Merangkul Inner Child, Untuk Hari-hari yang Lebih Baik

Mendengar kata Inner Child itu suka auto-ingat ke ilustrator buku anak, deh: Inner Child Studio. Eaaa… baru juga mulai tulisannya, si Mamak mah udah gagal fokus. *tepok jidat*

Bukan, ya. Yang akan Mamak ceritakan di sini bukan soal tim ilustrator yang karya-karyanya di berbagai buku anak sangat memanjakan mata itu. Bukan…

Inner child self healing psychology

Soal ini, nih.

Continue reading “Merangkul Inner Child, Untuk Hari-hari yang Lebih Baik”

Advertisements

10 Hal yang Keliru dalam Pengasuhan

Tepat dua minggu yang lalu, Mamak dapat kesempatan mengikuti full day workshop yang diadakan oleh Dandiah Care Center bertajuk “Parent as Counselor & Terapist” bersama dua kawan kece Mamak sesama pengurus komunitas Ibu Profesional Bandung. Sebenarnya, kegiatan ini menyediakan arena Kids Corner untuk anak-anak yang ikut serta Ayah Bundanya. Hanya saja, karena anak-anak PengejaSemesta bukan “anak Kidsco”, jadilah Mamak berangkat ke hotel Aston sendiri saja. Anak-anak di rumah bersama Papa. “It’s okay hari ini kamu dulu yang belajar. Lain waktu, insyaAllah ada jalannya kita belajar bareng berdua,” kata si Papa. ❤

Di sesi awal, yang dibahas pertama kali oleh Pak Dandi dan Bu Diah sebagai pemateri workshop adalah kekeliruan umum yang ditemukan dalam kebanyakan paradigma parenting. Kekeliruan inilah yang kemudian mengarahkan kehidupan rumah tangga kita, anak-anak kita ke suatu titik yang tidak kita harapkan. Apa sajakah itu? Hamdalah, Mamak berhasil mencatat sedikit rangkuman dari materi yang sudah disampaikan. Check these ones out!

Continue reading “10 Hal yang Keliru dalam Pengasuhan”

The Secret of Being Parent

Wait, ini kan rahasia. Memangnya boleh dikasih tahu ke orang lain? Boleh ya, bocor?

Eh tapi…

Buat kalian, apa sih yang tidak boleh.

Iya… kalian. Kalian yang sudah menunggu tulisan ini jauh sebelum acaranya bahkan belum digelar. 😅

screenshot_2019-02-21-22-55-46-1529195575.png

Tapi memang, dari dulu Mamak sudah berniat untuk selalu menggambarkan kembali lampu AHA! yang Mamak dapatkan saat mengikuti seminar, talkshow, kajian, dan semacamnya. Termasuk acara spesial ini. Tujuan klasiknya sih sebagai reminder buat Mamak. “Heh, Mak. Udah pernah ikut seminar personal excellence, lho. Mana… praktiknyaa..?!” Macem tuh lah. Hamdalah, jika tulisan-tulisan Mamak juga bisa bermanfaat buat para pembaca. Senang sekali rasanya ❤

Nah, dalam tulisan kali ini, Mamak ingin berbagi ngga enaknya “ditampar-tampar” oleh kalimat-kalimatnya Cikgu Okina saat enrichment before graduation Ibu Profesional Bandung bulan lalu.

Siap?

Siap (ikut merasa tertampar juga)?

Jangan klik continue reading kalau belum siap dan kuat. 😅

Continue reading “The Secret of Being Parent”

Fitrah Peran Ayah & Ibu Sejati

Seorang perempuan dewasa akan dapat menjalankan perannya sebagai ibu secara paripurna jika fitrah seksualitasnya terbangkitkan dengan baik. Begitu pula dengan laki-laki berikut peran ayahnya. Agar anak-anak dapat tumbuh sesuai kategori perannya, orangtua harus memberikan perlakuan dan pendidikan seksualitas yang berbeda di setiap rentang usia anak. Oleh karena itu, tahap demi tahap perkembangan seksualitas mereka perlu diperhatikan. Perkembangan seksualitas anak yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Fase Oral (0-8 bulan). Anak merasa gelisah jika berpisah dari ibu karena merasa menjadi satu dengan ibunya. Pada usia ini, anak menemukan kenikmatan dari oral sehingga dia senang memasukkan semua benda ke dalam mulutnya.
  2. Fase Anal (8-18 bulan). Anak mulai merasakan nikmatnya buang air besar.
  3. Fase Phallic (18 bulan-6 tahun). Anak mulai menemukan kenikmatan genital tapi bukan seperti perilaku ataupun aktivitas seksual usia dewasa. Di awal fase ini anak belum dapat terlalu memahami dengan baik perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Kemudian seiring berjalannya waktu, anak mulai menyadari identitas diri/individualitasnya.
  4. Fase Latency (6-11 tahun). Rasa ingin tahu anak meningkat pesat. Dia juga mulai membangun individual skill-nya dan mulai merasa bagian dari komunitas. Di akhir fase ini, terjadi pertumbuhan fisik, sosial, emosi dan kepribadian yang pesat. 
  5. Fase Genital (>11 tahun). Perubahan hormonal yang terjadi saat anak mencapai fase ini menyebabkan perubahan perilaku. Anak juga mulai membangun identitas diri dan mandiri pada rentang usia ini.


Meskipun berbeda treatment & education di setiap fase perkembangannya, pendidikan seksualitas secara umum berakar pada 3 prinsip:

  1. Seksualitas yang benar, sesuai nilai dan norma agama.
  2. Seksualitas yang lurus, sesuai fitrah seksualnya: laki-laki atau perempuan.
  3. Seksualitas yang sehat, memahami bagian dan fungsi tubuh dan mampu merawat serta melindunginya.

    #Tantangan10Hari #FitrahSeksualitas #LearningByTeaching #BundaSayangSesi11

    Jangan Ada “Layar” Di Antara Kita (Seminar tentang Anak & Gadget bersama Mischa Indah Mariska, M.Psi)

    Resume kedua untuk kajian yang tidak Mamak hadiri. 🙈

    Baca juga resume pertama tentang Read Aloud Workshop di sini.

    screenshot_2018-02-03-13-50-51-1-486500393.pngBerangkat dari kesedihan (suka baper deh si Mamak ini) karena tidak bisa hadir mengenyam ilmunya secara langsung, Mamak kumpulkan beberapa sebaran yang dibagikan oleh dua teman di komunitas Ibu Profesional, Teh Yulia dan Teh Siro. Lalu mengendaplah tulisan ini selama berbulan-bulan di bagian draft blog. 😂 Kebiasaan si Mamak, kejadiannya kapan… ditulisnya kapan… hmmmm (Pijit-pijit kening) Continue reading “Jangan Ada “Layar” Di Antara Kita (Seminar tentang Anak & Gadget bersama Mischa Indah Mariska, M.Psi)”

    Bintang 1 : “Science is Fun!”

    Mulai lagi belajar di kelas Bunda Sayang IIP Bandung!

    Basmallah, pakai ikat hacimaki bertuliskan “Banzai, Mak!” 😆

    Di laporan-laporan tantangan level 7 ini, Mamak akan buat judulnya Bintang 1, Bintang 2, Bintang 3, lanjut sampai 17 insyaAllah, dengan sub judul yang berbeda-beda. Kalau laporan di level sebelumnya, judulnya dibikin sama, hanya diberi nomor saja. Semisal di Level 2 bulan Juli lalu tentang Melatih Kemandirian Anak, Mamak bikinkan judulnya “Bilang ya, Nak!” sampai beberapa jilid. Sudah seperti episode serial drama saja. (Anyway, ini penting banget ya, Mak, dibahas?)

     

    🌟 Setiap Anak adalah Bintang

    Allah Swt. tidak pernah menciptakan produk gagal. Jika ada yang sampai tega menilai seorang anak sebagai seseorang yang lemah dan bodoh, orang itulah yang sebenarnya gagal melihat sinar seterang bintang dari dalam diri anak tersebut. Sebisa mungkin ini menjadi salah satu pegangan Mamak dan Papa dalam mengarungi bahtera rumah tangga ini (*Tsaaah) sehingga kami akan berusaha membuat anak-anak kami senantiasa terang benderang seperti bintang.

    It’s the matter of point of view.

    Anak itu luar biasa cerdasnya, yang ada mungkin orangtuanya yang belum cerdas memahami letak kehebatan anak-anaknya. (Uhuk. Serasa mendapat 몸통바로지르기* yang keras tepat ke ulu hati) Sedikit demi sedikit, diasah kemampuannya mengenali kehebatan masing-masing anak. Salah satunya ini : mengamati kegiatan-kegiatan yang membuat anak berbinar-binar dan mengorelasikan dengan ranah kekuatannya (Multiple Intelligence).

    giphy.gif
    Ngga begini juga sih.

    Continue reading “Bintang 1 : “Science is Fun!””

    Nyaring Bunyinya! (Read Aloud Workshop bersama Roosie Setiawan)

    pbb1ubp6fatb-1680745279.jpgJadi tanggal 29 November tuh Pustakalana mengadakan pelatihan membacakan nyaring bersama Ibu Roosie Setiawan di Perpus Kota Bandung yang di Jl. Seram itu. Tapi Mamak tidak tahu infonya, tahu-tahu ada teman yang menayangkan foto Bu Roosie yang sedang mengisi pelatihan itu dan menceritakan bagaimana serunya acara tersebut. -_- Dia yang membuat Mamak iri adalah Ambunya Kaka! (Heheee, piiissss, Teh Wiiit! 😂)

    Suka sedih, deh, kalau ada acara bagus kayak gini terus si Mamak ini tidak bisa ikutaaaaan…. Continue reading “Nyaring Bunyinya! (Read Aloud Workshop bersama Roosie Setiawan)”

    Teknologi, Kawan atau Lawan dalam Pengasuhan? (Lomba Blog #TantanganPengasuhanEraDigital)

    Welcome to the world where technology has the ultimate power!

    th

    Salah satu yang Mamak khawatirkan (bahkan sebelum menikah dengan Papanya Arsyad) adalah perkembangan teknologi yang semakin hari semakin pesat. Apa pasal? Teknologi yang sophisticated ini menawarkan jaminan kemudahan mengakses segala macam informasi. Segala macam, tanpa terkecuali. Sementara yang waktu itu terpikir dalam benak Mamak adalah kemampuan diri yang belum mumpuni dalam mengawal derasnya arus informasi. Ngeri membayangkan akibatnya. Efek kecanduan terhadap gawai lah, bahaya pornografi, pergaulan media sosial yang tidak sehat, dan masih banyak lagi. Tapi, apakah semenyeramkan itu akibat dari teknologi?

    Layaknya dua sisi mata uang, teknologi juga memiliki dua sisi. Tentunya, selain hal-hal yang membuat hati was-was, Mamak juga merasakan manfaat yang diberikan teknologi. Kemudahan berkomunikasi dan berjejaring, belajar, mengalirkan rasa dalam tulisan yang dapat dilihat oleh banyak orang dalam platform ini, dan masih banyak lagi. Kita tak dapat mengelak dari keberadaan teknologi ini karena seperti yang Mamak ungkapkan tadi, manfaat teknologi begitu memenuhi keseharian hidup kita. Nah, PR besarnya adalah sisi mudaratnya, terlebih bagi para orangtua. Drs. Mardiya, Kabid Pengendalian Penduduk OPD KB Kab. Kulon Progo, DI. Yogyakarta, menjelaskan dalam tulisannya yang bertajuk “Mengasuh Anak di Era Digital”, bahwa salah satu bahaya teknologi bagi anak-anak kita adalah mejerumuskan mereka pada perilaku candu gawai. Kecanduaan ini yang nantinya berdampak pada banyak hal dalam diri anak. Misalnya, terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan anak yang sifatnya hampir menyeluruh, tidak hanya tumbuh kembang fisiknya saja, tapi juga bahasa, dan psikisnya. Lebih jauh lagi, kecanduan ini bisa berujung pada rusaknya moral dan perilaku anak. Naudzubillah…

    Jadi, apa dong ynag harus orangtua lakukan dalam menyikapi teknologi, apalagi yang masih junior begini macam Mamak dan Papa?

    Continue reading “Teknologi, Kawan atau Lawan dalam Pengasuhan? (Lomba Blog #TantanganPengasuhanEraDigital)”

    Bilang ya, Nak… (5)

    Mungkin karena intervensi kemarin, Arsyad jadi ngga bilang-bilang kalau pipis. Bahkan setelah celananya basah pun. Dan hari ini, (masih) terjadi banyak accident, heuheu.. Tapi sisi baiknya adalah, hari ini Arsyad mulai menunjukkan ketertarikan dan kesukaannya pada si potty. Yaa.. meskipun pada akhirnya malah dimainkan seperti dia mengendarai mobil truk-trukannya. *laugh but sigh*

    Accident pertama itu pas pagi-pagi sebelum mandi dan yang kedua sejam sebelum “tersangka” tidur dhuha. Siang setelah bangun dari tidurnya sampai sesorean akan mandi, terjadi 3 kali accident, dan itu semua bertempat di halaman belakang Enin. Accident ketiga, saking asiknya main air warna-warni, dia sampai adem ayem aja meski celananya basah sama pipis. Padahal biasanya suka heboh bilang, “Ntos..! Ntos..! Oméh..!” (Ganti celana! Cebok!)  Accident keempat dan kelima sih, back to yesterday: heboh lagi setelah tahu celananya basah.

    Yang anteng main sampe khilaf dia pipis di celana.

    Waktu mandi sore, Arsyad inisiatif menaiki si potty. Sekalian saja Mamak ingatkan dia lagi,

    “Ya, Arsyad kalau mau pipis atau ee naik potty dulu, ya. Pipis, ee, di potty. Ya?”

    “Pootiiii…!” Arsyad berseru senang.

    “Iya. Potty tempat Arsyad pipis dan ee.”

    Kemudian dia malah mengendarai si potty seperti yang dilakukannya tadi pagi.

    “Bukan untuk dikendarai. Untuk pipis dan ee, Nak. Potty untuk pipis, untuk ee. Udah, yuk! Pake handuknya.”

    The last accident terjadi saat Papa sudah di rumah. Ketahuan sama Papa pas Arsyad lagi di teras belakang, lagi-lagi ngga bilang, sampai kami harus menelusuri jejak dan menemukan apakah ada genangan air berbau amonia di tempat-tempat yang tadi dia lewati.

    Pelacakan: nihil. Continue reading “Bilang ya, Nak… (5)”