Posted in IIP, Kisah Mamak

Fixing the Gear (7)

(Catatan perjalanan Mamak berkomunikasi produktif dalam keluarga)

Arsyad tadi ikut Mamak ke sekolah. Papa harus pergi pagi dan hari ini di sekolah Mamak ada jadwal remedial UKK. Nyampe di sekolah Arsyad tidur, karena memang jam-jamnya tidur pagi Arsyad yang seneng bangun pas sahur. Alhamdulillah remedial 5 kelas-nya tidak berlangsung lama, sekitar jam aetengah 10 Kami sudah bergegas pulang. Dan ini kali pertama Arsyad naik angkot dengan rute terjauh, sekitar 10 KM. Seperti yang sudah diduga, Arsyad ngga betah lama-lama duduk manis di angkot. Tapi lumayan terbantu lah oleh bebekelan makanan yang dibawa dan kondisi angkot yang hanya terisi beberapa penumpang. Jadi Mamak bisa stay woles and keep the voice low~

Siangnya, Arsyad tidur cukup lama. Cukup untuk Mamak sedikit beberes, mengurangi beberapa faktor-faktor penambah stress yang bisa berujung pada high voltage voice. Bangun tidur, Arsyad makan dengan semangat sampai-sampai bilang chicken teriyaki Mamak, “Pepe!” (Tempe). Duh, seabsurd itu ya Nak, masakan Mamak. Ckckck.

Arsyad bawa 2 sendok. 1 kalau sedang ingin disuapi, 1 lagi pas ingin makan sendiri. Heuheu

Di akhir-akhir, dia malah rebahan tidur dan tidak menghabiskan makannya. Ah, Mamak saking semangatnya ngambil nasi, jadi kebanyakan. Yo wes, tak usah jadi high tone, keep the voice low~ πŸ˜€

Continue reading “Fixing the Gear (7)”

Posted in IIP, Kisah Mamak

Fixing the Gear (6)

(Catatan perjalanan Mamak berkomunikasi produktif dalam keluarga)

Emosi hari ini lebih terkontrol daripada hari kemarin. Mungkin karena hari ini adalah the end of the day mengawas UKK di sekolah, ya, jadi bawaannya senang. Hehee. Pas Mamak pulang, Arsyad ditemani bibi (ART-nya Enin) sedang bermain di rumah dek Akhtar. Begitu Mamak samperin, dia malah anteng main dan melihat Mamak dengan hanya senyum-senyum aja. Ya Mamak biarkan saja dulu, sambil Mamak simpan tas dan barang bawaan ke rumah sekalian nyuci dulu diaper Arsyad dan masak nasi.

Selesai itu, Mamak jemput Arsyad dan bersamai dia sebentar di ruang tengah. Lalu minta izin padanya mau pergi ke dapur membersihkan ayam. Dasar mungkin dianya belum terlalu puas dibersamai Mamak setelah 7 jam tidak bertemu, dia pun mulai mengomel.

β€œSebentar, Nak. Mama bersihin ayam dulu kan…”

Masih ngomel.

β€œNanggung nih. Ngga lama kok bersihin ayamnya.”

Ngomelnya makin menjadi.

β€œNak, tangan Mamanya bau. Tunggu sampai Mama selesai, ya.”

Arsyad pun bertindak, bergegas menuju ke dapur.

β€œCi.. ciii…!” Katanya saat tahu pagar yang menghalangi akses jalan ke dapur terkunci.

“Iya dikunci. Arsyad tunggu sebentar di situ.”

Arsyad semakin berusaha menaklukan pagarnya. Merasa akan berbahaya, Mamak pun sudahi dulu membersihkan ayamnya (kebiasaan lama yang masih belum bisa dihilangkan, tidak mau meninggalkan pekerjaan yang sedang dilakukan kecuali kalau Arsyad menangis. Ckckck). Dan benar, saat Mamak hampiri Arsyad, kaki kanannya sudah berada di area dapur dan kepala merunduk seperti hendak berusaha memasukkannya lewat spasi pagar. Arsyad mencoba “menembus” pagar lewat spasinya meskipun gagal. Tapi dia berhasil membuat bagian atas pagar yang berwarna abu terlepas dari sambungannya. Yaa salam…

Pagar pipa PVC yang rapuh jika berhadapan dengan tenaga Arsyad.

“Ya udah, makan aja, yuk. Arsyad makan.”

“Mamam!”

“Iya, makan kolak, ya.”

“Kowok!”

Arsyad memang mudah dialihkan perhatiannya oleh makanan, bahkan saat menangis sekalipun. πŸ˜€

“Nih, kolaknya.”

“Kowok!” Dan ketika dia melihat ke dalam mangkoknya, “Eueut!” lalu menyeruput air kolaknya. Mamak sudah antisipasi itu dengan hanya memberikan sedikit kuah kolak pada mangkoknya.

“Udah. Makan dulu nih pisangnya.”

Ritmenya kemudian menjadi sruput-kunyah-sruput-kunyah.

“Nih, air minumnya.” Mamak siapkan air minum dalam cangkir alumunium lalu Mamak tinggalkan Arsyad sebentar ke kamar mandi. Belum juga Mamak keluar dari kamar mandi,

Continue reading “Fixing the Gear (6)”

Posted in IIP, Kisah Mamak

Fixing the Gear (5)

(Catatan perjalanan Mamak berkomunikasi produktif dalam keluarga)

Sesorean tadi suasana di rumah tegang…

Mamak sampai di rumah sepulang dari mengawas UKK dan mendapati Arsyad sedang menangis dan berseru, “mbis.. mbis!” (Jatuh! Jatuh!) Oh, mungkin dia terpeleset dan jatuh. Mamak ucapkan salam, kasih senyum dan memeluk Arsyad.

“Jatuh, ya. Ngga sakit kan? Ngga apa-apa…” Kata Mamak sambil memeluk Arsyad.

Dapat laporan dari Papanya, Arsyad beberapa kali menumpahkan air dispenser. Sepertinya itu menjadi salah satu penyebab dia menangis, dinasehati supaya tidak buang-buang air oleh Papa. Alhamdulillah, nangisnya hanya sebentar. Intonasi dan nada suara Mamak pun stabil. Mamak sedikit kurangnya berhasil mengontrol emosi atas teraduk-aduknya hati di sepanjang perjalanan menuju rumah. Ada beberapa “tantangan” di sekolah yang membuat Mamak sedih. Dan rencananya setiba di rumah Mamak ingin puas-puasin mengalirkan rasa ke Papa. Tapi Mamak perhatikan, bahasa tubuh Papa menyiratkan rasa letih dan lelah. Jadi, aliran rasanya ditunda sampai waktu yang belum bisa ditetapkan.

Continue reading “Fixing the Gear (5)”

Posted in IIP, Kisah Mamak

Fixing the Gear (4)

(Catatan perjalanan Mamak berkomunikasi produktif dalam keluarga)

Gambar dari Google yang sedikit diedit pake Picsart

Ini baru hari ke-4 dari total 10 hari tantangan pertama kelas Bunda Sayang sih. Tapi sepertinya untuk poin intonasi dan suara dalam berkomunikasi dengan Arsyad, secara garis besar Mamak bisa menggambarkannya dengan grafik naik seperti gambar di atas. Dan efeknya luar biasa, baik bagi Mamak, pun bagi Arsyad. Semakin hari, Mamak semakin mudah ngelemesin hati demi mengontrol intonasi. Di sisi lain, kemampuan bahasa Arsyad mengalami peningkatan yang cukup baik. Dalam satu hari, pasti ada setidaknya satu kosakata baru yang diproduksinya. Semisal hari ini, Arsyad mengubah kata “u-ush” menjadi “cucu” untuk menyebutkan “susu”.

Continue reading “Fixing the Gear (4)”

Posted in Kisah Mamak, Yaa Bunayya

Adaptasi Arsyad

Salah satu buku favorit Arsyad πŸ˜€

Sekitar seminggu sebelum Ramadhan, Abah dan Nenek Arsyad di Cimindi (Mertua Mamak) pindahan. Mereka pindah ke rumah lama mereka setelah 2 tahun sebelumnya menempati rumah alm. Uyut yang kosong. Dan, kemarin adalah pertama kalinya Arsyad mengunjungi rumah lama Abah dan Nenek. Seperti biasa, Arsyad kalau di tempat baru suka minim bersuara, raut wajah serius, susah senyum dan menunjukkan serentetan indikasi “this is not my place” lainnya, meskipun ngga sampai rewel sih. Lumrah sih, ya. Itu bentuk adaptasi anak-anak terhadap lingkungan baru yang mereka tempati. Arsyad sejauh ini bukan tipe anak yang ngga betahan. Sore kemarin pun, Arsyad sudah bisa santai dan bermurah senyum, sudah menandai rumah Abah dan Nenek sebagai one of his places. Hahaa. Di tempat lain pun seperti penginapan dan tempat wisata, Arsyad tidak menunjukkan rasa ketidaknyamanan yang bikin Mamak, Papa dan orang sekitar riweuh bin panik. He usually enjoys new places later or immediately. Memang dasar hobinya jalan-jalan sih ya.

Saat puncak masa sapihnya sebulanan yang lalu, Arsyad pertama kalinya menginap di rumah Enin (Mamanya Mamak) tanpa Mamak sama Papa. Menurut laporan sih, Arsyad hanya menangis sekali tengah malam (waktu itu memang Arsyad masih suka bangun malam) dan minum susu plus ngemil sedikit lalu tertidur kembali. Hmmm.. Arsyad seperti punya kekuatan menguasai emosinya untuk bisa menyatu dengan tempat-tempat yang sedang dia singgahi. Halah, analisa macam apa sih itu. Alhamdulillah, Arsyad ngga nurun ke Mamak yang ngga betahan di tempat orang. *emoticon ketawa sampai keluar airmata* Continue reading “Adaptasi Arsyad”

Posted in IIP, Kisah Mamak

Fixing the Gear (3)

(Catatan perjalanan Mamak berkomunikasi produktif dalam keluarga)

Tidak banyak yang Mamak lakukan di hari ketiga tantangan Game 1 kelas Bunda Sayang ini. Masih, untuk berkomunikasi dengan Arsyad yang menjadi poin prioritas latihan adalah intonasi dan suara ramah. Alhamdulillah, hari ini tidak ada kendala sama sekali. Mamak rasa intonasi dan suara Mamak dalam menyampaikan pesan pada Arsyad, pun dalam merespon pesan Arsyad, terjaga kestabilannya. Mamak merasa ada banner besar muncul di benak Mamak, habis gelap terbitlah terang. πŸ™‚

Pagi ini kami berdua naik bis Damri jurusan Elang-Jatinangor, menuju rumah Nenek Cimindi. Di tengah perjalanan, Arsyad yang style-nya tidak bisa duduk manis dalam waktu yang lama, mulai berusaha turun dari kursi penumpangnya dan memancarkan sorot mata “explorer”-nya. Terlebih saat itu bis dalam keadaan hampir kosong, hanya tersisa beberapa penumpang yang duduk di kursi depan. Awalnya Mamak dapat mengalihkan keinginannya menjelajah dengan memberikan susu UHT kotak dan biskuit. Tapi itu hanya bisa menahannya sebentar. Lalu Mamak mengajaknya melihat-lihat aneka ragam kendaraan di jalan dari arah jendela bis, memintanya menyebutkan nama jenis kendaraan yang Mamak tunjuk. Itu juga tidak berhasil menahan Arsyad sampai waktunya kami turun.

Arsyad the Bus Conqueror! πŸ˜€

Pada akhirnya, terjadilah adegan Arsyad’s comfort test, uji kenyamanan kursi penumpang di bagian depan dengan cara: menaiki kursinya sendiri (hanya dipegangi satu tangannya oleh Mamak), duduk sebentar sambil manggut-manggut, lalu turun dan berjalan menuju kursi lain. Mamak pikirkan terlebih dahulu konsekuensi dari tindakan yang diambil ini dan kemungkinan efek dari kerewelan Arsyad jika keinginannya dicegah. Mamak keeps woles first. Hmm…

Continue reading “Fixing the Gear (3)”

Posted in IIP, Kisah Mamak

Fixing the Gear (2)

(Catatan Perjalanan Mamak berkomunikasi produktif dalam keluarga)

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam. (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, No 6018; Muslim, No. 47)

Sisa Jum’at ini selepas pulang dari sekolah, Mamak lebih banyak diam. Lelah dan ada sakit yang terasa membuat mood seperti sedang naik roller coaster. Dan biasanya kalau mood sudah begitu, gampang sekali Mamak melakukan malpraktek komunikasi. Hehee..

Biasanya, Arsyad semangat makan kalau sudah tidur siang. Tapi hari ini lain.

Continue reading “Fixing the Gear (2)”

Posted in IIP, Kisah Mamak

Fixing the Main Gear (1)

(Catatan Perjalanan Mamak Ber-Komunikasi Produktif dalam Keluarga)

. . . fallahu khairun haafidzon wa Huwa arhamur roohimiin (. . . maka Allah sebaik-baiknya penjaga dan Dia Maha Maha Penyayang diantara para penyayang). – QS. Yusuf : 64

Ya Allah… jagalah hati dan lisan Mamak.. Mudahkan Mamak dalam menimba ilmu di kelas ini dan mengamalkannya…

Materi Bunda Sayang pertama adalah mengenai Komunikasi Produktif. Betul syekalee lah kata Teh Ismi, Fasilitator kelas Mamak waktu kuliah matrikulasi kemarin. Katanya, moment Ramadhan ini pas banget belajar praktek komunikasi produktif. And yes, terbukti di lapangan, heuheuu..

Kenapa harus komunikasi produktif yang didahulukan di awal kelas BunSay ini? Mangga simak penjelasannya di video Ibuk Kepsek di youtube ini.

Dari sekian banyak materi (ngga banyak sih, cuma padat saja. Saking padatnya, menguyah materinya juga harus pelan-pelan supaya lembut dan tercerna dengan baik πŸ˜€ ), di Game pertama ini Mamak diminta melatih 1 poin yang Mamak anggap paling penting. Masing-masing 1 poin komunikasi prioritas dengan pasangan dan anak. Poin pertama yang Mamak praktekkan ke Papa adalah “Kaidah 7-38-55” dan “Intonasi & suara ramah” untuk Mamak praktekkan ke Arsyad.

Mamak memilih mendahulukan Kaidah 73855 untuk berkomunikasi dengan Papa karena Mamak merasa perlu berlatih intonasi suara dan bahasa tubuh Mamak. Kan katanya (kata Mbah Albert Mehrabian), komponen verbal/ kata-kata itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi dan komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%). Alhamdulillah, Mamak dapat sedikit banyak contekan dari karyanya Ust. Salim A. Fillah “Bahagianya Merayakan Cinta” dan bisa langsung dipraktekkan meskipun tidak paripurna.

Untuk Arsyad, Mamak memilih poin intonasi dan suara karena Mamak masih gampang terbawa suasana dan terpengaruh kreativitasnya Arsyad. Jadilah nada suara sering naik tajam meski marah-marahnya sudah bisa lebih teratasi. Ah, makanya do’a Nabi Ya’qub as. yang di atas itu benar-benar jadi pegangan Mamak dalam menghadapi semua ini. *halah, apaaa..

Continue reading “Fixing the Main Gear (1)”

Posted in IIP, Kisah Mamak

Master (of) Mind

Gambarnya Koleksi Mbah Google

Hehee..

Sebetulnya istilah aslinya Master Mind (MM). Di komunitas IIP, salah satu aktifitas WAG alias Whatsapp Group-nya adalah menyetorkan MM masing-masing pada jadwal yang sudah ditentukan. Dalam sepekan, ada beberapa orang anggota yang terjadwal menyetorkan MM. Setelah MM dibagikan oleh yang bersangkutan, biasanya suka ada diskusi mengenai MM tersebut.

Apa sih Master Mind itu?

Continue reading “Master (of) Mind”

Posted in Catatan Kajian, IIP, Kisah Mamak

Mencetak Generasi Penghafal Quran

Catatan KulWapp “Emak Rempong Bisa Punya Balita Hafal Al-Qur’an” bersama Bunda Judhita Elfaj

images (66)
Photo Courtesy : https://kuri007.blogspot.co.id

Siapa sih yang ngga kepengen anak-anaknya hafal Qur’an? Menyandang gelar hafidzh dan hafidzah? Pasti itu jadi mimpi yang kita tanamkan pada anak-anak kita, yekan buibu pabapa?

Sayangnya, kebanyakan dari kita cita-cita mulia ini hanya sebatas angan-angan yang kemudian dengan mudahnya dihempas oleh angin lalu. Karena apa? Karena niat dan ikhtiar kita kurang kuat untuk mewujudkannya. Seringnya kita disibukkan oleh rutinitas harian yang memforsir sebagian besar energi kita. Akhirnya niatan mengajak anak menghafal Qur’an terlupakan oleh rasa lelah dan letih kita. Kita pun kadang berdalih dengan mengambinghitamkan sifat-sifat anak kita yang tidak kooperatif. Hiks.

Mari introspeksi diri, luruskan niat, dan memohon pada Allah supaya kita diberi kekuatan dan kemudahan dalam mengeksekusi impian kita yang satu ini.

Lantas, mari cari ilmunya. Biar tidak salah kaprah, biar tidak melulu mengambinghitamkan sifat-sifat “unik” anak kita. Dan, Alhamdulillah, beberapa hari yang lalu ada undangan untuk mengikuti kuliah via whatsapp bersama Bunda Judhita Elfaj yang merupakan anggota Tim Ahli Rumah Main Anak dan treatments-nya pada anak-anaknya sangat perlu kita jadikan contoh.

Continue reading “Mencetak Generasi Penghafal Quran”