The Secret of Being Parent

Wait, ini kan rahasia. Memangnya boleh dikasih tahu ke orang lain? Boleh ya, bocor?

Eh tapi…

Buat kalian, apa sih yang tidak boleh.

Iya… kalian. Kalian yang sudah menunggu tulisan ini jauh sebelum acaranya bahkan belum digelar. ๐Ÿ˜…

screenshot_2019-02-21-22-55-46-1529195575.png

Tapi memang, dari dulu Mamak sudah berniat untuk selalu menggambarkan kembali lampu AHA! yang Mamak dapatkan saat mengikuti seminar, talkshow, kajian, dan semacamnya. Termasuk acara spesial ini. Tujuan klasiknya sih sebagai reminder buat Mamak. “Heh, Mak. Udah pernah ikut seminar personal excellence, lho. Mana… praktiknyaa..?!” Macem tuh lah. Hamdalah, jika tulisan-tulisan Mamak juga bisa bermanfaat buat para pembaca. Senang sekali rasanya โค

Nah, dalam tulisan kali ini, Mamak ingin berbagi ngga enaknya “ditampar-tampar” oleh kalimat-kalimatnya Cikgu Okina saat enrichment before graduation Ibu Profesional Bandung bulan lalu.

Siap?

Siap (ikut merasa tertampar juga)?

Jangan klik continue reading kalau belum siap dan kuat. ๐Ÿ˜…

Continue reading “The Secret of Being Parent”

Advertisements

Belajar Geografi ala Anak-anak PengejaSemesta

Beberapa hari ini anak-anak sedang asik main dengan bola dunia besar yang ada di rumah. Gaya banget ya kami punya globe. Alhamdulillah, peninggalan almarhumah uyutnya anak-anak yang dulu semasa hidupnya berkiprah di dunia pendidikan formal. Uyut yang ceritanya Mamak tulis di sini di sini nih. Ngomong-ngomong soal kiprah di dunia pendidikan, Mamak jadi teringat lingkungan keluarga besar Mamak yang notabene hampir semua pengajar. Terus Mamak? Ya mengajar anak-anak lah, di rumah… Mengajari mereka untuk cuci piring bekas makan, menyapu lantai yang kotor setelah bermain, ( ini si Mamak sudah menyaingi Ibu tirinya Cinderella ๐Ÿ˜‚ )

Cerita tentang keluarga Mamak yang guru-guru ini, sempat Mamak tulis juga di sini.

Baiklah, back to geo.

Continue reading “Belajar Geografi ala Anak-anak PengejaSemesta”

Etika Posting Foto Anak di Medsos

Sudah cukup lama sebenarnya Mamak mendapatkan infografis ini di linimasi Instagram. Dalam tulisan kali ini, Mamak tidak akan membahas etika tersebut dengan mencantumkan wejangan-wejangan para ahli. Namun, Mamak akan coba ceritakan pengalaman Mamak sendiri di rumah dan how does it feel ketika ber-medsos dengan menaati etika posting foto anak tersebut. 
Sebagai orang tua zaman now, kita pasti sering tergoda untuk membagi segala tingkah si kecil di medsos. Eh tapi sebaiknya orangtua juga perlu sadar dengan risikonya. Salah-salah, media sosial bisa jadi bumerang yang dapat mengancam keselamatan anak.

.

Foto anak tanpa busana yang kita anggap wajar, bisa menimbulkan kesan ‘berbeda’ pada pengguna internet lainnya. Parentalk pun berbincang dengan Pendiri Lembaga Literasi Media Sosial Literos.org Nukman Luthfie.

.

โ€œKalau kita posting foto anak-anak, kita enggak tahu postingan mana yang dapat merangsang orang-orang dengan kelainan itu. Kalau kita posting dan ada yang terangsang, dia akan mencari di mana anak ini berada. Mereka enggak lihat umur, lho. Dari yang kecil, ada yang masih bayi aja diperlakukan tidak senonoh. Apa kita mau mengekspos anak kita dengan hal-hal begitu?โ€ jelas Mas @nukman kepada Parentalk.

.

Semoga kita adalah orangtua yang bijak menggunakan medsos, demi keselamatan anak-anak kita ๐Ÿ˜Š

#Parentalk #MillennialParenting #socialmedia#parenthacks #literasidigital

Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak

Mamak yakin, Ayah Bunda dan teman-teman yang parenting things enthusiast pasti sudah mengenal atau setidaknya pernah mendengar tentang pendidikan berbasis fitrah. Menurut Ust. Harry Santosa, Fitrah Based Education itu diuraikan dalam sebuah kerangka operasional menjadi bagian-bagian sebagai berikut: 

Credit to: liyadewilife.wordpress.com

Nah, yang akan Mamak bahas dalam tulisan ini (karena materi kuliah Bunda Sayang IIP saat ini membahas hal tersebut) adalah mengenai Fitrah Seksualitas.

Apa itu fitrah seksualitas?

Fitrah seksualitas adalah totalitas kepribadian yang meliputi apa-apa saja yang dipercayai, dirasakan, dipikirkan dan bagaimana seorang individu yang bersangkutan bereaksi terhadap segala sesuatu, bagaimana dia berbudaya, bersosial dan menunjukkan siapa dirinya sesuai dengan keasliannya (fitrahnya), sebagai laki-laki sejati atau sebagai perempuan sejati. 

Mungkin sebelumnya kita (kita? Mamak aja kaleeee…) sempat menyamakan arti seks dengan seksualitas. Ternyata kedua istilah tersebut berbeda sama sekali. Seks itu segala hal yang berkaitan dengan alat kelamin dan hubungan alat kelamin. Seksualitas cakupannya lebih luas, seperti yang sudah dijelaskan. Salah satu kunci keberhasilan pendidikan seksualitas yang benar dan sesuai dengan fitrah manusia adalah dapat membentengi dan melindungi anak-anak dari penyimpangan seksual, kejahatan seksual, dan aktivitas yang tidak dibenarkan semacam seks bebas. Ini bahasan tentang seks begitu kadang terasa ngeri dan tabu, ya. Tapi orangtua tidak bisa tutup mata begitu saja. Kita harus melek dan sadar dengan keadaan lingkungan, paham akan bahaya apa saja yang tengah mengancam fitrah anak-anak kita. Supaya apa? Supaya kita mampu berusaha menjadi orangtua yang kuat dan cerdas, khususnya dalam membangkitkan fitrah seksualitas anak-anak.

Jadi, penting sekali ya pendidikan fitrah seksualitas itu?

Tentu. Urgensi pendidikan fitrah di ranah ini dapat dilihat dari hasil akhir proses pendidikannya:

  • Anak menjadi paham akan identitas seksualnya, dia mengerti bahwa dia adalah laki-laki atau dia adalah perempuan.
  • Anak mampu mengenali peran seksualitas yang ada pada dirinya atau dengan kata lain, dia dapat menempatkan dirinya sesuai dengan peran seksualitasnya. Misalnya, membedakan cara berbicara, berpakaian, dan bertindak.
  • Anak bisa melindungi dirinya dari kejahatan seksual.

Lalu, bagaimana orangtua bisa membangkitkan fitrah seksualitas anak-anaknya? 

Sebelum Mamak menjabarkan tahapan-tahapan pendidikan fitrah seksualitas ini, perlu kita pahami prinsip-prinsip yang mendasari fitrah tersebut

  • Prinsip 1. Sejak anak lahir, mereka membutuhkan kehadiran, kelekatan, dan kedekatan ayah dan ibu secara utuh dan seimbang. Ini berlaku hingga anak mencapai usia aqil baligh (sekitar 15 tahun).
  • Prinsip 2. Suplai maskulinitas dan femininitas yang seimbang dari ayah-ibunya dan berbeda kebutuhannya antara anak laki-laki dengan anak perempuan. Porsi maskulinitas bagi anak laki-laki adalah 75% sedangkan anak perempuan 25%. Porsi untuk femininitas anak laki-laki 25% sedangkan anak perempuan 75%.
  • Prinsip 3. Peran keayahan sejati bagi anak laki-laki dan peran keibuan sejati bagi anak perempuan merupakan indikasi utama keberhasilan pendidikan fitrah seksualitas.

    Jangan Ada “Layar” Di Antara Kita (Seminar tentang Anak & Gadget bersama Mischa Indah Mariska, M.Psi)

    Resume kedua untuk kajian yang tidak Mamak hadiri. ๐Ÿ™ˆ

    Baca juga resume pertama tentang Read Aloud Workshopย di sini.

    screenshot_2018-02-03-13-50-51-1-486500393.pngBerangkat dari kesedihan (suka baper deh si Mamak ini) karena tidak bisa hadir mengenyam ilmunya secara langsung, Mamak kumpulkan beberapa sebaran yang dibagikan oleh dua teman di komunitas Ibu Profesional, Tehย Yuliaย dan Tehย Siro. Lalu mengendaplah tulisan ini selama berbulan-bulan di bagian draft blog. ๐Ÿ˜‚ Kebiasaan si Mamak, kejadiannya kapan… ditulisnya kapan… hmmmm (Pijit-pijit kening) Continue reading “Jangan Ada “Layar” Di Antara Kita (Seminar tentang Anak & Gadget bersama Mischa Indah Mariska, M.Psi)”

    Nyaring Bunyinya! (Read Aloud Workshop bersama Roosie Setiawan)

    pbb1ubp6fatb-1680745279.jpgJadi tanggal 29 November tuh Pustakalana mengadakan pelatihan membacakan nyaring bersama Ibuย Roosie Setiawanย di Perpus Kota Bandung yang di Jl. Seram itu. Tapi Mamak tidak tahu infonya, tahu-tahu ada teman yang menayangkan foto Bu Roosie yang sedang mengisi pelatihan itu dan menceritakan bagaimana serunya acara tersebut. -_- Dia yang membuat Mamak iri adalahย Ambunya Kaka! (Heheee, piiissss, Teh Wiiit! ๐Ÿ˜‚)

    Suka sedih, deh, kalau ada acara bagus kayak gini terus si Mamak ini tidak bisa ikutaaaaan…. Continue reading “Nyaring Bunyinya! (Read Aloud Workshop bersama Roosie Setiawan)”

    Alif, Ba, Ta..! (Arsyad Belajar Hijaiyah 3)

    Masih berkutat dengan huruf Alif (Ayish, kalau kata Arsyad mah) dan Ba. Mamak memang sengaja tidak beranjak menambahkan huruf hijaiyah lain sebelum Arsyad benar-benar mengingat kedua huruf awal ini. Dia kadang menyebut Alif sebagai Ba, atau sebaliknya. Dia sudah tahu kalau urutan awal hijaiyah adalah alif dan ba, tapi ketika melihat bentuk hurufnya, masih belum bisa mengenalinya dengan mudah. Arsyad sebelumnya sudah kami perkenalkan dengan semua huruf hijaiyah, dari lagu Upin Ipin, buku bantal, dan poster. Lagu hijaiyah Upin Ipin ini mungkin menjadi lagu pertama yang Arsyad dengar. Awalnya, sebelum mengenal lagu-lagu lain, dia selalu senang dan bersemangat ketika kami dendangkan atau perlihatkan video lagi tersebut. Kalau buku bantal, seringnya dia asik memperhatikan gambar binatang yang di dalamnya. Nah, untuk poster, Arsyad biasanya senang jingkrak-jingkrak menunjuk-nunjuk huruf secara acak ketika kami menyanyikan lagu hijaiyah Upin Ipin.

    Bagaimana dengan hari ini?

    Continue reading “Alif, Ba, Ta..! (Arsyad Belajar Hijaiyah 3)”

    Alif, Ba, Ta..! (Arsyad Belajar Hijaiyah 2)

    Hari kedua. Tak banyak yang Mamak ekspektasikan untuk pengamatan hari ini, mengingat sore nanti sehabis Ashar akan diselenggarakan acara tasyakur aqiqah-nya adek bayi. Jadi, Mamak hanya punya waktu untuk observasi sampai Dzuhur saja. Tadinya Mamak akan pakai lagi si Bintang Hijaiyah dan satu lagi bebikinan sederhana untuk belajar hijaiyah hari ini. Belum sempat Mamak tempelkan bintang-bintangnya, Arsyad sudah mengambil mereka, menyerakkannya di atas karpet dan berseru, “Epas..! Ukul..!” (Pukul pake kipas). Jadilah kami main pukul huruf Alif dan Ba seperti sesi dua kemarin, bersama Papa.

    Saat Arsyad dimandikan Papa, Mamak bikinkan sebuah parking area untuk mobil mainannya Arsyad dari box bekas. Setiap satu area parkir, Mamak tuliskan huruf Alif atau Ba. Nantinya, Arsyad akan memarkirkan mobilnya satu per satu di tempat yang Mamak tentukan. Misalnya, nanti Mamak akan bilang, “Arsyad, parkir di huruf Ba! Ba, iya, Ba..” Begitu melihat kotak parkir ini, alhamdulillah Arsyad tertarik dan langsung dengan senang hati memarkirkan mobil-mobilnya sekeingin dia sebelum mendapatkan instruksi apa-apa dari Mamak. Hihihi.

    “Oh, parkirnya di situ.. Coba lihat, huruf apa itu, Nak?” Menunjuk huruf hijaiyah pada area parkir yang ditempati.

    “Emmm…” Wajah berpikir mengingat-ingat kemudian nyengir tanpa wajah berdosa. ๐Ÿ˜€

    “Ba..! Coba, sayang. Lagi. Ba! Ba!”

    “Ba..!”

    Kegiatan Area Parkir ini berlangsung lebih lama dari Bintang Hijaiyah atau kegiatan lain yang serupa. Mungkin karena melibatkan mainan-mainan kesukaannya. Di sela-sela bermain parkir, Mamak ajak Arsyad untuk kembali menyanyikan lagu hip hop Alif-Ba dadakan yang kemarin dibuat ๐Ÿ˜€

    Kesimpulannya, Arsyad itu dominan visual, auditori, atau kinestetik? Hip hop.

    Hihihi..

    wp-1504888816089.jpg

    #Day2 #Level4 #GayaBelajarAnak #Tantangan10Hari #KuliahBunSayIIP

    Alif, Ba, Ta..! (Arsyad Belajar Hijaiyah 1)

    Bulan keempat kuliah8 di Kelas Bunda Sayang. Game-nya lebih menantang tentunya. Berbanding lurus dengan tantangan membersamai Arsyad belajar. Hihihi. Sejauh ini kendala terbesarnya justru ada di Mamak yang kurang bisa meluangkan waktu untuk menyiapkan ragam media belajar untuk Arsyad. Semoga dengan adanya game keempat dari kelas ini, Mamak jadi lebih tersemangatkan untuk mengenalkan esensi belajar pada Arsyad secara paripurna.

    Kali ini kelas Bunda Sayang menyorot tema gaya belajar anak. Asik banget ngunyah materinya. Ini menjadi poin mendasar perihal belajar-mengajar. Apa sebab? Anak akan enjoy belajar jika aktivitasnya menarik perhatiannya. Nah, rasa ketertarikan tersebut hanya akan muncul kalau gaya penyampaian si pengajar “nge-klik & nge-klop” dengan gaya penerimaan si pembelajar. Nah, Arsyad kan baru 23 bulan, jadi belum begitu kentara gaya belajar yang paling mendominasinya apa. Kalau yang Mamak perhatikan sih (dengan segala keterbatasan pengetahuan Mamak. Hiks.), gaya Arsyad lebih cenderung ke swag eh, auditory. Why?

    Continue reading “Alif, Ba, Ta..! (Arsyad Belajar Hijaiyah 1)”