Posted in IIP, Kisah Mamak

Rerimbun Rasa Mengalir 1 (Aliran Rasa Kelas BunSay IIP)

Alhamdulillah, tantangan pertama belajar di Kelas Bunda Sayang IIP bisa terlewati dengan penuh drama. Heuheuu.. Mamak beruntuuuung sekali, Allah sudah kasih Mamak, Papa sama Arsyad yang sangat mendukung Mamak untuk terus belajar meski belajarnya harus sampe ngesot-ngesot. *lebay

Jadi di kelas Bunda Sayang ini, kita berkuliah selama 12 bulan dengan sajian 12 materi yang gurih nan sedap. Setiap teteh fasilitator memberikan materi di hari Senin di minggu awal bulan dan terjadi perhelatan diskusi asik di WAG (WhatsApp Group) mengenai materi tersebut, kami para emak-emak pembelajar ini kemudian diberi tugas praktek langsung di lapangan. Istilahnya kalau di sini Game Challenge/ Tantangan 10 Hari daaaan.. tidak lupa melaporkan hasil praktek ini dalam bentuk tulisan setiap harinya selama tantangan. Bulan ini, materi pertama adalah komunikasi produktif. Materi yaaaang luar biasa menguras energi Mamak untuk belajar. Karena eh karena, Mamak merasa memang agak bermasalah dalam cara berkomunikasi selama ini. Dan lewat challenge ini, alhamdulillah Mamak belajar banyak dan (sedikit) mampu melakukan perubahan. *baru sedikit, yaa.. huhuu.

Continue reading “Rerimbun Rasa Mengalir 1 (Aliran Rasa Kelas BunSay IIP)”

Posted in Catatan Kajian, IIP, Kisah Mamak

Mamak Rempong juga Pengen Hafal Qur’an

(Sekelumit catatan Mamak dari Kajian “Emak Rempong Bisa Ngafal Qur’an bersama Ibu Hj. Salmiah Rambe S.Pd.I)

Kajian offline pertama (sekaligus terakhir) yang Mamak ikuti di bulan Ramadhan tahun ini. Beberapa hari sebelumnya, Mamak antusias sekali dengan acara yang dibuat oleh RB Tahfidz IIP Bandung ini. Begitu lihat flyer-nya sudah bertekad dalam hati, bisa ikut dan belajar di sini. Bi Idznillah..

img_20170527_164600_586.jpg

Alhamdulillah, izin dari Papa keluar dengan mudah. Mamak juga dikasih sehat daan.. Adek-adek Mamak lagi ngga ada kegiatan jadi bisa nitipin Arsyad ke mereka. Hehehee. Kok dititip Arsyadnya? (1) Karena Mamak pengen bisa menangkap sinyal-sinyal pencerahan dengan baik, (2) Saving energy; bumil lagi shaum itu bener-bener perlu pinter mengatur kegiatan yang dilakukan dan strategi hemat energi (hihii).. Arsyad itu bukan tipe anak yang bisa duduk diem anteng dalam kurun waktu yang lama meski udah bebekelan buku, mainan, pun makanan.. jadi: saving energy! πŸ˜€ Ini kajiannya betul-betul sekece judulnya. Hehee.. Keputusan yang tepat memang tidak mengikutsertakan Arsyad. Energi positif dan semangatnya bisa terserap maksimal sama Mamak…

Continue reading “Mamak Rempong juga Pengen Hafal Qur’an”

Posted in Catatan Kajian, Kisah Mamak, Yaa Bunayya

Komunikasi Efektif

(Sepenggal catatan Mamak dari kajian Parenting bersama Bunda Siti Sarah Hajar N., S.Psi, “Komunikasi Efektif pada Anak“)

Mamak ikut kajian ini udah lamaaa.. sekitar 5 bulan yang lalu, tepatnya 14 Januari 2017. Daaaan… baru sempat (gayanya sok sibuk) mindahin paririmbonnya ke blog sekarang. *emoticon monyet tutup mata*

Seminar ini Bunda buka dengan menayangkan sebuah video yang berceritakan seorang pelatih american football sedang meneriaki para pemain di timnya. Mamak awalnya mikir itu pak pelatih lagi emosi tinggi tersebab di pertandingan sebelumnya timnya kalah jadi main bentak-bentak aja. Eh, di akhir pak pelatih memeluk beberapa pemain dan bilang, “You’re doing great!” (Entah apa ucapan pastinya yang jelas macam tuh lah.) Bunda Sarah lalu menjelaskan itu adalah salah satu contoh komunikasi efektif. Ya, meskipun si pelatih teriak-teriak. Tapi itu efektif diaplikasikan di lingkungan seperti itu. Pertanyaannya, apakah atmosfir keluarga kita sama dengan atmosfir lapangan football tadi? Tentu tidak kan. Berarti, apakah ketika kita sang orangtua berkomunikasi pada anak kita dengan cara berteriak, komunikasi yang dilakukan itu efektif? Jelas tidak berarti, ya. Meskipun pesan yang ingin disampaikan adalah baik, tapi caranya salah (berteriak tadi, misalnya) pastinya tidak akan diterima dengan baik oleh si anak. Mungkin, masuk telinga kanan lalu keluar dari telinga kiri. Mending kalau hanya begitu.. kalau si anak merasa sakit hati karena diteriaki? Lebih berabe lagi..

Jadi, bagaimana dong melakukan komunikasi yang efektif pada anak-anak?
Komunikasi efektif adalah salah satu faktor terpenting dalam pengasuhan. Itu sebabnya kita harus berhati-hati dalam hal ini. Jangan sampai malpraktek, hehee.. Seperti yang sudah tercontohkan di awal, komunikasi efektif (KE) merupakan cara berkomunikasi yang baik . Rumusnya:

Jika komunikasi-komunikasi yang terjadi antara orangtua dan anak ini efektif, hubungan yang akrab akan tercipta. Dan otomatis anak-anak pun akan belajar dengan sendirinya melakukan komunikasi yang efektif, karena apa? Mereka adalah the real copy cat! Peniru yang ulung.

Beberapa poin penting yang sempat Mamak catat dari wejangannha Bunda Sarah:

  • Perhatikan gaya komunikasi kita. Ingat lagi cerita pelatih football tadi.
  • Pastikan pesan kita tersampaikan dengan baik pada anak.
  • Perhatikan nada dan intonasi. (Ini PR latihan Mamak nih di Game level 1 Kelas Bunda Sayang IIP, hihihii)
  • Sesuaikan dengan situasi.
  • Alibi “kasihan” sebenarnya tidak baik bagi perkembangan katakter anak. Orangtua harus bisa tegas. 
  • Lihat dan pahami Quran Surah An-Nisa ayat 9. Mamak tak kan share di sini ayatnya. Dilihat sendiri, yaaa.. Dibuka dan dibaca Quran-nya.. πŸ˜‰
  • Hati-hati dengan perkataan berulang. Efeknya bisa terjadi bertahun-tahum kemudian. Jadi, biasakan memanggil/”mengatai” anak-anak dengan sebutan yang baik, Sayang.., Shalih.., Shalihah.., Pintar.., Hafidz.., Hafidzah.., dll. Ingat, ucapan adalah do’a. 
  • Ketika memghadapi masalah anak, orangtua harus jadi pendengar aktif. Jangan malah “ikut campur”, menjadikan masalah tersebut sebagai masalah orangtua. Ini melatih anak problem solving dan bertanggung jawab.
  • Biasakan menamai perasaan kita dan juga perasaan anak. Misalnya, “A, Mama sedih lho kalau Aa ngga bereskan mainannya sehabis main.” Atau, “Oh, Aa marah karena Papa ngga ngajak Aa pergi ke bengkel?”. Sehingga, di saat anak dewasa nanti, dia sudah terlatih memahami perasaannya. Ngga jadi manusia galau yang nampaknya banyak bergelimpangan di tanah air akhir-akhir ini. Hiks.

Kita sebagai orangtua juga harus waspada terhadap dua gaya yang tanpa kita sadari, mungkin pernah kita praktekkan:

Waspada lah! Waspadalah!

Ah, sepertinya sedikit sekali yang bisa Mamak perhatikan dan berhasil catat dari seminarnya Bunda Sarah tempo lalu. Apa daya, perhatian Mamak terbagi dua antara Bunda Sarah dan Ananda Arsyad. Hahaaa..

Arsyad (14 Bulan) yang baru lancar berjalan saat itu, agak menyita fokus Mamak, heuheu

Ada satu hal lagi, ada beberapa hal yang perlu dilakukan ketika terjadi konflik dalam komunikasi kita dengan anak-anak, tantrum misalnya.

  1. Respon cepat permasalahnya. Respon dengan aksi, bukan dengan emosi.
  2. Jangan menunda penyelesaian. Libatkan orang lain jika perlu. Masalah tidak bisa hilang ditiup angin seiring berjalannya waktu, sekali lagi: perlu action!
  3. Gunakan bahasa yang bijaksana sesuai dengan usia anak. The younger the kids, the more simple the language.
  4. Cek & ricek setiap permasalahan. Telusuri dengan baik agar ketemu penyelesaian yang pas, tepat sasaran. Hindari reaktif. KEEP CALM~

Nah, ketika Mamak searching lagi perihal tantrum ini, Mamak nemu tulisan si teteh kece temen sekelas di Matrikulasi IIP kemarin, teh Echa. Beliau menyimpan resume KulWapp dengan Teh Niken TF. Alimah yang juga membahas tentang komunikasi efektif dan tantrum pada balita.  Cocok banget nih sama catatan Mamak ini. Di sana Mamak menemukan, Teh Niken menjabarkan 6 poin yang penting untuk dilakukan orangtua sebagai P3K P3AT (Pertolongan Pertama Pada Anak Tantrum *maksa banget istilahnya, hahaa…) 

  1. Biarkan anak dengan perilaku tantrumnya. Sebaiknya, orangtua menanggapi wajar perilaku anak tersebut sambil memantau kondisi sekitar, pastikan anak aman dari bahaya.
  2. Jangan marah apalagi memukuli anak. Marah tidak akan menghentikannya, justru cenderung membuat anak meningkatkan perilaku tersebut. Kuncinya: sabar.
  3. Jangan langsung memenuhi keinginan anak saat sedang tantrum. Ingat, kita sedang β€œberperang” dengan anak, memenuhi kebutuhan anak saat itu tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan menimbulkan masalah baru. Beri penjelasan sederhana tanpa emosi. Penjelasan tanpa emosi lebih dapat dipahami dan diterima oleh anak.
  4. Komunikasi antar orangtua penting. Sebelum menangani anak dengan tantrum, orangtua harus paham terlebih dahulu mengenai konsep tantrum dan bagaimana harus bertindak. Kesepakatan orangtua penting, agar anak melihat orangtuanya secara seimbang. Jangan sampai anak memposisikan ayah sebagai β€œpahlawan” karena keinginannya dibela dan ibu sebagai β€œmusuh” karena keinginannya ditentang, atau sebaliknya.
  5. Beri pengertian orang sekitar, terutama kakek dan nenek. Salah satu hal yang menggagalkan upaya kita mengatasi anak tantrum adalah tentangan dari kakek nenek. Biasanya mereka akan langsung memenuhi kebutuhan anak bahkan cenderung memanjakan anak. Hal ini tentu saja tidak baik bila terus dilakukan. Beri penjelasan kepada mereka, alasan mengapa kita membiarkan anak tantrum. Bila perlu, diskusikan mengenai hasil penelitian dengan bahasa yang mudah dimengerti.
  6. Last but not least, konsisten dengan apa yang kita lakukan dalam menangani tantrum ini. 

    Posted in Kisah Mamak

    Edisi Papa Kangen

    Papa: “Nak, udah lama yaa.. kita ngga berduaan.”

    Arsyad: (sibuk buka-buka halaman buku)

    Papa: “Mama sekarang ngga ke sekolah sih.. Jadi aja..”

    Mama: “Kan tiap pagi suka jalan-jalan berdua.”

    Arsyad: (masih sibuk dengan buku sambil tiduran)

    Mama: “Kangennya berduaan sama Arsyad aja. Berduaan sama Mama mah ngga kangen, ya. Huh.”

    Papa: “Ih, bukan gitu…”

    Mama: “Bukan gitu gimana… Papa mah da gitu!”

    Pembicaraan konyol ini tidak berujung dengan jelas. *emoticon ketawa sampai keluar airmata

    Posted in Kesehatan, Kisah Mamak, Yaa Bunayya

    Ketika Arsyad Sakit…

    Arsyad 10 bulan, masih gembil dan mau dipakein kompres demam.

    Yang jelas, Mamak sudah sugestikan sebelum-sebelumnya kalau anak-anak Mamak nanti sakit, first thing first is KEEP CALM alias ngga panikan. Dan sebisa mungkin, jangan ada pikiran “Mendingan Mamak aja yang sakit daripada kamu, Nak…“. Kenapa begitu? Karena sepertinya justru akan lebih repot kalau si emak yang sakit. Everything in the house will turn messy! Incredibly messy! Dan malah bikin tambah stress, heuheu. Dan lebih kasian anaknya, perhatian dan lain sebagainya otomatis akan berbeda dibanding ketika si emak lagi sehat. Dan… (‘pabila esok.. datang kembali.. *karokean lagunya om Duta dkk)

    Alhamdulillah sugesti ini cukup bekerja sesuai harapan. Sehingga, ketika Arsyad sakit, Mamak ngga nimbun-nimbun stress berlebih dengan panik dan khawatir. Mungkin orang-orang ngeliatnya Mamak kelewat santai, yaa. Bisa jadi mereka punya opini, “Ini Emak, anaknya sakit kok tiis aja.” Hush. Su’udzan itu, Maak..! Astagfirullah.. Anyway, selain sugesti macam tuh, Mamak sama Papa juga sepakat kalau kita adalah keluarga sehat dan kuat yang bisa meminimalisasi kunjungan ke dokter karena sakit. Hehee.. Jadi, Kami akan berikhtiar dulu dengan home remedies sebelum berobat ke dokter, atau bahkan sebelum mengkonsumsi obat kimia buatan yang dijual di apotek-apotek. Bi idznillah..

    Dan, beginilah.. keluarga kami sakitnya ngga jauh-jauh dari masuk angin, flu, dan batuk. Alhamdulillah masih bisa ditangani dengan treatment dari rumah. Beberapa hal yang biasa kami lakukan bila mulai terserang penyakit “langganan” : Continue reading “Ketika Arsyad Sakit…”

    Posted in Kisah Mamak

    Ketegasan Lisan Seorang Ghifar

    Screenshot_2017-06-10-15-07-47-1-1

    Sabtu lalu, 10 Juni 2017, Mamak memenuhi undangan bu menejer untuk menonton sebuah drama musikal di Sabuga, Bandung, bertajuk “Abu Dzar Al-Ghifari“. Drama musikal ini persembahan dari kawan-kawan Sensyar’i, sebuah komunitas syiar Islam yang bergerak di bidang seni, teater khususnya. (Mamak sok ikrib banget yak, bilang kawan-kawan, heuheu. *emoticon monyet tutup mata) Dan merupakan kolaborasi bersama Sygma Daya Insani, yang menghadirkan ke tengah-tengah keluarga kita buku-buku Islam berkualitas, seperti Muhammad Teladanku. Mamak yakin, kalau SDI ngadain acara, pas kece badai. Acara-acaranya selalu luar biasa menyentuh sanubari, membawa jiwa seperti bermusafir dalam rangkaian siroh yang disajikannya. Well, meski Mamak baru sempat dua kali sih dengan ini, menghadiri acara SDI (yang satu lagi sebelumnya berformat seminar parenting), tapi Mamak selalu yakin kalau persembahan SDI tak akan pernah mengecewakan. ❀

    Continue reading “Ketegasan Lisan Seorang Ghifar”

    Posted in IIP, Kisah Mamak

    Fixing the Gear (10)

    (Catatan perjalanan Mamak berkomunikasi produktif dalam keluarga)

    Yes, setelah pengakuan “dosa” kemarin, semua terasa lebih ringan dan menyenangkan. Mamak jadi lebih bisa kontrol intonasi, diksi dan bahasa tubuhnya.. macam mobil baru ganti oli saja. Hehee. Dan entah kenapa, hari ini tidak ada satu pun hal yang membuat Mamak lost control.

    Hari ini, hanya sedikit waktu yang Mamak berikan untuk Arsyad karena dari pagi sampai sore, Mamak “kabur” ke Sabuga, memenuhi undangan bu menejer. Di pagi sebelum pulang dan sore hingga Arsyad tidur, alhamdulillah kami baik-baik saja. Eh, mungkin pas tadi menunggu Papa pulang tarawih, Arsyad merasa tidak baik-baik saja. Pasalnya, sehabis membacakan “Si Super Sibuk Laba-laba” (The Very Busy Spider by Eric Carle) dan lanjut membacakan do’a dan surat-surat pendek ritual sebelum tidur, Mamak malah ketiduran duluan. Meninggalkan Arsyad. Pas bacakan ayat kursi saja meracau! Astagfirullah.. Maafin Mamak, Sayang.. Arsyad sudah berjam-jam ngga ketemu Mamak, tapi pas ada Mamaknya malah merem! Ckckck.

    Dengan Papa hari ini lebih banyak durasi ngobrolnya. Ya, seperti yang sudah dituliskan di awal, Mamak seems to be much easier to handle the day. Papa juga semakin santai. Kami sama-sama belajar dari perjalanan 9 hari kemarin. Kami bisa mengomunikasikan hal-hal serius yang bernuansa high emotion dengan lebih santai dan easy. Ah, senangnya hari ini.

    Alhamdulillah untuk suara-suara indah tanpa sumbang yang menghiasi rumah kami hari ini. Alhamdulillah untuk semuanya ❀

    Pemandangan indah malam ini yang Mamak temui sesaat sebelum Papa memenuhi panggilan tugas dari Pak RW, heuheu

    #level1 #day10 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip

    Posted in IIP, Kisah Mamak

    Fixing the Gear (9)

    (Catatan perjalanan Mamak berkomunikasi produktif dalam keluarga)

    Tidak ada yang begitu membuat latihan komunikasi Mamak dengan Arsyad meluncur bebas atau melesat tajam hari ini. Everything is still under control. Arsyad juga tidak serewel kemarin. Hanya saja, sekarang-sekarang Arsyad jadi suka teriak, “MAMAAA!” atau “PAPAA!” kalau merasa Mamak Papa nya menghilang dari hadapannya terlalu lama. Tadi siang begitu tuh. Mamak izin dulu ke Arsyad akan keluar jemur diapernya di teras depan karena pas siang itu sedang terik mataharinya. Belum selesai semua diaper dijemur,

    “MAMAAA…!!” Dari arah ruang tengah.

    “Oh, hihihi. Iya, Nak. Ini belum beres jemurnya. Sebentar.”

    “MAMAAA…!” Sepertinya tidak boleh ada tawar menawar lagi kalau sudah berteriak begini. Hmmm..

    “Iya, beres ini Mamak langsung ke dalam.”

    Akhirnya, itu bocah malah keluar sendiri lewat pintu belakang yang terbuka. Senyum-senyum mungkin karena berhasil menemukan Mamaknya yang hilang, tidak seperti anak ayam yang gagal cari ibunya di video lagu-nya Pipipin (Upin Ipin). Hehehee.

    Dan tadi sore Arsyad agak susah mandi. Mungkin karena sedang asik main lego bersama Papanya yang ditodong main padahal baru pulang jeja (kerja).

    “Ayo, Arsyad mau sambil mandiin apa sekarang? Bis? Truk? Pesawat? Mobil?”

    Biasanya kalau ditawari begitu, doski suka langsung jalan ke kamar bawa salah satu atau dua mainan yang akan “dimandikannya”. Tapi sore itu tidak terjadi.

    “Ah, Arsyad. Mandi dulu, yuk. Mau jalan-jalan ngga? Mau kan? Yuk, mandi dulu.”

    Tawaran yang ini tak bisa dia tolak. Langsung serta merta mau diboyong ke kamar mandi. Dan, sehabis berbaju rapi dia berseru sambil menarik tangan, “Yuk! Jaja’an!” (Yuk, jalan-jalan!) πŸ˜€

    Nampaknya latihan intonasi suara dalam komunikasi bersama Arsyad berjalan dengan baik dengan catatan Mamak harus berhati-hati ketika emosi sedang tidak stabil. Saat itu, godaan untuk meluapkannya ke dalam suara sangat tinggi. Heheee..

    Bagaimana dengan Papa?

    Continue reading “Fixing the Gear (9)”

    Posted in IIP, Kisah Mamak

    Fixing the Gear (7)

    (Catatan perjalanan Mamak berkomunikasi produktif dalam keluarga)

    Arsyad tadi ikut Mamak ke sekolah. Papa harus pergi pagi dan hari ini di sekolah Mamak ada jadwal remedial UKK. Nyampe di sekolah Arsyad tidur, karena memang jam-jamnya tidur pagi Arsyad yang seneng bangun pas sahur. Alhamdulillah remedial 5 kelas-nya tidak berlangsung lama, sekitar jam aetengah 10 Kami sudah bergegas pulang. Dan ini kali pertama Arsyad naik angkot dengan rute terjauh, sekitar 10 KM. Seperti yang sudah diduga, Arsyad ngga betah lama-lama duduk manis di angkot. Tapi lumayan terbantu lah oleh bebekelan makanan yang dibawa dan kondisi angkot yang hanya terisi beberapa penumpang. Jadi Mamak bisa stay woles and keep the voice low~

    Siangnya, Arsyad tidur cukup lama. Cukup untuk Mamak sedikit beberes, mengurangi beberapa faktor-faktor penambah stress yang bisa berujung pada high voltage voice. Bangun tidur, Arsyad makan dengan semangat sampai-sampai bilang chicken teriyaki Mamak, “Pepe!” (Tempe). Duh, seabsurd itu ya Nak, masakan Mamak. Ckckck.

    Arsyad bawa 2 sendok. 1 kalau sedang ingin disuapi, 1 lagi pas ingin makan sendiri. Heuheu

    Di akhir-akhir, dia malah rebahan tidur dan tidak menghabiskan makannya. Ah, Mamak saking semangatnya ngambil nasi, jadi kebanyakan. Yo wes, tak usah jadi high tone, keep the voice low~ πŸ˜€

    Continue reading “Fixing the Gear (7)”