Posted in Family Project, IIP

Family Project : Kebun Rahasia (3)

#1 BIG DAY…!

Seperti yang sudah direncanakan, selagi Mamak beres-beres sepagian tadi, Papa ngeng pake motor ngambil tanah dan pupuk dari kandang ayamnya Abah. Yang tanpa direncanakan adalah kami bertiga tidak sengaja memakai kaos dengan warna yang sama untuk hari ini: Abu-abu! Cieee.. kompak cieee… Hihihi. Sambil menunggu Papa, Mamak siapkan sarapan kilat dan Arsyad main air di tempat cucian piring. Sepulangnya Papa, kami bertiga sarapan di teras belakang. Papa kemudian mencampuradukkan tanah & pupuk di pojok kebun. Arsyad dan Mamak main peran jadi petugas pemadam kebakaran.

“Wiuuu.. wiuuuu…”

Sebelumnya, Mamak buat dulu 6 gambar api ukuran kecil & 4 gambar api ukuran besar, terus dibungkus pake plastik. Tempel deh ke dinding pake double tape. Dari kegiatan ini, ada beberapa poin yang merupakan review pelajaran Arsyad:

  1. Pengenalan urutan angka 1 – 10 (jumlah api ada 10).
  2. Perbandingan besar – kecil.
  3. Api itu warnanya oranye.
  4. Api itu panas dan bisa berbahaya.
  5. Api itu ciptaan Allah.

Nah, setelah tanahnya siap digunakan, mulailah kami bertiga main kotor-kotoran! Ada beberapa tanaman yang kami pindahkan dan ganti tanahnya: Lidah Mertua, Gelombang Cinta, Salak, Alpukat, dan Cabe rawit. Tanaman lainnya hanya disiram seperti biasa dan dibasmi hamanya. Saat main tanah ini, Arsyad bertemu dengan beberapa ulat dan cacing. Mungkin karena merasa sudah begitu mengenal ulat (Mamak sering ceritakan “The Hungry Caterpillar“), jadi dia tak segan untuk menyentuh mereka. Tapi dicegah sih sama Mamak, bisi ararateul! Berbeda dengan cacing, karena jarang melihatnya pun karena Mamak juga belum pernah membawakan cerita tentang cacing pada Arsyad (dia tahunya cacing yang bikin sakit perut, heuheu), jadi dia malah bilang, “Ayiim… cieun!” (Ngga mau.. takut!). Wah, PR nih buat Mamak & Papa untuk lebih mengenalkan cacing tanah ke Arsyad. Ada rekomendasi cerita? 😀

Yang membuat curiosity-nya Arsyad muncul mungkin pasir-pasiran yang ada di dekat rak perkakas. Ada pasir hitam dan putih bekas aquarium mini-nya Papa. Tadinya pasir putihnya mau Mamak jadikan bahan campuran untuk membuat pasir kinetik, tapi oleh Arsyad malah dicampur dengan pasir hitam. Dan disebar-sebar ke tanah. Heuheuu.. Sejauh ini, imaji Arsyad tentang alam memang sudah positif jadi kami tinggal meningkatkannya dengan memperbanyak aktivitas seperti project Kebun Rahasia ini. Terbukti dengan antusiasmenya bermain tanah saat usianya masih 7 bulan. Meskipun gerak sudah semakin terbatas dan gampang lelah, rasanya senang sejali melihat Arsyad anteng dengan kegiatan berkebun ini, senang sekali Papa mau menegangkan ototnya mengambil dan mengaduk tanah + pupuk. Senang.. senang.. senang..! Alhamdulillah ❤

Gundukan apartemen si Lumbricus terrestris
Lagi masukin tanah ke pot pun, begitu tahu mau difoto, balik kanan dulu. Hihihii
Para lidah yang sudah dibenahi tanahnya dan dibuang bagian keringnya.
Segerombolan tanaman buah yang kebanyakan dilahirkan di sini dari biji (buah yang kami makan) 😀
Tukang foto yang ingin ikut terdokumentasikan : “Udah ngga kuat jongkok, jadi duduk sila aja gosok potnya”

Tak lupa, si bayik kesayangan juga ikut difoto.

 

The second big day is coming upYiiihaaaa~

 

#Day3 #Level3 #MyFamilyMyTeam #KuliahBunsayIIP

Posted in Family Project, IIP

Family Project: Kebun Rahasia (2)

Rencana awalnya, pagi ini kegiatan kami akan seputar perawatan harian tanaman (penyiraman dan pemeriksaan ada tidaknya hama), sambil mengenalkan bagian-bagian tanaman pada Arsyad. Tapi karena kami telat bangun, dan si bujang juga ikut-ikutan telat bangunnya, akhirnya Papa sendiri yang guyur-guyur tanaman, Mamak siap-siap bikin sarapan dan persiapan pergi. Hari ini, Papa dan Arsyad akan mengantar Mamak periksa kandungan. Kebetulan jadwal USG-nya pagi jadi pakpikpek sekali tadi itu.

Nah, karena Arsyad sebelum berangkat itu berkegiatan bebas jadinya aktivitas untuk Arsyad akan dimundurkan ke sore hari, sekalian menyiram tanaman. Ternyata, pas jalan-jalan sambil menunggu nomor antrian kami dipanggil, Mamak dan Arsyad menemukan sebuah tanaman. Sebetulnya, Arsyad yang lebih dulu tertarik dengan tanaman tersebut. Ah, kenapa tidak sekalian saja kami belajar dari tanaman ini. Hehee.. Kami belajar menyebutkan bagian-bagian tanaman: daun, buah, dan batang. Kebetulan tanamannya tidak berbunga. Juga menyebutkan warna & ukuran masing-masing bagian tanaman tersebut. Buah: ijjaw – ayit (hijau – kecil), Daun: ijjaw – ayit (hijau – kecil), Batang: cokat – ayit (coklat – kecil). Sambil Mamak “ceramahin” juga Arsyad, kalau buah, daun dan batang itu ciptaan Allah.

Arsyad terlihat antusias “memanen” buah hijau yang imut-imut dari tanaman ini.

“Arsyad, buah ini ciptaan Allah.. Alhamdulillah..”

“Daun juga ciptaan Allah.. Alhamdulillah..”

“Batang juga, ciptaan Allah.. Alhamdulillah..”

Meski Arsyad tampak belum mengerti dan baru bisa mengikuti akhiran tahmid, semoga pembicaraan singkat tadi bisa menjadi bekal kemudahan Mamak & Papa nanti untuk mengenalkan Siapa yang menciptakan kami, tanaman-tanaman di Kebun Rahasia kami, dan seluruh alam semesta ini pada Arsyad dan adik-adiknya. 🙂

Lusa itu pas dapat materi tentang 4 kecerdasan anak, jadi serasa diingatkan kembali bahwa ada banyak hal yang belum kami kenalkan pada Arsyad yang harusnya dilakukan di usianya ini. Dari kesemua indikator, yang paling menantang bagi kami sebagai orangtua Arsyad adalah kecerdasan anak menghadapi tantangan, yaitu mampu mengontrol diri dan menerima jika tidak semua permintaan dikabulkan di rentang usia hingga 6 tahun. Memang masih ada banyak waktu sebelum Arsyad menginjak usia 6 tahun. Tapi.. ah, buang jauh-jauh pikiran negatif. Stay and keep positive! InsyaAllah dengan jalan family project ini, kami bisa membersamai Arsyad dengan baik sehingga keempat kecerdasannya dapat berkembang sesuai dengan tahapan usianya. ❤

Bersiap untuk Big Day 1 besooook….! 😀

#Day2 #Level3 #MyFamilyMyTeam #KuliahBunSayIIP

Posted in Family Project, IIP

Family Project : Kebun Rahasia (1)

Bulan ketiga belajar di kelas Bunda Sayang. Materinya tentang meningkatkan kecerdasan anak. All the 4: Kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan menghadapi tantangan. Katanya, salah satu kegiatan yang bisa menstimulus meningkatnya keempat kecerdasan ini adalah Family project. Begitu membaca istilah ini disebut-sebut di materi, langsung kebayang yang wah, heboh, cetar, membahana dengan tingkat keruwetan yang tinggi. Tapi eh tapiiii.. ternyata begitu ditelusuri lagi materinya, justru salah satu kriteria family project ini adalah: SEDERHANA. Yes, the project must be so simple that all of the family members are able to carry it out well, and happily of course! 😀

Begitu dapet materi, langsung forward ke pak bos. Menyamakan persepsi dulu ceritanya. Dan baru sempet ngobrol lebiiiiiih merinci sesubuhan tadi, setelah sholat. Kebetulan anak bujang belum bangun jadi bisa ngobrol santai dengan leluasa. Nah, dari hasil mengingat dan menimbang berbagai faktor maka diputuskan lah family project pertama kami di bulan Agustus ini adalah: “Kebun Rahasia“.

Continue reading “Family Project : Kebun Rahasia (1)”

Posted in IIP, Kisah Mamak

Merajut Rasa Bersama

“Badge bukan tujuan akhir, melainkan salah satu batu pijakan agar kita dapat melompat lebih tinggi.. lebih jauh.. untuk lebih dekat pada tujuan yang sesungguhnya.” (Nurita AR – Kelas Bunda Sayang Bandung 2)

Tak terasa, sudah di penghujung materi kedua kelas Bunda Sayang. Hamdallah, Mamak bisa lebih konsisten dalam mengamati pun menuliskan hasil pengamatan selama membersamai Arsyad melatih kemandiriannya. Meskipun drama tentu tak bisa terelakkan. Jumlah drama berbanding lurus dengan besarnya lingkaran perut. Heuheuu. Sampai saat ini, masih jatuh bangun mensinkronkan perasaan dan akal sehat ketika ke-fit-an tubuh sedang dalam “masa kritis”. Ketika hasrat hati ingin merebahkan tubuh dan merasakan dan mengistirahatkan otot-otot yang tegang, kenyataan membuyarkan impian. Tenaga masih harus didistribusikan demi keberlangsungan pelajaran potty training si bujang.

Ah, nano-nano rasanya! 😀

Sering muncul keinginan untuk berhenti sejenak, meliburkan “kelas ngamar mandi Arsyad”, sekedar menguapkan rasa lelah. Tapi melihat Arsyad dengan berjuta keluarbiasaannya, Mamak langsung mengubur dalam-dalam keinginan norak bin egois itu. Papa yang tak henti menyemangati dan memberikan bahu yang siap ditimpa kepala pening dan mumet, padahal hari-hari kerjanya mungkin saja lebih mumet.. Juga adek bayik yang senantiasa sehat dan aktif bersalto ria di perut Mamak.. Ah, nikmati Allah yang mana lagi yang Mamak dustakan! 😦

Continue reading “Merajut Rasa Bersama”

Posted in Kisah Mamak

Si Ulat Kecil yang Membuat Arsyad Sedih

Biasanya, kalau Arsyad sudah lemes-lemes dan matanya 3 watt-an, Mamak suka tawarin cerita atau bacakan buku. Bukunya bisa Arsyad yang pilih sendiri atau Mamak pilihkan kalau matanya dah kadung sepet. 😀

Tadi sebelum bobo dhuha, Arsyad mulai tarik-tarik buku. Mungkin sambil menimbang dan memilah buku mana yang akan dibaca bersama Mamak. 4 buku keluar dari sarangnya dan ekspresi wajahnya seperti masih berpikir. Mamak tawarkan untuk melanjutkan kisah lebah yang tadi dibaca sebelum dia pergi bersama Abahnya, tidak mau. Akhirnya, dia berseru, “Uwaaatt…!” (Ulat) Maksudnya cerita si Ulat dari “The Hungry Catterpillar” ini.

The book and the creator

Arsyad belum punya bukunya tapi beberapa waktu lalu sering menonton ceritanya dari animasi yang diunggah akun Illuminated Films di Youtube. (Hamdallah sekarang mah doski ngga keranjingan lagi nonton video di hp Mamak… Fyuuhh)

Continue reading “Si Ulat Kecil yang Membuat Arsyad Sedih”

Jurnal Potty Training Arsyad

Hari Senin ini adalah hari ke-23 Arsyad latihan “ngamar mandi” ❤

Ada 10 tulisan yang mendeskripsikan perjalanan harian Arsyad berpotty ria (meskipun tidak setiap hari dia senang duduk di potty-nya). 10 tulisan yang juga diunggah karena keperluan tugas kuliah Bunda Sayang materi kedua “Melatih Kemandirian”. Hehee.

Berikut tautan jurnalnya (yang mungkin lebih terasa sebagai curhatan ketimbang laporan):

Tahu dong kenapa itu atasan sama celana piyamanya beda… 😀
Posted in Kisah Mamak

DIY Tempelan Kulkas

Well, sebenarnya niatnya sih bukan bikin tempelan buat di kulkas tapi setelah jadi kok jadi kepikiran bisa buat ditempel di kulkas juga. Hihihii.

Jadi awalnya, beberapa hari yang lalu Papa pamerin “mainan” barunya. Entahlah apa itu namanya. Karena mirip kaki gurita, ya sudah kita panggil saja dia kaki gurita. Fungsinya untuk menempelkan si telpon pintar ke media-media seperti permukaan power bank, kaca spidometer motor, dll. Kata si Papap sih, lumayan fungsional lah si kaki gurita ini. Dipamerin ke Arsyad dan kemudian ngajarin doski sifat adhesive si kako gurita dengan menempelkan hpnya ke layar tipi. Ya lalu diikutin lah sama si bocah. Ngga tahu nya, pas kali ke berapa nempelin ke layar, tetiba si kaki gurita hilang pijakan (lah, apa sih) dan jatuh ke bawah membawa serta hp Papa. Hmmmm… Mamak sarankan Papa buat beli kaki gurita baru buat dimainkan Arsyad. Daaaan.. dibelikan lah 1 yang berwarna tosca kemarin. Semalam Mamak bingung mau dibikin apaaaa itu si kaki gurita.

“Ditempel ke tutup botol yang warna-warni aja. Diguntingin gitu satu-satu kaki guritanya.” Saran Papa.

Ahtapi, Mamak belum sreg. Pasti masih ada sesuatu yang bisa dibikin selain yang diusulkan Papa. Akhirnyaaa.. baru tadi pagi deh kepikiran buat sesuatuuuu….! Yipppiii…!!

Continue reading “DIY Tempelan Kulkas”

Posted in Kisah Mamak

Duhai Al Aqsa…

Beberapa hari yang lalu, di linimasa Facebook Mamak ada beberapa kawan yang membagikan tautan berita perihal kematian abang Chester vokalis-nya Linkin Park. Seketika itu, ingatan mengalami kilas balik ke masa-masa jahiliyah sekolah yang lagi seneng-senengnya mendengarkan musik band macam mereka. Salah satu lagu yang disenangi kala itu adalah, “In the End”. Yeah, in the end… kita people pasti leave ini world yang begitu fana. *Naon sih, Maak..* Untung kilas baliknya begitu kilat. Ngga serta merta membawa keinginan untuk kembali mendengarkan lagu-lagu itu. 

Lalu, saat Papa sudah pulang kerja dan kami duduk santai menonton berita malam…

“Yang, vokalisnya Linkin Park meninggal lho. Bunuh diri katanya.”

“Oh.”

“Ngga tahu sih lengkapnya, da cuman baca headline beritanya aja yang di-share orang-orang di Facebook.”

“Yang, imam Al Aqsa ditembak pas habis sholat subuh!”

https://dailysabah.com/mideast/2017/07/19/israeli-police-shoot-imam-of-al-aqsa-mosque-after-prayer/amp

Innalillahi wa innailahi raaji’uun.. 😦
Mendengar ini, hati menciut dan sedih. Kenapa Mamak ini lebih peduli sama berita bunuh dirinya vokalis band???! Bukannya sudah jadi hal lumrah bagi mereka si seleb hollywood untuk mengakhiri hidupnya dengan cara tragis semacam bunuh diri, overdosis obat terlarang, macam-macam lah. Apa faedahnya memikirkan kematian mereka? Ya Allah… lindungi lah kami dari memikirkan dan melakukan hal-hal yang tidak berfaedah.. huhuuu.. 😦 

Duhai Al Aqsa.. Duhai Palestina..

Mamak ini begitu terlena dengan urusan-urusan sepele. Kadang mengeluhkan hal-hal yang kecil yang tidak seberapa. Tak jarang membuat hati sendiri runyam dengan pikiran-pikiran yang tak menentu. Padahal saudara-saudara Mamak begitu membutuhkan setidaknya hati dan lisan Mamak untuk berucap do’a. 

Mamak harap, yang membaca tulisan pendek ini tidak seperti Mamak, yaaa… Don’t ever try this at home, it’s very dangerous for your mind and soul 😦

“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong pada kesesatan seaudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran : 8)

http://www.aljazeera.com/amp/news/2017/07/al-aqsa-palestinian-killed-jerusalem-protests-rage-170721113840496.html

Memiliki Mesin Cuci

Tadi waktu nyuci (baca: nebeng nyuci di mesin cuci Enin), tetiba kepikiran untuk punya mesin cuci sendiri. Bukan kali pertama keinginan ini muncul. Dan sekarang, alasan ingin memiliki mesin cuci bertambah: sebagai salah satu media belajar kemandirian Arsyad. Kok bisa?

Jadi tread latihan kemandirian anak ini lagi happening di grup ibuk-ibuk yang kuliah di kelas Bunda Sayang IIP. Materi bulan ini gitu lho. Heuheu.. Nah, waktu nyuci tadi, kepikiran sekitar 2 tahun yang akan datang Arsyad sudah cukup umur untuk belajar membantu mengerjakan beberapa house cores semacam mencuci baju. Harapan Mamak dan Papa, dengan segala macam usaha latihan kemandirian ini, anak-anak kami nantinya bisa menjadi pribadi yang tangguh dan hanya bergantung pada Allah SWT semata, ngga ketergantungan sama orang lain. Meneladani Rasulullah tersayang, yang mampu melakukan pekerjaan rumah sendiri, yang hebat di segala urusan karena kemandiriannya. 

Photo courtesy: http://itsbetterwater.com

Kembali ke mesin cuci tadi. Bagi Mamak, alat ini sangat fungsional. Mungkin karena dari jaman masih sekolah sudah dimanjakan dengan kehadiran mesin cuci di rumah, jadi tenaga tangannya kurang terlatih untuk mencuci tanpa alat. Kecuali untuk beberapa pakaian heuseus yang benar-benar memerlukan sentuhan tangan untuk membuatnya bersih dan wangi kembali, juga diaper-diapernya Arsyad yang sengaja Mamak cuci sendiri pake tangan (sesekali minta bantuan Papa) biar lebih awet. Pas jaman kuliah saja Mamak nyuci baju pake tangan karena situasi dan kondisi (anak kostan, bok! Hahaaa), itupun hanya berlangsung 2 tahun. Mamak salut banget sama Nenek Cimindi (Mama mertua), sampai sekarang masih rajiiiiiiin tiap pagi nyuci pakaian pakai tangan. Nenek setrooonggg~

Nah, waktu nyuci ini sebetulnya bisa Mamak gunakan sekaligus untuk mengerjakan hal-hal lain. Bisa sambil nulis blog, baca-baca artikel, promosi dagangan, hihihiii. Jadi waktunya bisa efektif, tenaga juga bisa dihemat. 😀 Atau biasanya kalau di rumah hanya ada Mamak berdua sama Arsyad, Mamak suka nyuci sambil menemani dia main di halaman belakang rumah Enin. So, Mamak cenderung bergantung pada mesin ini karena bisa mempraktekkan sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Huehehee

Maka dari itu, mari menabung untuk punya mesin cuci! 😀

Posted in IIP, Kisah Mamak

Bilang ya, Nak (10)

Hmmm.. hari ke-15 ini ada banyak gangguan lagi buat belajar “ngamar mandi” Arsyad. Pertama, saat jalan-jalan pagi bersama Bi Caca. Kedua, saat ikut antar Mamak cek kandungan rutinan. Terakhir, saat diajak Abahnya mengantar Bi Caca bimbel. Jadinya Arsyad hanya belajar dari sebelum Ashar hingga menjelang tidur. Mungkin karena terlalu lama memakai diaper, dia jadi kecolongan lagi. Sesaat sebelum mandi sore, Arsyad pipis di depan rumah. Celananya sudah basah duluan sebelum dia sempat melakukan pilihan ask to audience. Hehee.. Nah, yang kedua agak epik, nih. Sepertinya Arsyad sudah merasa akan pipis saat Mamak dan Papa sholat magrib. Ketika itu dia tidur-tiduran di sajadah Mamak. Tetiba saat kami selesai, dia nangis sambil bilang, “Pipis..!” Oh, kasihan.. mungkin dia ingin pergi ke kamar mandi tapi tidak ada yang menemani, jadinya dia pergi ke suatu tempat di rumah dan keburu basah celananya. Dia menangis mungkin karena merasa kecewa, tidak berhasil menunaikan tugas pipisnya di kamar mandi.

Anak shalih..

Sampai tak sempat bereskan mukena, buru-buru antar Arsyad ke kamar mandi.

Mamak pun mengantarnya ke kamar mandi dan menyemangatinya lagi. InsyaAllah besok lebih baik lagi belajarnya, yaa.. Mamak merasa terharu ketika melihat ekspresi Arsyad saat menghampiri kami selepas sholat. Sepertinya Arsyad sudah merasa punya tanggung jawab untuk pipis dan pup di kamar mandi. *Mamak berbunga-bunga*
#Level2 #BunsayIIP #MelatihKemandirian #Tantangan10Hari #Day10