Posted in Kisah Mamak, Yaa Bunayya

Ruang Kelas Bocah Pengeja Semesta

Memiliki sebuah ruangan khusus tempat anak-anak bermain dan belajar adalah impian Mamak sejak Arsyad masih berwujud bayik merah. Papa mungkin sampai bosan mendengarkan celotehan Mamak tentang sebuah ruangan heuseus buat Arsyad (dan adik-adiknya kelak) yang harus beginilah begitulah blaa.. blaa.. blaaa.. Dari sana, Mamak mulai memeras otak memikirkan bagaimana sebaiknya ruangan ini dibuat dengan memperhitungkan kondisi rumah, budget dan lain-lain. 

Memangnya, perlu banget ya punya ruangan kelas di rumah?

Menurut Mamak sih perlu. Sangat perlu. Ada banyak pertimbangan yang mengarahkan Mamak untuk bisa memandang ruangan tersebut sebagai kebutuhan yang cukup penting. Diantaranya,

  • Rumah kami hanya memiliki satu ruang tengah saja yang difungsikan macam-macam. Sebagai ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, ruang baca, kadang dipakai lahan bermain Arsyad juga. Tapi kalau setiap saat Arsyad bermain di ruang tengah, agak risih juga kalau ada tamu yang berkunjung dan dipersilakan masuk ke dalam ruangan yang sedang terlihat seperti kapal pecah!
  • Buku, mainan dan media-media belajar lainnya bisa disimpan rapi di dalam ruangan kelas meskipun tak melulu dipakai di ruangan tersebut, setidaknya mereka punya “rumah” tetap, tak akan tergusur oleh acara apapun. Misalkan ada acara kajian di rumah dan mengharuskan ruang tengah menyisir bersih perabotan yang ada di sana. Nah, kalau buku-mainan dkk sudah punya tempat permanen, mereka ngga harus mengungsi.
  • Jika ternyata pada suatu waktu Mamak/Papa belum bisa mengajak Arsyad dan adek merapikan barang-barang mereka dan kami merasa kelelahan untuk beberes, barang-barangnya tidak tercecer di ruangan lain, yaaa.. berantakan saja begitu di ruang kelas karena Arsyad dan adek juga menggunakam barang-barang itu di ruangannya.
  • Meskipun selama ini Arsyad bisa bermain dan belajar dimana saja, Mamak ingin setidaknya ada satu tempat khusus yang dibuatkan untuk Arsyad dan adek berinteraksi dengan benda-benda yang juga khusus dihadirkan untuk mereka, tempat khusus untuk Papa dan Mamak menghabiskan waktu bersama mereka.
  • Harapannya, dengan adanya ruangan khusus ini, Arsyad dan adek nantinya bisa serius belajar karena Papa dan Mamak juga tidak main-main menyiapkan ini semua (walaupun dalam perjalanannya penuh lika-liku trial and error).
  • Ini juga menjadi pemicu Mamak dan Papa untuk selalu semangat belajar. Bagi Mamak sendiri, melihat ruang kelas ini dengan sederetan buku, mainan dan lainnya (yang sebetulnya belum begitu banyak) selalu jadi mood booster untuk semangat belajar lagi. (Saat tulisan ini dibuat, Mamak masih harus menempuh perjalanan lebih dari 9 bulan di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional 😀 )
  • Hmmm.. apalagi ya? Mungkin masih banyak. Let’s find out while the class is going on! 

    Ruangan kelas ini tidak serta merta tertata seperti ini. Awalnya, masih berupa spot kecil di pojokan ruang tengah. Ketika si ruang kelas masih berupa “pojok belajar”, ruangan ini adalah kamar tidur Papa, Mamak dan Arsyad. Pojok belajar ini dibuat ketika Arsyad berusia sekitar 10 bulan. 

    Masih begitu sederhana dengan mainan yang kebanyakan hasil recycle. Buku-buku bacaannya masih tersimpan di rak bawah TV. Menginjak usia 14 bulan, Arsyad sudah bisa berjalan lancar. Mamak ingin kasih sesuatu yang istimewa sebagai reward atas pencapaiannya itu. Maka diubahlah ruang tidur menjadi double function room: untuk tidur dan untuk belajar. 

    Agar leluasa, saat bangun pagi, Mamak/ Papa akan membereskan bantal-bantal dan selimut, memasukkan mereka ke keranjang, memberdirikan kasur dan menyimpannya di salah satu sisi tembok ruangan. Jika waktunya tidur siang Arsyad, kami menggelar bed cover dan beberapa bantal untuknya sebagai pengganti tempat tidur. Menjelang waktu tidur malam, Mamak akan membereskan lantai ruang kelas dan menyiapkan kasur lengkap dengan bantal dan selimutnya.

    Sedikit demi sedikit koleksi kelasnya bertambah, aktivitas belajar Arsyad pun semakin bervariasi meskipun Mamak tidak bisa optimal menyiapkan ragam kegiatan untuknya belajar. Terpikir oleh Mamak bahwa double function room ini menjadi kurang efektif. Belum lagi kegiatan membereskan dan menyiapkan perangkat tidur yang makin hari makin melelahkan bagi ibuk hamil ini, heheee.. Akhirnya, ruangan ini sepenuhnya didedikasikan untuk belajar dan bermain Arsyad dan adek. Eh, masih double function room, deng. Karena setelah tempat tidur berpindah ke ruangan depan, tempat sholat otomatis berpindah juga. Ke ruangan ini. 😀 Mamak kira sih it’s still okay. Sekalian mengajak Arsyad belajar sholat di ruangan ini. Yaaa.. bocah ini masih suka bilang “moal” (ngga akan) ketika diajak sholat dan malah main. Well, setidaknya dengan dia melihat orangtuanya sholat, insyaAllah akan menjadi pelajaran juga buatnya bahwa dia sebagai muslim wajib mendirikan sholat. Children learn by seeing and immitating, right?

    Namanya ruang kelas, ya. Tapi yaaa.. begitulah yang ada di dalam sini mungkin tidak terlalu mencerminkan namanya. Sengaja ditata sedemikian hingga Arsyad (dan adek juga nanti) betah dan mau belajar di sini. Alhamdulillah, Arsyad kalau bermain ya di sini sekarang. Sudah sangat jarang membawa mainan-mainanya ke ruang tengah dan memainkannya di sana. Kalau baca buku masih tentatif, apalagi saat akan tidur. Bukunya diboyong ke ruangan tidur. Salah satu PR-nya adalah membuat Arsyad mau membereskan barang-barangnya setelah digunakan. Kadang cuek, kadang malah sengaja mengambil kotak mainan lain dan membrudulkan seluruh isinya sambil tertawa jahat (ngga, deng. ini mah emaknya aja yang berlebihan), kadang mau diajak membereskan sampai selesai, kadang mau tapi sebentar. Tapi pernah juga dia sendiri inisiatif memasukkan mainannya ke dalam kotak sebelum minta ditemani main yang lain. Kalau buku, dia sudah lebih mandiri dalam membereskannya. ❤

    Rasanya senaaaaaaang sekali saat melihat Arsyad beraktivitas di sini. Saat ini ruang kelasnya hanya berisi satu orang murid, insyaAllah sebentar lagi muridnya bertambah satu. 😀 Pasti akan tambah menyenangkan dengan adanya dua bocah bermain dan belajar di ruang kelas ini. ❤ ❤

    Saat ruang kelasnya masih berfungsi ganda sebagai ruang tidur juga.

    Kadang ruang kelas ini jadi bengkel dadakan juga. Hihihii

    Ruang kelas yang jarang sekali rapi. 😀

    Posted in IIP, Kisah Mamak, Yaa Bunayya

    Bilang ya, Nak… (5)

    Mungkin karena intervensi kemarin, Arsyad jadi ngga bilang-bilang kalau pipis. Bahkan setelah celananya basah pun. Dan hari ini, (masih) terjadi banyak accident, heuheu.. Tapi sisi baiknya adalah, hari ini Arsyad mulai menunjukkan ketertarikan dan kesukaannya pada si potty. Yaa.. meskipun pada akhirnya malah dimainkan seperti dia mengendarai mobil truk-trukannya. *laugh but sigh*

    Accident pertama itu pas pagi-pagi sebelum mandi dan yang kedua sejam sebelum “tersangka” tidur dhuha. Siang setelah bangun dari tidurnya sampai sesorean akan mandi, terjadi 3 kali accident, dan itu semua bertempat di halaman belakang Enin. Accident ketiga, saking asiknya main air warna-warni, dia sampai adem ayem aja meski celananya basah sama pipis. Padahal biasanya suka heboh bilang, “Ntos..! Ntos..! Oméh..!” (Ganti celana! Cebok!)  Accident keempat dan kelima sih, back to yesterday: heboh lagi setelah tahu celananya basah.

    Yang anteng main sampe khilaf dia pipis di celana.

    Waktu mandi sore, Arsyad inisiatif menaiki si potty. Sekalian saja Mamak ingatkan dia lagi,

    “Ya, Arsyad kalau mau pipis atau ee naik potty dulu, ya. Pipis, ee, di potty. Ya?”

    “Pootiiii…!” Arsyad berseru senang.

    “Iya. Potty tempat Arsyad pipis dan ee.”

    Kemudian dia malah mengendarai si potty seperti yang dilakukannya tadi pagi.

    “Bukan untuk dikendarai. Untuk pipis dan ee, Nak. Potty untuk pipis, untuk ee. Udah, yuk! Pake handuknya.”

    The last accident terjadi saat Papa sudah di rumah. Ketahuan sama Papa pas Arsyad lagi di teras belakang, lagi-lagi ngga bilang, sampai kami harus menelusuri jejak dan menemukan apakah ada genangan air berbau amonia di tempat-tempat yang tadi dia lewati.

    Pelacakan: nihil. Continue reading “Bilang ya, Nak… (5)”

    Posted in IIP, Kisah Mamak, Yaa Bunayya

    Bilang ya, Nak… (4)

    Hari ke-9 pelajaran “ngamar mandi” Arsyad. Mulai hari ini, disponsori oleh potty “Puku” warna putih. Kemarin malam Papa pulang membawakan bungkusan berisi potty ini. Alhamdulillah..

    “Arsyad, lihat! Papa bawakan ini. Ini potty. Arsyad mulai besok pipis dan ee-nya di potty, ya. Potty-nya ada di kamar mandi.”

    Mamak memulai sesi belajar tambahan sebelum Arsyad tidur malam tadi. Seperti biasa, kalau melihat benda baru, Arsyad pasti mengamatinya dulu sepuasnya sebelum mau menyentuhnya.

    “Ini potty ya, Arsyad. Nah, Arsyad jongkok di potty kalau mau pipis sama ee. Yuk, latihan jongkok di potty.” Mamak ajak Arsyad duduk di potty.

    Arsyad malah..

    berusaha memasukkan kedua kakinya ke dalam ceruk tempat menampung pipis dan pup. *emoticon ketawa sampai keluar airmata*

    “Oh, potty bukan kapal, Nak. Potty tempat Arsyad pipis dan ee. Begini nih caranya.” Mamak kondisikan Arsyad ke posisi yang seharusnya.

    “Nah, begitu.. Arsyad di atas potty. Pipis dan ee di potty, ya.”

    Arsyad selama kelas tambahan lebih banyak diam seperti sedang processing data, mungkin ditambah sudah mulai mengantuk juga, ya. Besoknya, setelah Mamak dan Papa selesai sholat Subuh, Arsyad berlari menghampiri kami sambil berkata,

    “Pipis..! Pipis..! Oméh..!”

    Tadinya memang mau Mamak lepas diapernya dan mengajaknya pipis di kamar mandi. Okelah, Arsyad sudah mau inisiatif sendiri. Di kamar mandi, si potty sudah bersiap di pojok dekat pintu. Pelajaran pertama hari ini diambil alih Papa. Tapi ternyata, Arsyad tidak mau pipis. Mau sih menaiki potty-nya, tapi kemudian turun dan malah main air.

    “Arsyad ngga jadi pipis? Ngga mau pipis? Yuk atuh, pake celana lagi.” Mamak nimbrung.

    “Cingan, eeeh…!” (Pake celana, eh!) Arsyad berseru sambil keluar dari kamar mandi.

    Accident kemudian terjadi ketika Arsyad mengelus-elus perut Mamak sambil mengajak ngobrol adek bayiknya. Seketika ekspresinya berubah, seperti yang sedang mengejan.

    “Arsyad mau ee? Di kamar mandi, yuk! Di potty ee-nya.”

    Di dalam kamar mandi, dia tidak mau menaiki potty-nya,

    “Tiis..!” (Dingin) katanya.

    Mungkin karena potty-nya sedikit basah. Mamak naikkan ke potty pun tidak mau, malah rewel. Akhirnya dia ee sambil jongkok di lantai, masih memakai celana dalam. Diceboki dan lanjut dimandikan oleh Papa. Setelah mandi, Arsyad digandeng Bi Caca dan Bi Geca ke rumah Uyut dan baru pulang sekitar jam setengah 1 siang. Mamak bikinkan dia susu tapi hanya diminum setengahnya. Habis minum susu, dia rewel-rewel manja di pangkuan Mamak karena sepertinya masih ingin main tapi sudah ngantuk, kemudian tertidur. Bangun-bangun langsung disamper Abahnya jalan-jalan nyari ayam bakar. Baru pulang jam 5 lebih dan ingin langsung makan. Lanjut dimandikan Papa sambil sounding lagi tentang kegunaan si potty. Yang lucu saat mandi adalah ketika si potty bergeser dan berpindah posisinya, Arsyad dengan tekun membetulkannya ke posisi semula. Arsyad mungkin belum mau memakai si potty, tapi Mamak rasa sudah ada rasa memiliki dalam diri Arsyad atas benda ini. *eaaah

    Accident kedua adalah ketika Mamak baru saja selesai wudhu dan akan sholat magrib.

    “Pipis..! Mama, pipis! Oméh!”

    “Ayo, ke kamar mandi. Di potty ya pipisnya.”

    Tapi Mamak perhatikan celananya cuman basah sedikit dan lantai ngga basah sama sekali. Ternyata Arsyad pup.

    “Oh, Arsyad mah ee itu. Bukan pipis. Di potty ya, ee nya.”

    Arsyad masih belum mau menaiki si potty. Ya sudah, masih ada hari esok. Dan celana gantinya pun selamat sampai dia akan tidur.
    “Arsyad ngantuk, ya. Pake diaper, ya. Bobonya pake diaper. Besok pagi, pipis sama ee lagi di kamar mandi. Di potty.”

    Yang sabar ya, potty. #PukPukPotty

    ***

    Hari ini kalau dihitung-hitung, Arsyad hanya belajar sekitar 4 jam. Kebanyakan intervensi diaper karena dianya diajak pergi-pergi tanpa Mamak atau Papa. Berasa anak sekolah, ya. Hari Minggu libur belajar, heheee..

    #Level2 #BunsayIIP #MelatihKemandirian #Tantangan10Hari #Day4

    Posted in IIP, Kisah Mamak, Yaa Bunayya

    Bilang ya, Nak… (3)

    Sabtuuuu…! Waktunya main di sawah Uyut wetan..!

    Sebelum pergi ke sawah, kami bertiga plus dedek bayik dalam perut Mamak bersarapan ria di teras rumah, bersama Enin dan Abah. Ada yang menyantap kupat tahu, ada juga yang menikmati nasi kuning. Selesai makan, Arsyad mejeng “mengawasi” serangga-serangga yang bisa dia temui di kebun sebelah rumah, ditemani Abah dan Enin. Eyyy.. tak beberapa lama mereka berdua heboh dikarenakan Arsyad melakukan “accident”. Mamak antar lah ke kamar mandi, hanya cebok, tidak mandi. Papa bilang mandinya nanti saja sepulang dari sawah.

    Arsyad menikmati sekali waktu bermainnya di sawah uyut wetan. Main lumpur dan menaiki alat bajak ketika munding (kerbau)-nya istirahat. Dan dia ketagihan! Hahaa.. Sebelum pulang ke rumah, Papa membersihkan kaki Arsyad dan mengganti celananya. Dari aromanya sih, nampaknya waktu bermain tadi Arsyad sempat pipis. Habis mandi kemudian tidur. Bangun pas menjelang dzuhur. Sampai semingguan pelajaran “ngamar mandi” ini, Mamak mengira-ngira kalau Arsyad bangun dari tidur siang itu biasanya akan pipis setengah jam kemudian. Dan benar. Tadi sekitar jam setengah 1, Arsyad melakukan gerak-gerik mencurigakan.

    “Arsyad mau pipis? Yuk, pipis di kamar mandi. Pipisnya di kamar mandi.”

    Arsyad masih belum beranjak dari tempatnya berdiri.

    “Yuk, pipis di kamar mandi.”

    “Ndiii…!” Sambil berjalan ke arah kamar mandi.

    Di dalam kamar mandi, dia malah main air. Kalau sudah begitu, keluarlah ceramah tentang ngga baiknya berlama-lama di kamar mandi berikut Mamak ingatkan dia tujuan awal pergi ke kamar mandi.

    “Ayo, Arsyad jongkok. Pipisnya jongkok, Nak. Pipis.. jongkok. Pipisnya sambil jongkok. Yuk, jongkok. Lihat nih jongkoknya kayak Mama.”

    “Ngkokok!”

    Sekitar 10 menit lah, kami berada di sana. Setelah jongkok-berdiri lagi-jongkok-main air-berdiri lagi-main air lagi-jongkok, dan…

    Continue reading “Bilang ya, Nak… (3)”

    Posted in IIP, Kisah Mamak, Yaa Bunayya

    Bilang ya, Nak … (1)

    Terhitung sejak hari Senin kemarin, perkuliahan kelas Bunda Sayang IIP dimulai kembali setelah libur lebaran yang cukup panjang. Yeaaaah… waktunya Mamak bangun dari hibernasiiiiii….! *lho

    Materi ke-2 adalah Kemandirian. Bagi yang sudah memiliki anak, tugas kuliah kali ini adalah melatih kemandirian anak. Seperti biasa, perkuliahan dimulai dengan materi dan diskusi yang dikawal oleh teteh fasil kece, Teh Ainun. Diskusinya lebih seru dari sebelumnya, karena listrik di rumah sedang padam tersebab MCB (Miniature Circuit Breaker)-nya rusak. Mamak yang lagi nguliah (baca materi lanjut nyimak diskusi) nyambi ngasisteni Papa yang membetulkan si MCB. Tangan kanan pegang HP yang sesekali alih fungsi jadi torch, tangan kiri perannya banyak: memegangi senter yang agak redup, mengambilkan alat yang dibutuhkan Papa dari kotaknya, memegangi sesuatu dari MCB-nya untuk kemudian diberikan lagi pada Papa. Cerita selengkapnya di sini. 😀

    Jadi ternyata tidak salah keputusan Mamak dan Papa untuk melatih kemandirian Arsyad sebelum dia masuk usia 2 tahun. Pas banget dengan materi kuliah kemarin. Intinya sih yang Mamak simpulkan.. jika kita mau berlelah-lelah membangun kemandirian anak sejak masih kecil, kita akan lebih mudah dan agak bersantai ketika mereka dewasa nanti. Macam berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian lah.. Dan, melatih kemandirian anak di bawah 5 tahun itu sepengamatan Mamak sih relatif lebih mudah ketimbang mengajari anak di atas usia itu, apalagi remaja, untuk bisa mandiri. Lebih menguras emosi. Cuman memang melatih anak kicik tuh lebih menguras fisik, hihi. Ngga apa-apa lah, yaa.. biar Mamak muda terjaga kesingsetannya. *laaaah..

    Ada 3 hal yang paling utama untuk dilatih pada anak seusia Arsyad:

    1. Berbicara untuk mengungkapkan keinginan atau perasaannya dengan baik
    2. Makan dan minum sendiri
    3. Potty need

    Poin ketiga pas banget moment-nya dengan latihan Arsyad yang sudah memasuki hari ke-6. Jadi, laporan tantangan 10 hari sebagai tugas kuliahnya bisa sekalian sebagai catatan potty training Arsyad. 😀 Selain potty training, Mamak juga memasukkan beberapa poin yang ingin Mamak dan Papa latihkan ke Arsyad menuju usia 2 tahunnya.

    List latihan kemandirian Arsyad

    Continue reading “Bilang ya, Nak … (1)”

    Posted in IIP, Kisah Mamak, Yaa Bunayya

    Arsyad Belajar Mandiri

    2016 kemarin, Mamak sama Papa sepakat untuk memberikan MPASI buat Arsyad dengan cara BLW, alias Baby Lead Weaning. Dan memang kondisi Arsyad-nya memenuhi prasyarat bebayi yang boleh BLW-an. Salah satu alasan kami melakukan itu adalah membiasakan Arsyad makan sendiri. Tentu acara makannya harus dengan pengawasan penuh Mamak atau Papa. One man must at least stand by watching. Hahaa. Alhamdulillah tidak ada tragedi yang berarti selama masa BLW ini. Ngga pure 100% BLW, sih.. karena kadang Arsyad disuapi juga dengan MPASI jenis bubur-buburan.

    Lancarkah proses BLW-nya?

    Tentu tidak semulus yang diimpikan. 😀 Belum lagi omelan dari enin yang bilang kalau metode “ngasih makan bayik” ala Mamak ini berbahaya. Khawatir kesedak lah, anak nanti kurang gizi lah (karena makanan yang masuk ngga banyak), dll, dll. Heuheuu.. FYI, bayik itu ternyata much more brilliant dari yang orang dewasa duga. Mereka semacam punya alarm kalau mau kesedak. Mereka akan langsung mengotomatisasi mulutnya untuk mengeluarkan si makanan: muntah. Soal gizi, sepengetahuan Mamak dari berbagai sumber, anak bayik under 1 year old itu asupan gizinya masih lebih banyak didominasi oleh peran ASI. Yaa.. Mamak sih tenang-tenang aja, orang Arsyad nenennya aja gembul. 😀

    Sayangnya, dengan alasan Mamak yang semakin sibuk di sekolah, Papa yang kadang lelah membereskan sisa-sisa perang (baca: makan Arsyad) kalau Arsyad ditinggal sendiri di rumah sama Papa, jadilah Arsyad lebih sering disuapi. BLW mission : failed. *emoticon ketawa sambil nangis* Sekarang-sekarang, back to yesterday sih.. karena Mamak lebih banyaaaaak waktunya di rumah dan alhamdulillah manajemen emosinya sudah lumayan terlatih (meski seuprit), jadi tiap meal time, kami usahakan, kondisikan dan encourage Arsyad buat bisa makan sendiri. Biasanya, kalau ukuran makanannya masih agak “geung” (besar) menurut Arsyad, dia suka minta “otong” (potong) lagi. Bahkan seringnya kalau makan roti pun harus disuir-suir dulu terus ditata di “piying” (piring), nanti sama dia dicomotin. Heuheuu.. Untuk urusan “eueut” (minum), Arsyad udah pinter pegang telinga cangkirnya dari usia sekitar 16 bulan. 19 bulan bisa bawa-bawa cangkirnya dan isi air sendiri dari dispenser, bahkan bisa aduk-aduk campuran susu dengan air menggunakan sendok (katanya bikin susu sendiri). 21 bulan (bulan Juli ini) minumnya makin rapi, masukin makanan dari sendok ke mulutnya juga ada peningkatan walau nyendok makanan dari piringnya masih terlalu mengerahkan segenap jiwa raga. 😀

    On a fine night, a little boy encouraged himself to make his own drink. Hihihii

    Itu baru seputar kebutuhan paling primernya (makan). Dalam 3 hari belakangan ini, Mamak dengan segala pertimbangan, dorongan, sokongan dari berbagai pihak dan juga kerelaan hati (lah.. apaaa sih) akhirnya mulai juga potty training : kebutuhan menggunakan toilet yang adalah salah satu hasil proses tubuh dari kebutuhan primer tadi. Tadinya Mamak dan Papa sepakat akan memulai potty/ toilet training di usia ke- 18 bulannya Arsyad, atau bisa beberapa bulan sebelumnya jika Arsyad sudah fasih bilang pipis, ee atau kata lain yang mewakilinya. Qadarullah, di usia Arsyad yang ke-16, Mamak hamidun anak kedua (dan si jabang bayik waktu itu udah usia hampir 2 bulan). Mamak tunda dulu lah trainingnya mengingat dan menimbang kemungkinan regresi di saat nanti adeknya lahir, juga emosi ibuk hamil yang tendesius ke arah negatif dan egonya yang ngga mau cape ngurusin berbagai kecelakaan kerja saat training (baca: pipis dan pup-nya malah di celana dan mengotori area sekitar). Tapi, dipikir-pikir.. kasihan juga Arsyad.. udah fasih ngomong pipis dan ee, juga udah termunculkan naluri kebersihannya dengan bilang oméh (cebok) dan ntos (ganti celana) kalau ee atau diapernya udah jenuh. Masa dibiarkan begitu saja dan dibungkam dengan terus-terusan dipakein diaper. Hiks. Mamak merasa bersalah.. Urusan nanti Arsyad regresi atau ngga, biarlah jadi urusan nanti. Yaa.. ngga muluk-muluk sih bakalan mulus trainingnya.. Itung-itung tambahan olahraga buat bumil, yes? 😀

    Continue reading “Arsyad Belajar Mandiri”

    Posted in Catatan Kajian, Kisah Mamak, Yaa Bunayya

    Komunikasi Efektif

    (Sepenggal catatan Mamak dari kajian Parenting bersama Bunda Siti Sarah Hajar N., S.Psi, “Komunikasi Efektif pada Anak“)

    Mamak ikut kajian ini udah lamaaa.. sekitar 5 bulan yang lalu, tepatnya 14 Januari 2017. Daaaan… baru sempat (gayanya sok sibuk) mindahin paririmbonnya ke blog sekarang. *emoticon monyet tutup mata*

    Seminar ini Bunda buka dengan menayangkan sebuah video yang berceritakan seorang pelatih american football sedang meneriaki para pemain di timnya. Mamak awalnya mikir itu pak pelatih lagi emosi tinggi tersebab di pertandingan sebelumnya timnya kalah jadi main bentak-bentak aja. Eh, di akhir pak pelatih memeluk beberapa pemain dan bilang, “You’re doing great!” (Entah apa ucapan pastinya yang jelas macam tuh lah.) Bunda Sarah lalu menjelaskan itu adalah salah satu contoh komunikasi efektif. Ya, meskipun si pelatih teriak-teriak. Tapi itu efektif diaplikasikan di lingkungan seperti itu. Pertanyaannya, apakah atmosfir keluarga kita sama dengan atmosfir lapangan football tadi? Tentu tidak kan. Berarti, apakah ketika kita sang orangtua berkomunikasi pada anak kita dengan cara berteriak, komunikasi yang dilakukan itu efektif? Jelas tidak berarti, ya. Meskipun pesan yang ingin disampaikan adalah baik, tapi caranya salah (berteriak tadi, misalnya) pastinya tidak akan diterima dengan baik oleh si anak. Mungkin, masuk telinga kanan lalu keluar dari telinga kiri. Mending kalau hanya begitu.. kalau si anak merasa sakit hati karena diteriaki? Lebih berabe lagi..

    Jadi, bagaimana dong melakukan komunikasi yang efektif pada anak-anak?

    Continue reading “Komunikasi Efektif”

    Posted in Kesehatan, Kisah Mamak, Yaa Bunayya

    Ketika Arsyad Sakit…

    Arsyad 10 bulan, masih gembil dan mau dipakein kompres demam.

    Yang jelas, Mamak sudah sugestikan sebelum-sebelumnya kalau anak-anak Mamak nanti sakit, first thing first is KEEP CALM alias ngga panikan. Dan sebisa mungkin, jangan ada pikiran “Mendingan Mamak aja yang sakit daripada kamu, Nak…“. Kenapa begitu? Karena sepertinya justru akan lebih repot kalau si emak yang sakit. Everything in the house will turn messy! Incredibly messy! Dan malah bikin tambah stress, heuheu. Dan lebih kasian anaknya, perhatian dan lain sebagainya otomatis akan berbeda dibanding ketika si emak lagi sehat. Dan… (‘pabila esok.. datang kembali.. *karokean lagunya om Duta dkk)

    Alhamdulillah sugesti ini cukup bekerja sesuai harapan. Sehingga, ketika Arsyad sakit, Mamak ngga nimbun-nimbun stress berlebih dengan panik dan khawatir. Mungkin orang-orang ngeliatnya Mamak kelewat santai, yaa. Bisa jadi mereka punya opini, “Ini Emak, anaknya sakit kok tiis aja.” Hush. Su’udzan itu, Maak..! Astagfirullah.. Anyway, selain sugesti macam tuh, Mamak sama Papa juga sepakat kalau kita adalah keluarga sehat dan kuat yang bisa meminimalisasi kunjungan ke dokter karena sakit. Hehee.. Jadi, Kami akan berikhtiar dulu dengan home remedies sebelum berobat ke dokter, atau bahkan sebelum mengkonsumsi obat kimia buatan yang dijual di apotek-apotek. Bi idznillah..

    Dan, beginilah.. keluarga kami sakitnya ngga jauh-jauh dari masuk angin, flu, dan batuk. Alhamdulillah masih bisa ditangani dengan treatment dari rumah. Beberapa hal yang biasa kami lakukan bila mulai terserang penyakit “langganan” : Continue reading “Ketika Arsyad Sakit…”

    Posted in Kisah Mamak, Yaa Bunayya

    Adaptasi Arsyad

    Salah satu buku favorit Arsyad 😀

    Sekitar seminggu sebelum Ramadhan, Abah dan Nenek Arsyad di Cimindi (Mertua Mamak) pindahan. Mereka pindah ke rumah lama mereka setelah 2 tahun sebelumnya menempati rumah alm. Uyut yang kosong. Dan, kemarin adalah pertama kalinya Arsyad mengunjungi rumah lama Abah dan Nenek. Seperti biasa, Arsyad kalau di tempat baru suka minim bersuara, raut wajah serius, susah senyum dan menunjukkan serentetan indikasi “this is not my place” lainnya, meskipun ngga sampai rewel sih. Lumrah sih, ya. Itu bentuk adaptasi anak-anak terhadap lingkungan baru yang mereka tempati. Arsyad sejauh ini bukan tipe anak yang ngga betahan. Sore kemarin pun, Arsyad sudah bisa santai dan bermurah senyum, sudah menandai rumah Abah dan Nenek sebagai one of his places. Hahaa. Di tempat lain pun seperti penginapan dan tempat wisata, Arsyad tidak menunjukkan rasa ketidaknyamanan yang bikin Mamak, Papa dan orang sekitar riweuh bin panik. He usually enjoys new places later or immediately. Memang dasar hobinya jalan-jalan sih ya.

    Saat puncak masa sapihnya sebulanan yang lalu, Arsyad pertama kalinya menginap di rumah Enin (Mamanya Mamak) tanpa Mamak sama Papa. Menurut laporan sih, Arsyad hanya menangis sekali tengah malam (waktu itu memang Arsyad masih suka bangun malam) dan minum susu plus ngemil sedikit lalu tertidur kembali. Hmmm.. Arsyad seperti punya kekuatan menguasai emosinya untuk bisa menyatu dengan tempat-tempat yang sedang dia singgahi. Halah, analisa macam apa sih itu. Alhamdulillah, Arsyad ngga nurun ke Mamak yang ngga betahan di tempat orang. *emoticon ketawa sampai keluar airmata* Continue reading “Adaptasi Arsyad”

    Posted in Kisah Mamak, Yaa Bunayya

    Kasar Vs Halus

    Arsyad’s sensory board yang jadi favoritnya semingguan ini

    Sudah lama sekali Mama bebikinan ini. Kalau tidak salah, waktu Arsyad belum genap setahun. Dan seperti biasa, media ini terinspirasi dari buku Rumah Bermain Anak I -nya Bunda Julia Sarah Rangkuti. Untuk kegiatan terstruktur Arsyad saat ini, buku ini memang menjadi satu-satunya buku cetak yang tersedia di rumah. Jadilah Mama manfaatkan koneksi internet untuk mencari referensi lain. Biasanya Mama seneng nongkrong di Pinterest.

    Membuat papan sensori ini benar-benar mudah. Bahan-bahan yang diperlukan juga tidak banyak. Well, banyak sedikitnya itu relatif sih. Tergantung jumlah benda yang akan kita tempelkan di papan. Continue reading “Kasar Vs Halus”