Posted in IIP, Yaa Bunayya

Alif, Ba, Ta..! (Arsyad Belajar Hijaiyah 3)

Masih berkutat dengan huruf Alif (Ayish, kalau kata Arsyad mah) dan Ba. Mamak memang sengaja tidak beranjak menambahkan huruf hijaiyah lain sebelum Arsyad benar-benar mengingat kedua huruf awal ini. Dia kadang menyebut Alif sebagai Ba, atau sebaliknya. Dia sudah tahu kalau urutan awal hijaiyah adalah alif dan ba, tapi ketika melihat bentuk hurufnya, masih belum bisa mengenalinya dengan mudah. Arsyad sebelumnya sudah kami perkenalkan dengan semua huruf hijaiyah, dari lagu Upin Ipin, buku bantal, dan poster. Lagu hijaiyah Upin Ipin ini mungkin menjadi lagu pertama yang Arsyad dengar. Awalnya, sebelum mengenal lagu-lagu lain, dia selalu senang dan bersemangat ketika kami dendangkan atau perlihatkan video lagi tersebut. Kalau buku bantal, seringnya dia asik memperhatikan gambar binatang yang di dalamnya. Nah, untuk poster, Arsyad biasanya senang jingkrak-jingkrak menunjuk-nunjuk huruf secara acak ketika kami menyanyikan lagu hijaiyah Upin Ipin.

Bagaimana dengan hari ini?

Continue reading “Alif, Ba, Ta..! (Arsyad Belajar Hijaiyah 3)”

Advertisements
Posted in IIP, Yaa Bunayya

Alif, Ba, Ta..! (Arsyad Belajar Hijaiyah 2)

Hari kedua. Tak banyak yang Mamak ekspektasikan untuk pengamatan hari ini, mengingat sore nanti sehabis Ashar akan diselenggarakan acara tasyakur aqiqah-nya adek bayi. Jadi, Mamak hanya punya waktu untuk observasi sampai Dzuhur saja. Tadinya Mamak akan pakai lagi si Bintang Hijaiyah dan satu lagi bebikinan sederhana untuk belajar hijaiyah hari ini. Belum sempat Mamak tempelkan bintang-bintangnya, Arsyad sudah mengambil mereka, menyerakkannya di atas karpet dan berseru, “Epas..! Ukul..!” (Pukul pake kipas). Jadilah kami main pukul huruf Alif dan Ba seperti sesi dua kemarin, bersama Papa.

Saat Arsyad dimandikan Papa, Mamak bikinkan sebuah parking area untuk mobil mainannya Arsyad dari box bekas. Setiap satu area parkir, Mamak tuliskan huruf Alif atau Ba. Nantinya, Arsyad akan memarkirkan mobilnya satu per satu di tempat yang Mamak tentukan. Misalnya, nanti Mamak akan bilang, “Arsyad, parkir di huruf Ba! Ba, iya, Ba..” Begitu melihat kotak parkir ini, alhamdulillah Arsyad tertarik dan langsung dengan senang hati memarkirkan mobil-mobilnya sekeingin dia sebelum mendapatkan instruksi apa-apa dari Mamak. Hihihi.

“Oh, parkirnya di situ.. Coba lihat, huruf apa itu, Nak?” Menunjuk huruf hijaiyah pada area parkir yang ditempati.

“Emmm…” Wajah berpikir mengingat-ingat kemudian nyengir tanpa wajah berdosa. ๐Ÿ˜€

“Ba..! Coba, sayang. Lagi. Ba! Ba!”

“Ba..!”

Kegiatan Area Parkir ini berlangsung lebih lama dari Bintang Hijaiyah atau kegiatan lain yang serupa. Mungkin karena melibatkan mainan-mainan kesukaannya. Di sela-sela bermain parkir, Mamak ajak Arsyad untuk kembali menyanyikan lagu hip hop Alif-Ba dadakan yang kemarin dibuat ๐Ÿ˜€

Kesimpulannya, Arsyad itu dominan visual, auditori, atau kinestetik? Hip hop.

Hihihi..

wp-1504888816089.jpg

#Day2 #Level4 #GayaBelajarAnak #Tantangan10Hari #KuliahBunSayIIP

Posted in IIP, Yaa Bunayya

Alif, Ba, Ta..! (Arsyad Belajar Hijaiyah 1)

Bulan keempat kuliah8 di Kelas Bunda Sayang. Game-nya lebih menantang tentunya. Berbanding lurus dengan tantangan membersamai Arsyad belajar. Hihihi. Sejauh ini kendala terbesarnya justru ada di Mamak yang kurang bisa meluangkan waktu untuk menyiapkan ragam media belajar untuk Arsyad. Semoga dengan adanya game keempat dari kelas ini, Mamak jadi lebih tersemangatkan untuk mengenalkan esensi belajar pada Arsyad secara paripurna.

Kali ini kelas Bunda Sayang menyorot tema gaya belajar anak. Asik banget ngunyah materinya. Ini menjadi poin mendasar perihal belajar-mengajar. Apa sebab? Anak akan enjoy belajar jika aktivitasnya menarik perhatiannya. Nah, rasa ketertarikan tersebut hanya akan muncul kalau gaya penyampaian si pengajar “nge-klik & nge-klop” dengan gaya penerimaan si pembelajar. Nah, Arsyad kan baru 23 bulan, jadi belum begitu kentara gaya belajar yang paling mendominasinya apa. Kalau yang Mamak perhatikan sih (dengan segala keterbatasan pengetahuan Mamak. Hiks.), gaya Arsyad lebih cenderung ke swag eh, auditory. Why?

Continue reading “Alif, Ba, Ta..! (Arsyad Belajar Hijaiyah 1)”

Posted in Yaa Bunayya

Teknologi, Kawan atau Lawan dalam Pengasuhan? (Lomba Blog #TantanganPengasuhanEraDigital)

Welcome to the world where technology has the ultimate power!

th

Salah satu yang Mamak khawatirkan (bahkan sebelum menikah dengan Papanya Arsyad) adalah perkembangan teknologi yang semakin hari semakin pesat. Apa pasal? Teknologi yang sophisticated ini menawarkan jaminan kemudahan mengakses segala macam informasi. Segala macam, tanpa terkecuali. Sementara yang waktu itu terpikir dalam benak Mamak adalah kemampuan diri yang belum mumpuni dalam mengawal derasnya arus informasi. Ngeri membayangkan akibatnya. Efek kecanduan terhadap gawai lah, bahaya pornografi, pergaulan media sosial yang tidak sehat, dan masih banyak lagi. Tapi, apakah semenyeramkan itu akibat dari teknologi?

Layaknya dua sisi mata uang, teknologi juga memiliki dua sisi. Tentunya, selain hal-hal yang membuat hati was-was, Mamak juga merasakan manfaat yang diberikan teknologi. Kemudahan berkomunikasi dan berjejaring, belajar, mengalirkan rasa dalam tulisan yang dapat dilihat oleh banyak orang dalam platform ini, dan masih banyak lagi. Kita tak dapat mengelak dari keberadaan teknologi ini karena seperti yang Mamak ungkapkan tadi, manfaat teknologi begitu memenuhi keseharian hidup kita. Nah, PR besarnya adalah sisi mudaratnya, terlebih bagi para orangtua. Drs. Mardiya, Kabid Pengendalian Penduduk OPD KB Kab. Kulon Progo, DI. Yogyakarta, menjelaskan dalam tulisannya yang bertajuk “Mengasuh Anak di Era Digital”, bahwa salah satu bahaya teknologi bagi anak-anak kita adalah mejerumuskan mereka pada perilaku candu gawai. Kecanduaan ini yang nantinya berdampak pada banyak hal dalam diri anak. Misalnya, terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan anak yang sifatnya hampir menyeluruh, tidak hanya tumbuh kembang fisiknya saja, tapi juga bahasa, dan psikisnya. Lebih jauh lagi, kecanduan ini bisa berujung pada rusaknya moral dan perilaku anak. Naudzubillah…

Jadi, apa dong ynag harus orangtua lakukan dalam menyikapi teknologi, apalagi yang masih junior begini macam Mamak dan Papa?

Continue reading “Teknologi, Kawan atau Lawan dalam Pengasuhan? (Lomba Blog #TantanganPengasuhanEraDigital)”

Posted in Yaa Bunayya

Ruang Kelas Bocah Pengeja Semesta

Memiliki sebuah ruangan khusus tempat anak-anak bermain dan belajar adalah impian Mamak sejak Arsyad masih berwujud bayik merah. Papa mungkin sampai bosan mendengarkan celotehan Mamak tentang sebuah ruangan heuseus buat Arsyad (dan adik-adiknya kelak) yang harus beginilah begitulah blaa.. blaa.. blaaa.. Dari sana, Mamak mulai memeras otak memikirkan bagaimana sebaiknya ruangan ini dibuat dengan memperhitungkan kondisi rumah, budget dan lain-lain.

Memangnya, perlu banget ya punya ruangan kelas di rumah?

Continue reading “Ruang Kelas Bocah Pengeja Semesta”

Posted in IIP, Kisah Mamak, Yaa Bunayya

Bilang ya, Nak… (5)

Mungkin karena intervensi kemarin, Arsyad jadi ngga bilang-bilang kalau pipis. Bahkan setelah celananya basah pun. Dan hari ini, (masih) terjadi banyak accident, heuheu.. Tapi sisi baiknya adalah, hari ini Arsyad mulai menunjukkan ketertarikan dan kesukaannya pada si potty. Yaa.. meskipun pada akhirnya malah dimainkan seperti dia mengendarai mobil truk-trukannya. *laugh but sigh*

Accident pertama itu pas pagi-pagi sebelum mandi dan yang kedua sejam sebelum “tersangka” tidur dhuha. Siang setelah bangun dari tidurnya sampai sesorean akan mandi, terjadi 3 kali accident, dan itu semua bertempat di halaman belakang Enin.ย Accidentย ketiga, saking asiknya main air warna-warni, dia sampai adem ayem aja meski celananya basah sama pipis. Padahal biasanya suka heboh bilang, “Ntos..! Ntos..! Omรฉh..!” (Ganti celana! Cebok!) ย Accidentย keempat dan kelima sih, back to yesterday: heboh lagi setelah tahu celananya basah.

Yang anteng main sampe khilaf dia pipis di celana.

Waktu mandi sore, Arsyad inisiatif menaiki si potty. Sekalian saja Mamak ingatkan dia lagi,

“Ya, Arsyad kalau mau pipis atau ee naik potty dulu, ya. Pipis, ee, di potty. Ya?”

“Pootiiii…!” Arsyad berseru senang.

“Iya. Potty tempat Arsyad pipis dan ee.”

Kemudian dia malah mengendarai si potty seperti yang dilakukannya tadi pagi.

“Bukan untuk dikendarai. Untuk pipis dan ee, Nak. Potty untuk pipis, untuk ee. Udah, yuk! Pake handuknya.”

The last accident terjadi saat Papa sudah di rumah. Ketahuan sama Papa pas Arsyad lagi di teras belakang, lagi-lagi ngga bilang, sampai kami harus menelusuri jejak dan menemukan apakah ada genangan air berbau amonia di tempat-tempat yang tadi dia lewati.

Pelacakan: nihil. Continue reading “Bilang ya, Nak… (5)”

Posted in IIP, Kisah Mamak, Yaa Bunayya

Bilang ya, Nak… (4)

Hari ke-9 pelajaran “ngamar mandi” Arsyad. Mulai hari ini, disponsori oleh potty “Puku” warna putih. Kemarin malam Papa pulang membawakan bungkusan berisi potty ini. Alhamdulillah..

“Arsyad, lihat! Papa bawakan ini. Ini potty. Arsyad mulai besok pipis dan ee-nya di potty, ya. Potty-nya ada di kamar mandi.”

Mamak memulai sesi belajar tambahan sebelum Arsyad tidur malam tadi. Seperti biasa, kalau melihat benda baru, Arsyad pasti mengamatinya dulu sepuasnya sebelum mau menyentuhnya.

“Ini potty ya, Arsyad. Nah, Arsyad jongkok di potty kalau mau pipis sama ee. Yuk, latihan jongkok di potty.” Mamak ajak Arsyad duduk di potty.

Arsyad malah..

berusaha memasukkan kedua kakinya ke dalam ceruk tempat menampung pipis dan pup. *emoticon ketawa sampai keluar airmata*

“Oh, potty bukan kapal, Nak. Potty tempat Arsyad pipis dan ee. Begini nih caranya.” Mamak kondisikan Arsyad ke posisi yang seharusnya.

“Nah, begitu.. Arsyad di atas potty. Pipis dan ee di potty, ya.”

Arsyad selama kelas tambahan lebih banyak diam seperti sedang processing data, mungkin ditambah sudah mulai mengantuk juga, ya. Besoknya, setelah Mamak dan Papa selesai sholat Subuh, Arsyad berlari menghampiri kami sambil berkata,

“Pipis..! Pipis..! Omรฉh..!”

Tadinya memang mau Mamak lepas diapernya dan mengajaknya pipis di kamar mandi. Okelah, Arsyad sudah mau inisiatif sendiri. Di kamar mandi, si potty sudah bersiap di pojok dekat pintu. Pelajaran pertama hari ini diambil alih Papa. Tapi ternyata, Arsyad tidak mau pipis. Mau sih menaiki potty-nya, tapi kemudian turun dan malah main air.

“Arsyad ngga jadi pipis? Ngga mau pipis? Yuk atuh, pake celana lagi.” Mamak nimbrung.

“Cingan, eeeh…!” (Pake celana, eh!)ย Arsyad berseru sambil keluarย dari kamar mandi.

Accident kemudian terjadi ketika Arsyad mengelus-elus perut Mamak sambil mengajak ngobrol adek bayiknya. Seketika ekspresinya berubah, seperti yang sedang mengejan.

“Arsyad mau ee? Di kamar mandi, yuk! Di potty ee-nya.”

Di dalam kamar mandi, dia tidak mau menaiki potty-nya,

“Tiis..!” (Dingin) katanya.

Mungkin karena potty-nya sedikit basah. Mamak naikkan ke potty pun tidak mau, malah rewel. Akhirnya dia ee sambil jongkok di lantai, masih memakai celana dalam. Diceboki dan lanjut dimandikan oleh Papa. Setelah mandi, Arsyad digandeng Bi Caca dan Bi Geca ke rumah Uyut dan baru pulang sekitar jam setengah 1 siang. Mamak bikinkan dia susu tapi hanya diminum setengahnya. Habis minum susu, dia rewel-rewel manja di pangkuan Mamak karena sepertinya masih ingin main tapi sudah ngantuk, kemudian tertidur. Bangun-bangun langsung disamper Abahnya jalan-jalan nyari ayam bakar. Baru pulang jam 5 lebih dan ingin langsung makan. Lanjut dimandikan Papa sambil sounding lagi tentang kegunaan si potty. Yang lucu saat mandi adalah ketika si potty bergeser dan berpindah posisinya, Arsyad dengan tekun membetulkannya ke posisi semula. Arsyad mungkin belum mau memakai si potty, tapi Mamak rasa sudah ada rasa memiliki dalam diri Arsyad atas benda ini. *eaaah

Accident kedua adalah ketika Mamak baru saja selesai wudhu dan akan sholat magrib.

“Pipis..! Mama, pipis! Omรฉh!”

“Ayo, ke kamar mandi. Di potty ya pipisnya.”

Tapi Mamak perhatikan celananya cuman basah sedikit dan lantai ngga basah sama sekali. Ternyata Arsyad pup.

“Oh, Arsyad mah ee itu. Bukan pipis. Di potty ya, ee nya.”

Arsyad masih belum mau menaiki si potty. Ya sudah, masih ada hari esok. Dan celana gantinya pun selamat sampai dia akan tidur.
“Arsyad ngantuk, ya. Pake diaper, ya. Bobonya pake diaper. Besok pagi, pipis sama ee lagi di kamar mandi. Di potty.”

Yang sabar ya, potty. #PukPukPotty

***

Hari ini kalau dihitung-hitung, Arsyad hanya belajar sekitar 4 jam. Kebanyakan intervensi diaper karena dianya diajak pergi-pergi tanpa Mamak atau Papa. Berasa anak sekolah, ya. Hari Minggu libur belajar, heheee..

#Level2 #BunsayIIP #MelatihKemandirian #Tantangan10Hari #Day4

Posted in IIP, Kisah Mamak, Yaa Bunayya

Bilang ya, Nak… (3)

Sabtuuuu…! Waktunya main di sawah Uyut wetan..!

Sebelum pergi ke sawah, kami bertiga plus dedek bayik dalam perut Mamak bersarapan ria di teras rumah, bersama Enin dan Abah. Ada yang menyantap kupat tahu, ada juga yang menikmati nasi kuning. Selesai makan, Arsyad mejeng “mengawasi” serangga-serangga yang bisa dia temui di kebun sebelah rumah, ditemani Abah dan Enin. Eyyy.. tak beberapa lama mereka berdua heboh dikarenakan Arsyad melakukan “accident”. Mamak antar lah ke kamar mandi, hanya cebok, tidak mandi. Papa bilang mandinya nanti saja sepulang dari sawah.

Arsyad menikmati sekali waktu bermainnya di sawah uyut wetan. Main lumpur dan menaiki alat bajak ketika munding (kerbau)-nya istirahat. Dan dia ketagihan! Hahaa.. Sebelum pulang ke rumah, Papa membersihkan kaki Arsyad dan mengganti celananya. Dari aromanya sih, nampaknya waktu bermain tadi Arsyad sempat pipis. Habis mandi kemudian tidur. Bangun pas menjelang dzuhur. Sampai semingguan pelajaran “ngamar mandi” ini, Mamak mengira-ngira kalau Arsyad bangun dari tidur siang itu biasanya akan pipis setengah jam kemudian. Dan benar. Tadi sekitar jam setengah 1, Arsyad melakukan gerak-gerik mencurigakan.

“Arsyad mau pipis? Yuk, pipis di kamar mandi. Pipisnya di kamar mandi.”

Arsyad masih belum beranjak dari tempatnya berdiri.

“Yuk, pipis di kamar mandi.”

“Ndiii…!” Sambil berjalan ke arah kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, dia malah main air. Kalau sudah begitu, keluarlah ceramah tentang ngga baiknya berlama-lama di kamar mandi berikut Mamak ingatkan dia tujuan awal pergi ke kamar mandi.

“Ayo, Arsyad jongkok. Pipisnya jongkok, Nak. Pipis.. jongkok. Pipisnya sambil jongkok. Yuk, jongkok. Lihat nih jongkoknya kayak Mama.”

“Ngkokok!”

Sekitar 10 menit lah, kami berada di sana. Setelah jongkok-berdiri lagi-jongkok-main air-berdiri lagi-main air lagi-jongkok, dan…

Continue reading “Bilang ya, Nak… (3)”

Posted in IIP, Kisah Mamak, Yaa Bunayya

Bilang ya, Nak … (1)

Terhitung sejak hari Senin kemarin, perkuliahan kelas Bunda Sayang IIP dimulai kembali setelah libur lebaran yang cukup panjang. Yeaaaah… waktunya Mamak bangun dari hibernasiiiiii….! *lho

Materi ke-2 adalah Kemandirian. Bagi yang sudah memiliki anak, tugas kuliah kali ini adalah melatih kemandirian anak. Seperti biasa, perkuliahan dimulai dengan materi dan diskusi yang dikawal oleh teteh fasil kece, Teh Ainun. Diskusinya lebih seru dari sebelumnya, karena listrik di rumah sedang padam tersebab MCB (Miniature Circuit Breaker)-nya rusak. Mamak yang lagi nguliah (baca materi lanjut nyimak diskusi) nyambi ngasisteni Papa yang membetulkan si MCB. Tangan kanan pegang HP yang sesekali alih fungsi jadi torch, tangan kiri perannya banyak: memegangi senter yang agak redup, mengambilkan alat yang dibutuhkan Papa dari kotaknya, memegangi sesuatu dari MCB-nya untuk kemudian diberikan lagi pada Papa. Cerita selengkapnya di sini. ๐Ÿ˜€

Jadi ternyata tidak salah keputusan Mamak dan Papa untuk melatih kemandirian Arsyad sebelum dia masuk usia 2 tahun. Pas banget dengan materi kuliah kemarin. Intinya sih yang Mamak simpulkan.. jika kita mau berlelah-lelah membangun kemandirian anak sejak masih kecil, kita akan lebih mudah dan agak bersantai ketika mereka dewasa nanti. Macam berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian lah.. Dan, melatih kemandirian anak di bawah 5 tahun itu sepengamatan Mamak sih relatif lebih mudah ketimbang mengajari anak di atas usia itu, apalagi remaja, untuk bisa mandiri. Lebih menguras emosi. Cuman memang melatih anak kicik tuh lebih menguras fisik, hihi. Ngga apa-apa lah, yaa.. biar Mamak muda terjaga kesingsetannya. *laaaah..

Ada 3 hal yang paling utama untuk dilatih pada anak seusia Arsyad:

  1. Berbicara untuk mengungkapkan keinginan atau perasaannya dengan baik
  2. Makan dan minum sendiri
  3. Potty need

Poin ketiga pas banget moment-nya dengan latihan Arsyad yang sudah memasuki hari ke-6. Jadi, laporan tantangan 10 hari sebagai tugas kuliahnya bisa sekalian sebagai catatan potty training Arsyad. ๐Ÿ˜€ Selain potty training, Mamak juga memasukkan beberapa poin yang ingin Mamak dan Papa latihkan ke Arsyad menuju usia 2 tahunnya.

List latihan kemandirian Arsyad

Continue reading “Bilang ya, Nak … (1)”

Posted in IIP, Kisah Mamak, Yaa Bunayya

Arsyad Belajar Mandiri

2016 kemarin, Mamak sama Papa sepakat untuk memberikan MPASI buat Arsyad dengan cara BLW, alias Baby Lead Weaning. Dan memang kondisi Arsyad-nya memenuhi prasyarat bebayi yang boleh BLW-an. Salah satu alasan kami melakukan itu adalah membiasakan Arsyad makan sendiri. Tentu acara makannya harus dengan pengawasan penuh Mamak atau Papa. One man must at least stand by watching. Hahaa. Alhamdulillah tidak ada tragedi yang berarti selama masa BLW ini. Ngga pure 100% BLW, sih.. karena kadang Arsyad disuapi juga dengan MPASI jenis bubur-buburan.

Lancarkah proses BLW-nya?

Tentu tidak semulus yang diimpikan. ๐Ÿ˜€ Belum lagi omelan dari enin yang bilang kalau metode “ngasih makan bayik” ala Mamak ini berbahaya. Khawatir kesedak lah, anak nanti kurang gizi lah (karena makanan yang masuk ngga banyak), dll, dll. Heuheuu.. FYI, bayik itu ternyata much more brilliant dari yang orang dewasa duga. Mereka semacam punya alarm kalau mau kesedak. Mereka akan langsung mengotomatisasi mulutnya untuk mengeluarkan si makanan: muntah. Soal gizi, sepengetahuan Mamak dari berbagai sumber, anak bayik under 1 year old itu asupan gizinya masih lebih banyak didominasi oleh peran ASI. Yaa.. Mamak sih tenang-tenang aja, orang Arsyad nenennya aja gembul. ๐Ÿ˜€

Sayangnya, dengan alasan Mamak yang semakin sibuk di sekolah, Papa yang kadang lelah membereskan sisa-sisa perang (baca: makan Arsyad) kalau Arsyad ditinggal sendiri di rumah sama Papa, jadilah Arsyad lebih sering disuapi. BLW mission : failed. *emoticon ketawa sambil nangis* Sekarang-sekarang, back to yesterday sih.. karena Mamak lebih banyaaaaak waktunya di rumah dan alhamdulillah manajemen emosinya sudah lumayan terlatih (meski seuprit), jadi tiap meal time, kami usahakan, kondisikan dan encourage Arsyad buat bisa makan sendiri. Biasanya, kalau ukuran makanannya masih agak “geung” (besar) menurut Arsyad, dia suka minta “otong” (potong) lagi. Bahkan seringnya kalau makan roti pun harus disuir-suir dulu terus ditata di “piying” (piring), nanti sama dia dicomotin. Heuheuu.. Untuk urusan “eueut” (minum), Arsyad udah pinter pegang telinga cangkirnya dari usia sekitar 16 bulan. 19 bulan bisa bawa-bawa cangkirnya dan isi air sendiri dari dispenser, bahkan bisa aduk-aduk campuran susu dengan air menggunakan sendok (katanya bikin susu sendiri). 21 bulan (bulan Juli ini) minumnya makin rapi, masukin makanan dari sendok ke mulutnya juga ada peningkatan walau nyendok makanan dari piringnya masih terlalu mengerahkan segenap jiwa raga. ๐Ÿ˜€

On a fine night, a little boy encouraged himself to make his own drink. Hihihii

Itu baru seputar kebutuhan paling primernya (makan). Dalam 3 hari belakangan ini, Mamak dengan segala pertimbangan, dorongan, sokongan dari berbagai pihak dan juga kerelaan hati (lah.. apaaa sih) akhirnya mulai juga potty trainingย : kebutuhan menggunakan toilet yang adalah salah satu hasil proses tubuh dari kebutuhan primer tadi. Tadinya Mamak dan Papa sepakat akan memulai potty/ toilet training di usia ke- 18 bulannya Arsyad, atau bisa beberapa bulan sebelumnya jika Arsyad sudah fasih bilang pipis, ee atau kata lain yang mewakilinya. Qadarullah, di usia Arsyad yang ke-16, Mamak hamidun anak kedua (dan si jabang bayik waktu itu udah usia hampir 2 bulan). Mamak tunda dulu lah trainingnya mengingat dan menimbang kemungkinan regresi di saat nanti adeknya lahir, juga emosi ibuk hamil yang tendesius ke arah negatif dan egonya yang ngga mau cape ngurusin berbagai kecelakaan kerja saat training (baca: pipis dan pup-nya malah di celana dan mengotori area sekitar). Tapi, dipikir-pikir.. kasihan juga Arsyad.. udah fasih ngomong pipis dan ee, juga udah termunculkan naluri kebersihannya dengan bilang omรฉh (cebok) dan ntos (ganti celana) kalau ee atau diapernya udah jenuh. Masa dibiarkan begitu saja dan dibungkam dengan terus-terusan dipakein diaper. Hiks. Mamak merasa bersalah.. Urusan nanti Arsyad regresi atau ngga, biarlah jadi urusan nanti. Yaa.. ngga muluk-muluk sih bakalan mulus trainingnya.. Itung-itung tambahan olahraga buat bumil, yes? ๐Ÿ˜€

Continue reading “Arsyad Belajar Mandiri”