Menyambut Ramadhan ala PengejaSemesta

Ramadhan tiba… Ramadhan tiba…

Marhaban yaa Ramadhan… Marhaban yaa Ramadhan…

Izinkan Mamak mengawali tulisan ini dengan berdendang bersuka cita ala Upin Ipin sambil memalu kompang. Tek dung dung dung tek!

Masya Allah… Ramadhan sudah di depan mata. Terharuuu… Sama seperti Ramadhan tahun lalu, markas PengejaSemesta Insya Allah selalu ceria terlebih saat sahur dan buka dengan adanya dua balita yang makin uhuy ini. Kata si sulung, Ramadhan kali ini dia ingin ikut shaum. Bismillah, semoga Allah mudahkan. Sebenarnya, tahun kemarin juga doski bilang dengan polosnya kalau dia mau ikut shaum tapi ya gitu… orang lain sholat Dhuha, dia minta buka. 😅 Sempat juga bilang, “Arsyad mah moal shaum ah. Cape!” Ya sudah, kami mah nurut wae.

Tahun ini agak berbeda, kami berharap bisa mengajaknya untuk lebih bersuka cita menyemarakkan ramadhan dengan kebaikan-kebaikan. Apa saja yang kami persiapkan?

Continue reading “Menyambut Ramadhan ala PengejaSemesta”

Merangkul Inner Child, Untuk Hari-hari yang Lebih Baik

Mendengar kata Inner Child itu suka auto-ingat ke ilustrator buku anak, deh: Inner Child Studio. Eaaa… baru juga mulai tulisannya, si Mamak mah udah gagal fokus. *tepok jidat*

Bukan, ya. Yang akan Mamak ceritakan di sini bukan soal tim ilustrator yang karya-karyanya di berbagai buku anak sangat memanjakan mata itu. Bukan…

Inner child self healing psychology

Soal ini, nih.

Continue reading “Merangkul Inner Child, Untuk Hari-hari yang Lebih Baik”

10 Hal yang Keliru dalam Pengasuhan

Tepat dua minggu yang lalu, Mamak dapat kesempatan mengikuti full day workshop yang diadakan oleh Dandiah Care Center bertajuk “Parent as Counselor & Terapist” bersama dua kawan kece Mamak sesama pengurus komunitas Ibu Profesional Bandung. Sebenarnya, kegiatan ini menyediakan arena Kids Corner untuk anak-anak yang ikut serta Ayah Bundanya. Hanya saja, karena anak-anak PengejaSemesta bukan “anak Kidsco”, jadilah Mamak berangkat ke hotel Aston sendiri saja. Anak-anak di rumah bersama Papa. “It’s okay hari ini kamu dulu yang belajar. Lain waktu, insyaAllah ada jalannya kita belajar bareng berdua,” kata si Papa. ❤

Di sesi awal, yang dibahas pertama kali oleh Pak Dandi dan Bu Diah sebagai pemateri workshop adalah kekeliruan umum yang ditemukan dalam kebanyakan paradigma parenting. Kekeliruan inilah yang kemudian mengarahkan kehidupan rumah tangga kita, anak-anak kita ke suatu titik yang tidak kita harapkan. Apa sajakah itu? Hamdalah, Mamak berhasil mencatat sedikit rangkuman dari materi yang sudah disampaikan. Check these ones out!

Continue reading “10 Hal yang Keliru dalam Pengasuhan”

The Secret of Being Parent

Wait, ini kan rahasia. Memangnya boleh dikasih tahu ke orang lain? Boleh ya, bocor?

Eh tapi…

Buat kalian, apa sih yang tidak boleh.

Iya… kalian. Kalian yang sudah menunggu tulisan ini jauh sebelum acaranya bahkan belum digelar. 😅

screenshot_2019-02-21-22-55-46-1529195575.png

Tapi memang, dari dulu Mamak sudah berniat untuk selalu menggambarkan kembali lampu AHA! yang Mamak dapatkan saat mengikuti seminar, talkshow, kajian, dan semacamnya. Termasuk acara spesial ini. Tujuan klasiknya sih sebagai reminder buat Mamak. “Heh, Mak. Udah pernah ikut seminar personal excellence, lho. Mana… praktiknyaa..?!” Macem tuh lah. Hamdalah, jika tulisan-tulisan Mamak juga bisa bermanfaat buat para pembaca. Senang sekali rasanya ❤

Nah, dalam tulisan kali ini, Mamak ingin berbagi ngga enaknya “ditampar-tampar” oleh kalimat-kalimatnya Cikgu Okina saat enrichment before graduation Ibu Profesional Bandung bulan lalu.

Siap?

Siap (ikut merasa tertampar juga)?

Jangan klik continue reading kalau belum siap dan kuat. 😅

Continue reading “The Secret of Being Parent”

Belajar Geografi ala Anak-anak PengejaSemesta

Beberapa hari ini anak-anak sedang asik main dengan bola dunia besar yang ada di rumah. Gaya banget ya kami punya globe. Alhamdulillah, peninggalan almarhumah uyutnya anak-anak yang dulu semasa hidupnya berkiprah di dunia pendidikan formal. Uyut yang ceritanya Mamak tulis di sini di sini nih. Ngomong-ngomong soal kiprah di dunia pendidikan, Mamak jadi teringat lingkungan keluarga besar Mamak yang notabene hampir semua pengajar. Terus Mamak? Ya mengajar anak-anak lah, di rumah… Mengajari mereka untuk cuci piring bekas makan, menyapu lantai yang kotor setelah bermain, ( ini si Mamak sudah menyaingi Ibu tirinya Cinderella 😂 )

Cerita tentang keluarga Mamak yang guru-guru ini, sempat Mamak tulis juga di sini.

Baiklah, back to geo.

Continue reading “Belajar Geografi ala Anak-anak PengejaSemesta”

Etika Posting Foto Anak di Medsos

Sudah cukup lama sebenarnya Mamak mendapatkan infografis ini di linimasi Instagram. Dalam tulisan kali ini, Mamak tidak akan membahas etika tersebut dengan mencantumkan wejangan-wejangan para ahli. Namun, Mamak akan coba ceritakan pengalaman Mamak sendiri di rumah dan how does it feel ketika ber-medsos dengan menaati etika posting foto anak tersebut. 
Sebagai orang tua zaman now, kita pasti sering tergoda untuk membagi segala tingkah si kecil di medsos. Eh tapi sebaiknya orangtua juga perlu sadar dengan risikonya. Salah-salah, media sosial bisa jadi bumerang yang dapat mengancam keselamatan anak.

.

Foto anak tanpa busana yang kita anggap wajar, bisa menimbulkan kesan ‘berbeda’ pada pengguna internet lainnya. Parentalk pun berbincang dengan Pendiri Lembaga Literasi Media Sosial Literos.org Nukman Luthfie.

.

“Kalau kita posting foto anak-anak, kita enggak tahu postingan mana yang dapat merangsang orang-orang dengan kelainan itu. Kalau kita posting dan ada yang terangsang, dia akan mencari di mana anak ini berada. Mereka enggak lihat umur, lho. Dari yang kecil, ada yang masih bayi aja diperlakukan tidak senonoh. Apa kita mau mengekspos anak kita dengan hal-hal begitu?” jelas Mas @nukman kepada Parentalk.

.

Semoga kita adalah orangtua yang bijak menggunakan medsos, demi keselamatan anak-anak kita 😊

#Parentalk #MillennialParenting #socialmedia#parenthacks #literasidigital

Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak

Mamak yakin, Ayah Bunda dan teman-teman yang parenting things enthusiast pasti sudah mengenal atau setidaknya pernah mendengar tentang pendidikan berbasis fitrah. Menurut Ust. Harry Santosa, Fitrah Based Education itu diuraikan dalam sebuah kerangka operasional menjadi bagian-bagian sebagai berikut: 

Credit to: liyadewilife.wordpress.com

Nah, yang akan Mamak bahas dalam tulisan ini (karena materi kuliah Bunda Sayang IIP saat ini membahas hal tersebut) adalah mengenai Fitrah Seksualitas.

Apa itu fitrah seksualitas?

Fitrah seksualitas adalah totalitas kepribadian yang meliputi apa-apa saja yang dipercayai, dirasakan, dipikirkan dan bagaimana seorang individu yang bersangkutan bereaksi terhadap segala sesuatu, bagaimana dia berbudaya, bersosial dan menunjukkan siapa dirinya sesuai dengan keasliannya (fitrahnya), sebagai laki-laki sejati atau sebagai perempuan sejati. 

Mungkin sebelumnya kita (kita? Mamak aja kaleeee…) sempat menyamakan arti seks dengan seksualitas. Ternyata kedua istilah tersebut berbeda sama sekali. Seks itu segala hal yang berkaitan dengan alat kelamin dan hubungan alat kelamin. Seksualitas cakupannya lebih luas, seperti yang sudah dijelaskan. Salah satu kunci keberhasilan pendidikan seksualitas yang benar dan sesuai dengan fitrah manusia adalah dapat membentengi dan melindungi anak-anak dari penyimpangan seksual, kejahatan seksual, dan aktivitas yang tidak dibenarkan semacam seks bebas. Ini bahasan tentang seks begitu kadang terasa ngeri dan tabu, ya. Tapi orangtua tidak bisa tutup mata begitu saja. Kita harus melek dan sadar dengan keadaan lingkungan, paham akan bahaya apa saja yang tengah mengancam fitrah anak-anak kita. Supaya apa? Supaya kita mampu berusaha menjadi orangtua yang kuat dan cerdas, khususnya dalam membangkitkan fitrah seksualitas anak-anak.

Jadi, penting sekali ya pendidikan fitrah seksualitas itu?

Tentu. Urgensi pendidikan fitrah di ranah ini dapat dilihat dari hasil akhir proses pendidikannya:

  • Anak menjadi paham akan identitas seksualnya, dia mengerti bahwa dia adalah laki-laki atau dia adalah perempuan.
  • Anak mampu mengenali peran seksualitas yang ada pada dirinya atau dengan kata lain, dia dapat menempatkan dirinya sesuai dengan peran seksualitasnya. Misalnya, membedakan cara berbicara, berpakaian, dan bertindak.
  • Anak bisa melindungi dirinya dari kejahatan seksual.

Lalu, bagaimana orangtua bisa membangkitkan fitrah seksualitas anak-anaknya? 

Sebelum Mamak menjabarkan tahapan-tahapan pendidikan fitrah seksualitas ini, perlu kita pahami prinsip-prinsip yang mendasari fitrah tersebut

  • Prinsip 1. Sejak anak lahir, mereka membutuhkan kehadiran, kelekatan, dan kedekatan ayah dan ibu secara utuh dan seimbang. Ini berlaku hingga anak mencapai usia aqil baligh (sekitar 15 tahun).
  • Prinsip 2. Suplai maskulinitas dan femininitas yang seimbang dari ayah-ibunya dan berbeda kebutuhannya antara anak laki-laki dengan anak perempuan. Porsi maskulinitas bagi anak laki-laki adalah 75% sedangkan anak perempuan 25%. Porsi untuk femininitas anak laki-laki 25% sedangkan anak perempuan 75%.
  • Prinsip 3. Peran keayahan sejati bagi anak laki-laki dan peran keibuan sejati bagi anak perempuan merupakan indikasi utama keberhasilan pendidikan fitrah seksualitas.

    Jangan Ada “Layar” Di Antara Kita (Seminar tentang Anak & Gadget bersama Mischa Indah Mariska, M.Psi)

    Resume kedua untuk kajian yang tidak Mamak hadiri. 🙈

    Baca juga resume pertama tentang Read Aloud Workshop di sini.

    screenshot_2018-02-03-13-50-51-1-486500393.pngBerangkat dari kesedihan (suka baper deh si Mamak ini) karena tidak bisa hadir mengenyam ilmunya secara langsung, Mamak kumpulkan beberapa sebaran yang dibagikan oleh dua teman di komunitas Ibu Profesional, Teh Yulia dan Teh Siro. Lalu mengendaplah tulisan ini selama berbulan-bulan di bagian draft blog. 😂 Kebiasaan si Mamak, kejadiannya kapan… ditulisnya kapan… hmmmm (Pijit-pijit kening) Continue reading “Jangan Ada “Layar” Di Antara Kita (Seminar tentang Anak & Gadget bersama Mischa Indah Mariska, M.Psi)”

    Nyaring Bunyinya! (Read Aloud Workshop bersama Roosie Setiawan)

    pbb1ubp6fatb-1680745279.jpgJadi tanggal 29 November tuh Pustakalana mengadakan pelatihan membacakan nyaring bersama Ibu Roosie Setiawan di Perpus Kota Bandung yang di Jl. Seram itu. Tapi Mamak tidak tahu infonya, tahu-tahu ada teman yang menayangkan foto Bu Roosie yang sedang mengisi pelatihan itu dan menceritakan bagaimana serunya acara tersebut. -_- Dia yang membuat Mamak iri adalah Ambunya Kaka! (Heheee, piiissss, Teh Wiiit! 😂)

    Suka sedih, deh, kalau ada acara bagus kayak gini terus si Mamak ini tidak bisa ikutaaaaan…. Continue reading “Nyaring Bunyinya! (Read Aloud Workshop bersama Roosie Setiawan)”