Diaper Turunan

wp-image-638632938

Habis nanjak, terdapatlah turunan. Heheee..

Turunan yang Mamak maksud di sini itu lungsuran, warisan, bekas, secondhand. Jadi waktu pertama kali belikan cloth diaper buat Arsyad dua tahun lalu, Mamak berazam akan merawat mereka dengan baik sehingga nantinya bisa diwariskan pada adiknya Arsyad. At least to his first sibling. Dan ya, meskipun perawatan yang Mamak lakukan ngga sesuai SNI, πŸ˜€ masih bisa lah dipakai adek bayik yang lahir tanggal 2 September kemarin ini. Lumayan lah buat starter. 3 diaper ukuran newborn dan 5 diaper ukuran regular (yang nampak begitu jumbo di badan adek bayik, hihihi) sudah resmi berpindah tangan. Dalam rangka menghibur hati adek bayik, Mamak belikan lagi 1 diaper ukuran reguler biar dia tidak merasa jenuh memiliki barang-barang secondhand. “Yeay, aku dibelikan sesuatu yang baru juga!” Begitu mungkin kira-kira. Padahal, bayik merah ini tentulah belum paham kerasnya dunia yang mana yang sudah pernah dipakai, yang mana yang masih bau toko.

Bicara soal perawatan,

Continue reading “Diaper Turunan”

Advertisements

Memiliki Mesin Cuci

Tadi waktu nyuci (baca: nebeng nyuci di mesin cuci Enin), tetiba kepikiran untuk punya mesin cuci sendiri. Bukan kali pertama keinginan ini muncul. Dan sekarang, alasan ingin memiliki mesin cuci bertambah: sebagai salah satu media belajar kemandirian Arsyad. Kok bisa?

Jadi tread latihan kemandirian anak ini lagi happening di grup ibuk-ibuk yang kuliah di kelas Bunda Sayang IIP. Materi bulan ini gitu lho. Heuheu.. Nah, waktu nyuci tadi, kepikiran sekitar 2 tahun yang akan datang Arsyad sudah cukup umur untuk belajar membantu mengerjakan beberapa house cores semacam mencuci baju. Harapan Mamak dan Papa, dengan segala macam usaha latihan kemandirian ini, anak-anak kami nantinya bisa menjadi pribadi yang tangguh dan hanya bergantung pada Allah SWT semata, ngga ketergantungan sama orang lain. Meneladani Rasulullah tersayang, yang mampu melakukan pekerjaan rumah sendiri, yang hebat di segala urusan karena kemandiriannya. 

Photo courtesy: http://itsbetterwater.com

Kembali ke mesin cuci tadi. Bagi Mamak, alat ini sangat fungsional. Mungkin karena dari jaman masih sekolah sudah dimanjakan dengan kehadiran mesin cuci di rumah, jadi tenaga tangannya kurang terlatih untuk mencuci tanpa alat. Kecuali untuk beberapa pakaian heuseus yang benar-benar memerlukan sentuhan tangan untuk membuatnya bersih dan wangi kembali, juga diaper-diapernya Arsyad yang sengaja Mamak cuci sendiri pake tangan (sesekali minta bantuan Papa) biar lebih awet. Pas jaman kuliah saja Mamak nyuci baju pake tangan karena situasi dan kondisi (anak kostan, bok! Hahaaa), itupun hanya berlangsung 2 tahun. Mamak salut banget sama Nenek Cimindi (Mama mertua), sampai sekarang masih rajiiiiiiin tiap pagi nyuci pakaian pakai tangan. Nenek setrooonggg~ ❀

Nah, waktu nyuci ini sebetulnya bisa Mamak gunakan sekaligus untuk mengerjakan hal-hal lain. Bisa sambil nulis blog, baca-baca artikel, promosi dagangan, hihihiii. Jadi waktunya bisa efektif, tenaga juga bisa dihemat. πŸ˜€ Atau biasanya kalau di rumah hanya ada Mamak berdua sama Arsyad, Mamak suka nyuci sambil menemani dia main di halaman belakang rumah Enin. So, Mamak cenderung bergantung pada mesin ini karena bisa mempraktekkan sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Huehehee

Maka dari itu, mari menabung untuk punya mesin cuci! πŸ˜€