Posted in Karya Papa, Kisah Mamak, Mari Berkebun

Dibuang Sayang

9644163479_90707d8e46_b

“Jangan dibuang kulitnya!” Begitu seru Papake, ketika melihat Mamak membereskan sisa-sisa peperangan tangan Mamak dengan talenan, pisau dan bawang merah.
“Ih, memangnya buat apa? Kan biasanya juga ngga dibuang. Disatukan sama sampah organik lainnya.”

“Ya, jangan disatukan. Mulai sekarang, kalau Mamak kupas bawang merah si kulitnya kumpulin, yak! Di tempat terpisah.” Kata Papake sambil memindahkan tumpukan kulit bawang merah ke sebuah wadah.

Ternyata oh ternyata.. Papake sulap itu si kulit bawang merah jadi pawang hama (pestisida, red) buat tanaman-tanaman yang ada di kebun mini kami. Tidak bisa langsung dipakai memang. Kulit bawang merah yang dikumpulkam dalam wadah itu harus direndam dulu dengan air panas setidaknya semalaman. Nah, yang nanti diberikan pada tanaman adalah cairan hasil rendaman kulit bawang merah itu. Supaya lebih jelas, Mamak kasih contekan how-to pestisida organik berbahan kulit bawang merah, di bawah ini.

  1. Kumpulkan kulit bawang merah dalam sebuah wadah. Wadah yang cukup untuk menampung kulit bawang dan air. Takaran kulit bawang dan airnya sekitar 1 : 1, jadi wadahnya harus bisa kasih space-nya setengah untuk kulit bawang, setengahnya lagi untuk air.
  2. Rendam kulit bawang tersebut dengan air panas. Diamkan minimal semalaman.
  3. Jika akan digunakan, terlebih dahulu air rendaman kulit bawang harus disaring dahulu, sehingga menghasilkan hanya airnya saja.
  4. Lebih mudah jika memberikan pestisida ini pada tanamannya dengan menggunakan sprayer. Jadi air rendaman yang sudah disaring dimasukkan ke dalam sprayer untuk kemudian disemprotkan pada tanaman bagian batang ke atas.

Resep kulit bawang ini disponsori oleh pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung yang diikuti Papake beberapa hari yang lalu. Kalau dari hasil Mamak kepo-kepo di tulisan beberapa blogget yang adalah hobiis bercocok tanam, mereka tidak hanya membuat pestisidanya dari kulit bawang merah saja tapi kulit bawang putih dan bombay pun mereka campurkan dan seduh untuk menemani tea time mereka dengan sepiring kue ataupun cake. Hayissh. Bukaaan… Maksudnya, mereka campurkan jadi satu dengan air panas untuk diambil air rendamannya dan disemprotkan pada tanaman-tanaman mereka sebagai pestisida.

Posted in Mari Berkebun

How to Grow a Lemon Tree from Seed

Alhamdulillah~
Our family is in need of the how to grow a lemon from seed and find this site! Can’t wait to execute the steps 😀

Growing Wild

When life gives you lemons, grow trees!

If you’ve ever seen a flowering lemon tree, you’ll understand why. For those of you who haven’t, allow me explain. Their lush, dark green, oval leaves have a glossy texture that shimmers in sunlight. Their delicate white flowers bloom with a citrus fragrance and are soft to the touch. Their exotic nature provides an alluring quality. And, finally, they bear the exciting possibility of fruit!

Typically, lemon trees flourish outdoors year-round in hot, sunny regions, but they can also thrive indoors as edible houseplants in cold-season climates. At the organic food store where I work we have a healthy lemon cutting producing massive fruit in a garage setting all year. It makes for an impressive sight during the dead of a Canadian winter!

And while rooting cuttings is a sensible option for fast fruit, lemon tree cuttings are not readily available in many…

View original post 1,002 more words

Posted in Mari Berkebun

Day 8

20160624_150111

Kebiasaan Mamak lihat tanaman Papake klo sudah muncul tanda-tanda pialaeun alias layak panen, suka mengganti nama mereka jadi calon pecel, calon salad, calon tumis, dst dst. Nah, yang ini Mamak beri nama calon bolu sama calon kolak. Meski baru 8 hari dikeueuman (baca: direndam air), tapi melihat daun-daunnya yang cantik itu serasa punya terawangan kalau besok lusa itu ubi ungu bisa dieksekusi. *ngawuuuurr. Eksekusi pindah tanem aja belum bisa kali, Ceuuu.

Akibat si ubi cantik ini tumbuhnya seperti yang ngga malu-malu gitu, karena kebetulan neng ubi ngga sefamili sama neng putri malu, Mamak jadi suka perhatiin tiap-tiap ada acara ke area situ. Cuci piring lah, ambil handuk, cuci kaki/tangan, dll dll. Pasti nengokin si neng ubi. Mulai excited itu setelah dua hari direndam sama Papake, si neng ubi sudah munculkan itu dedaunannya. Langsung itu Mamak foto dan laporkan ke Papak Bos via WA. Ini penampakan neng ubi di hari keduanya berendam sambil berjemur sinar mentari pagi *tsaaah >> https://www.instagram.com/p/BH8B6-1agAF5/

Papake memang punya hobi pepelakan (baca: bercocok tanam) dari sejak sebelum bersatu dengan Mamak. Halah, naon atuh bersatu. Melak kacang panjang, melak seledri, melak cabe, sampai “melak cau” dan “melak cangkéng” (yang kedua terakhir mungkin Mamak yang lebih jago). Katanya, buat refreshing, lihat yang hijau-hijau dan yang segar-segar. Mengobrol dengan tanaman juga bisa jadi alternatif stress release katanya. Kalau yang ini Mamak sempet ngga percaya. “Yang ada kayak orang gila kaliii.. ngomong sama taneman.” Mamak bilang gitu waktu itu. Eh ternyata eh ternyata, tanaman dengan setia mendengarkan apa yang kita bicarakan, gaess. Dan semacam meminta mereka untuk tumbuh subur, sehat dan kuat itu juga salah satu faktor pendukung keberlangsungan hidup para tanaman. Tanaman juga butuh motivator, yaaa. Apalagi kalau dido’akan. Masya Allah.. Amazing sekaliii. Jadi lah Mamak ikutan suka main-main tanah. Belum sampai ikut menanam sesuatu sih, yaaa.. Paling nyiram tanaman, bersihkan daun-daun dan ranting-ranting yang kering.. sebatas yang cetek-cetek gitu laaah. Tapi iyess, kerasa senangnya kalu sudah berjibaku dengan para tetanaman itu. Apalagi kalau pikiran udah ruwet, terus cuman nyiram tanaman aja, udah lumayan berkurang njelimetnya. Well, bahagia itu sederhana sih ya. Yang menjadikan kusut sebenarnya kita sendiri, pikiran-pikiran kita sendiri. 😦

“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?” (Qur’an Surah Al Insyirah ayat 1)