan dan mengistirahatkan otot-otot yang tegang, kenyataan membuyarkan impian. Tenaga masih harus didistribusikan demi keberlangsungan pelajaran potty training si bujang.

    Ah, nano-nano rasanya! 😀

    Sering muncul keinginan untuk berhenti sejenak, meliburkan “kelas ngamar mandi Arsyad”, sekedar menguapkan rasa lelah. Tapi melihat Arsyad dengan berjuta keluarbiasaannya, Mamak langsung mengubur dalam-dalam keinginan norak bin egois itu. Papa yang tak henti menyemangati dan memberikan bahu yang siap ditimpa kepala pening dan mumet, padahal hari-hari kerjanya mungkin saja lebih mumet.. Juga adek bayik yang senantiasa sehat dan aktif bersalto ria di perut Mamak.. Ah, nikmati Allah yang mana lagi yang Mamak dustakan! 😦

    Continue reading “Merajut Rasa Bersama”

    Posted in Kisah Mamak

    Si Ulat Kecil yang Membuat Arsyad Sedih

    Biasanya, kalau Arsyad sudah lemes-lemes dan matanya 3 watt-an, Mamak suka tawarin cerita atau bacakan buku. Bukunya bisa Arsyad yang pilih sendiri atau Mamak pilihkan kalau matanya dah kadung sepet. 😀

    Tadi sebelum bobo dhuha, Arsyad mulai tarik-tarik buku. Mungkin sambil menimbang dan memilah buku mana yang akan dibaca bersama Mamak. 4 buku keluar dari sarangnya dan ekspresi wajahnya seperti masih berpikir. Mamak tawarkan untuk melanjutkan kisah lebah yang tadi dibaca sebelum dia pergi bersama Abahnya, tidak mau. Akhirnya, dia berseru, “Uwaaatt…!” (Ulat) Maksudnya cerita si Ulat dari “The Hungry Catterpillar” ini.

    The book and the creator

    Arsyad belum punya bukunya tapi beberapa waktu lalu sering menonton ceritanya dari animasi yang diunggah akun Illuminated Films di Youtube. (Hamdallah sekarang mah doski ngga keranjingan lagi nonton video di hp Mamak… Fyuuhh)

    Continue reading “Si Ulat Kecil yang Membuat Arsyad Sedih”

    Jurnal Potty Training Arsyad

    Hari Senin ini adalah hari ke-23 Arsyad latihan “ngamar mandi” ❤

    Ada 10 tulisan yang mendeskripsikan perjalanan harian Arsyad berpotty ria (meskipun tidak setiap hari dia senang duduk di potty-nya). 10 tulisan yang juga diunggah karena keperluan tugas kuliah Bunda Sayang materi kedua “Melatih Kemandirian”. Hehee.

    Berikut tautan jurnalnya (yang mungkin lebih terasa sebagai curhatan ketimbang laporan):

    Tahu dong kenapa itu atasan sama celana piyamanya beda… 😀
    Posted in Kisah Mamak

    DIY Tempelan Kulkas

    Well, sebenarnya niatnya sih bukan bikin tempelan buat di kulkas tapi setelah jadi kok jadi kepikiran bisa buat ditempel di kulkas juga. Hihihii.

    Jadi awalnya, beberapa hari yang lalu Papa pamerin “mainan” barunya. Entahlah apa itu namanya. Karena mirip kaki gurita, ya sudah kita panggil saja dia kaki gurita. Fungsinya untuk menempelkan si telpon pintar ke media-media seperti permukaan power bank, kaca spidometer motor, dll. Kata si Papap sih, lumayan fungsional lah si kaki gurita ini. Dipamerin ke Arsyad dan kemudian ngajarin doski sifat adhesive si kako gurita dengan menempelkan hpnya ke layar tipi. Ya lalu diikutin lah sama si bocah. Ngga tahu nya, pas kali ke berapa nempelin ke layar, tetiba si kaki gurita hilang pijakan (lah, apa sih) dan jatuh ke bawah membawa serta hp Papa. Hmmmm… Mamak sarankan Papa buat beli kaki gurita baru buat dimainkan Arsyad. Daaaan.. dibelikan lah 1 yang berwarna tosca kemarin. Semalam Mamak bingung mau dibikin apaaaa itu si kaki gurita.

    “Ditempel ke tutup botol yang warna-warni aja. Diguntingin gitu satu-satu kaki guritanya.” Saran Papa.

    Ahtapi, Mamak belum sreg. Pasti masih ada sesuatu yang bisa dibikin selain yang diusulkan Papa. Akhirnyaaa.. baru tadi pagi deh kepikiran buat sesuatuuuu….! Yipppiii…!!

    Continue reading “DIY Tempelan Kulkas”

    Posted in Kisah Mamak

    Duhai Al Aqsa…

    Beberapa hari yang lalu, di linimasa Facebook Mamak ada beberapa kawan yang membagikan tautan berita perihal kematian abang Chester vokalis-nya Linkin Park. Seketika itu, ingatan mengalami kilas balik ke masa-masa jahiliyah sekolah yang lagi seneng-senengnya mendengarkan musik band macam mereka. Salah satu lagu yang disenangi kala itu adalah, “In the End”. Yeah, in the end… kita people pasti leave ini world yang begitu fana. *Naon sih, Maak..* Untung kilas baliknya begitu kilat. Ngga serta merta membawa keinginan untuk kembali mendengarkan lagu-lagu itu. 

    Lalu, saat Papa sudah pulang kerja dan kami duduk santai menonton berita malam…

    “Yang, vokalisnya Linkin Park meninggal lho. Bunuh diri katanya.”

    “Oh.”

    “Ngga tahu sih lengkapnya, da cuman baca headline beritanya aja yang di-share orang-orang di Facebook.”

    “Yang, imam Al Aqsa ditembak pas habis sholat subuh!”

    https://dailysabah.com/mideast/2017/07/19/israeli-police-shoot-imam-of-al-aqsa-mosque-after-prayer/amp

    Innalillahi wa innailahi raaji’uun.. 😦
    Mendengar ini, hati menciut dan sedih. Kenapa Mamak ini lebih peduli sama berita bunuh dirinya vokalis band???! Bukannya sudah jadi hal lumrah bagi mereka si seleb hollywood untuk mengakhiri hidupnya dengan cara tragis semacam bunuh diri, overdosis obat terlarang, macam-macam lah. Apa faedahnya memikirkan kematian mereka? Ya Allah… lindungi lah kami dari memikirkan dan melakukan hal-hal yang tidak berfaedah.. huhuuu.. 😦 

    Duhai Al Aqsa.. Duhai Palestina..

    Mamak ini begitu terlena dengan urusan-urusan sepele. Kadang mengeluhkan hal-hal yang kecil yang tidak seberapa. Tak jarang membuat hati sendiri runyam dengan pikiran-pikiran yang tak menentu. Padahal saudara-saudara Mamak begitu membutuhkan setidaknya hati dan lisan Mamak untuk berucap do’a. 

    Mamak harap, yang membaca tulisan pendek ini tidak seperti Mamak, yaaa… Don’t ever try this at home, it’s very dangerous for your mind and soul 😦

    “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong pada kesesatan seaudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran : 8)

    http://www.aljazeera.com/amp/news/2017/07/al-aqsa-palestinian-killed-jerusalem-protests-rage-170721113840496.html

    Memiliki Mesin Cuci

    Tadi waktu nyuci (baca: nebeng nyuci di mesin cuci Enin), tetiba kepikiran untuk punya mesin cuci sendiri. Bukan kali pertama keinginan ini muncul. Dan sekarang, alasan ingin memiliki mesin cuci bertambah: sebagai salah satu media belajar kemandirian Arsyad. Kok bisa?

    Jadi tread latihan kemandirian anak ini lagi happening di grup ibuk-ibuk yang kuliah di kelas Bunda Sayang IIP. Materi bulan ini gitu lho. Heuheu.. Nah, waktu nyuci tadi, kepikiran sekitar 2 tahun yang akan datang Arsyad sudah cukup umur untuk belajar membantu mengerjakan beberapa house cores semacam mencuci baju. Harapan Mamak dan Papa, dengan segala macam usaha latihan kemandirian ini, anak-anak kami nantinya bisa menjadi pribadi yang tangguh dan hanya bergantung pada Allah SWT semata, ngga ketergantungan sama orang lain. Meneladani Rasulullah tersayang, yang mampu melakukan pekerjaan rumah sendiri, yang hebat di segala urusan karena kemandiriannya. 

    Photo courtesy: http://itsbetterwater.com

    Kembali ke mesin cuci tadi. Bagi Mamak, alat ini sangat fungsional. Mungkin karena dari jaman masih sekolah sudah dimanjakan dengan kehadiran mesin cuci di rumah, jadi tenaga tangannya kurang terlatih untuk mencuci tanpa alat. Kecuali untuk beberapa pakaian heuseus yang benar-benar memerlukan sentuhan tangan untuk membuatnya bersih dan wangi kembali, juga diaper-diapernya Arsyad yang sengaja Mamak cuci sendiri pake tangan (sesekali minta bantuan Papa) biar lebih awet. Pas jaman kuliah saja Mamak nyuci baju pake tangan karena situasi dan kondisi (anak kostan, bok! Hahaaa), itupun hanya berlangsung 2 tahun. Mamak salut banget sama Nenek Cimindi (Mama mertua), sampai sekarang masih rajiiiiiiin tiap pagi nyuci pakaian pakai tangan. Nenek setrooonggg~ ❤

    Nah, waktu nyuci ini sebetulnya bisa Mamak gunakan sekaligus untuk mengerjakan hal-hal lain. Bisa sambil nulis blog, baca-baca artikel, promosi dagangan, hihihiii. Jadi waktunya bisa efektif, tenaga juga bisa dihemat. 😀 Atau biasanya kalau di rumah hanya ada Mamak berdua sama Arsyad, Mamak suka nyuci sambil menemani dia main di halaman belakang rumah Enin. So, Mamak cenderung bergantung pada mesin ini karena bisa mempraktekkan sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Huehehee

    Maka dari itu, mari menabung untuk punya mesin cuci! 😀

    Posted in IIP, Kisah Mamak

    Bilang ya, Nak (10)

    Hmmm.. hari ke-15 ini ada banyak gangguan lagi buat belajar “ngamar mandi” Arsyad. Pertama, saat jalan-jalan pagi bersama Bi Caca. Kedua, saat ikut antar Mamak cek kandungan rutinan. Terakhir, saat diajak Abahnya mengantar Bi Caca bimbel. Jadinya Arsyad hanya belajar dari sebelum Ashar hingga menjelang tidur. Mungkin karena terlalu lama memakai diaper, dia jadi kecolongan lagi. Sesaat sebelum mandi sore, Arsyad pipis di depan rumah. Celananya sudah basah duluan sebelum dia sempat melakukan pilihan ask to audience. Hehee.. Nah, yang kedua agak epik, nih. Sepertinya Arsyad sudah merasa akan pipis saat Mamak dan Papa sholat magrib. Ketika itu dia tidur-tiduran di sajadah Mamak. Tetiba saat kami selesai, dia nangis sambil bilang, “Pipis..!” Oh, kasihan.. mungkin dia ingin pergi ke kamar mandi tapi tidak ada yang menemani, jadinya dia pergi ke suatu tempat di rumah dan keburu basah celananya. Dia menangis mungkin karena merasa kecewa, tidak berhasil menunaikan tugas pipisnya di kamar mandi.

    Anak shalih..

    Sampai tak sempat bereskan mukena, buru-buru antar Arsyad ke kamar mandi.

    Mamak pun mengantarnya ke kamar mandi dan menyemangatinya lagi. InsyaAllah besok lebih baik lagi belajarnya, yaa.. Mamak merasa terharu ketika melihat ekspresi Arsyad saat menghampiri kami selepas sholat. Sepertinya Arsyad sudah merasa punya tanggung jawab untuk pipis dan pup di kamar mandi. *Mamak berbunga-bunga*
    #Level2 #BunsayIIP #MelatihKemandirian #Tantangan10Hari #Day10

    Posted in IIP, Kisah Mamak

    Bilang ya, Nak… (9)

    Tak terasa, tepat 2 minggu Mamak menemani Arsyad belajar pipis dan pup di kamar mandi. Alhamdulillah, hari ini Arsyad menunjukkan progres yang menakjubkan! ❤

    4 achievement untuk hari ini…! *standing applause* Ada 1 accident sih tadi pagi sehabis mandi pas dia lagi anteng main sama mobil-mobilannya di kamar. Sepertinya Mamak kurang cepat merespon sinyal Arsyad, jadilah ada sedikit air pipis tercecer di kamarnya. Dan tanpa berlama-lama, Mamak menyambar salah satu insert clodi-nya Arsyad yang berukuran kecil untuk membersihkan TKP.

    Satu dari pasukan ini harus mundur dan masuk barisan lap pipis. Heuheu

    Saat bangun tidur siang, dia langsung mendekati Mamak yang sedang mengambil vitamin di kotak P3K. Memeluk dan bilang ingin pipis. Meskipun belum mau pipis di potty, yang penting celananya selamat ya, Nak.. 😀 Begitu pun yang terjadi sehabis Ashar. Arsyad langsung berseru, “Ee..!” ketika merasa ingin mengeluarkan. Hihihi. Proses yang ini agak lama, sampai dia sempat bilang, “Moal..!” (Ngga akan) karena mungkin kesal pup-nya ngga keluar juga. Tapi, Mamak bak bidan yang sedang mendampingi ibu yang akan melahirkan, senantiasa mengafirmasi kalau pup-nya bisa keluar. Berasa di ruang bersalin lah tadi itu. Hahahaa..
    Achievement ketiga adalah ketika mandi sore, dia inisiatif jongkok dan pipis di lantai kamar mandi. Selepas Isya, Arsyad minta diantar ke kamar mandi lagi, tapi tak jadi pipis. Mamak langsung pakaikan saja diaper sambil koar-koar seperti biasa. Eh, anaknya ngga mau pake diaper! Ini baru terjadi..!

    “Awim..! (Ngga mau) Pipis..!” Katanya.

    “Iya, maaf ya, bobo malemnya pake diaper, Sayang.. Besok pagi, Arsyad pipis sama ee-nya di kamar mandi lagi. Kayak tadi. Pinter..”

    Yang diajak ngobrol malah keukeuh bilang pipis terus. Baiklah, diajak lagi lah ke kamar mandi. Mungkin yang tadi belum pengen banget. Tapi hasilnya sama kayak tadi, ngga keluar pipisnya. Padahal sudah mau duduk di potty. Okeee.. pake lagi diaper-nya (akhirnya mau). Menjelang tidur, setelah-makan roti-dan-biskuit-juga-minum air putih-tak lupa-gosok gigi, dia bangkit dan ingin diantar ke kamar mandi lagi. Kali ini berhasil, meskipun dalam posisi berdiri. Dan Mamak memang ngga sempat meminta Arsyad untuk duduk di potty karena khawatir udah kebelet dianya.

    Well, menuju minggu ke-3 potty training Arsyad besooook…! Yeaaay..! 😀

    #Level2 #BunsayIIP #MelatihKemandirian #Tantangan10Hari #Day9