Pendidikan Fitrah Seksualitas Bag. 14

Saat membuka kembali catatan presentasi kelompok Mamak dalam Materi 11 kelas Bunda Sayang IIP, Mamak teringat akan ebook yang sampai sekarang belum khatam Mamak baca. 😭 Hiks. Ebook tersebut berjudul  Nurturing Eemân in Children. Dibuka lah lagi ebook-nya dan Mamak menemukan salah satu bab yang mengangkat isu self-esteem. Topik ini menjadi bagian dari pembahasan presentasi kelompok kami yang mengambil tema pendidikan aqil baligh. Satu hal yang paling diingat dari diskusi di hari penampilan presentasi kami adalah lemahnya penghargaan akan diri sendiri membuat remaja melakukan berbagai pernyimpangan perilaku, seperti gank motor, narkoba, dll. Oleh karena itu, untuk melindungi anak-anak kita dari tindakan penyimpangan tersebut, kita perlu membangun self esteem yang kuat pada diri anak sedini mungkin. Bagaimana penjelasan Dr. Aisha Hamdan terkait self esteem building ini?

pengejasemesta-1899224229.jpg
Sumber clipart: shutterstock.com (Lorelyn Medina)

Continue reading “Pendidikan Fitrah Seksualitas Bag. 14”

Advertisements

Mari Hadir di Rumah Seutuhnya (Pendidikan Seksualitas Berbasis Fitrah Bag. 6)

Jika hubungan (bonding) antara orang tua dengan anak lekat, dekap, dan dekat, mereka akan memiliki imun yang kuat untuk mencegah hal yang tidak baik. (Ninik – Kelas Bunda Sayang Bandung 2, 2018)

Mengutip sepenggal dari penyampaian salah satu penyaji materi kemarin yang bertajuk “Pentingkah Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak?”, Mamak serasa diingatkan kembali tentang urgensi kehadiran orang tua secara utuh di rumah, menemani anak-anaknya. Dan bukan secara kebetulan, hari ini Mamak merasakan bahagianya bisa lekat, dekap dan dekat bersama Arsyad dan Adzkiya! ❤

Lho, Mamak kan ibu yang stay at home, kuncen rumah, alias IRT? Harusnya selalu bisa lekat-dekap-dekat, dong?

Nah, ini yang melenakan. Ternyata IRT juga bisa mengalami masa-masa jauh dari rumah padahal dia sedang di rumah. Nah lho… Misalnya ketika sedang disibukkan oleh pekerjaan yang memang dikerjakan di rumah tetapi sangat menyita konsentrasi dan perhatian sang ibu sehingga tidak bisa optimal menemani anak-anaknya, seperti Mamak kemarin ketika mengerjakan proyek buku yang berkejaran dengan waktu. 🙈

Back to the topic. Jadi, apakah membangkitkan fitrah seksualitas anak? Jawabannya pasti penting karena berhubungan dengan fitrah. Fitrah, apapun ranahnya, perlu dikembangkan dengan baik berdasarkan tahapan-tahapan tertentu agar anak tumbuh menjadi insan sejati sesuai dengan syaakilah-nya. Termasuk fitrah seksualitas ini. Selain alasan tersebut, ada pula beberapa hal yang menjadi perhatian kita sebagai orang tua yang membuat tendensi dari pertanyaan tadi mengarah pada jawaban “penting”.

Check this one out~

Movement speed-nya terlalu cepat, ya? 😅 Maklum, jatah untuk membuat file berformat .gif hanya bisa 5 detik saja (karena Mamak menggunakan aplikasi versi gratis, hehee). 

Kasus-kasus yang disampaikan tadi menambah level urgensi pendidikan fitrah seksualitas ini. Fitrah seksualitas yang terbangkitkan dengan baik dan benar sesuai dengan yang semestinya akan mencegah anak-anak kita mengalami hal-hal yang mengerikan itu. 



#Tantangan10Hari #FitrahSeksualitas #LearningByTeaching #BundaSayangSesi11

Etika Posting Foto Anak di Medsos

Sudah cukup lama sebenarnya Mamak mendapatkan infografis ini di linimasi Instagram. Dalam tulisan kali ini, Mamak tidak akan membahas etika tersebut dengan mencantumkan wejangan-wejangan para ahli. Namun, Mamak akan coba ceritakan pengalaman Mamak sendiri di rumah dan how does it feel ketika ber-medsos dengan menaati etika posting foto anak tersebut. 
Sebagai orang tua zaman now, kita pasti sering tergoda untuk membagi segala tingkah si kecil di medsos. Eh tapi sebaiknya orangtua juga perlu sadar dengan risikonya. Salah-salah, media sosial bisa jadi bumerang yang dapat mengancam keselamatan anak.

.

Foto anak tanpa busana yang kita anggap wajar, bisa menimbulkan kesan ‘berbeda’ pada pengguna internet lainnya. Parentalk pun berbincang dengan Pendiri Lembaga Literasi Media Sosial Literos.org Nukman Luthfie.

.

“Kalau kita posting foto anak-anak, kita enggak tahu postingan mana yang dapat merangsang orang-orang dengan kelainan itu. Kalau kita posting dan ada yang terangsang, dia akan mencari di mana anak ini berada. Mereka enggak lihat umur, lho. Dari yang kecil, ada yang masih bayi aja diperlakukan tidak senonoh. Apa kita mau mengekspos anak kita dengan hal-hal begitu?” jelas Mas @nukman kepada Parentalk.

.

Semoga kita adalah orangtua yang bijak menggunakan medsos, demi keselamatan anak-anak kita 😊

#Parentalk #MillennialParenting #socialmedia#parenthacks #literasidigital

Fitrah Peran Ayah & Ibu Sejati

Seorang perempuan dewasa akan dapat menjalankan perannya sebagai ibu secara paripurna jika fitrah seksualitasnya terbangkitkan dengan baik. Begitu pula dengan laki-laki berikut peran ayahnya. Agar anak-anak dapat tumbuh sesuai kategori perannya, orangtua harus memberikan perlakuan dan pendidikan seksualitas yang berbeda di setiap rentang usia anak. Oleh karena itu, tahap demi tahap perkembangan seksualitas mereka perlu diperhatikan. Perkembangan seksualitas anak yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Fase Oral (0-8 bulan). Anak merasa gelisah jika berpisah dari ibu karena merasa menjadi satu dengan ibunya. Pada usia ini, anak menemukan kenikmatan dari oral sehingga dia senang memasukkan semua benda ke dalam mulutnya.
  2. Fase Anal (8-18 bulan). Anak mulai merasakan nikmatnya buang air besar.
  3. Fase Phallic (18 bulan-6 tahun). Anak mulai menemukan kenikmatan genital tapi bukan seperti perilaku ataupun aktivitas seksual usia dewasa. Di awal fase ini anak belum dapat terlalu memahami dengan baik perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Kemudian seiring berjalannya waktu, anak mulai menyadari identitas diri/individualitasnya.
  4. Fase Latency (6-11 tahun). Rasa ingin tahu anak meningkat pesat. Dia juga mulai membangun individual skill-nya dan mulai merasa bagian dari komunitas. Di akhir fase ini, terjadi pertumbuhan fisik, sosial, emosi dan kepribadian yang pesat. 
  5. Fase Genital (>11 tahun). Perubahan hormonal yang terjadi saat anak mencapai fase ini menyebabkan perubahan perilaku. Anak juga mulai membangun identitas diri dan mandiri pada rentang usia ini.


Meskipun berbeda treatment & education di setiap fase perkembangannya, pendidikan seksualitas secara umum berakar pada 3 prinsip:

  1. Seksualitas yang benar, sesuai nilai dan norma agama.
  2. Seksualitas yang lurus, sesuai fitrah seksualnya: laki-laki atau perempuan.
  3. Seksualitas yang sehat, memahami bagian dan fungsi tubuh dan mampu merawat serta melindunginya.

    #Tantangan10Hari #FitrahSeksualitas #LearningByTeaching #BundaSayangSesi11

    Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak

    Mamak yakin, Ayah Bunda dan teman-teman yang parenting things enthusiast pasti sudah mengenal atau setidaknya pernah mendengar tentang pendidikan berbasis fitrah. Menurut Ust. Harry Santosa, Fitrah Based Education itu diuraikan dalam sebuah kerangka operasional menjadi bagian-bagian sebagai berikut: 

    Credit to: liyadewilife.wordpress.com

    Nah, yang akan Mamak bahas dalam tulisan ini (karena materi kuliah Bunda Sayang IIP saat ini membahas hal tersebut) adalah mengenai Fitrah Seksualitas.

    Apa itu fitrah seksualitas?

    Fitrah seksualitas adalah totalitas kepribadian yang meliputi apa-apa saja yang dipercayai, dirasakan, dipikirkan dan bagaimana seorang individu yang bersangkutan bereaksi terhadap segala sesuatu, bagaimana dia berbudaya, bersosial dan menunjukkan siapa dirinya sesuai dengan keasliannya (fitrahnya), sebagai laki-laki sejati atau sebagai perempuan sejati. 

    Mungkin sebelumnya kita (kita? Mamak aja kaleeee…) sempat menyamakan arti seks dengan seksualitas. Ternyata kedua istilah tersebut berbeda sama sekali. Seks itu segala hal yang berkaitan dengan alat kelamin dan hubungan alat kelamin. Seksualitas cakupannya lebih luas, seperti yang sudah dijelaskan. Salah satu kunci keberhasilan pendidikan seksualitas yang benar dan sesuai dengan fitrah manusia adalah dapat membentengi dan melindungi anak-anak dari penyimpangan seksual, kejahatan seksual, dan aktivitas yang tidak dibenarkan semacam seks bebas. Ini bahasan tentang seks begitu kadang terasa ngeri dan tabu, ya. Tapi orangtua tidak bisa tutup mata begitu saja. Kita harus melek dan sadar dengan keadaan lingkungan, paham akan bahaya apa saja yang tengah mengancam fitrah anak-anak kita. Supaya apa? Supaya kita mampu berusaha menjadi orangtua yang kuat dan cerdas, khususnya dalam membangkitkan fitrah seksualitas anak-anak.

    Jadi, penting sekali ya pendidikan fitrah seksualitas itu?

    Tentu. Urgensi pendidikan fitrah di ranah ini dapat dilihat dari hasil akhir proses pendidikannya:

    • Anak menjadi paham akan identitas seksualnya, dia mengerti bahwa dia adalah laki-laki atau dia adalah perempuan.
    • Anak mampu mengenali peran seksualitas yang ada pada dirinya atau dengan kata lain, dia dapat menempatkan dirinya sesuai dengan peran seksualitasnya. Misalnya, membedakan cara berbicara, berpakaian, dan bertindak.
    • Anak bisa melindungi dirinya dari kejahatan seksual.

    Lalu, bagaimana orangtua bisa membangkitkan fitrah seksualitas anak-anaknya? 

    Sebelum Mamak menjabarkan tahapan-tahapan pendidikan fitrah seksualitas ini, perlu kita pahami prinsip-prinsip yang mendasari fitrah tersebut

    • Prinsip 1. Sejak anak lahir, mereka membutuhkan kehadiran, kelekatan, dan kedekatan ayah dan ibu secara utuh dan seimbang. Ini berlaku hingga anak mencapai usia aqil baligh (sekitar 15 tahun).
    • Prinsip 2. Suplai maskulinitas dan femininitas yang seimbang dari ayah-ibunya dan berbeda kebutuhannya antara anak laki-laki dengan anak perempuan. Porsi maskulinitas bagi anak laki-laki adalah 75% sedangkan anak perempuan 25%. Porsi untuk femininitas anak laki-laki 25% sedangkan anak perempuan 75%.
    • Prinsip 3. Peran keayahan sejati bagi anak laki-laki dan peran keibuan sejati bagi anak perempuan merupakan indikasi utama keberhasilan pendidikan fitrah seksualitas.

      Bukulabumi: Sebuah Proyek Belajar Keluarga PengejaSemesta

      Jika dibandingkan dengan proyek milik teman-teman lain di kelas Ruang Berkarya Ibu (RBI), proyek keluarga kami ini jauh lebih sederhana. Tapi sesuai dengan yang disarankan oleh ketua sekaligus pencetus proyek Ruang Berkarya Ibu, pakai kacamata kuda, supaya tidak hanyut dalam kekaguman yang berlebihan pada proyek teman-teman sehingga malah sulit fokus pada potensi diri.

      Fokus. Kunci pertama dan utama untuk bisa melihat kekuatan diri dan mampu mengoptimalkannya menjadi sebuah program ataupun produk. Ini jugalah yang berulang kali disebutkan oleh Bu Septi dalam diskusi daring kelas RBI pada Selasa malam lalu.  Continue reading “Bukulabumi: Sebuah Proyek Belajar Keluarga PengejaSemesta”